My Fake Daddy

My Fake Daddy
MFD 114


__ADS_3

Bendera kuning tertancap miring di pagar rumah mewah bak istana itu. Lalu lalang mobil mobil mewah silih berganti, keluar masuk area halaman luas dengan taman kecil di sekeliling lahan berpaving itu.


Suasana duka terlihat jelas disana. Seorang pria nampak duduk bersila disamping jasad yang kini telah terbujur kaku di ruang tamu rumah megah itu. Matanya merah. Sorot matanya nanar sembari memangku seorang bocah laki laki, keponakan nya yang seolah tak mau jauh jauh dari pria tampan berjambang tipis itu.


Jika sang kakak masih bisa bangkit, merespon sapaan dan ucapan belasungkawa dari para tamu yang hadir di temani Sam di sampingnya, maka Diego sejak tadi sama sekali tak bergerak.


Zidan, sang keponakan yang sesekali mengajak uncle nya berbincang sembari memainkan robot robotan di tangan itu hanya di respon dengan anggukan kepala oleh Digo. Sungguh, dunia seorang anak runtuh seketika ketika ditinggal mati salah satu orang tuanya.


Sebuah penyesalan dan kehilangan begitu sangat ia rasakan. Laki laki yang kini terbujur kaku itu adalah satu satunya orang tua yang ia punya setelah kepergian ibundanya beberapa tahun lalu. Digo yang lebih sering menghabiskan waktu di rumah barunya ketimbang di rumah sang ayah itu kini seolah merasakan penyesalan yang teramat dalam.


Tanpa suara, namun mata merah dan berair serta mimik wajah yang tak menampakkan senyuman sedikitpun, seolah menggambarkan, betapa pria itu begitu sangat terpukul kini.


Para pelayat datang silih berganti. Dengan wajah sembab, Giselle ditemani Sam nampak sesekali tersenyum disela duka, kala menerima ungkapan bela sungkawa dari sejumlah kerabat, tetangga, serta rekan bisnis keluarga Hernandez.


Sepasang ayah dan anak memasuki rumah duka. Calvin dengan rambut diikat, kacamata hitam, serta busana serba hitam nampak memasuki rumah megah yang dipenuhi para pelayat itu sambil menggandeng seorang gadis belia yang mengenakan pakaian berwarna senada serta sebuah kerudung hitam menutup tidak sempurna rambut panjangnya.


"Arini, tuan Calvin.." ucap Giselle dengan mata bengkak itu seraya berdiri menyambut kedatangan pria idolanya serta si buah hati itu. Sam ikut bangkit.


"saya turut berduka cita, nona Giselle. Semoga almarhum di tempatkan di tempat terbaik di sisi Tuhan" ucap Calvin.


Giselle yang biasanya ceria kini hanya terlihat menyunggingkan senyuman pilu. Calvin dan Arini lantas duduk di sana, tak jauh dari jasad tuan Hernandez yang sudah berada di dalam keranda.


Arini dan Calvin berbaur dengan tamu yang lain. Sesekali gadis itu nampak melirik ke arah laki laki yang sejak tadi tak pernah sekalipun mengangkat kepalanya. Pria tampan yang biasanya selalu memperlihatkan sisi angkuh dan sombongnya, hari ini nampak menunduk sembari memangku seorang bocah laki laki di sana. Sesekali pundaknya terlihat naik turun, membuang nafas yang terasa sesak di dadanya, menggambarkan duka yang kini ia rasakan lantaran ditinggal pergi oleh sang ayah untuk selama lamanya.


Calvin menoleh ke arah sang putri yang sejak tadi tak lepas menatap iba ke arah Diego. Laki laki itu lantas mendekat kan wajahnya ke telinga sang putri lalu berbisik pelan.


"kamu nggak mau nyamperin dia?" tanya Calvin.


Arini menoleh.


"ngapain, pak? Arin bukan siapa siapa" ucap gadis itu.

__ADS_1


"mungkin dia butuh dikuatkan" ucap pria itu lagi.


Arini diam sejenak. Lagi, ia menoleh ke arah Diego. Laki laki itu nampak menggerakkan tangannya. Mengusap pipi lalu area bawah hidungnya dengan cepat tanpa mengangkat kepalanya.


Entah mengapa Arini ikut merasa iba melihat pria itu.


Calvin tersenyum simpul. Ia lantas bangkit dari posisi duduknya, berjalan mendekati pria menyedihkan disana. Membuat Arini, Giselle, juga Sam sedikit terkejut di buatnya.


Seeeeetttt.....


Tangan kekar itu menyentuh pundak kokoh yang tengah rapuh milik sang Diego.


Digo menoleh. Kedua mata tajam milik dua pria beda usia itu saling beradu.


Sam, Giselle, dan Arini nampak khawatir. Nggak lucu kan, kalau kedua pria itu saling baku hantam ditengah duka yang kini terjadi di rumah itu.


"aku turut berduka cita" ucap pria itu tenang.


"ayahmu adalah orang baik. Tuhan pasti akan memberikan tempat terbaik untuknya" ucap Calvin lagi.


Digo masih diam. Matanya bergerak gerak seolah mengamati tiap inchi wajah pria yang sangat ia benci itu. Tapi kali ini rasa benci itu seolah tak se menggebu dulu. Laki laki itu bahkan mendekati nya dan memberikan ucapan bela sungkawa pada pria yang pernah membohongi anak kandungnya itu.


Diego menunduk. Lalu mengangguk kaku. Calvin tersenyum. Pria itu diam di tempat itu untuk beberapa saat. Duduk bersebelahan dengan Digo untuk beberapa waktu sambil sesekali mengajak pria yang tengah berduka itu untuk berbincang bincang ringan. Sedangkan Diego hanya menjawab seperlunya dengan kalimat kalimat singkat.


Cukup lama ia duduk di sana, Calvin lantas berpamitan pada Diego dan kembali ke tempatnya semula, duduk di samping sang putri.


"pak..." ucap gadis itu.


Calvin menoleh.


"apa?" tanya Calvin.

__ADS_1


"bapak ngapain deketin dia? bapak ngobrol apa sama dia?" tanya Arini.


Calvin tersenyum menatap wajah sang putri yang nampak menatapnya polos. Laki laki itu tersenyum, ia sedikit membungkuk mendekatkan wajahnya pada sang putri seraya berkata.


"melayat orang meninggal itu tujuannya untuk mendoakan dia yang sudah dipanggil Tuhan, dan juga memberikan semangat serta dukungan moral untuk keluarga yang ditinggalkan. Bukan cuma duduk diem kayak kamu" ucap Calvin sedikit meledek sang putri di akhir kalimat nya.


Arini hanya memonyongkan bibirnya. Calvin mengulum senyum. Ia kemudian kembali menegakkan posisi tubuhnya.


Arini diam diam melirik ke arah Digo.


deeeeegggghhhh.....


pria itu menatapnya dengan sorot mata sendu. Gadis itu kemudian menunduk lagi. Tak berani beradu pandang dengan pria itu. Netra pria tampan itu berhasil membuat jantungnya berdebar.


Arini mengatur nafas. Ia kembali memberanikan diri mengangkat kepalanya. Kembali mengarahkan pandangannya ke arah sang Diego.


dan....


degghh...deghhh... degghh...


Jantung gadis itu berdetak lebih cepat. Sorot mata bulatnya kembali beradu dengan mata merah berair milik pria di seberang sana. Arini mematung dibuatnya.


Diego lantas menyunggingkan senyuman tipis. Arini nampak membuka matanya disenyumi Digo. Ia lantas mengangguk, membalas senyum dengan gerakan kaku lalu menunduk lagi.


"yang kuat, daddy...jangan sedih lagi" batin gadis itu dibalik sebuah senyuman yang diam diam tersungging di bibirnya.


...----------------...


Selamat siang


up 11:28

__ADS_1


yuk, dukungan dulu 🥰😘


__ADS_2