
Motor trail itu berhenti tepat di halaman tak terlalu luas rumah tanpa pagar itu. Arini yang basah kuyup melepas helmnya. Penampilannya kini sudah sangat acak acakan. Ia berjalan menuju pintu utama rumah itu tanpa alas kaki. Dengan sebuah ransel dimana di ujung tali di sisi kanan dan kirinya terdapat sepasang sepatu yang tergantung disana.
Arini masih sesenggukan. Ia menangis terisak isak lalu membuka pintu utama rumah dua lantai milik ayahnya.
ceklek....
pintu terbuka. Tiga orang pria yang berada di dalam ruang tamu itu mendongak, menatap ke arah pintu
"Arini?!" ucap pria gondrong yang nampak duduk di ruang tamu bersama Ivan dan Miko.
"Dek..!!" tambah Ivan.
Ketiga pria itu nampak terkejut melihat penampilan Arini yang memprihatinkan. Basah kuyup, tanpa alas kaki, rambut lepek, menangis sesenggukan dengan dua sepatu tergantung di sisi kanan dan kiri tali ranselnya.
Calvin bangkit. Begitu juga Ivan dan Miko. Didekatinya gadis malang itu.
"Arini, kamu kenapa, sayang?" tanya Calvin sembari meraih pundak sang putri. Raut wajah khawatir terlihat jelas dari sana.
Arini sesenggukan. Calvin terlihat bingung.
Lalu.....
"bapaaaaakkkk........hwahahahahaha......" tangis gadis itu sejadi jadinya. Ia menangis meraung raung bak seorang bocah yang diambil mainan nya.
Calvin terdiam.
"bapaaaaaaakkkkk......!!!!"
Calvin meraih tubuh ramping itu lalu memeluknya. Seolah ingin memberikan ketenangan pada sang putri meskipun ia belum sepenuhnya tahu apa yang sebenarnya terjadi. Yang pasti gadis kecilnya itu tengah butuh pelukan sekarang. Ia tengah butuh tempat untuk bersandar.
Ivan dan Miko nampak mengusap punggung sang gadis yang sudah seperti adik mereka sendiri itu seolah ingin memberikan semangat. Arini menangis sesenggukan. Hatinya hancur. Bukan karena ia tak mendapatkan cinta Diego, tapi lebih karena sakit hati, merasa dibohongi dan dipermainkan oleh laki laki tua itu.
Calvin terus memeluk sang putri tanpa bertanya lagi perihal apa yang terjadi. Ia hanya memeluk Arini sembari memberikan kecupan kecupan lembut untuk sang gadis kecil kesayangan nya.
Mungkin bukan pertanyaan yang gadis kecil itu butuhkan sekarang, melainkan tempat untuk bersandar. Tempat untuk meluapkan emosinya, kesedihan nya, dan air matanya.
Pertanyaan bisa Calvin layangkan nanti, sekarang yang terpenting adalah Arini tenang dulu.
...****************...
Sementara itu di tempat terpisah,
di bawah sebuah pohon besar di pinggir taman kota, pria itu nampak diam menyandarkan tubuhnya sembari sesekali menghisap sebatang cerutu di tangannya. Menatap nanar lurus ke depan ke arah serentetan kendaraan yang nampak lalu lalang melintasi jalanan ibu kota yang sudah mulai lengang.
drrrrtt.... drrrrttt.....
__ADS_1
ponsel di tangannya bergetar lagi. Entah sudah yang ke berapa kali. Sejak ia masih di kantor tadi, Giselle tak henti menghubunginya namun tak ia angkat.
Entah bagaimana perasaan pria itu. Bukan kesal, bukan benci, bukan pula marah pada kakak kandungnya itu. Tapi lebih pada menyalahkan takdir yang seolah tak berpihak padanya.
Dari sekian juta umat manusia kenapa Calvin dan Arini yang menjadi tambatan hati Diego dan Giselle?
Meskipun sebagian besar manusia mengatakan hal itu diperbolehkan, tapi bagi Diego, rasanya tak elok jika kakak kandungnya nanti akan menjadi ibu mertuanya sendiri.
Jadi kek judul sinetron, kan?😁
ting...
1 pesan masuk
Diego membuka pesan itu. Dari Giselle...
"Go, kamu dimana, sih? kok belum pulang? aku di rumah kamu. Ada yang mau aku omongin sama kamu" tulisnya.
Diego tak menjawab pesan itu. Lagi lagi ia mengabaikannya. Laki laki itu lantas meraih batang rokok yang sudah pendek itu lalu mematikannya. Menekan ujung yang terbakar itu pada rerumputan subur, alas duduknya.
Diego mengusap wajahnya.kasar. Sungguh, ia benar benar frustasi. Laki laki itu sudah membooking tiket untuk penerbangan nya besok pagi. Ia berencana akan bertolak keluar negeri. Meninggalkan negara ini, Arini, dan semua kenangan pahit percintaan nya di tempat ini. Entah untuk waktu berapa lama, ia tak tahu. Yang pasti mungkin untuk waktu yang tidak sebentar. Ia ingin menjauh dulu dari Arini. Ia butuh waktu sendiri.
Diego meraih lagi bungkus benda bernikotin itu, mengambilnya sebatang, lalu menyalakan dan menikmati nya lagi. Begitu, terus dan terus sepanjang malam di taman kota yang perlahan mulai sepi ditinggalkan pengunjung nya itu.
...****************...
Kembali ke kediaman Calvin Alexander. Di dalam sebuah kamar yang identik dengan warna biru itu. Gadis cantik itu sudah terlelap di samping sang ayah. Calvin nampak dengan penuh kasih sayang mengusap usap lembut kening sang putri seolah ingin mengantarkan buah hati tercintanya itu untuk lebih dalam lagi memasuki alam mimpinya.
Ya, setelah puas menangis, gadis itu kini sudah terlelap. Arini tertidur setelah ia menyelesaikan tangisannya, lalu menceritakan semua yang ia alami malam ini pada sang ayah.
Ya, Arini menceritakan semuanya, tentang perlakuan Diego yang tiba tiba mengatakan ingin mundur tak mau melanjutkan hubungan mereka. Gadis itu menumpahkan segala kekesalan nya pada sang ayah. Betapa ia sangat kecewa dengan pria itu yang seolah terus mempermainkan perasaan nya.
Calvin yang mendengarkan jeritan hati sang putri hanya bisa diam. Diam mendengarkan kemudian memberikan kata kata penyemangat dan hiburan nya untuk sang putri.
Laki laki itu terlihat begitu tenang di hadapan Arini. Namun di dalam hatinya, siapa yang tahu?
Ayah mana yang tak marah jika putrinya terus diombang ambingkan perasaan nya seperti itu?
Arini pernah dibohongi berbulan bulan, gadis itu masih memaafkan. Gadis itu menjauh, Diego belingsatan mencari cari putrinya untuk minta maaf. Setelah mendapatkan maaf, ia pikir Diego akan bersungguh-sungguh mencintai putrinya setelah itu. Sampai sampai Calvin mendukung Arini untuk menunggu Diego datang kerumahnya dan menemui dirinya.
Namun rupanya ia salah. Diego kembali membuat putri kecilnya menangis. Menangis sejadi jadinya membuat batinnya sebagai seorang ayah merasa tak terima dibuatnya.
Mungkin Diego memang perlu diberi pelajaran, lagi..!
Calvin meringsut dari tangan Arini yang mendekap tubuh tegapnya. Diraihnya sebuah guling guna menggantikan badannya agar bisa dipeluk oleh gadis cantik itu.
__ADS_1
Calvin mengecup kening Arini.
"tunggu disini, sayang. Bapak akan menyelesaikan semuanya. Bapak akan pastikan, saat kamu bangun nanti, keadaan sudah menjadi lebih baik" ucapnya lembut sembari menyunggingkan sebuah senyuman manis sembari mengusap usap lembut pipi mulus itu.
Dengkuran halus terdengar. Arini sudah makin lelap dalam buaian mimpi mimpi nya.
Pria gondrong itu lantas bergerak perlahan, meringsut menuruni ranjang lalu keluar dari kamar tersebut.
ceklek...
pintu kamar terbuka.
"bang..." ucap Ivan yang menunggu di depan pintu bersama Miko.
"gimana?" tanya Ivan yang juga ikut merasa khawatir.
"dia udah tidur..." jawab Calvin. Laki laki itu lantas melanjutkan lagi langkah kakinya yang terhenti. Menuju sofa, meraih jaket kulitnya lalu mengenakannya.
"terus lu mau ke mana malam-malam begini?" tanya Ivan
"gue mau nemuin si bangs*t itu..!" jawab pria gondrong itu.
"siapa?" tanya Ivan lagi
Calvin tak langsung menjawab. Ia mengayunkan kakinya keluar rumah di susul Ivan dan Miko yang seolah belum puas jika belum mendapatkan jawaban dari sahabat sekaligus atasannya itu.
"bang, si bangs*t siapa? Arini kenapa, bang?" tanya Ivan lagi.
Calvin yang sudah berada di samping motornya itu nampak menghentikan langkahnya. Ia berbalik badan, menatap ke arah Ivan. Mimik wajahnya terlihat garang.
"Diego mempermainkan perasaan anak gue..! dan sekarang gue akan temuin dia di rumahnya. Gue butuh penjelasan dari dia..! kalau memang dia belum kelar dendamnya ama gue, gue mau malam ini juga gue selesaikan masalah ini ama dia. Gue nggak mau anak gue terus terusan di bikin nangis ama si tolol itu...!" ucap Calvin memburu.
Ivan menarik nafas panjang. Calvin mulai menyalakan mesin keadaannya.
"gue ikut lu, bang..!" ucap Ivan yang seolah tak mau Calvin pergi menemui Digo seorang diri. Ia takut terjadi pertumpahan darah lagi.
Calvin diam sejenak, lalu mengangguk
" lu pakai motor anak gua..!" ucapnya.
Ivan pun mengangguk. Kedua pria itu lantas pergi menggunakan dua motor berbeda. Sementara Miko ditugaskan untuk tetap berada di rumah itu. Menjaga Arini sampai ayahnya kembali.
...----------------...
Selamat siang,
__ADS_1
up 12:43
yuk, dukungan dulu 🥰