
Deeeeegggghhhh....
Arini mematung. Wajahnya terlihat tegang. Digo menggerakkan tangannya, menyentuh lengan ramping itu dari atas bergerak ke bawah.
"jauh amat..." ucap Diego lembut.
Arini makin tak karuan.
Laki laki itu meringsut, mengikis jarak dengan sang istri. Diego duduk tepat di samping Arini. Diamatinya wajah polos itu dengan begitu intens dibarengi dengan sebuah senyuman yang dibuat semanis mungkin, seolah ingin menunjukkan betapa ia sangat mengagumi paras dara jelita itu. Hal itupun membuat Arini makin tak karuan. Ia mengeratkan dekapannya atas guling dalam pelukannya.
Diego kembali menggerakkan tangannya, membelai rambut panjang gadis itu tanpa mengubah posisinya.
"cantik banget istriku..." ucap Diego.
Arini menoleh.
"daddy...." cicitnya.
"apa, baby?" tanya Digo.
"bobok aja, yuk... ngantuk..." ucap Arini nampak takut. Diego mengulum senyum. Pria itu kembali meringsut, membuat tubuh keduanya kini semakin dekat. Diego kembali membelai rambut Arini, memainkan nya, mengusap wajahnya, lalu mulai meraba tubuh gadis itu hingga memeluk pinggang nya. Membuat gadis itu makin bergetar dibuatnya.
"kita kan suami istri, pengantin baru, masa malam-malam langsung tidur aja..." ucap Diego.
Arini mendongak, menatap wajah pria tampan yang kini tersenyum kearahnya itu.
"daddy....." rengek gadis itu.
Digo mengulum senyum. Tangannya yang bebas nampak tergerak membelai wajah cantik di hadapannya itu. Dari pipi, bergerak ke dagu, naik ke bibir, hidung, turun lagi ke bibir, dan seterusnya seolah menikmati tiap detail wajah manis yang selalu ia rindukan itu.
"apa?" tanyanya lembut dengan suara pelan. Arini mematung. Lidahnya tiba-tiba kelu. Ia yang ingin memohon untuk Diego menghentikan aktivitas nya itu kini justru terpaku menatap wajah tampan suaminya itu. Sorot mata bulatnya bertemu dengan netra tajam sang Diego yang malam ini terlihat begitu sangat menawan.
Satu tangan Diego bergerak memainkan jari-jarinya di wajah berkulit putih tanpa noda itu. Sedangkan satu tangan lainnya kini nampak bergerak mengusap usap pinggang berbalut piyama putih itu.
Suasana terasa hening, hanya ada sayuk sayuk suara anak punk yang sesekali tergelak entah membicarakan apa.
Semilir hawa dingin AC di kamar itu menambah suasana menjadi terasa semakin mendukung untuk keduanya menjalankan misi malam pertama mereka.
Ibu jari Diego kini tergerak, bergerak mengusap-usap lembut bibir merah muda milik sang istri cantik. Bibir yang sedang sejak dulu selalu menjadi candu bagi seorang Diego Calvin Hernandez. Bibir yang dulu sempat laki-laki itu cicipi di saat pergantian usia mantan anaknya itu.
"i love you..." ucap pria itu.
Arini tak menjawab. Gadis yang sejak tadi nampak gugup itu kini seolah terbius oleh suasana. Tangan laki laki itu bergerak dengan lembut di wajah dan pinggang nya. Sorot matanya juga penuh cinta, membuat Arini makin tak berkutik di buatnya.
"kamu takut?" tanya Diego.
Arini menelan ludahnya kasar. Lalu mengangguk samar. Diego tersenyum.
"jangan takut, daddy nggak akan kasar sama kamu.." ucapnya.
Jantung Arini berdebar makin tak karuan. Diego mendekatkan wajahnya. Hembusan nafasnya terasa menerpa wajah cantik anak Calvin itu. Membuat gadis itu kini nampak memejamkan matanya dengan dada naik turun.
Diego menggerakkan kedua tangannya kembali. Ia mengusap wajah cantik itu dengan jari jari tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya nampak mulai menyelinap masuk ke dalam baju piyama putih milik sang istri. Ia nampak meraba pinggang hingga perut rata wanita itu dengan lembut.
Diego menggesek-gesekan ujung hidungnya dengan ujung hidung Arini seolah ingin memberikan pemanasan pada wanita cantik itu agar tak terlalu gugup di malam pertama mereka. Jari-jari tangan yang semula hanya berkutat pada wajah kini mulai turun menyusuri leher. Sedangkan wajah tampannya kini mulai bergerak mengendus-endus seluruh inci wajah cantik itu.
Sangat wangi dan memabukkan...!
Dada Arini bergerak naik turun. Hawa panas mulai menyeruak. Arini mulai menikmati suasana malam yang Diego ciptakan. Kedua tangan Diego mulai berani bergerak nakal di tubuh ramping gadis itu. Sebelah tangannya kini mulai melepaskan satu demi satu kancing piyama Arini. Sedangkan tangan lainnya kini nampak menopang tubuh ramping yang mulai lemah dan pasrah dalam pelukan sang Diego.
Hembusan nafas gadis itu terasa mulai berat. Sesekali suara indah lolos dari bibirnya tanpa Arini sadari. Istri Diego itu nampak memejamkan matanya. Kepala Diego kini bergerak, setelah puas mengendus pada wajah cantik itu, kini ia mulai menggerakkan kepala itu menyusuri leher hingga telinga wanita sembilan belas tahun itu.
Dihirupnya aroma tubuh gadis belia itu sambil sesekali memberikan kecupan hingga gigitan lembut di sana. Membuat leher yang semula putih mulus itu kini nampak sedikit demi sedikit dipenuhi bercak merah, pertanda ada seorang manusia yang sudah pernah menjamah bagian itu. Kulit bagian bawah kepala itu juga nampak basah, lidah laki-laki itu bergerak bebas menyapu apa saja yang dilewati nya.
"hmmmmm...."
Arini membuang nafas dengan mata tertutup seolah merasakan sensasi yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Udara di kamar itu semakin panas, nafsu sepasang pengantin baru itu mulai menggebu. Diego mengulum senyum disela aktifitas nya. Ia suka respon yang istri kecil nya itu berikan..!
Masih dengan posisi kepala yang terus bergerak di area leher dan telinga gadis itu, Diego kini mulai menggerakkan satu tangan nya melepaskan baju piyama milik sang istri lalu melemparnya asal.
Dibaringkannya tubuh ramping gadis itu di atas ranjang. Digo lantas bergerak, dengan gerakan lembut laki-laki itu menurunkan kain pembungkus tubuh bagian bawah gadis kecil itu.
Arini nampak berdebar. Entah apa yang akan terjadi padanya setelah itu. Untuk pertama kalinya ia mempertontonkan tubuh mulusnya di hadapan laki-laki asing, meskipun kini masih berbalut pakaian dalam.
Diego mengulum senyum. Laki-laki itu lantas turun dari ranjangnya. ia melepaskan celana jeans pendek yang ia kenakan. Membuat tubuh berpostur tinggi tegap itu kini terpampang nyata di hadapan Arini, hanya berbalut sebuah bokser hitam yang membungkus sebuah gundukan cukup menonjol di sana.
Diego nampak mengulum senyuman nakal sembari mengigit bibir bawahnya. Dilihatnya wanita yang kini terbaring dihadapan nya. Jika dulu ia hanya bisa mengamati siluet tubuhnya kala ia sakit, kini ia bisa menyaksikan dengan jelas salah satu keindahan ciptaan Tuhan itu. Dan keindahan itu kini telah menjadi miliknya.
Diego naik lagi ke atas ranjang Ia mulai merangkak, mendekatkan wajahnya pada wajah cantik sang istri yang nampak tegang.
__ADS_1
Sang Diego mulai bekerja. Diego memiringkan kepalanya, tanpa aba aba ia mulai melahap benda merah muda yang selalu menjadi fokusnya itu. Arini tak bergerak. Ia yang belum terbiasa hanya diam seolah membiarkan suaminya itu untuk melakukan apapun yang ia inginkan pada bibir sucinya.
Tangan kekar itu bergerak lagi dan lagi, ia menyelinap, meraba bagian punggung Arini, mencari pengait kain pembungkus dua benda kenyal berukuran tak terlalu besar itu.
Tak butuh waktu lama, tangan yang memang sudah ahli di bidangnya itu akhirnya berhasil menemukan pengait yang ia cari. Dengan satu gerakan Diego menarik kain berbentuk dua buah mangkuk pembungkus benda kenyal kesukaan kaum laki-laki itu.
Lagi, Diego bergerak turun, melewati tiap inchi kulit mulus itu. Tak lupa ia memberikan beberapa tanda merah di setiap tempat yang ia lewati.
Wanita itu masih memejamkan matanya. Laki-laki itu berulah bak seorang bocah yang kehausan dan kelaparan. Ia memangsa apa saja yang ada di hadapannya seolah menemukan makanan ter nikmat dalam tubuh istri barunya itu.
Arini menggeliat. Nafasnya makin memburu. Anak Calvin itu menggigit satu jari telunjuknya, menahan suara aneh yang seolah memaksa ingin keluar dari mulutnya.
Permainan terus berlanjut, puas menikmati dua benda kenyal milik sang istri, ia kembali bergerak naik ke atas. Diserbunya lagi bibir merah muda itu kini dengan gerakan yang lebih memburu.
Laki-laki itu kembali menggerakkan satu tangannya, bergerak turun mengusap area ber pusar itu kemudian turun lagi ke bawah menuju sebuah lipatan-lipatan indah berbalut kain pembungkus berwarna hitam itu.
Arini tersentak. Entah apa yang laki-laki itu sentuh, namun sentuhan itu berhasil membuatnya bak tersengat sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Jari-jari itu bergerak lembut di bawah sana, mengusap-usap sesuatu di sana dengan lembut dan teratur membuat gadis itu nampak memejamkan matanya merasakan kenikmatan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Diego mendekatkan wajahnya pada wajah Arini. Tangannya masih bergerak aktif di bawah sana, sedangkan sorot matanya kini menatap wajah sama istri yang terlihat begitu menggoda di matanya. Membuatnya semakin bersemangat untuk melakukan lebih dan lebih.
"daddhh...." rintih Arini dengan nafas memburu.
Diego mengulum senyum. Bagian tubuh yang semula kering itu perlahan mulai basah.
Puas bermain main di sana, Diego pun menarik tangannya. Dikecupnya kening sang istri dengan lembut.
"i love you, sayang" ucapnya yang hanya dibalas dengan senyuman oleh sang istri.
Diego turun lagi dari ranjangnya. Didekatinya sebuah nakas kamar itu. Ia mengambil sebuah remote tv, lalu menyalakan benda berbentuk persegi panjang yang tertempel di dinding kamar itu lalu membesarkan volumenya. Tau lah, apa maksudnya? mengingat ruangan itu memang tidak kedap suara.
Arini yang sudah polos nampak bergerak mengubah posisinya. Ia duduk bersandar di sandaran ranjang berwarna biru itu.
Digo kembali mendekati sang istri. Dengan gerakan tenang, diturunkannya kain hitam satu satunya yang melekat di tubuhnya itu tepat di hadapan Arini. Membuat benda yang berada di dalamnya itu kini nampak mencuat, berdiri tegak menantang seolah bersiap untuk mencari sarang barunya.
Arini terdiam. Untuk pertama kalinya ia melihat benda sejenis itu di hadapannya.
Diego melirik ke arah sang istri.
"kenapa?" tanya Digo dibarengi sebuah senyuman dan tatapan nakal. Satu tangan kekar itu bahkan bergerak maju mundur memberi sentuhan khas untuk salah satu bagian tubuh unggulan kebanggaan nya tersebut.
Arini menggelengkan kepalanya. Gadis itu nampak malu malu. Diambilnya bantal disampingnya lalu menutupi wajahnya seolah ingin menyembunyikan raut wajah merah meronanya.
Diego kembali menggerakkan tangannya. Ditariknya kain pembungkus itu hingga menampakkan sebuah benda indah berbentuk lipatan-lipatan lembut dengan bulu-bulu tipis di bagian atasnya. Wajah Arini merah merona. Tangan mulus itu bergerak menutup benda yang sejak tadi menjadi fokus mata Diego itu.
Sungguh, dia tidak nyaman ditatap seperti itu oleh sang suami.
"jangan diliatin...!" rengek nya.
Diego terkekeh. Di raihnya lengan sang istri yang menutupi pemandangan indah dimatanya itu. Lalu diarahkannya tangan itu menyentuh benda panjang miliknya...
Arini yang masih kaku dan takut pun kembali menarik lengannya dari genggaman tangan Diego.
"kenapa?" tanya Digo.
"nggak mau..." rengek gadis itu.
"nggak apa-apa, pegang aja dulu..." ucap laki laki itu kemudian.
Diego kembali meraih tangan Arini. Membimbingnya untuk menggenggam benda kebanggaannya yang sudah berdiri dengan gagah seperti pemiliknya.
Ia menggerakkan tangan putih itu maju mundur seolah ingin memperkenalkan anak kecilnya itu pada sang istri.
Dada Arini naik turun. Matanya fokus pada benda berkepala botak itu. Ia yang semula kaku perlahan mulai terbiasa. Gerakan nya mulai luwes, bergerak maju mundur seolah memberikan salam perkenalan pada milik sang Diego yang pastinya akan sering ia jumpai itu.
Adegan pun terus berlanjut, puas dengan aktifitas tangan masing masing, Diego pun mulai bergerak menuju adegan inti.
Ditariknya tubuh ramping sang istri, membuat gadis itu kini kembali terlentang di atas ranjang biru itu.
Diego mendekatkan sang jagoan ke mulut goa barunya, membuat Arini makin menegang karenanya.
Putri Calvin itu memejamkan matanya. Tangannya meremas sprei birunya. Suaranya terdengar merintih, berbaur dengan suara televisi yang terdengar cukup keras memenuhi ruangan itu.
Sesuatu merangsek masuk kesana. Arini nampak meringis merasa perih.
"daddy, sakit..." rengeknya sambari mendorong tubuh Sang suami yang berada di atasnya.
"sssttt...." desis Diego yang tengah berusaha merobohkan gawang baru itu. Laki laki itu nampak meringis. Sepertinya sang jagoan merasakan kesulitan di bawah sana
"sakit..." rengeknya lagi. Setitik air mata bahkan menetes. Gadis itu menangis.
__ADS_1
"nggak mau, udah ..!" ucap gadis itu lagi.
Diego menghentikan pergerakan nya sejenak. Ia belum berhasil dengan misinya. Laki laki itu membungkuk, mendekatkan wajahnya pada wajah sang istri seolah ingin menenangkan gadis yang mulai merasa takut itu.
"nggak apa-apa" ucap Digo sembari mengusap lelehan air mata di pipi Arini.
"nggak apa apa gimana? sakit..! nggak mau, udah..." ucap wanita itu menangis.
"kalau udahan namanya bukan malam pertama, sayang" ucap Digo.
"nggak mau tau..! sakit..! nggak muat..! entar kalau nggak bisa dilepas kita bisa mati ganc*t tau nggak..!" rengek gadis itu membuat Diego terkekeh.
Diego tersenyum. Di kecupnya bibir sang istri yang menangis itu dengan lembut berkali kali
"udahan ya, dad..." rengek Arini.
"besok dikecilin dulu biar pas..." ucapnya lagi.
"ya nggak bisa, oon..! gimana caranya..." ucap Digo tak habis pikir.
"tapi sakit..." rengek Arini lagi.
"kan baru pertama, belum terbiasa. Entar lama lama juga nggak sakit.." ucap Diego.
Arini tak menjawab. Ia mengusap lagi lelehan air mata di pipinya.
Diego kemudian menggerakkan tangannya, mengusap usap benda merah muda sang istri kemudian memasukkan ibu jarinya ke mulut wanita muda itu,
"kalau sakit gigit aja, biar kita ngerasain sakit sama sama. Kamu sakit, aku juga sakit. Ya...." ucap laki laki itu.
"tapi pelan pelan..." ucap Arini.
"iya..."
"nggak langsung jadi anak, kan? aku nggak mau punya anak dulu..." ucap Arini meminta.
Diego diam, lalu tersenyum.
"gampang..." ucapnya kemudian.
"jangan gampang gampang aja..! beneran nggak?!" rengek Arini lagi.
"iya...!" jawab Digo.
"janji dulu..!" ucap wanita itu sembari menjentikkan jari kelingking nya.
Diego tersenyum. Diraihnya jari mungil itu lalu dimasukkannya kedalam lubang hidung nya. Arini pun refleks menarik tangannya lalu memukul dada laki-laki di atasnya itu.
"jorok banget sih...!" ucapnya.
Diego tergelak. Ia kembali menciumi bibir mungil itu dengan penuh cinta.
"pegangan.." ucap Diego kembali membimbing lengan Arini, mengalungkan kedua lengannya ke leher Diego.
Laki-laki itu kembali menjauhkan wajahnya. Ia kembali melancarkan aksinya mengarahkan sang jagoan untuk masuk ke tempat yang semestinya
Arini menggigit ibu jari Diego. Cukup keras laki-laki itu berusaha menjebol dinding wanita sembilan belas tahun yang masih suci itu.
"aaaaaaaaaakkkkkhhhhhhhh......" suara itu lolos dari bibir Diego. Laki-laki itu mendongak dengan mata terpejam. Sang jagoan berhasil menyelesaikan misinya. Setetes air mata kembali membasahi pipi Arini yang terus menggigit ibu jari suaminya.
Wanita itu merasakan sesuatu yang terasa sesak memenuhi liang di bagian bawah tubuhnya. Bercak darah warna merah menetes di sprei biru itu. Sebagai saksi bahwa kedua anak manusia itu sudah menyatu secara utuh.
Diego yang merasakan sesuatu berdenyut mengurut jagoan nya itu nampak menarik tangannya dari bibir Arini. Laki-laki itu kembali ******* benda berwarna merah muda kesayangannya itu singkat dengan penuh kelembutan. Seolah ingin memberi kesempatan untuk Arini mengatur nafasnya.
"terimakasih sudah mau menjadi istriku, sayang" ucapnya.
Arini hanya memejamkan matanya sambil mengangguk. Diego mengecup lembut bibir Arini, lalu mengecup lagi kening wanita yang sudah tidak lagi berstatus gadis itu.
Diego kembali menggerakkan tubuhnya naik turun. Malam pun berlanjut. Sepasang suami istri baru itu pun larut dalam suasana hangat dan mesra dimalam pertama mereka yang penuh cinta.
...----------------...
up 18:54
yuk, dukungan dulu 🥰🥰🥰
__ADS_1