My Fake Daddy

My Fake Daddy
MFD 50


__ADS_3

Sementara itu ditempat yang berbeda....


Seorang gadis belia nampak berlari kencang menyisir trotoar jalan ibukota itu.


Jam sudah menunjukkan pukul tujuh lebih sepuluh menit. Wanita itu sudah terlambat sepuluh menit masuk kerja. Ia harusnya sudah berada di restoran tempatnya bekerja tepat pukul tujuh tadi.


Namun lantaran sejak tadi tak ada satu kendaraan pun baik taksi, angkot ataupun ojek yang lewat, wanita itu terpaksa harus lari cukup jauh agar bisa segera sampai ke resto tempatnya bekerja. Sesekali Arini berhenti. Barang kali ada angkot, taksi atau ojek yang ia temui ditengah lari lariannya. Namun nyatanya sejak tadi juga tidak ada. Entahlah, pada kemana para mengendara kendaraan umum itu...!


Arini menghentikan lagi langkah cepatnya. Gadis itu ngos ngosan. Ini masih setengah perjalanan.


Tolonglah, ia sangat lelah. Tenggorokan nya kering. Kakinya sudah sangat lemah. Tenaganya seolah sudah hampir habis.


Arini kembali menoleh ke kanan dan ke kiri. Melongok mencari taksi, angkot, ataupun ojek yang lewat. Namun lagi lagi tidak ada.


"ya Allah ini hari apa sih?? kok kendaraan umum nggak ada yang lewat sama sekali. Sekali nya ada udah bawa penumpang..!" ucap Arini mengeluh sambil berkacak pinggang.


Dadanya naik turun. Keringatnya bercucuran. Ia merasakan lelah yang sangat luar biasa. Hingga.....


"cari apa?"


Arini terdiam. Suara itu mengalun dengan jelas tak jauh dari tempat nya berdiri.


Gadis belia dengan kemeja putih, rambut di ikat ekor kuda dan sebuah tas selempang di pundak itu lantas berbalik badan.



Dilihatnya disana seorang pria paruh baya berpakaian preman nampak berdiri di belakang nya. Bersandar pada sebuah pohon yang berada di tepi jalan raya.


Arini menyipitkan matanya. Inikan om om yang ada di studio tato beberapa hari lalu. Om om yang memberikan penilaian bintang lima padanya padahal kinerjanya kala itu sangat mengecewakan.


Ya, tak salah lagi...! itu om om baik hati itu.


"om..." ucap Arini.


Pria itu, Calvin Alexander, nampak menatap datar kearah gadis yang kini nampak ngos ngosan dihadapan nya.


"lu cari apa?" tanya Calvin lagi.


"oh, em...saya cari kendaraan umum, om. Mau kerja, tapi nggak ada tumpangan. Udah telat" ucap Arini.


"supir pada demo...! lu mau cari ampe siang juga nggak bakalan ada kendaraan lewat..!" ucap Calvin singkat. Arini nampak membuka mulutnya. Raut wajahnya terlihat kecewa.


"emang lu masuk kerja jam berapa?" tanya Calvin lagi.


Arini nampak menekuk wajahnya.


"harusnya jam tujuh tadi, om" ucap Arini.


Calvin menengok jam di tangannya. Sudah lewat lima belas menit dari jam masuk kerja gadis lugu itu.


Calvin melirik ke arah gadis yang nampak menunduk dengan nafas memburu itu.


Dasar gadis bodoh. Dua kali ia bertemu anak ini, selalu dalam kondisi ia melakukan kesalahan kerja. Bisa bisa dipecat nih bocah kalau tak kunjung sampai restoran tempatnya bekerja.


Calvin menegakkan posisi tubuhnya. Lalu berjalan mendekati motor Harley besar yang terparkir tak jauh dari tempat nya berdiri.


"gue anter..!" ucap laki laki itu membuat Arini mendongak.


"nggak usah, om..!" ucap gadis itu.


"lu mau pingsan dijalan? tempat kerja lu masih jauh..! lu bakal dipecat kalau nggak buru buru sampai sana...! ayo naik...!" ucap Calvin yang sudah berada di atas motornya. Laki laki itu lantas melajukan motornya, berhenti tepat di depan Arini yang kelelahan.

__ADS_1


Calvin menggerakkan kepalanya seolah mengisyaratkan Arini agar segera naik ke jog belakang.


Arini pun hanya menurut. Ia memang sedang sangat butuh tumpangan sekarang.


Wanita cantik itu lantas naik ke atas motor besar itu.


"lu mau sampai disana berapa menit?" tanya Calvin sampai menggeber geber motor besarnya.


"emang om bisa nya berapa menit?" tanya Arini.


"lu sebut aja...! gue bisa bawa lu sampai di sana sesuai permintaan lu...!" ucap pria berkacamata hitam itu.


Arini nampak berfikir. Apa iya om om ini bisa membawanya sampai ke resto sesuai permintaan nya..? baiklah...mari kita cobaaa......


"tiga menit...?" ucap Arini.


Calvin mengangkat satu sudut bibirnya.


"pegangan...! kita terbang...!" ucap Calvin.


Arini pun ragu ragu menyentuh pinggang Calvin. Laki laki itu lantas menatap lurus ke depan seolah bersiap untuk tancap gas. Dan........


breeeeeeeeeeeemmmmmm........


"waaaaaaa.....!!!!!!!"


Arini memekik. Ia yang semula ragu ragu menyentuh pinggang laki laki itu kini reflek melingkar kan kedua lengannya, memeluk erat pria berjambang lebat yang kini melajukan motornya ugal ugalan bak orang kesetanan itu.


Arini diajak kebut kebutan di jalan raya. Alih alih takut dan menangis gadis itu justru tertawa. Meskipun kedua tangannya memeluk erat pinggang laki laki itu namun Arini terlihat begitu bahagia.


Naik motor dengan kecepatan tinggi bukan hal baru baginya. Membuatnya bukan lagi takut namun justru menikmati perjalanan singkatnya menuju restoran bersama pria dewasa itu.


Arini nampak bahagia. Ia bahkan sesekali bersuara, bak mengikuti suara mesin motor yang kini tengah bekerja itu.


Calvin yang mendengarnya nampak tertawa lebar sambil menggelengkan kepalanya. Bocah yang unik. Bisa bisanya anak gadis bukannya takut kebut kebutan malah kegirangan.


Perjalanan singkat itupun terus berlanjut. Hingga tak sampai tiga menit, kendaraan roda dua itupun sampai di depan resto tempat Arini bekerja.


Arini yang terlihat bahagia itupun turun dari motor besar berwarna hitam itu.


Ia nampak sumringah, begitu juga Calvin yang terlihat bisa tertawa lepas sepanjang perjalanan.


"makasih ya, om, tumpangannya" ucap Arini ramah sembari merapikan rambut nya yang sedikit berantakan.


Calvin tersenyum.


"Oh ya, nama om siapa? kita udah dua kali ketemu tapi belum kenalan. Aku Arini..." ucap gadis itu sembari mengulurkan tangannya.


Calvin terdiam.


Arini? seperti nya ia pernah mendengar nama itu? tapi dimana ya?


"om?" ucap Arini lagi yang tak mendapatkan respon dari Calvin.


Laki laki itu tersenyum. Lalu menyambut uluran tangan gadis itu.


"panggil aja Ale" ucap Calvin.


Arini mengangguk.


"om Ale..!" ucap Arini. Calvin mengangguk.

__ADS_1


"ya udah kalau gitu Arin masuk ya, assalamualaikum..." ucap gadis itu.


"wa alaikum salam" jawab pria itu tenang.


Gadis itupun berlalu, masuk ke dalam restoran itu untuk mulai bekerja.


kriieeet.....


pintu kaca restoran itu terbuka...


prok...prok....prok.....prok..


Arini terdiam. Suara tepuk tangan sumbang dari seorang wanita terdengar di sana.


Itu Glenca...! bos Arin. Pemilik restoran itu..! Wanita berpenampilan anggun yang nampak berdiri menyambut kedatangan Arini itu terlihat bertepuk tangan. Disaksikan para pengunjung resto yang kebetulan cukup ramai itu. Satu diantara banyaknya pengunjung, ada seorang pria berjambang dengan setelan jas dan kemeja lengkap nampak duduk di sana. Menyaksikan kedatangan wanita belia yang sempat ia tinggal tadi pagi.


Ya, itu adalah Diego Calvin Hernandez. Pria berusia tiga puluh lima tahun tahun itu kini tengah berada di dalam restoran itu. Melakukan meeting bersama seorang klien penting rekan bisnisnya.


Diego yang ditemani Sam disampingnya nampak diam. Dilihatnya disana Arini baru datang setelah terlambat cukup lama. Penampilan nya sudah tak serapi pagi tadi saat hendak menumpang mobil Digo. Rambutnya berantakan. Cukup menyedihkan.


Digo diam tak bergerak. Glenca mendekati Arini yang berdiri takut di depan pintu. Semua mata pun tertuju pada dua wanita beda usia itu.


"kamu tahu nggak ini jam berapa?!!" tanya Glenca terlihat murka.


Arini menunduk. Jari tangannya terlihat meremas jari tangan lainnya.


Kini kedua wanita itu menjadi pusat perhatian banyak orang, tak terkecuali Diego dan Sam. Glenca memarahi karyawan nya itu di depan banyak orang.


"maaf, mbak" ucap Arini pelan.


"maaf, maaf...!! kamu pikir ini resto punya bapakmu...?!! kalau nggak niat kerja mending nggak usah kerja...!! dateng jam segini mau ngapain kamu...!! yang lain udah keringetan kamu baru nongol...!" ucap Glenca begitu keras.


Arin tak bisa berkata kata. Sedang kan Diego nampak diam tak bergerak. Entah mengapa ia merasa iba melihat putri nya di perlakukan seperti itu di depan banyak orang. Para pengunjung di tempat itu pun kini sebagian nampak berbisik, menggunjing kinerja karyawan lalai yang tepat waktu itu.


"tadi nggak ada kendaraan, mbak" cicit Arini.


"nggak usah alesan...!! kamu udah ngerasa hebat?! mentang mentang kemarin saya puji kamu karena berhasil membuat pelanggan ngasih penilaian bintang lima, sekarang kamu merasa kamu bisa seenaknya?!! gitu?!! hebat banget kamu..?!!!" ucap Glenca makin marah.


Setitik air mata menetes dari pelupuk mata Arini.


"lihat temen temen kamu...! mereka yang lebih senior aja bisa kok datang tepat waktu..! kamu yang baru anak kemarin sore udah berani beraninya datang telat...! nggak usah alesan kalau nggak ada kendaraan ta* anj*nk...!! kalau kamu emang merasa punya tanggung jawab harusnya kamu bisa datang lebih awal...! ngerti nggak kamu...!!!" bentak Glenca keras tepat di hadapan Arini membuat gadis itu makin menangis tanpa suara.


"nggak usah jual air mata didepan saya..! saya tuh udah berbaik hati sama kamu nerima kamu kerja di tempat ini tanpa ijazah..kamu malah seenak nya...! punya otak nggak kamu?! saya tuh juga ngeluarin duit buat gaji kamu..?! ngerti nggak kamu...?!!' bentak Glenca lagi. Tiba tiba.....


kriieeet......


daaaaaaaggggggghhhhh.....


Semua pengunjung terlonjak kaget. Seorang pria tiba tiba masuk ke dalam resto. Membuka pintu kaca itu, menghampiri dua wanita yang kini tengah menjadi pusat perhatian tersebut lalu menendang meja kayu yang berada di samping mereka.


Semua kaget. Tak terkecuali dua pria beda usia yang sejak tadi hanya duduk mengamati Arini yang dimaki maki.


"itu kan................."


...----------------...


Selamat pagi....


up 03:55


Hari ini author up 1x ya, ada kepentingan di real life yang nggak bisa ditinggal. Yang penting author udah up 1x pagi ini.

__ADS_1


yuk, dukungan dulu 🥰😘


__ADS_2