
Di sebuah ruangan, di lantai dua sebuah studio tato yang berada di kota besar itu...
Tiga orang pria dewasa yakni Calvin, Miko, dan Ivan. Terlihat sibuk menatap sebuah layar laptop yang berada di hadapan mereka. Keduanya nampak begitu fokus, menyaksikan rekaman cctv yang memperlihatkan kejadian beberapa menit sebelum insiden penyeretan Arini ke kantor polisi.
Tepat di hadapan mereka, kurang lebih ada enam orang manusia bertato berdiri di sana seolah tengah menanti eksekusi. Lima orang pria anak punk dan seorang wanita bertato yang merupakan anak buah Calvin di studio tato milik pria berambut gondrong itu.
Calvin mengangkat dagunya, manakala sebuah rekaman cctv memperlihatkan dua pria wanita nampak berbincang sesuatu sambil melongok mengamati pergerakan seseorang dari balik kaca dinding studio tato itu.
Tak lama setelah itu, wanita bertato dengan beberapa tindik di wajah itu terlihat mengambil sebuah benda dari atas meja yang di duga adalah jam tangan Calvin lalu menyerahkan pada si pria yang merupakan lawan bicaranya tadi.
Si pria lalu keluar dari dalam studio kemudian menabrakkan tubuhnya pada gadis delivery yang malang itu, sedangkan Anya pura pura masuk ke dalam salah satu ruangan di studio itu lalu keluar lagi setelah Calvin sibuk mencari cari jam tangannya.
Calvin nampak berang. Ditatapnya dua pria wanita yang kini nampak pucat berdiri bersama sejumlah anak punk di hadapannya.
Rupanya keributan kemarin adalah salah paham. Gadis malang itu bukanlah pencuri. Ia hanya korban jebakan dua manusia tolol yang entah apa motifnya sampai melakukan hal demikian.
Calvin mengangkat dagunya. Ditatapnya dua manusia yang nampak menunduk ketakutan itu dengan sorot mata angkuh.
Laki laki itu lantas bangkit dari posisi duduknya. Didekatinya sekumpulan anak punk beserta Anya yang kini nampak ketakutan itu.
"maju" ucapnya dingin.
Anya dan pria yang di ketahui bernama Fahmi itu pun mendongak. Wajah keduanya nampak gugup.
"bang, ampun, bang..! gue nggak tau kalau itu anak lu, bang. Sumpah..!!" ucap Fahmi ketakutan.
Calvin melepas jaket kulit nya dan melemparnya asal.
"yang lain mundur...!" ucap pria itu lagi seolah tak menggubris Fahmi yang nampak mengiba.
Anya dan Fahmi makin mengkeret. Calvin melepas kaos putihnya. Membuat dada bidang dengan dua bongkahan besar di kanan dan kiri serta enam kotak sempurna di area perut itu terlihat begitu nyata tanpa menutup apapun.
Anya gemetar. Begitu pula Fahmi. Semua yang berada di sana ikut tegang. Calvin adalah orang yang sebenarnya sangat jarang marah. Tapi sekalinya ia di usik, maka ia tak pernah tanggung tanggung dalam melibas siapapun yang mengganggu ketenangan nya.
Calvin menoleh ke arah Anya dan Fahmi. Dua manusia itu masih tak bergerak dari tempatnya. Calvin menatap angkuh ke arah dua manusia itu. Lalu...
seeeeetttt.....
Ditariknya kerah baju Fahmi. Membuat pria itu pun kini terseret, berdiri takut di hadapan Calvin yang garang.
"bang, ampun, bang ..! gue minta maaf, bang..!" ucap Fahmi sambil mengatupkan kedua telapak tangannya.
Calvin nampak memasang kuda kuda.
"serang gue..!" ucap Calvin.
Fahmi makin ketakutan. Tolonglah, ia tak mungkin berani melawan pria dengan raihan sabuk hitam taekwondo itu.
"bang, ampun, bang..! sumpah, gue nggak tau kalau cewek itu anak lu, bang..! kalau gue tau gue nggak akan ngelakuin itu, bang..!" ucap Fahmi.
"nggak usah banyak bac*t...! serang gue..!" bentak Calvin.
"baaaang...."
__ADS_1
"aakhh...!!"
buuuuuuuuuuggggghhhhh.....!
"aaaaakkkkhhh...!"
Fahmi jatuh terpelanting. Calvin menghantam wajah pria dua puluh lima tahun itu dengan menggunakan satu kaki kekarnya. Darah seketika itu juga mengalir dari hidung dan bibir Fahmi.
Semua nampak ngeri. Calvin menatap tajam laki laki itu bak singa lapar yang ingin ingin mencabik mangsanya.
Ayah kandung Arini Nindya Putri itu kembali mengayunkan kakinya. Mendekati pria bersimbah darah yang lagi lagi kembali merintih memohon ampun kepada nya tersebut.
Diraihnya kerah baju Fahmi. Dicengkeram nya dengan begitu kuat. Tanpa ampun meskipun pria yang usianya lima belas tahun lebih muda darinya itu terus mengiba memohon maaf.
"bang, jangan, bang..! ampun..! sumpah, gue nggak tau kalau itu anak lu, bang..!" ucap Fahmi.
"ini bukan masalah anak gue atau bukan, bangs*t..! tapi ini masalah kejujuran dan otak picik kalian...! maksud kalian apa fitnah anak sekecil itu, hah?!!" tanya Calvin murka. Ia tak suka dengan perbuatan yang demikian. Bermuka dua dan memfitnah orang lain yang jelas jelas tidak tahu apa apa.
"bang, ini semua bukan kemauan gue..! gue cuma disuruh ama Anya..! gue cuma ngikutin permainan dia, bang..! sumpah...!! ampun, bang..! jangan bunuh gue, bang..!" ucap Fahmi lagi mengiba.
Calvin nampak begitu murka. Terlihat jelas dari kedua alisnya yang seolah menyatu dengan bibir dan hidung yang bergerak gerak menandakan betapa ia sangat marah.
buuuuuuuuuuggggghhhhh......
Buuuuuuuuuuggggghhhhh
Buuuuuuuuuuggggghhhhh
Pukulan bertubi tubi Calvin layangkan dengan tangan, kaki, siku, lutut, semua bergerak. Menghantam wajah, rahang, hingga perut Fahmi.
Calvin menatap tajam ke depan.
"lempar dia ke depan rumahnya..!" titah pria itu kemudian.
"baik, bang" jawab Ivan, anak buah kepercayaannya yang sejak tadi hanya diam tenang menyaksikan adegan kekerasan itu.
Ivan menggerakkan jarinya. Dua orang pria bertato dengan wajah sangar yang merupakan anak buahnya dan Miko pun bergerak, menyeret tubuh Fahmi pergi dari tempat itu dan membawanya menuju rumah laki laki tersebut.
Calvin kembali mengangkat dagunya.
"maju lo..!" ucap pria empat puluh tahun itu tanpa menoleh.
Anya nampak ketakutan. Semua mata kini tertuju padanya.
Wanita bertato itu tak bergerak. Ia terlalu takut untuk sekedar mengayunkan kakinya mendekati pria berambut gondrong itu.
"maju...!!!!" bentak laki laki itu lagi membuat semua terjingkat kaget karena suara lantangnya.
Anya perlahan mengayunkan kakinya. Wanita itu nampak berdiri menunduk tepat di hadapan Calvin Alexander. Laki laki itu kini nampak menatap angkuh wanita tersebut. Ia lantas maju selangkah mendekati salah satu anak buahnya tersebut.
"sekarang jawab gue, apa tujuan lo memfitnah anak kecil itu?" tanya Calvin tenang namun terdengar dingin mengerikan.
Anya terus menunduk tak berani menatap wajah laki-laki berjambang lebat itu.
__ADS_1
"gua minta maaf, Bang" ucap Anya takut.
" gua nggak minta lu buat minta maaf..! gua tanya sama lu, apa tujuanmu fitnah anak kecil itu?! jawab yang perlu lu jawab..! gue nggak butuh yang lain dari lu..!" ucap Calvin.
"gua ngelakuin itu karena gua nggak suka lu deket-deket sama dia, Bang..!" ucap Anya. Calvin mengangkat dagunya.
"gua nggak suka melihat kedekatan lu sama dia. Kedekatan lu sama dia beda, Bang. Cara lu memperlakukan dia kelihatan beda..! nggak kayak kedekatan lu ama perempuan perempuan lain..! gue nggak suka..! gue cemburu...! karena gue suka ama lu, bang..!" ucap Anya dengan tegas menyatakan perasaannya pada Calvin di saat terdesak.
Semua yang berada di sana nampak terkejut dengan ucapan Anya. Tak terkecuali Calvin. Tak ada yang mengira jika wanita bertato itu ternyata diam-diam menaruh hati pada atasannya. Sesuatu yang sangat tidak bisa terbaca oleh para anak buah serta rekan-rekan Calvin.
Ivan nampak menggelengkan kepalanya. Begitu juga Miko.
"udah lama gua punya perasaan ini. Tapi gua nggak pernah berani mengungkapkannya karena gue menghormati keputusan lo yang bilang nggak akan pernah mau menikah dan berhubungan dengan wanita lagi. Gue hargain lu, bang..!"
"tapi ketika gua melihat kedekatan lo dengan anak itu, gua nggak terima..! lu kelihatan beda..! cara lo memperlakukan dia itu beda, Bang..! dan gua nggak terima..! gue cemburu..! gue nggak tau kalau ternyata dia anak lo..!!" ucap Anya memburu. Wanita itu seolah tidak bisa lagi menyembunyikan perasaan nya.
Calvin diam. menatap tajam wanita itu. Sungguh, ia benar benar tak tahu jika Anya diam diam menyukainya.
Anya mendekat.
"gue minta maaf, bang..! gue cuma kemakan cemburu..!" ucap Anya sambil mencoba menyentuh tubuh Calvin namun dengan cepat laki laki itu mendorong tubuh Anya. Membuatnya jatuh tersungkur ke lantai.
"lu udah tau apa yang gue suka dan gue nggak suka..!! lu mau suka ama siapapun, itu terserah lu, tapi tolong tetep waras..!!" ucap Calvin membuat Anya ketakutan.
"persetan sama perasaan lu..! gue jijik sama orang orang tolol yang rela melakukan apapun demi cinta..! orang orang gobl*k yang dengan pic*k nya membenci dan menyakiti orang lain atas dasar rasa cinta nya sama orang lain..!! yang namanya cinta harusnya hanyalah sebuah perasaan antara dua manusia. Ketika lu nggak bisa dapetin orang yang lu cinta, harus nya lu nggak perlu menyakiti orang lain demi menyalurkan kekecewaan lu karena perasaan lu yang nggak terbalas..! gue muak dengan orang orang tol*l yang kayak gitu..!" ucap Calvin.
"asal lu tau, rasanya gue pengen banget gebukin saat ini juga, tapi gue bukan pengecut yang bisa dengan gampangnya main kasar ama perempuan..!"
"sekarang lu pergi dari sini..! gue masih punya rasa kasihan ama lu karena lu perempuan..! jadi sebelum gue berubah pikiran, mending lu cabut dari sini..! mulai hari ini lu gue pecat dan jangan pernah sekali lagi lu nampakin muka lu di hadapan gue ataupun ngusik gue dan anak gue..! mingg*t lu sekarang..!" ucap Calvin.
"bang, gue minta maaf...!"
"gue bilang mingg*t, bangs*t...!!" bentak Calvin sembari menendang jaketnya yang tergeletak di atas lantai hingga mengenai Anya.
Anya terlihat begitu berat meninggalkan tempat itu.
Calvin menatap tajam wanita itu.
"Miko..!!!" teriak Calvin mengerikan.
"i, iya, bang..!" ucap Miko paham meskipun terlihat gugup.
Dengan segera pria itupun memberikan kode pada para anak buahnya disana. Meminta pria pria bertato dengan badan algojo itu menyeret paksa Anya keluar dari tempat itu.
Mereka pun mengangguk. Dengan segera, Anya pun diseret paksa oleh para pria itu. Wanita yang terus berontak seolah menolak untuk pergi dari tempat itupun bahkan sempat mendapat hantaman di bagian perutnya oleh para pria pria berpenampilan sangar itu.
Calvin mengusap wajahnya kasar. Ia lalu mendudukkan tubuhnya dan meminta sebotol bir pada Ivan untuk menenangkan dirinya.
...----------------...
Selamat pagi,
up 04:47
__ADS_1
yuk, dukungan dulu 🥰😘🥰