My Fake Daddy

My Fake Daddy
MFD 77


__ADS_3

Pagi menjelang,


Di sebuah rumah yang cukup bagus namun terlihat berantakan disana sini.


Jam menunjukkan pukul tujuh pagi. Gadis belia dengan mata bengkak itu nampak keluar dari kamarnya sambil membawa sebuah bak berukuran sedang berisi sampah dan beberapa botol alkohol kosong dari dalam kamarnya.


Ya, itu adalah sampah sampah dan barang tidak berguna yang ia kumpulkan dari dalam kamar yang kini ia tempati .


Arini sudah bangun sejak subuh. Gadis itu sudah membersihkan kamar tak terlalu luas itu sejak pagi. Dan kini saat jam sudah menunjukkan pukul tujuh pagi, gadis yang masih berada dalam fase sulit hidupnya itu keluar dari kamarnya. Berjalan menuruni tangga berniat untuk membuatkan sarapan untuk sang ayah dan membersihkan rumah mewah yang tak terawat itu.


Arini menghentikan langkahnya di tengah tengah barisan anak tangga. Dilihatnya di sana, dibawah, di sebuah ruang televisi, sekumpulan orang bertato nampak terkapar tak berdaya disana. Ada yang tidur di sofa, ada yang di ujung tangga, ada yang di lantai, ada yang di depan televisi. Beberapa botol miras tergeletak. Sebagian nampak dipegang oleh orang orang itu.


Arini terdiam. Sepertinya baru saja terjadi pesta miras disini. Pantas saja semalam ia mendengat suara berisik dari lantai bawah. Rupanya orang orang ini.


Arini menghela nafas panjang. Gadis itu kemudian melanjutkan langkah kakinya menuruni tangga. Melewati manusia-manusia pemuja kebebasan yang kini tengah teler itu dengan langkah se ringan kapas. Ia tak mau membangunkan para berandalan itu.


Arini lantas berjalan menuju belakang rumah. Meletakkan bak berisi botol botol alkohol ditangannya itu di gudang belakang rumah berlantai dua itu. Rupanya disana puluhan bahkan ratusan botol juga berserakan tak terurus. Sebagian bahkan nampak pecah.


Lagi, Arini hanya bisa menghela nafas tanpa berucap.


Gadis itu lantas kembali ke dalam rumah. Menuju ke dapur dan berniat membuatkan sarapan untuk dirinya, pak Yanto, ayahnya, dan orang orang bertato itu.

__ADS_1


"Rin," suara itu berhasil membuat Arini menoleh. Dilihatnya disana pria paruh baya dengan rambut yang sebagian sudah beruban itu nampak berjalan mendekati nya. Ya, itu pak Yanto. Semalam laki laki itu juga tidur di rumah itu. Disalah satu kamar tamu yang letaknya bersebelahan dengan kamar Arini.


"kamu udah bangun, ndok?" tanya pak Yanto.


Arini tersenyum. Lalu mengangguk samar tanpa berucap.


Pak Yanto tersenyum lembut.


"gimana tidurnya semalam? nyenyak?" tanya pak Yanto lagi seolah ingin mengajak Arini yang rapuh untuk berbincang.


Gadis itu tak menjawab. Ia hanya mengangguk lagi sambil tersenyum. Gadis itu lantas membuka kulkas.


Arini menghela nafas panjang, lalu menutup kembali kotak pendingin itu. Pak Yanto diam.


"Arin mau beli sayur dulu, pak" ucap Arini lirih.


"bapak temenin ya." ucap Pak Yanto seolah ingin menjadi penghibur untuk gadis itu. Ia tahu betul bagaimana perasaan Arini sekarang. Ia tak mau meninggalkan gadis itu sendirian. Terlebih lagi sejak kemarin ia tak melihat inisiatif yang berarti dari tuan Calvin untuk Arini.


Padahal anaknya sedang se rapuh ini. Jangankan mengajak bicara, menyentuh saja tidak.


Arini tersenyum. Ia lalu mengangguk. Kedua manusia beda usia itupun lantas bergegas untuk pergi dari tempat itu. Mencari tukang sayur yang mungkin saja lewat di depan komplek perumahan tersebut.

__ADS_1


Sepanjang perjalanan, Pak Yanto tak lelah mengajak Arini berbincang sambil sesekali mengeluarkan banyolan banyolan nya. Laki laki itu seolah ingin menghibur anak tetangga nya yang sejak kecil hidupnya selalu nelangsa itu tanpa mau menyinggung masalah yang kini tengah di hadapi gadis muda itu. Ia tahu, kini yang Arini butuhkan adalah suport dari orang orang terdekatnya agar gadis itu tak terus menerus larut dalam kesedihannya.


Namun alih alih tertawa, gadis itu bahkan sama sekali tidak merespon. Arini hanya diam seribu bahasa dengan sorot mata kosong menatap lurus kedepan. Bahkan disaat berjalan di temani pak Yanto pun, Arini masih sempat menitikkan air matanya. Membuat pak Yanto makin iba melihatnya.


Bagaimana nasib anak ini selanjutnya. Andai ia punya banyak uang, mungkin ia akan memilih untuk membawa Arini pergi saja dari kota ini laly hidup bersamanya. Dari pada tinggal disini namun hidupnya selalu dipermainkan.


Terlebih lagi kini Arini akan tinggal dengan ayah kandungnya. Laki laki yang ternyata memiliki kehidupan yang cukup mencengangkan. Bergaul dengan berandalan, punya usaha tato, hobinya mabuk mabukan..! sungguh, ia tak tega jika Arini harus hidup di tengah orang orang dengan pergaulan se menyeramkan itu.


Gadis ini terlalu polos. Ia takut jika Arini ikut terbawa dengan pergaulan ayahnya. Mau jadi apa anak ini nantinya??


...----------------...


selamat pagi...


salam subuh...


Dikit dulu ya, lanjut lagi nanti...


up 04:58


yuk, dukungan dulu 🥰😘

__ADS_1


__ADS_2