My Fake Daddy

My Fake Daddy
MFD 157


__ADS_3

Sepasang ayah dan anak itu sampai di rumah sementara mereka.


Arini masih terlihat kesal. Membuat Calvin sejak tadi beberapa kali melirik ke arah sang putri.


Kedua manusia berhubungan darah itu masuk ke dalam bangunan tak bertingkat itu. Keduanya segera menuju dapur. Dimana Diego nampak sudah berada di sana. Berdiri di depan jendela besar di ruang makan yang menyatu dengan ruang dapur itu dengan secangkir kopi di tangannya. Laki laki itu nampak menikmati pemandangan pagi nan hijau yang begitu menyejukkan mata.


Daaaghhh...


Arini meletakkan keresek berisi barang barang belanjaan itu dengan cukup kasar di atas lantai tepat di samping kulkas. Membuat Diego yang berada tak jauh dari sana pun menoleh mendengar suara itu. Begitu juga Calvin yang kini membuka lemari es itu guna mengambil air dingin.


"kamu kenapa?" tanya Calvin sembari menjauh dari lemari es. Membawa satu botol kaca berisi air dingin itu dan membawanya ke meja makan.


Arini tak menjawab. Ia mulai memasukkan sayur mayur itu ke dalam kulkas dengan kasar.


Diego mendekat.


"ada apa, sayang?" tanya Diego.


"tuh...! ibuk ibuk...! mulutnya dari taun ke taun bukannya dibenerin malah makin rusak...!" ucap Arini memburu.


Calvin menenggak segelas air putih di tangannya.


"diapain kamu?" tanyanya kemudian.


"ya biasalah, pak..! orang sini mah mulutnya pada sakit semua..!" ucap Arini.


"lawan dong..!" ucap Diego santai yang tanpa sadar mendudukkan tubuh nya di samping Calvin yang berdiri disamping meja. Laki laki gondrong itu nampak manggut manggut.


"kamu yang sekarang itu bukan kamu yang dulu, yang bisa direndahin dan diremehin seenaknya..! mereka belum tahu siapa kamu yang sekarang..! kamu punya bapak, kamu punya Digo..!" ucap Calvin sembari melepas kaos tanpa lengannya.


"aku nggak mau cari ribut, pak" ucap Arini.


"bukan cari ribut..! hal kayak gini kan bukan pertama kali kamu alamin, udah dari kecil..! sekali dua kali ngerendahin orang aja itu udah salah..! apalagi ini yang dari dulu, dari kamu kecil...! jangan di diemin..! emang mereka ngomong apa sama kamu? yang mana sih orangnya..? biar aku samperin tuh orang..!" ucap Diego memburu.


"nggak usah, dad..! lagian mereka juga udah pada pulang..! udah ah, nggak usah dibahas..! baru sehari di sini masa udah mau ribut..! pada mandi sana..! aku mau masak dulu. Abis ini kan kita mau ke makam ibuk sama nenek" ucap Arini sembari bangkit dengan beberapa sayuran bahan makanan yang akan diolahnya.


Diego hanya menghela nafas panjang. Sedangkan Calvin yang kini duduk bertelanjang dada di samping Diego hanya diam tak merespon.

__ADS_1


"bapak mau kopi nggak?" tanya Arini kemudian.


"nanti aja..! bapak mau mandi dulu" ucap laki laki gondrong itu.


Arini hanya mengangguk. Arini kemudian mulai mengolah santap pagi untuk ayah dan suaminya. Pagi mereka pun berlalu seperti biasa. Berbincang di meja makan bersama. Namun lagi lagi, baik Calvin ataupun Diego belum juga saling bicara secara langsung. Masih ada Arini sebagai pihak ketiga di antara mereka.


...****************...


Siang menjelang,


Sesuai rencana yang sudah Calvin, Arini dan Diego rancang. Hari ini ketiga anak manusia yang sudah menjadi satu keluarga itu pergi berziarah ke sebuah makam di kampung itu.


Ya, itu adalah makam sepasang ibu dan anak, nenek Ratmi dan Dewi, nenek dan ibu kandung Arini.


Dua buah makam milik wanita malang yang terlihat sangat terawat. Terlihat sangat rapi dan bersih meskipun sangat jarang di kunjungi keluarga kandung dua wanita itu.


Ya, semenjak di tinggal pergi oleh Arini ke kota, tak ada satupun yang mengunjungi makam itu. Hanya pak Yanto lah satu satunya manusia yang masih peduli dengan tempat peristirahatan sepasang ibu dan anak itu. Satu hingga dua minggu sekali, laki laki lima anak itu selalu menyempatkan diri untuk membersihkan makam Dewi dan Bu Ratmi.


Tak ada yang meminta. Laki laki itu dengan suka rela merawat dua makam itu tanpa imbalan. Hal itu pun membuat Calvin dan Arini tentu saja merasa berhutang budi pada pria paruh baya berhati mulia tersebut.


Arini nampak tersenyum lembut disamping makam sang ibunda yang letaknya berdampingan dengan makam nenek Ratmi. Doa selesai dipanjatkan untuk kedua wanita yang sangat berjasa melahirkan dan membesarkannya itu. Bunga ditabur di atas makam kedua wanita itu. Rindu seolah terobati dalam diri Arini.


"ibuk, nenek, Arin pulang.." ucap wanita muda itu membuat Calvin yang berada di sampingnya, dan Diego yang menaburi bunga di atas makam nenek Ratmi pun menoleh ke arah wanita itu.


"buk, nek, apa kabar?" tanya wanita itu seolah tengah berbicara dengan dua wanita tersayangnya itu.


"Arin disini udah baik baik aja. Baik banget malahan.." tambahnya.


"lihat deh, nek, buk, siapa yang Arin bawa..! Arin bawa dua cowok buat nemuin nenek sama ibuk"


Arini menunjuk ke arah Diego yang nampak menatap dalam ke arahnya.


"yang itu, buk. Namanya Diego. Dia suami Arin, menantu ibuk, cucunya nenek..! ganteng kan, nek, buk?" tanya Arini.


"kita baru beberapa hari nikah, buk. Alhamdulillah, Arin sekarang di kelilingi orang orang baik yang sayang sama Arin. Nih, disamping Arin, ada bapak


..! bapak juga sayang banget sama Arin. Bapak bahkan nyempetin waktu buat bisa datang ke sini sama Arin, buat ngunjungin ibuk sama nenek disini" ucap Arini sembari menoleh ke arah Arini yang nampak begitu bahagia.

__ADS_1


Calvin tersenyum lembut. Laki laki dengan kacamata hitam membingkai netra tajam nya itu nampak menyentuh batu nisan bergulir nama Dewi itu.


"apa kabar, Dewi? maaf, saya baru bisa mengunjungi kamu sekarang" ucap Calvin.


"saya tahu kamu bisa melihat kehadiran kami dari atas sana. Saya tahu, kamu sekarang pasti sedang tersenyum bahagia bersama ibu kamu di surga Nya sana" imbuh laki laki itu.


Arini nampak tersenyum haru.


"Dewi, saya ingin meminta maaf, sekaligus berterima kasih sama kamu. Saya minta maaf, atas semua dosa dosa saya yang sudah saya lakukan pada kamu, dan keluarga kamu. Saya minta maaf atas kebodohan saya. Atas tindakan terkutuk saya. Andai saya bisa memutar waktu, saya pasti akan datang pada kamu lalu meminta maaf dan memperbaiki semuanya. Maaf, saya benar benar minta maaf..." ucap Calvin.


Arini diam tak bergerak. Ditatapnya sendu pria berjambang lebat di sampingnya itu.


"Dewi, saya juga ingin berterima kasih pada kamu." tambah Calvin lagi. Kini pria itu nampak menoleh ke arah sang putri lalu tersenyum ke arahnya.


"Terima kasih karena kamu sudah mengandung dan melahirkan seorang putri kecil yang sangat cantik. Seorang putri kecil dengan segala keistimewaan yang melekat dalam dirinya. Sabarnya, cerianya, lucunya, manisnya, beraninya, dan semuanya. Putri kamu, putri kita, putri yang membawa kebahagiaan dan warna tersendiri dalam kehidupan saya. Dia yang membawa saya ke arah yang lebih baik. Mengubah pola pikir, dan bahkan pola hidup saya. Menjadikan kehidupan saya yang suram menjadi lebih berwarna..."


"maaf, saya pernah meragukannya saat pertama ia datang pada saya. Tapi percayalah, mulai sekarang, saya berjanji, saya akan melanjutkan perjuangan kamu dan ibu kamu. Saya, dan menantu kita, kami akan menjaga peri kecil kita dengan sebaik mungkin. Kami akan menyayangi dia, mencintai dia, melindungi dia dengan sekuat tenaga kami"


"jangan khawatir. Putri kita sudah berada di tangan yang tepat. Dia sudah menemukan laki-laki dewasa yang saya yakin dia bisa menjadi pemimpin dan pendamping yang baik untuk putri kita" ucap Calvin membuat Diego diam tak bergerak.


"tenang di dunia barumu bersama ayah dan ibumu, Dewi. Biarkan putri kecilmu ini bersamaku dan menantumu di sini. Kami akan selalu mendoakan ketenangan mu di surga. Kami semua menyayangimu.." ucap Calvin sembari mengusap usap batu nisan bertuliskan nama Dewi itu.


Arini nampak mengembun. Ia terharu mendengar kata-kata ayahnya. Kebahagiaannya terasa begitu nyata. Meskipun ibunya kini sudah tiada. Meskipun momen haru ini sudah terlewat terlalu jauh. Tapi setidaknya kini ia sudah bisa merasakan bagaimana rasanya memiliki orang tua.


Hanya sekedar berziarah ke makam ibunya bersama ayah kandung dan suaminya, itu sudah sangat membuatnya bahagia. Arini sudah menemukan kebahagiaannya. Ratusan, ribuan, bahkan jutaan tetes air mata yang pernah jatuh dari pelupuk matanya, kini perlahan berganti menjadi senyum tawa bahagia.


Tuhan membalas lukanya dengan kebahagiaan. Tuhan menggantikan semuanya, membayarnya dengan tuntas.


Terima kasih, Arini. Sudah mau bertahan hingga saat ini. Sudah mau bersabar, menunggu keindahan yang Tuhan janjikan akan selalu ada di setiap cobaan yang Ia berikan pada umatNya. Kamu sudah berhasil menerjang hujan badainya. Sekarang adalah waktunya untuk kamu menikmati pelanginya.


...----------------...


Selamat malam,


up 20:39


yuk, dukungan dulu 🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2