
Malam menjelang di kediaman Calvin Alexander...
Di sebuah ruang televisi di lantai dua bangunan rumah itu..
Benda berbentuk persegi panjang bergambar dan bersuara itu nampak menyala. memutar sebuah film bergenre action kesukaan Calvin dan Arini.
Sepasang ayah dan anak itu nampak merebahkan tubuh mereka di atas sofa tempat tidur lipat. Tidur di bawah satu selimut yang sama dengan dua buah bantal sebagai sandaran kepala mereka masing-masing. Menatap lurus ke arah televisi sembari menikmati berbagai jenis snack disana dengan lampu ruangan yang dibiarkan mati.
Calvin sibuk dengan filmnya. Sedangkan Arini, gadis itu sejak tadi nampak diam. Mulutnya tak henti mengunyah. Matanya terus menatap ke arah televisi. Kepalanya tersandar di dada bidang sang ayah dengan tangan Calvin yang tak henti membelai pucuk kepala gadis kecil itu.
Raganya mungkin ada di sini, tapi tidak dengan pikiran nya. Arini melamun. Angan angan nya sedang melayang-layang jauh bersama Diego.
Ya, pasca ucapan berisi tantangan ia layangkan pada Diego siang tadi. Sejak saat itu pula perasaannya menjadi tak tenang.
Apakah laki-laki itu akan datang ke rumahnya dan menemui ayah kandungnya? atau Digo akan memilih untuk mundur karena ia lebih mementingkan egonya dan tak sudi mengucap kata maaf pada Calvin?
Jika memang benar itu yang akan terjadi, maka Arini harus bersiap-siap untuk merasakan patah hati. Karena jujur saja, perasaannya pada Digo kini sepertinya sama dengan apa yang Digo rasakan pada Arini.
Gadis cantik itu mulai mencintai laki-laki tampan tersebut. Tapi sebagai seorang anak yang sudah terlanjur menyayangi ayahnya, ia tak mau egois. Calvin di atas segalanya. Calvin adalah yang utama dalam hidupnya. Mau menerimanya, itu artinya juga harus mau menerima Calvin dengan segala kekurangannya.
Jika Diego masih keukeuh dengan pendiriannya, maka Arini pun akan memilih untuk tidak akan melanjutkan hubungannya dengan laki-laki itu. Se cinta cintanya ia dengan Diego, ia tetap akan lebih memilih ayahnya daripada orang lain. Karena Calvin tidak akan pernah tergantikan oleh siapapun.
Arini menghela nafas panjang. Gadis itu kembali meringsut. Mendekap tubuh tegap sang ayah lalu memeluknya erat. Membuat Calvin yang sejak tadi fokus pada layar televisi itupun kini menoleh ke arah sang putri.
"kamu kenapa? kok tumben dari tadi diem aja?" tanya Calvin.
Arini tak menjawab. Ia hanya meringsut seolah meminta dipeluk lebih hangat oleh sang ayah.
"dingin, pak" ucapnya.
Calvin diam. Ia yakin ada sesuatu yang mengganjal di benak gadis itu.
Calvin menggerakkan sebelah tangannya membelai rambut panjang sang putri dengan lembut penuh kasih sayang. Sedangkan tangan lainnya nampak mengusap usap pundak Arini seolah ingin memberikan kehangatan untuk gadis itu.
"ada apa?" tanya Calvin.
"kalau ada apa apa itu cerita. Bukan diem aja" tambahnya.
Arini menghela nafas panjang. Ia lantas melepaskan pelukannya. Lalu mengubah posisi tubuhnya, duduk bersila menghadap sang ayah yang masih berbaring dengan satu kaki yang ditekuk.
"pak," ucapnya.
Calvin mulai mendengarkan.
"kalau misalkan ada seseorang yang datang kesini buat minta maaf, bapak akan maafin nggak?" tanya Arini.
Calvin diam. Menatap sang anak dengan penuh tanya. Laki laki itu lantas bangkit. Ikut duduk bersila dalam posisi saling berhadap hadapan dengan putri kecilnya itu.
"siapa yang mau datang kesini?" tanya Calvin.
"bapak mau maafin nggak?" tanya Arini lagi.
"ya siapa dulu yang datang..!" jawab laki laki itu lagi.
Arini menunduk.
"dia.." cicitnya lirih.
__ADS_1
"haah?" tanya Calvin sambil sedikit membungkuk, memperjelas pendengaran nya.
"itu.." ucap Arini lagi.
"siapa, nak?" tanya Calvin lagi.
"Digo.." ucapnya Arini kemudian dengan suara sangat pelan.
Calvin diam lagi. Menatap penuh selidik ke arah gadis yang kini menunduk itu.
"kenapa kamu tiba tiba nanya seperti itu? kamu ketemu sama dia?" tanya Calvin yang memang belum mengetahui perihal kedekatan Arini dan Digo akhir akhir ini.
Arini mengangguk. Gadis itu lantas mendongak.
"bapak," ucapnya.
"apa?" tanya Calvin.
"Arin mau minta maaf.." kata gadis itu. Membuat Calvin kini nampak memiringkan kepalanya.
"untuk..."
Arini menunduk lagi. Ia pun lantas membuka mulutnya. Menceritakan perihal kedekatan nya dengan Digo akhir akhir ini. Tentang nya yang diam diam sering menghabiskan waktu bersama dengan laki laki itu. Tentang Digo yang beberapa hari terakhir begitu intens menghubunginya, melakukan pendekatan padanya, hingga puncaknya siang tadi laki-laki itu menyatakan cinta pada gadis muda anak Calvin Alexander itu. Arini menceritakan semuanya tanpa ada yang ditutupi pada sang ayah.
Calvin diam mendengarkan tanpa bicara ataupun bergerak. Hanya matanya yang menatap ke arah sang putri dengan sorot mata tak terbaca.
Arini pun kini berucap sembari menunduk. Tak berani mengangkat kepalanya, menatap ke arah sang ayah.
"Arin minta maaf, pak. Arin nggak bilang sama bapak" ucap gadis itu.
Calvin diam.
Arini menggelengkan kepalanya.
"Arin cuma bilang, jangan buru buru. Arin bilang, kalau emang dia sayang sama Arin, Arin mau dia datang ke rumah ini dan ketemu langsung sama bapak" ucapnya.
"untuk?" tanya Calvin.
"minta maaf..." jawab gadis itu polos.
Calvin mengangkat dagunya.
"pak, Arin nggak mau menjalin hubungan sama seseorang yang hanya mau menerima Arin, tapi nggak mau menerima orang tua Arin" ucapnya.
"apa itu artinya kamu menolaknya?" tanya Calvin lagi.
Arini menggelengkan kepalanya lagi.
"Arin masih pengen lihat keseriusan dia, pak. Apa dia mau datang ke sini dan minta maaf sama bapak." ucap Arini.
"kalau iya? kamu mau menerima dia?" tanya Calvin lagi.
Arini mendongak.
"sesuai izin bapak" ucap gadis itu dengan mata dalam. Calvin diam tak bergerak.
"aku hanya seorang anak yang hanya ingin berbakti sama orang tua. Jika bapak mengizinkan aku deket sama dia, aku akan menerima dia. Kalau enggak, aku berusaha bicara baik baik sama dia..." ucap Arini.
__ADS_1
Sungguh, ia hanyalah seorang anak yang ingin menunjukkan baktinya pada sang ayah. Meskipun tidak bisa dipungkiri, kini ia mulai memiliki perasaan suka pada diri Diego, tapi sebagai seorang anak ia tak mau merasakan kebahagiaan itu sendiri. Mengingat hubungan antara Digo dan Calvin memang tak begitu baik sejak dulu. Arini ingin bahagia yang ia rasakan juga di rasakan oleh sang ayah. Jika Calvin tidak mengizinkannya berhubungan dengan Digo, maka ia akan menjauhi laki laki itu. Ia akan berusaha memupus rasanya pada pria itu, dan menjalani kehidupannya lagi dengan sang ayah.
Calvin tersenyum.
"kenapa begitu?" tanya Calvin lagi.
"ya karena aku sayang sama bapak" jawab Arini.
"sama dia?" tanya Calvin lagi.
Arini menunduk.
Calvin tersenyum. Tangannya tergerak membelai lembut pucuk kepala gadis itu.
"Nak, asal kamu tahu. Sejak awal Diego membenci bapak, bapak tidak pernah malam memperdulikannya, karena bagi bapak, dia hanyalah seorang anak muda yang masih labil yang belum mengerti apa-apa. Semua itu terus berjalan sampai bertahun-tahun. Pandangan bapak terhadap dia masih sama." ucap Calvin sembari tersenyum
Arini menatap polos pria berjambang lebat itu.
"Sampai pada suatu ketika saat bapak mengetahui kamu dibohongi oleh dia, kita dipisahkan, bapak marah..! bapak nggak terima sama perlakuan dia. Rasanya bapak ingin membalas sakit hati yang sudah kamu terima"
"tapi lagi-lagi bapak kembali menarik ulur hati bapak. Kamu ingat, saat kamu kecelakaan dulu? saat bapak masih ragu-ragu untuk menerima kamu sebagai anak bapak? tanpa kamu tahu, ternyata sejak malam sampai pagi hampir tiba laki-laki itulah yang menemani kamu, menjaga kamu saat kamu tidur, demi memastikan kamu tetap baik-baik saja di luar rumah."
"dia nggak mau kamu kenapa kenapa.."
Arini nampak diam tak bergerak.
"Bahkan saat kamu tidak sadar, saat dokter mengatakan kamu kekurangan darah, dia dengan lantang mengatakan rela memberikan apapun yang kamu butuhkan. Asal kamu selamat" (di bagian ini ada di bab 85, author revisi sedikit di bab itu)
"Disaat itu bapak sadar. Laki laki itu mencintai kamu. Laki laki itu bahkan rela menghabiskan waktunya untuk menjaga kamu disaat bapakmu ini justru sibuk dengan dunianya sendiri"
"Dia menyayangi kamu dengan caranya sendiri, nak"
Calvin tersenyum.
"Rin, dia laki laki yang baik. Hanya hati dan kepalanya saja yang keras seperti batu. Tapi percayalah, Diego, ketika dia sudah mencintai satu perempuan, maka dia akan memperjuangkan perempuan itu, berusaha menjaga dia dengan sekuat yang dia bisa. Dia tidak akan berpaling ke manusia lain sebelum dia bisa mendapatkan wanita itu." ucap Calvin
"Seperti yang dulu ia rasakan pada Steffi, mantan istri bapak. Bahkan sampai Steffi meninggal pun dia masih menyayangi wanita itu. Dia adalah laki laki yang selalu sepenuh hati jika jatuh cinta. Hatinya yang keras, tidak mudah untuk di luluh kan. Dan kamu, kamu bisa..! kamu adalah wanita satu-satunya yang bisa menggeser posisi Steffi. Posisi wanita yang sudah bertahun tahun mengisi hati laki laki itu" ucap Calvin.
"bapak bicara seperti ini karena bapak mengenal laki laki itu. Bapak juga sering mendengar cerita dari Giselle tentang laki laki itu" ucap Calvin.
"Rin, terimakasih kamu masih mau memikirkan bapak. Langkah kamu sudah benar. Kita beri kesempatan untuk dia agar berfikir. Kita tunggu dia datang ke rumah, kalau dia memang bersedia datang, menunjukkan etikat baiknya sebagai seorang laki laki, maka bapak tidak akan ragu ragu untuk memberi izin kamu dekat dengan dia. Tapi ingat, kamu perempuan. Pandai pandai menjaga diri. " ucap Calvin.
"jatuh cinta lah dengan laki laki pilihan kamu. Bapak tidak akan memaksa kamu menjauhi ataupun mendekati siapapun. Cinta itu milik kamu. Kebahagiaan itu kamu yang bisa merasakan nya. Bapak pernah dipaksa jatuh cinta. Bapak pernah dipaksa mencintai dan membina rumah tangga dengan wanita yang awalnya tidak bapak kehendaki. Walaupun bapak sempat berhasil untuk memupuk cinta itu, tapi kamu lihat sendiri kan, akhir dari cerita cinta bapak dan istri bapak?" tanya Calvin.
"bapak nggak mau jadi orang tua yang egois. Bapak tidak pernah menghalangi kamu untuk memilih pasangan yang kamu mau. Tindakan kamu sudah benar. Jika ada laki laki yang ingin mendekati kamu, ajak dia datang kerumah. Biar bapak tau, siapa yang menjaga putri bapak saat bapak sedang tidak bersama kamu. Biar bapak juga tahu, pada siapa hati putri bapak tertambat sekarang." ucap Calvin begitu tulus.
"terima kasih, nak. Kamu sudah benar dalam mengambil keputusan. Kamu gadis yang pintar. Kamu sudah dewasa sekarang. Bapak bangga sama kamu" ucap pria itu.
Arini tersenyum. Sepasang ayah dan anak itu lantas saling berpelukan dengan erat, seolah ingin menunjukkan rasa mereka satu sama lain.
...----------------...
Selamat siang
up 12:37
yuk, dukungan dulu 🥰
__ADS_1