My Fake Daddy

My Fake Daddy
MFD 53


__ADS_3

Keesokan harinya,


Di kediaman mewah milik Diego Calvin Hernandez....


hooooooeeeeekkk.....


hooooooeeeekkk.......


Suara itu menggema dari lantai dua. Disebuah kamar mewah yang biasa di tempati oleh si tuan rumah, Diego Calvin Hernandez.


Arini dan Bik Sumi yang berada di meja makan nampak menatap ke lantai dua tempat dimana sumber suara berasal. Kedua wanita beda usia itu nampak saling menatap.


"itu daddy, bik?" tanya Arini.


"sepertinya iya, non" ucap Bik Sumi.


Hooooooeeeeekkk.....


hooooooeeeekkk.......


Suara itu terdengar lagi. Arini yang tengah membantu bik Sumi menyiapkan sarapan pun lantas dengan segera meletakkan piring di tangannya. Gadis belia yang sudah rapi hendak berangkat bekerja itupun setengah berlari menuju lantai dua. Mendekati kamar sang ayah yang berada di lantai itu.


Hooooooeeeeekkk.....


hooooooeeeekkk.......


Suara itu terdengar lagi.


tok....tok.....tok....


"daddy...." ucap gadis itu sembari mengetuk pintu kamar Digo.


"daddy nggak apa apa..?" tanya Arini lagi. Diego tak menjawab. Suara aneh seperti orang yangs sedang muntah muntah terdengar dari dalam kamar itu.


Merasa khawatir dengan kondisi sang ayah, Arini pun memberanikan diri membuka pintu kamar mewah itu. Gadis itu masuk. Digo tidak berada di ranjangnya. Namun pintu kamar mandi nampak terbuka.


"daddy? daddy dimana?" tanya gadis itu.


Masih tak ada jawaban. Arini pun lantas mengayunkan kakinya mendekati kamar mandi. Dan....


"astaghfirullah haladzim, daddy...!!!!" pekik Arini.


Dilihatnya disana Digo yang masih belum bersiap siap sama sekali nampak terduduk di lantai kamar mandi yang dingin itu. Tubuhnya lemah, wajahnya pucat. Sepertinya laki laki itu sedang tidak baik baik saja.


Arini berlari mendekati ayah kandungnya itu. Ia kemudian berjongkok di hadapan Digo yang nampak meringis.


"daddy kenapa?" tanya Arini.


Digo tak menjawab. Keringat dinginnya nampak bercucuran.


"kita bangun yuk, dad. Kita keluar. Disini dingin..." ucap Arini sambil bangkit dan berusaha memapah ayah kandungnya itu.


Digo pun menurut. Arini mencoba membantu memapah tubuh tegap milik sang ayah untuk bangkit.


Gadis itu membawa tubuh dengan suhu yang meninggi itu untuk masuk ke dalam kamar. Digo terlihat tak berdaya. Arini membaringkan tubuh sang ayah di atas ranjang. Laki laki itu lantas meringkuk, tidur miring ke kiri sambil memeluk guling yang berada disana. Menikmati rasa nyeri yang kini ia rasakan pada ulu hatinya. Tenggorokan nya terasa panas. Untuk berbicara saja ia merasa begitu malas.

__ADS_1


Arini menyelimuti sang ayah. Lalu duduk di pinggiran ranjang dan menyentuh kening Digo yang panas. Gadis belia itu nampak bingung. Daddy nya kenapa? padahal kemarin ia baik baik saja.


"dad, aku panggilin dokter ya?" tanya Arini.


Digo tak menjawab. Dengan wajah yang terbenam di balik guling, Digo menunjuk ke arah nakas. Tempat dimana sebuah ponsel di berada di sana.


Arini paham. wanita itu lantas meraih ponsel milik sang ayah, lalu menyerahkan nya pada sang ayah.


Digo mengotak atik sebentar ponsel itu. Mencari nama dokter Irwan disana, menyentuh tombol telepon disana dan menyerahkan nya pada Arini seolah meminta wanita itu untuk berbicara dengan dokter pribadi keluarga Hernandez itu.


Arini pun paham. Ia segera menempelkan benda pipih itu di telinganya.


"halo, selamat pagi, tuan" ucap si dokter.


"ha, halo, dokter" ucap Arini.


Dokter Irwan terdiam sejenak. Ia nampak menjauhkan telepon genggamnya itu dari telinganya saat mendengar suara wanita yang mengalun lembut dari dalam sambungan telepon nya dengan sang tuan muda Hernandez. Ini kan ponsel Digo? kenapa ada suara wanita di sana? pikir dokter itu.


Dokter Irwan kembali menempelkan benda canggih itu di telinganya.


"i, iya, halo.. Ini siapa ya?" tanya pak dokter.


"saya Arini, dok. Saya anaknya da...em, maksudnya, saya anak pembantu yang kerja dirumah tuan Diego" ucap Arini berbohong yang kemudian dengan cepat di sambut oleh remasan tangan yang lemah dari Digo di lengan Arini.


Gadis itu menoleh. Digo tak bergerak.


"oh, iya, ada apa mbak?" tanya pak dokter.


"begini, dok. Da, em, maksudnya tuan lagi sakit. Bisa minta tolong datang kesini untuk memeriksa kondisi nya?" tanya Arini.


"oh ya? tuan muda sakit?" tanya sang dokter.


Si dokter mengangguk di seberang sana.


"baik, mbak. Kebetulan saya juga dalam perjalanan mau ke rumah sakit. Saya akan mampir kesana untuk memeriksa kondisi tuan Diego" ucap si dokter.


Arini mengangguk.


"baik kalau begitu, dok. Terimakasih"


"sama sama, mbak"


"assalamualaikum"


"wa alaikum salam" jawab si dokter.


Sambungan telepon pun terputus. Arini meletakkan ponsel itu di atas nakas. Gadis itu lantas menoleh ke arah sang daddy tersayang. Pria itu masih membenamkan wajahnya di balik guling dengan posisi tubuh meringkuk. Sedangkan satu tangannya nampak berpegangan pada lengan putih Arini seolah minta ditemani.


Diego terdengar sesekali mendesis dan merintih. Seperti nya penyakit lambungnya kambuh. Ini pasti lantaran kemarin ia makan sembarangan.


Arini menghela nafas panjang. Kasihan juga laki laki itu.


"dad, daddy mual? mau aku bikinin minuman hangat nggak? biar enakan perutnya?" tanya Arini.


Digo menggelengkan kepalanya. Ia meremas lagi lengan itu sambil sedikit menariknya lemah, seolah tak mengizinkan bocah itu untuk pergi dari tempat tersebut. Digo mau ditemani.

__ADS_1


Arini menghela nafas panjang. Ia lantas mengubah posisi tubuhnya tanpa melepaskan tangan Diego. Ia yang semula duduk di pinggiran ranjang kini nampak naik ke atas tempat tidur berukuran king size itu. Duduk bersila di atas ranjang, menghadap sang ayah.


Arini lantas meraih ponsel di sakunya. Mengetik kan sesuatu di room chat nya dengan Fajar. Meminta nomor ponsel Glenca, atasananya, guna meminta izin untuk tidak pergi bekerja hari ini.


Ia tak mungkin meninggalkan ayah kandungnya sendiri dalam kondisi sakit seperti ini. Laki laki ini adalah satu satunya keluarga yang ia punya. Se menyebalkan apapun laki laki itu, Digo tetaplah ayah kandung yang wajib untuk ia hormati.


Arini selesai dengan ponselnya. Ia memasukkan kembali benda pipih itu ke saku celananya. Lalu meringsutkan tubuhnya mendekati sang ayah yang kini terdengar merintih menahan sakit. Diusapnya kepala laki laki itu dengan lembut. Seolah ingin memberikan ketenangan untuk pria tampan yang kini nampak meringkuk tal berdaya itu.


...****************...


Sementara di tempat terpisah....


Dokter paruh baya yang tengah dalam perjalanan menuju rumah Diego itu nampak memainkan ponselnya. Mencari nama seseorang yang sangat ia kenal di sana lalu menelfon nya..


tuttt..... tuutt.... tuuuutt.....


"halo"...ucap seorang wanita dari seberang sana.


"halo, selamat pagi, nyonya Giselle" ucap si dokter.


"pagi, dok. Ada apa, dok? tumben pagi pagi begini menelfon saya?" tanya wanita dewasa kakak kandung Diego itu.


"begini, nyonya. Saya baru saja dapat kabar dari seorang pembantu rumah tangga yang bekerja di rumah tuan Diego, katanya tuan muda sedang sakit. Ini saya diminta untuk datang ke rumah beliau. Apa nyonya sudah mengetahuinya?" tanya si dokter.


"apa?! Digo sakit?!" tanya Giselle sedikit kaget.


"benar, nyonya. Pembantunya yang tadi mengabari saya" ucap dokter Irwan.


Giselle yang tengah berada di meja makan itu kini nampak menyangga kepalanya dengan menggunakan satu tangannya sembari memijit mijit pelipisnya. Nih anak pasti penyakit lamanya kambuh..! memang bandel sekali bocah satu itu..! pikir Giselle.


"nyonya? nyonya baik baik saja?" tanya dokter Irwan saat tak mendapati jawaban dari Giselle.


"oh, iya. Saya baik baik aja kok. Makasih ya, dok, atas infonya. Nanti saya akan ke sana untuk mengunjungi Digo" ucap Giselle.


"baik, nyonya. Kalau begitu, saya mau lanjut ke rumah tuan muda"


"nanti kalau ada apa apa kabari saya ya, dok" ucap Giselle.


"tentu nyonya"


"oke, kalau begitu terima kasih ya, dok"


"sama sama, nyonya" ucap si dokter.


Sambungan telepon pun terputus.


Giselle yang tengah makan seorang diri itupun lantas meletakkan ponselnya di atas meja. Ia menghela nafas panjang sembari menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi meja makan itu.


"Digo, Digo. Pantesan kemarin kakak minta kamu kesini kamu nggak dateng. Ternyata kamu lagi sakit. Mana aku harus sidang pertama lagi hari ini..!" ucap wanita itu lagi.


Giselle menghela nafas panjang. Ia jadi sedikit khawatir dengan kondisi adik kandungnya itu. Semoga saja sakitnya kali ini tidak terlalu parah. Mungkin ia akan datang ke rumah Diego nanti agak sore. Ia harus menyelesaikan urusan pribadinya dulu sebelum menjenguk adik kandung nya itu.


...----------------...


Selamat pagi,

__ADS_1


up 04:36


yuk, dukungan dulu 🥰🥰


__ADS_2