
Hari berganti hari,
bulan berganti bulan...
Kehidupan anak manusia di bumi itu berjalan seperti biasanya. Bulan demi bulan berlalu, usia kandungan Arini kini sudah mulai menginjak usia sembilan bulan. Perut yang semula rata itu kini mulai nampak makin membesar. Wanita yang sama sekali tidak mengalami gejala gejala ngidam selama kehamilannya itu selama beberapa hari terakhir mulai merasakan malas yang luar biasa. Ia jadi mudah lelah dan lebih suka rebahan di kamarnya.
Ya, tanggal perkiraan kelahiran si jabang bayi memang sudah dekat. Segala persiapan menyambut kelahiran si anak pertama juga sudah dilakukan. Digo kini bahkan mulai mengurangi aktifitas nya di kantor. Pria yang sudah hampir sembilan bulan mengalami ngidam itu kini lebih banyak menghabiskan waktu nya bersama sang istri. Ia tak mau meninggalkan Arini terlalu lama. Ia bertekad untuk menjadi suami siaga untuk istri tersayangnya itu.
Pagi ini,
saat jam menunjukkan pukul tujuh pagi..
"daddy..! buruan dong..! udah siang loh ini. Ntar kita telat..!" ucap Arini setengah teriak dari dalam ruang tamu rumah berlantai dua miliknya. Wanita yang kian hari kian terlihat lebih berisi itu nampak duduk, menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa ruang tamu bersama sang ayah yang juga terlihat kurang bersemangat itu.
Padahal penampilan keduanya sudah sangat rapi. Arini nampak cantik menggunakan dress selutut miliknya yang menutupi tubuh berisi dengan perut besar itu. Sedangkan Calvin terlihat gagah dengan setelan jas berwarna hitam yang melekat di tubuh tegap berototnya.
Ya, hari ini Calvin beserta anak dan menantunya akan menghadiri sebuah pesta pernikahan yang digelar di rumah utama keluarga Hernandez.
Benar, hari ini adalah hari pernikahan Sam dan Gisellle. Setelah menjalin hubungan kurang lebih sembilan bulan lamanya, akhirnya sepasang duda dan janda itu kini mantap untuk membawa hubungan mereka ke jenjang yang lebih serius, yaitu pernikahan.
Sam akan menikahi Giselle hari ini tepat pada pukul delapan pagi. Membuat Arini pun yang tadi tak berhenti berteriak-teriak memanggil nama sang suami yang masih asyik menata penampilannya di dalam kamar pribadi mereka.
"daddy...!!" ucap Arini lagi.
"iya.....!!!!" teriak Digo dari dalam sana.
"buruan, dong...!" ucap Arini.
"lama lu..! nggak usah pake lipstik..!" teriak Calvin yang sejak tadi duduk di samping sang putri.
ceklek....
pintu kamar Diego terbuka. Laki laki berparas tampan itu keluar dari kamarnya.
"lama banget...!" gumam Calvin sinis sembari bangkit dari posisi duduknya.
"berisik lu, gondrong...!" balas Digo judes.
"udah, udah..!! yuk...!! berangkat..! keburu telat...!" ucap wanita cantik dengan rambut terikat itu.
__ADS_1
Digo mengulum senyum. Didekatinya wanita hamil kesayangannya itu. Tangan kekarnya kemudian bergerak mencubit kedua belah pipi chubby milik sang istri yang kian hari makin terlihat membal itu.
"emhh, emhh...!! bakpao nya daddy...!!" ucap Digo gemas.
"iihhh...sakit..! nggak usah bahas pipi..!" ucap Arini dengan bibir mengerucut yang justru terlihat makin lucu di mata sang Diego.
"dah, yuk..! berangkat..!" ucap Diego.
Laki-laki itu pun kemudian keluar dari rumahnya bersama istri dan mertuanya. Sebuah mobil mewah sudah menanti di sana dengan seorang sopir dari pihak kantor yang akan mengantarkan tiga manusia itu menuju kediaman utama keluarga Hernandez yang kini ditempati oleh Giselle dan putra putrinya.
Mobil pembalasan menembus padatnya jalan raya ibukota itu. Di kursi depan, ada sang supir sebagai pengendali kemudi mobil mewah itu. Sedangkan di sampingnya ada Calvin yang sejak nampak diam menyandarkan tubuh tegapnya di sana. Entahlah, hari ini rasanya ia sangat lelah. Tubuhnya serasa remuk, sakit semua, tak seperti biasanya di mana laki-laki berbadan tegap itu selalu terlihat bugar.
Sedangkan di kursi belakang, Arini juga terlihat malas-malasan. Sejak tadi ia hanya menyandarkan kepalanya di pundak sang suami yang tak lepas mengusap usap pipi mengembang miliknya. Sudah beberapa hari ini Arini memang lebih banyak bermalas malasan. Mungkin memang lantaran makin dekatnya hari kelahiran sang buah hati.
.....
Tak berselang lama, mobil hitam berharga fantastis itu nampak memasuki halaman luas sebuah rumah berlantai tiga kediaman Giselle Hernandez.
Beberapa tamu sudah nampak hadir. Meskipun pernikahan digelar secara sederhana namun tamu yang datang hari ini jauh lebih banyak dibandingkan tamu yang datang pada pernikahan Diego dan Arini kala itu.
Ketiga manusia itu turun dari mobilnya. Calvin nampak menggeliat. Meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku sejak pagi tadi.
Arini dan Diego menoleh.
"bapak kenapa?" tanya Arini.
"nggak apa apa..! cuma agak capek aja" ucap Calvin.
Arini hanya mengangguk.
Mereka pun masuk ke dalam rumah. Para tamu sudah nampak berkumpul disana. Sang pengantin laki-laki juga sudah duduk tepat di depan meja persegi panjang, dimana seorang penghulu nampak duduk disana, menanti turunnya seorang janda cantik dari lantai dua rumah megah itu.
Arini duduk di samping sang ayah. Tepat di belakang kursi pengantin disana. Sedangkan Digo memposisikan diri di sebuah kursi di samping wali hakim yang ditunjuk untuk menikahkan kakaknya dengan Sam.
Arinj kembali menjatuhkan kepalanya di pundak sang ayah. Matanya bahkan mulai terpejam. Rasanya begitu malas bahkan hanya untuk sekedar membuka kelopak netranya saja.
"kalau capek mending nggak usah ke sini tadi.." ucap Calvin.
"nggak apa apa kok, pak..! Arin kuat" ucap wanita itu.
Digo hanya menghela nafas panjang. Sedangkan Calvin kini nampak berkali-kali menarik nafas panjang kemudian membuangnya lewat mulut. Entah mengapa tiba-tiba perutnya merasa mulas. Tembus hingga ke punggung. Sakit itu sesekali muncul, lalu hilang. Muncul lagi, lalu hilang. Membuat pria itu merasa tak nyaman bahkan hanya untuk sekedar duduk.
"bapak kenapa? kayaknya duduknya nggak nyaman gitu?" tanya Arini.
"nggak tau..! perut bapak tiba tiba mules" ucap Calvin.
__ADS_1
"salah makan? emang bapak makan apa tadi?" tanya Arini.
"apa yang bapak makan ya sama kayak kamu makan di meja makan tadi, Rin" ucap Calvin
"tapi kok bapak mules? Arin enggak..!" ucap Arini.
"ya nggak tau..!" ucap pria itu.
Arini menghela nafas panjang. Ia kembali menjatuhkan kepalanya di sana, kemudian memejamkan matanya menunggu akad nikah terlaksana.
Tak berselang lama. Seorang wanita cantik nampak turun dari lantai dua rumah itu ditemani seorang remaja putri yang tak kalah mempesona, Zoe, putri sulung Giselle.
Kedua wanita beda usia itu nampak tersenyum bahagia menuruni anak tangga menuju ruang tamu tempat di mana akan terselenggaranya ijab qabul antara Sam dan Giselle.
Para tamu undangan nampak berdecak kagum. Wanita yang selalu terlihat anggun tiap harinya itu kini terlihat semakin mempesona. Meskipun usianya sudah tidak muda lagi, namun kerutan wajah sepertinya sama sekali tidak terlihat menutupi paras ayunya.
Pria berjambang, si pengantin pria itu nampak mengulum senyum. Sudah banyak wanita muda yang pernah singgah di hati seorang Sam.
Tak pernah ia sangka, bahwa pelabuhan keduanya setelah gagal membina bahtera rumah tangga adalah kakak dari atasannya sendiri. Seorang janda cantik yang dulu merupakan teman masa sekolahnya.
Giselle mendekat. Ia duduk di samping Sam yang nampak tersenyum menatapnya.
"bisa kita mulai?" tanya pak penghulu.
"bisa, pak.." ucap Sam yakin.
Sang penghulu pun mengulurkan tangannya. Kemudian disambut dengan mantap oleh laki-laki yang sebentar lagi akan melepas status dudanya itu. Suasana hening seketika. Ijab kabul terucap. Sebuah kalimat yang dimulai dari sang penghulu kemudian dijawab dengan mantap oleh Sam yang berada di samping Giselle.
"bagaimana, saksi? sah?" tanya si penghulu.
"SAH...."
"Alhamdulillah.................."
doa pun terpanjat sepasang mantan Duda dan janda itu kini telah resmi menjadi sepasang suami istri wajahnya lega akhirnya sang kakak kini resmi menjadi istri seorang Samuel yang betapa ini adalah asistennya sendiri
Kini Digo, Sam dan Calvin resmi menjadi satu keluarga. Sebuah ikatan yang tidak pernah mereka duga sebelumnya. Mereka saling mengenal, hidup saling berdekatan dengan beberapa konflik yang berada di tengah-tengah mereka. Namun rupanya Tuhan Maha Berkuasa. Dalam sekejap mata tiga pria itu disatukan menjadi satu keluarga yang utuh, melalui perantara dua wanita di antara mereka.
...----------------...
Selamat siang...
up 13:23
mampir juga disini...👇
__ADS_1