
Pagi menjelang....
Saat mentari perlahan mulai naik...
Di sebuah kamar mewah milik Diego Calvin Hernandez,
Gadis itu nampak menggeliat. Sinar matahari yang menerpa wajahnya melalui kaca kaca jendela yang tak tertutup tirai nya itu sukses membangunkan Arini dari tidur panjangnya.
Arini menggeliat. Badannya terasa sedikit kaku. Dengan mata yang masih setengah terpejam ia nampak mengamati ruangan luas itu. Seolah tengah mengumpulkan kesadaran nya yang masih jalan jalan entah kemana itu menjadi satu dalam otaknya.
Arini mengedarkan pandangannya mencari keberadaan jam dinding.
Setengah tujuh...!!
Arini menggeliat lagi. Dengan gerakan malas ia lantas berbalik badan.
Tiba tiba....
"astaghfirullah haladzim...!" ucap Arini kaget sambil reflek memundurkan tubuhnya. Dilihatnya disana Diego nampak berbaring dalam posisi miring menatap Arini sambil bertelanjang dada. Digo nampak tersenyum manis dengan mata kantuknya. Membuat Arini pun terlonjak kaget dibuatnya.
"daddy udah bangun...?!" tanya Arini.
"kalau aku belum bangun mataku tidak akan terbuka seperti ini, dasar bodoh..!" ucap Digo sedikit ketus. Khas seorang Diego yang angkuh. Sepertinya kondisi laki laki itu kini sudah lebih baik.
Arini menghela nafas panjang. Ditatapnya laki laki yang ternyata sudah bangun sejak sebelum subuh itu. Arini nampak mengubah posisi tubuhnya. Ia nampak berbaring dalam posisi miring. Saling berhadapan dengan laki laki tampan yang ia pikir adalah ayah kandungnya itu.
"trus kenapa nggak pakai baju?" tanya Arini sambil menarik selimut yang kini menutupi tubuh mereka hanya sebatas perut itu.
Digo tersenyum menatap wajah cantik itu. Wajah polos gadis yang menjadi objek pandang nya sejak tadi saat ia baru saja membuka mata itu.
"panas" ucap Digo.
Arini tersenyum. Di amatinya wajah tampan itu. Kini keduanya berbaring dalam satu ranjang di bawah selimut yang sama dalam posisi saling berhadap hadapan. Diego diam tak bergerak. Arini nampak tersenyum manis.
Ternyata jika dilihat lihat gadis ini cantik juga. Paras manis dan tidak membosankan. Tidak ada kesan seksi ataupun anggun, namun terlihat lucu dan menggemaskan.
Gadis ini juga sangat sabar dan perhatian di samping kelakuan nya yang sedikit bar bar. Gadis ini bahkan rela tidak masuk kerja dan memilih menemani nya yang tengah ambruk di rumah. Memenuhi segala kebutuhannya dan melayaninya yang manja sebagai wujud baktinya sebagai seorang anak pada ayahnya.
Padahal sebenarnya Diego hanya orang asing dalam kehidupan Arini.
Ah, kenapa tiba tiba Digo jadi merasa berdosa begini??!
Sikap buruknya dibalas dengan perhatian yang nyata dari gadis kampung ini. Gadis ini bahkan begitu sabar menghadapi Digo yang sakit. Padahal Giselle, kakak kandungnya saja selalu mengeluh dan ngomel ngomel ketika Digo sakit. Tak lain juga karena sikap manja Digo yang bak anak kecil ketika sedang tidak sehat. Susah disuruh makan, susah di suruh minum obat. Pokoknya seperti bocah lah...!
Tapi Arini si yang notabene masih gadis kemarin sore justru begitu telaten merawat Diego. Arini bahkan rela bangun tengah malam tadi untuk memapah Diego yang minta ke kamar mandi untuk buang air. Padahal jaraknya sangat dekat. Tapi Digo seolah tak mau pergi sendiri.
__ADS_1
Seutas senyum terbentuk dari bibir sang Diego. Arini menggerakkan tangannya menyentuh kening ayahnya.
"udah mendingan belum?" tanya Arini.
Digo tak bergerak. Jantungnya berdebar lebih cepat mana kala tangan putih itu menyentuh salah satu bagian tubuh nya itu.
Arini diam sejenak merasakan suhu badan Diego. Wajah keduanya cukup dekat. Digo makin terpana, tak henti menikmati wajah manis yang terus ia pandangi sejak pertama kali membuka matanya sebelum subuh tadi.
Arini tersenyum. Suhu badan Diego sudah menurun. Gadis itu lantas bangkit. Digo dengan gerakan cepat meraih tangan Arini.
"mau kemana?" tanya Diego.
"aku mau mandi. Sama ambil sarapan buat daddy" ucap Arini.
"nggak usah sarapan..." ucap Digo manja.
"kok nggak usah sarapan? kan biar cepet sembuh..!" ucap Arini lagi.
Diego tak menjawab.
"daddy mau mandi sekalian? aku siapin air hangat" ucap Arini.
Digo diam sejenak lalu mengangguk.
Arini tersenyum. Diraihnya ikat rambutnya yang berada di atas nakas. Lalu mengikat rambut panjang itu dihadapan sanga ayah yang masih tak bergerak menatap Arini.
Ah, indahnya pemandangan pagi ini.
Arini bangkit dari ranjang itu. Menyingkap selimut yang menutupi tubuhnya. Berdiri membelakangi Diego, menghadap jendela besar yang tak tertutup tirai itu.
Sinar matahari menerpa tubuh indah nya. Membuat siluet hitam membentuk lekukan tubuh ramping sempurna menjadi pemandangan indah yang kini tersaji tepat di depan mata Diego.
Astaga, bagus sekali. Lekukan tubuh yang sempurna dilihat dari belakang. Diego makin terpana. Mulutnya bahkan sedikit terbuka menyaksikan pahatan sempurna ciptaan Tuhan yang tersaji di depan mata dewasanya.
Arini menggerakkan kepalanya ke kanan dan kiri. Lalu berjalan menjauh dari tempat itu menuju kamar mandi dan menyiapkan air hangat untuk mandi Diego.
Arini bergerak dengan cekatan. Mengisi bathub dengan air hangat sembari membersihkan kamar mandi yang cukup luas itu.
Arini berjalan menuju wastafel kamar mandi. Mengelapnya serta kaca yang terpasang di dinding kamar mandi itu. Hingga tiba tiba......
.
.
.
.
__ADS_1
.
seeeeetttt......
Sepasang tangan kekar memeluk nya dari belakang. Sebuah kepala juga nampak bersandar di pundak nya.
Itu Diego...! ayah sombong dan angkuh itu memeluk tubuh putrinya dari belakang.
Arini diam tak bergerak. Ia memejamkan matanya. Tubuhnya meremang. Hembusan nafas berhasil menerpa kulit leher jenjang putihnya.
"thanks, baby...." bisik pria itu sangat pelan dan lembut.
Arini tak berkutik. Apa seperti ini rasanya dipeluk seorang ayah? pikir Arini.
Digo menggerakkan kepalanya. Menatap ke arah pantulan cermin yang menampilkan bayangan dirinya tengah memeluk Arini dari belakang.
Gadis itu nampak bodoh. Diam tak bergerak dengan raut wajah bingung. Sangat lucu dimata Diego yang sepertinya mulai terpesona dengan kecantikan dan kepolosan gadis kampung itu.
Diego tersenyum gemas. Di acak acaknya rambut panjang terikat itu. Lalu dengan gerakan cepat.
cup...
Dikecupnya pelipis gadis belia tersebut. Arini makin mematung. Digo lantas berlalu pergi menuju bathtub yang berada di samping wastafel. Dibatasi sebuah kaca buram di sana.
Arini tak bergerak. Seutas senyuman perlahan tersungging di bibirnya.
Inikah rasanya dipeluk dan dicium seorang ayah?
Aaakhh, astaga. Kenapa ia merasa bahagia?? Ini pertama kali dalam hidupnya ia mendapatkan pelukan dan kecupan singkat dari seorang ayah.
Jadi begini rasanya?
apa iya?
Mungkin memang iya...!
Astaga...! Arini nampak berbunga bunga. Akhirnya ia bisa merasa kan rasanya di peluk orang tua kandung. Diego memeluknya. Mengucap terima kasih padanya..!
Akhirnya....
Terima kasih, Tuhan. Kesabaran Arini berbuah manis. Akhirnya untuk pertama kalinya, setelah delapan belas tahun ia hidup, ia bisa merasakan pelukan seorang ayah....
...----------------...
Selamat pagi
up 06:25
__ADS_1
yuk, dukungan dulu 🥰🥰