My Fake Daddy

My Fake Daddy
MFD 27


__ADS_3

04:30..


Laki laki itu merasakan kaku di sekujur badannya. Pria tampan yang semalaman tertidur di sebuah sofa panjang ruang televisi miliknya tersebut kini nampak mengerjab ngerjabkan matanya, manakala ia merasakan sebuah benda menempel di salah satu belah dadanya.


Digo perlahan mulai membuka matanya. Netra tajam itu bergerak ke sana kemari mencoba mengumpulkan ingatannya, mengingat kembali, tengah berada di mana ia saat ini.


Suara dengkuran halus terdengar. Membuat Digo kini mengarah kan pandangan nya pada seonggok kepala yang nampak terlelap di atas salah satu sisi dada bidangnya.


Digo menyipitkan matanya. Itu Arini...! Wanita itu terlelap disana. Gadis belia itu terlihat begitu nyenyak tidur dalam posisi duduk dengan dada Digo sebagai bantalnya.


Digo berdecak kesal. Sebelah tangannya tertindih tubuh wanita itu. Membuatnya tak bisa bergerak dengan leluasa.


"Arini, bangun...!!" ucap Digo sambil mencoba menggerakkan tubuhnya membangunkan sang putri.


Alih alih terbangun, Arini justru terlihat makin nyaman. Ia menggerakkan kepalanya sebentar, mengeratkan pelukannya pada tubuh laki laki tampan itu lalu kembali melanjutkan tidur cantiknya. Suara dengkuran terdengar dari bibir tipisnya. Rambut panjangnya yang tergerai kini bahkan sebagian menutupi wajah putih mulusnya.


"Arini, bangun...!!" ucap Digo mulai tegas.


Wanita itu tak bergerak.


"Arini...!!"


masih tak bergerak.


Digo membuang nafas kasar.


Dilihatnya wajah itu. Wajah seorang gadis polos yang masih sangat lugu dan bodoh. Wajahnya terlihat tenang. Membuat Digo kini nampak diam tak bergerak menatap wanita itu.


Satu tangannya yang bebas itu tergerak. Di raihnya beberapa helai rambut yang kini nampak menutupi wajah cantik nan manis itu. Membuat paras rupawan itu kini terpampang jelas di hadapan Digo dengan jarak yang cukup dekat. Matanya terpejam, mulutnya sedikit terbuka dengan suara dengkuran halus sesekali terdengar dari sana.


Seutas senyuman tanpa disadari lolos dari bibir pria tampan itu. Sebelah tangan itu kembali tergerak. Di usapnya dahi sang wanita lembut dengan menggunakan jari jari tangannya.


Gerakannya begitu lembut, seolah mengantar wanita itu lebih dalam lagi memasuki alam mimpinya.


Mata tajam itu seolah terkunci. Enggan untuk mengakhiri aksi memandangi wajah polos gadis delapan belas tahun yang sudah hampir dua minggu tinggal bersamanya itu.


Kepala Arini bergerak lagi. Seolah tengah mencari posisi yang nyaman. Digo mengusap usap pucuk kepala wanita itu, seolah ingin membawa gadis belia itu untuk tidur lebih dalam lagi.


Digo menggerakkan kepalanya menatap badan Arini yang terduduk di lantai.


"apa badan mu tidak sakit tidur dengan posisi seperti itu?" ucap Digo.


Arini masih terlelap. Digo asyik dengan pemandangan di hadapannya. Hingga....


"Allahu Akbar....Allahu Akbar....!!"


Gema subuh berkumandang. Membuyarkan semuanya.


Digo tersadar dari lamunannya. Dengan segera ia mengalihkan pandangannya saat kepala wanita itu bergerak seolah mulai sadar dari tidurnya.


Arini menguap lebar. Digo reflek membuang muka.


Wanita itu mulai membuka matanya. Lalu....


.


.


.


"astaghfirullah haladzim...!!!" pekik Arini sembari menegakkan posisi duduknya.


Digo reflek menoleh ke arah gadis itu.


"apa?!" tanya Digo tak mengerti.


Arini celingukan mencari letak jam dinding. Lalu......


"Ya Allah...Ya Rabb...!!! udah siang....!!!" ucap Arini panik. Membuat Digo kini nampak mengernyitkan dahinya.


Siang dari mananya? Sinar matahari pun bahkan belum menampakkan wujudnya.


Arini dengan segera bangkit. Ia terlihat panik. Harusnya ia bangun jam dua atau jam tiga pagi. Ia harus membersihkan rumah ini sebelum bisa berangkat kerja dengan tenang saat ayahnya sudah tak ada di rumah lagi.


Tapi ini?


Jam sudah menunjukkan pukul setengah lima pagi. Ia kesiangan..! mana bisa ia menyelesaikan pekerjaan nya di rumah dalam waktu yang hanya sesingkat itu??


Arini buru buru bangkit. Digo mengubah posisi nya yang semula tidur kini duduk di sofa panjang itu.


Arini dengan sigap meraih selimut nya lalu melipatnya.


"kau ini kenapa sih?!" tanya Digo.


"nggak apa apa, dad...! aku mau sholat dulu...! daddy kalau mau lanjutin tidur, tidur lagi aja...!" ucap Arini yang kemudian pergi meninggalkan tempat itu dengan setengah berlari sambil membawa selimut nya.

__ADS_1


"kenapa sih tuh bocah?" gumam Digo heran.


.....


Waktu terus berjalan..


Hari masih sepagi ini tapi gadis belia itu sudah bermandikan keringat. Setelah mandi pagi dan sholat subuh, Arini lantas memulai aktifitas nya sebagai anak rasa pembantu di rumah ini.


Tangan dan kakinya bergerak aktif, mulai mengerjakan seabrek pekerjaan yang kini seolah sudah menjadi makanannya sehari hari.


Mulai dari masak hingga bersih bersih. Membersihkan rumah yang luasnya tak tanggung tanggung itu seorang diri tanpa bantuan siapapun.


Gerakan Arini harus lebih cepat pagi ini. Ia tak mau jika ia sampai telat masuk kerja. Rumah itu harus sudah bersih sebelum Digo berangkat ke kantornya.


...****************...


06:30



Pria bertubuh tinggi itu keluar dari kamarnya. Dengan langkah tenang sambil membenarkan kancing lengannya, pria yang sebenarnya belum pernah berkeluarga itu nampak berjalan menuruni tangga menuju meja makan untuk sarapan.


Digo memelankan langkahnya. Dilihatnya disana, wanita yang sejak bangun tidur hingga saat ini belum beristirahat itu masih sibuk dengan berbagai alat bersih bersih nya.


Digo diam. Dilihatnya disana Arini sibuk mengepel lantai dapur. Lelehan keringat terlihat jelas di wajahnya. Wanita itu seperti nya sangat lelah.


Digo mengangkat dagunya.


"eeekkhhmm....eeekkkhhmmm...." Digo berdehem.


Arini menghentikan pergerakan sejenak. Ia menoleh ke arah sang ayah sembari mengusap keringat nya yang bercucuran.


"daddy udah mau berangkat..? sarapan dulu, dad. Aku udah masak.." ucap Arini kemudian meletakkan alat pel nya.


Digo duduk di salah satu kursi meja makan. Arini mendekat. Mulai melayani sang ayah dengan nafas ngos ngosan dan badan penuh keringat.


Digo diam diam melirik ke arah wanita yang kini mulai menyendok kan nasi goreng ke atas piringnya itu.


"apa kau tidak bisa memasak menu lain selain nasi goreng?" tanya Digo.


Arini tersenyum simpul.


"sesuai budget, dad. Uang Arin udah nipis. Kulkas juga udah kosong, nggak ada apa apa lagi" jawab Arini sambil meletakkan piring berisi nasi goreng itu di depan Diego.


Tak seperti biasanya, dimana ia lantas duduk di salah satu kursi di meja makan guna ikut sarapan, Arini kini justru kembali meraih pel nya lalu kembali menjalankan aktifitas bersih bersih nya.


"apa kau tidak bisa berhenti dulu ngepel nya?!" tanya Digo menahan kesal.


"nanggung, dad. Bentar lagi selesai. Daddy angkat aja kakinya biar nggak kena pel..!" ucap Arini tanpa menghentikan pergerakan nya.


"aku sedang makan, Arini...!!" ucap Digo.


"ya udah sih, makan aja..! Kan yang di pel lantainya bukan piring nya...!" ucap Arini santai tanpa menoleh. Hingga....


.


.


.


seeeeetttt.....


buuuuuggghhhh.....


Digo bangkit dari posisi duduknya. Di rampasnya tongkat pel itu lalu melemparkannya asal. Membuat Arini kini melotot kaget dibuatnya.


Tak cukup sampai disitu, Digo kini nampak meraih lengan Arini, menariknya, mendudukkan nya secara paksa di sebuah kursi di meja makan itu. Arini tak bergerak. Digo meraih piring dihadapan Arini, lalu mengisinya dengan nasi goreng yang masih tersisa itu.


"makan..!" ucap Digo tegas kemudian kembali mendudukkan tubuhnya di tempat semula.


Arini diam tak bergerak.


Digo yang sudah berada dalam posisi duduk itu menatap angkuh ke arah Arini.


"habiskan...! jangan buang buang makanan...!" ucap pria itu.


Arini menatap nasi goreng di hadapannya. Digo mulai meraih sendok nya.


"kalau kau lelah istirahat lah, aku tidak mau kau sakit karena kelelahan yang akhirnya hanya akan merepotkan ku...!" ucap Digo tegas.


Arini mengangguk.


"iya, dad" jawab wanita itu.


Sarapan pun berlanjut. Digo yang nampak makan dengan tenang sesekali melirik ke arah Arini yang nampak begitu lahap menyantap nasi gorengnya. Seperti nya Arini juga cukup kelaparan. Semalaman ia begadang hanya untuk membersihkan kolam renang. Dan hari ini sejak subuh hingga mentari mulai naik ia masih sibuk dengan pekerjaan nya.

__ADS_1


Kuat juga fisik bocah ini. Pikir Digo.


Laki laki itu nampak menyunggingkan seutas senyuman dari bibirnya. Ia kembali melanjutkan makan paginya di temani anak orang itu.


Tak lama, sarapan pun selesai. Kedua piring itu sudah nampak kosong. Nasi goreng sudah ludes. Perut keduanya sudah kenyang.


Arini menenggak air putih dalam gelas itu hingga tandas.


"Alhamdulillah...!" ucap gadis itu.


Digo bangkit. Laki laki itu lantas merogoh saku celananya. Mengeluarkan sebuah dompet tebal lalu mengambil tiga lembar uang seratus ribuan dari dalam sana. Diletakkannya uang itu di atas meja.


"pakai untuk belanja bahan makanan yang layak konsumsi. Ingat, kau harus hemat...! pakai uang itu untuk sebulan..!" ucap Digo membuat Arini terdiam.


Mau bersyukur apa istighfar nih enaknya?


Tiga ratus ribu buat sebulan???


Arini diam tak bergerak. Digo menatap angkuh ke arah gadis itu.


"kau bisu?" tanya Digo.


Arini mendongak.


"hah?" ucap gadis itu.


"begini reaksi mu ketika di beri uang oleh orang tuamu?" tanya Digo lagi.


Arini diam sejenak. Otaknya nampak bekerja untuk mencerna apa maksud dari perkataan ayahnya itu.


Hingga....


"oh, Ya Allah..! Masya Allah...! subhanallah...! Allahu Akbar...! Ya Allah...! makasih banyak, daddy..! baik banget...! dikasih uang banyak banget...! ini nggak sekalian ampe setahun aja, dad?" tanya Arini lebay.


"bagus kalau kau bisa pakai itu untuk makan selama setahun..! lebih bagus lagi kalau itu bisa kau gunakan sampai salah satu diantara kita ada yang mati..!" ucap Digo.


"hhheeemm, iya, dad. Biasanya sih yang tua duluan.." cicit Arini tak terlalu terdengar.


"apa kau bilang?!" tanya Digo coba memperjelas apa yang ia dengar.


"oh, enggak...! daddy baik banget...! makasih" ucap Arini.


Digo tak peduli. Ia kembali memasukkan dompet nya ke saku celananya lalu merapikan kembali pakaiannya yang sudah rapi.


"aku berangkat...!" ucap Digo sambil menggerakkan tangannya. Mendekat kan punggung tangan itu ke arah wanita yang masih duduk tersebut.


Arini bangkit. Diraihnya punggung tangan sang ayah dan menciumnya sebagai tanda bakti.


"hati hati, dad" ucap Arini.


Digo tak menjawab. Laki laki itu lantas berbalik badan.


Namun baru selangkah ia mengayunkan kakinya. Ia berhenti lagi. Di ambilnya lagi dompet itu dari sakunya, lalu mengambil lagi selembar uang seratus ribuan.


Digo berbalik badan. Mendekati Arini yang kini terlihat membereskan piring piring di atas meja makan itu. Lalu...


plaaaaakkkk.....


sebuah uang kertas tertempel di jidat Arini yang masih berkeringat.


Wanita itu menoleh ke arah sang ayah.


"beli parfum..! badanmu sangat bau...!!" ucap Digo singkat dan sewot. Laki laki itu lantas kembali berbalik badan. Arini mengucap terima kasih lagi tapi tidak di jawab oleh Digo.


Baru beberapa langkah laki laki itu mengayunkan kakinya. Digo berbalik badan lagi. Mendekat ke arah Arini lagi lalu...


"tangkap...!!" ucap pria itu sambil melemparkan ringan sebuah ponsel ke arah gadis itu. Arini gelagapan menerimanya. Untuk tak jatuh ke lantai...!


Itu ponsel pemberian Sam..!


"pakai..! hanya untuk WhatsApp...! aku sudah menuliskan nomor ponselku di situ...! tapi ingat, jangan kebanyakan main hp..! apa lagi main sosmed..! awas saja kalau kau berani macam macam dengan benda itu...!! ku pasung kau hidup hidup..!" ucap Digo dingin dan tegas.


"i, iya, dad.." jawab Arini.


Digo kemudian berlalu pergi meninggalkan tempat tersebut. Ia lantas berjalan menuju halaman. Dimana disana sudah ada Sam yang nampak bersiap di samping mobil mewah yang akan mengantarkan sang Diego menuju kantornya.


Digo masuk ke dalam mobil. Sam pun mendudukkan tubuhnya di kursi kemudi.


Kendaraan roda empat itupun melaju dengan kecepatan sedang meninggalkan rumah megah itu.


...----------------...


Selamat siang,


up 12:55

__ADS_1


yuk, dukungan dulu


__ADS_2