My Fake Daddy

My Fake Daddy
MFD 30


__ADS_3

Waktu pun terus berjalan.


Hari terus berganti,


Semua berjalan seperti biasanya. Sudah satu Minggu lebih Arini bekerja di restoran itu. Dan selama seminggu ini juga Digo belum mengetahui tentang pekerjaan yang diam diam digeluti putrinya itu.


Semua berjalan sesuai rencana Arini. Seminggu ini Diego begitu sibuk. Sampai sampai ia tak punya waktu untuk sekedar menghabiskan waktu Minggu di rumah. Tujuh hari dalam seminggu Digo terus bekerja. Pergi ke kantor setiap pukul tujuh pagi dan pulang paling lambat pukul lima sore. Sedangkan Arini, waktu kerjanya adalah dari setengah delapan pagi sampai empat sore. Sangat beruntung bagi gadis itu. Ia masih bisa bekerja tanpa khawatir di larang larang oleh ayah kandungnya itu.


...****************...


Siang ini di sebuah bangunan tinggi perusahaan milik keluarga Hernandez...


Digo nampak masih sibuk dengan laptop di hadapannya. Hingga,


tok...tok....tok....


Pintu diketuk dari luar.


"masuk" ucap Digo tanpa menghentikan aktifitas nya.


Seorang wanita muda berusia dua puluh lima tahun nampak masuk ke dalam ruangan itu sambil membawa sebuah map hijau di tangan nya.


"permisi, pak. Ini laporan yang tuan minta" ucap wanita itu, Carissa, sekretaris nya.


"letakkan saja di situ" ucap Digo tanpa mengalihkan pandangannya dari laptop.


"baik, pak..!" jawab Carissa. Wanita itu pun menurut. Ia meletakkan map itu di atas meja kerja Diego.


"ada lagi yang bisa saya bantu, pak?" tanya Carissa lagi.


Digo diam sejenak. Ia lantas mendongak menatap ke arah salah satu wanita incaran Sam itu.


"eem, tolong belikan saya makan siang. Delivery aja. Di resto depan. Carikan yang enak. Kamu sering kan pesan makan disitu? belikan menu andalan nya aja apa..." ucap Diego.


"baik, pak" jawab Carissa.


"kalau begitu saya permisi, pak" imbuh wanita itu lagi.


"hmmm" jawab Digo sembari menggerakkan tangannya seolah mempersilahkan wanita itu untuk keluar dari ruangan nya.


Laki laki itu kembali fokus pada laptopnya. Sedangkan Carissa yang kini sudah berada di luar ruangan pun segera mengotak atik ponselnya. Memesan tiga menu makan siang yang berbeda untuk ia, Digo, dan juga Sam sang kekasih. Anggap saja itu sebagai bentuk perhatian Carissa pada duda tampan satu anak itu.


...****************...


Sementara di tempat terpisah....


Seorang wanita berseragam serba oren khas resto tempatnya bekerja nampak berjalan memasuki bangunan tempat menjual aneka makanan siap santap itu. Wajahnya terlihat sedikit pucat. Memang beberapa hari ini kondisi tubuh Arini tidak terlalu sehat. Tapi nyatanya gadis itu tetap memaksakan diri untuk bekerja. Ia tak mau bermalas malasan.


Ada pekerjaan yang harus ia selesaikan demi mendapatkan uang. Ada rumah mewah dan luas yang harus ia bersihkan setiap hari. Dan ada mulut lebar sang ayah yang harus ia sumpal dengan kerja keras tanpa mengenal waktu.


Arini berjalan menuju dapur setelah menyerahkan uang hasil mengantar makanan itu ke meja kasir. Ia baru saja pulang mengantar delivery dari sebuah studio tato di kota itu.


Ya, sudah satu minggu, sejak Arini terlambat datang ke tempat kerja kala itu, kini Glenca sang bos mempercayakan masalah delivery pada Arini. Bocah itu cukup cepat dalam hal antar makanan. Arini juga ramah dan periang, membuat pelanggan delivery resto itu cukup puas dengan kinerjanya. Termasuk pekerja di studio tato yang baru saja Arini antar makanan itu.


Kini jam makan siang sudah hampir tiba.

__ADS_1


Arini berjalan menuju dapur. Wanita itu nampak mendudukkan tubuhnya yang sedikit merasa kurang enak badan itu di sebuah sofa di kursi itu. Ia lantas merogoh waist bag nya. Mengeluarkan sebuah roti murah yang ia beli di sebuah warung tadi. Dimakannya roti itu hingga habis untuk mengganjal perut sebelum makan siang, lantaran masih ada satu pesanan lagi hang harus ia antar. Gadis belia itu lalu mengeluarkan sebuah obat warung yang beberapa hari ini terus ia konsumsi.


Diminumnya obat itu dibantu dengan segelas air putih disana.


Selesai,


satu butir obat masuk dengan sempurna. Gadis manis itu mengusap area sekitar mulut nya yang basah. Diletakkannya gelas kosong itu di atas sebuah meja.


"Arini..!" ucap seorang laki laki tampan rekan kerja Arini, Fajar,.


Arini mendongak.


"iya, Jar.." jawab Arini yang terlihat lesu.


Fajar mendudukkan tubuhnya di samping gadis itu.


"kamu kenapa?" kok pucet? kamu sakit?" tanya Fajar.


Arini tersenyum.


"enggak kok. Cuma agak capek aja" ucap Arini.


"ya udah, mending kamu istirahat dulu deh. Kayaknya dari tadi kamu keliling terus nganterin orderan. Mending kamu istirahat dulu. Pasti capek...!" ucap Fajar.


"iya, tapi nanti..! masih ada satu orderan lagi soalnya..!" ucap Arini sambil tersenyum.


Fajar pun ikut menyunggingkan senyuman nya.


"nggak salah aku ngajak kamu kerja disini. Kamu emang pekerja keras. Nggak baperan pula...!" ucap Fajar membuat Arini kembali mengeluarkan senyuman simpulnya.


Wanita itu lantas bangkit. Mendekati seorang pekerja wanita di sana, yang sudah siap dengan tiga box makanan yang harus Arini antar lagi kali ini.


"Rin, ini yang terakhir ya. Abis ini kamu bisa istirahat makan siang dulu. " ucap wanita itu.


"Ini pesenan dari kantor depan atas nama ibu Carissa, nanti kamu tanya aja sama resepsionis atau satpam disana" ucap salah satu karyawan senior di tempat itu.


Arini mengangguk.


"iya, mbak" jawab Arini.


Putri kandung almarhumah Dewi itu lantas meraih tiga box makanan itu. Memasukkan nya ke dalam paper bag dan segera bergegas keluar dari resto itu untuk menuju ke bangunan tinggi di seberang jalan tersebut.


Arini berjalan dengan tenang. Mengabaikan tubuh nya yang meriang tersengat panasnya sinar mentari yang kini sedang terik teriknya lantaran saat ini jam sudah menunjukkan pukul dua belas tepat.


Arini sampai di bangunan tinggi itu. Wanita itu nampak berdecak kagum. Betapa kayanya pemilik perusahaan ini. Punya ladang bisnis dengan kantor semegah dan semewah ini.


"ckckckck..! keren banget kantornya..!! pasti yang punya kaya raya nih...! biasanya, kalau di sinetron sinetron yang biasa nenek tonton, pemilik nya pasti muda, ganteng. Rambut klimis, rapi, jarang ngomong...! ck ah...! cocok banget ama aku yang pendiem ini...!!" ucap Arini memuji dirinya sendiri. Dalam kondisi sakit pun gadis itu masih bisa berkhayal begitu tinggi 🙈


Arini nampak merapikan sejenak penampilan nya. Ia lantas mempercepat langkah kakinya. Memasuki lobby perusahaan itu kemudian mendekati sebuah meja dengan tulisan resepsionis di sana.


"permisi, mbak" ucap Arini.


"iya, ada yang bisa saya bantu, dek?" tanya seorang wanita berpenampilan rapi dengan rambut panjang itu.


" saya mau antar delivery atas nama Ibu Carissa. Kira-kira Saya bisa mengantar ini ke mana, ya?" tanya Arini.

__ADS_1


"Oh, Ibu Carissa. Adik langsung aja naik lantai delapan. Ibu Carissa ada di sana.." ucap wanita itu begitu ramah.


Arini yang terlihat makin pucat pun mencoba tersenyum.


"oh, oke. Makasih ya, mbak" jawab Arini.


Gadis manis berkulit putih dengan dua paper bag di tangan itu lantas berlalu pergi.


Gadis itu nampak celingukan. Ini kali pertamanya ia memasuki bangunan semegah dan setinggi ini. Biasanya kalau di tv tv, orang naik ke gedung tinggi itu pakai lift. Gadis desa nan polos dengan kepintaran di bawah standar itu lantas mengedarkan pandangannya. Celingukan mencari keberadaan kotak besi raksasa yang bisa naik turun hanya dengan menekan tombol nya itu.


Arini terus berjalan sembari mengedarkan pandangannya. Hingga....


buuuuuuuuuuggggghhhhh.....


"eh....!!" ucap Arini reflek saat tak sengaja menabrak tubuh seorang security disana.


"hati hati, dek..!" ucap si security.


"maaf, pak. Nggak sengaja" ucap Arini setengah kaget. Untuk makanan dalam paper bag nya tak tumpah.


"kamu cari siapa disini?" tanya pria berseragam hitam hitam itu.


"saya cari bu Carissa, pak. Katanya ada di lantai delapan" ucap Arini.


"ya sudah, naik aja ke lantai delapan" ucap pria itu.


"tapi masalah nya itu, pak. Saya belum pernah naik lift. Nggak tahu gimana caranya. Takut rusak" ucap Arini pelan dan malu.


Security ini pasti berfikir tentang betapa bodohnya gadis kampung ini.


Benar saja, pria itu terkekeh mendengar pengakuan Arini.


"kan tinggal naik. Tinggal pencet pencet tombol..!" ucap si petugas keamanan itu.


Arini nampak menggaruk garuk kepalanya.


"pak, boleh minta tolong anterin, nggak?" tanya Arini.


Si security menghela nafas panjang.


"kamu agak nyusahin ya..?! tapi ya sudahlah, ayo saya antar...! dari pada nanti kamu pencet semua tombol lift, rusak, malah kejebak kamu di lift..!" ucap pria berpostur algojo itu.


Arini nampak cengengesan. Ia pun akhirnya berjalan menuju lift. Mengikuti langkah sang security.


...----------------...


Up 03:51


yuk, dukungan dulu...


semoga tidak membosankan, ya....😊


Sambil nunggu ini up, mampir ke novel author yang lain dulu yuk buat yang belum mampir


__ADS_1


__ADS_2