My Fake Daddy

My Fake Daddy
MFD 145


__ADS_3

Diego menyentuh gagang pintu itu lalu menekannya ke bawah...


Kleekk...


kleekk....


Diego diam. Ia nampak mengernyitkan dahi nya.


klekk...


kleekk....


"kok nggak bisa dibuka..??" ucap pria itu lagi.


Klekk...


kleekk....


kleekk...


"nggak bisa..! ini rusak? apa di kunci?" ucap Diego seorang diri sambil terus mencoba membuka pintu kamar itu.


Diego dengan segelas jus jeruk di tangan kanannya itu lantas menggerakkan tangan kirinya yang bebas. Diketuknya daun pintu itu sembari memanggil manggil nama sang istri kecil.


"Rin..! baby..! pintu nya kamu kunci, ya? buka dong..!" ucap Diego tenang.


Hening, tak ada sahutan.


tok..tok..tok...


pintu di ketuk lagi.


"Arini..." ucap Diego lagi.


"Rin, buka dong..! aku mau tidur ini..! masak iya suaminya di suruh tidur di luar" ucap Digo lagi. Masih tak ada sahutan.


Nih anak pemikiran nya kemana? masa iya malam pertama suaminya nggak di kasih pintu? trus Digo harus tidur dimana? masa iya sama bapaknya 🤭🤣


Diego menghela nafas panjang. Nih bocah minta dikerjain nih kayaknya..! pikir Digo.


Laki laki itu kembali mengetuk daun pintu itu dengan gerakan lebih cepat dan lebih keras


tokk....tokk...tokk....


"Arini, buka dong..! aku capek loh ini, masa suami nya nggak dikasih pintu..?!!" ucap Diego.


Masih tak ada jawaban.


"Rin, dosa ama suami kayak gini..! buka..!"


Arini masih tak menjawab. Diego menghela nafas panjang. Ia yakin bahwa Arini belum tidur.


Laki laki itu kemudian merogoh saku celananya, mengeluarkan ponselnya lalu menelfon sang istri yang berada di dalam sana.


Tak diangkat. Digo berdecak kesal.


"liat aja lu, ampe gue berhasil masuk, gue bikin nggak bisa jalan lu besok..!" ucap Diego bersumpah. Laki laki itu kembali menghela nafas panjang. Diseruput nya sebagian jus jeruk dingin itu.


"Baby, ini beneran nggak mau buka pintunya? aku dobrak aja ya?!" ucap Digo lagi memancing sang istri. Namun Arini belum juga merespon.

__ADS_1


Diego mundur. Hanya mundur. Tak mengambil ancang ancang apapun Karena merobohkan pintu hanyalah pancingan agar Arini mau keluar.


"jangan deket deket pintu, bentar lagi aku robohin..! minggir..!" ucap Diego lagi.


"satu...."


"dua..."


"ti................"


ceklek.....


Pintu itu terbuka juga akhirnya. Seorang gadis cantik keluar dari dalam sana. Ia terlihat terburu buru. Sepertinya pancingan Digo berhasil. Arini takut jika pintu itu benar benar di dobrak..! bisa makin gawat kalau itu sampai terjadi..!


Diego mengulum senyum nakal. Arini nampak menampilkan wajah tegang sembari menunduk dengan satu tangan kanan memegang ponsel yang menyala.


"lama amat bukain pintu nya..! untung nggak aku dobrak.." ucap Digo.


Arini tak menjawab. Ia terus menunduk, lalu mengangkat satu tangannya seolah mempersilahkan Diego untuk masuk ke dalam kamar.


Laki laki itu mengulum senyum kemenangan. Dengan langkah tenang dan bak diatas awan pria itu pun mengayunkan kakinya. Berjalan menuju kamar itu melewati sang istri yang terus menunduk seolah begitu gugup untuk melewati malam pertama mereka.


ceeeessss.....


"iiiissshh..! dingin..!" ucap Arini sambil terjingkat kaget manakala Diego dengan isengnya menempelkan gelas berisi jus jeruk dingin itu ke pipi Arini.


Diego tak menjawab. Laki laki itu terkekeh sambil terus berjalan masuk ke dalam kamar itu.


Arini menutup pintu kamarnya. Ia lantas berbalik badan. Dilihatnya disana sang Diego nampak meletakkan gelasnya di atas nakas.


Jantung gadis itu berdetak dengan sangat kencang. Untuk kali pertama dalam hidupnya ia tidur sekamar dengan laki-laki asing.


Gadis itu mendekati sang suami.


"ini ranjang kita, aku kanan, kamu kiri, aku udah kasih guling di tengah tengah...!" ucap Arini di sela sela kegugupan nya.


Digo menoleh. Lalu menatap ke arah ranjang dan istrinya itu bergantian. Diego mengulum senyum jahil. Setitik pemikiran nakal nan mes*m menempel di otaknya.


Laki laki itu mendekati Arini.


"kenapa harus pakai guling?" tanya Digo sembari melepaskan kaosnya dengan santai dan membuangnya asal. Arini makin gugup. Ia mundur..!


"stop..! jangan deket deket..! pakai bajunya..!" ucap Arini setengah membentak.


"kenapa? kan suami istri?! lagian aku nggak bisa tidur kalau pakai baju..!" ucap Digo.


"ih, tapi kan ada aku, daddy..!" rengek istri kecil Diego itu.


"trus kenapa? kan kita udah sah..!" ucap Digo.


"ya, ka, kan kita punya perjanjian..!" ucap Arini. Diego memiringkan kepalanya seolah berfikir.


"perjanjian? perjanjian apa?" tanya Digo pura pura bodoh.


"ih, daddy gimana sih? kan kita udah bikin surat perjanjian..!"


"perjanjian apa?" tanya Digo lagi.


"ck..!" Arini berdecak kesal.

__ADS_1


Gadis itu menghentak hentakkan kakinya ke bumi. Ia berjalan mendekati nakas, membuka laci lalu mengambil sebuah kertas yang masih terlipat rapi disana. sedangkan Diego hanya mengikutinya dari belakang. Ia menyandarkan tubuhnya di samping Arini, bersandar pada meja nakas. Ia kemudian meraih jus jeruk dingin yang tadi dibawa, kemudian menenggak nya lagi hingga hanya tersisa seperempat gelas saja.


Arini membuka kertas berwarna putih berisi surat perjanjian yang sudah ditandatangani oleh Diego itu lalu menunjukkan pada laki-laki tersebut. Digo yang sebenarnya masih ingat jelas dengan kertas itu lantas mengambilnya dan sok membacanya.


"ingatkan sekarang? kita tuh udah punya perjanjian, dad..! kita dilarang ngapa-ngapain sebelum usia aku dua puluh satu tahun..! dan daddy udah setuju..! daddy juga udah tanda tangan..!" ucap Arini.


Diego mengulum senyum yang terlihat menyebalkan. Menatap lucu ke arah gadis cantik itu, membuat Arini mengernyitkan dahinya.


"ngapain liatin aku kayak gitu?" tanya Arini.


Digo tak menjawab. Ia hanya tersenyum kearah Arini. Kemudian dengan satu gerakan laki-laki itu meremas kertas di tangannya membuatnya menjadi sebuah bola kertas lecek.


Arini melotot. Gadis itu hendak merampas kertas tersebut. Namun sayang Digo buru buru memasukkan benda di tangan nya itu ke dalam gelas jus. Membuat kertas itu pun terendam air jus yang hanya tersisa seperempat gelas itu.


Arini menjerit. Ia hendak merampas gelas itu, namun Diego dengan kurang aj*r nya justru mengangkat gelas itu tinggi-tinggi. Mengaduk kertas yang berada di dalam rendaman air jus itu menggunakan jari-jarinya sambil tertawa lebar membuat Arini kesal dibuatnya.


"daddy....!!!" rengek gadis itu. Dengan susah payah akhirnya Arini pun berhasil meraih gelas tersebut. Atau lebih tepatnya, berhasil merebut gelas itu setelah Digo berbelas kasihan menurunkannya agar dapat diraih Arini.


Anak Calvin Alexander itu dengan segera yang mengeluarkan kertas yang sudah basah kuyup itu dari dalam gelas. ia kemudian membukanya dan....


"aaakkkhhh...!! sobek..!!" rengek gadis itu.


Digo terkekeh.


"surat perjanjian rusak..! itu artinya perjanjian batal..! nggak sah..!" ucap Digo.


Arini mendongak.


"tapi kan daddy yang rusakin?!" ucap Arini nyolot.


Digo mengangkat kedua lengannya.


"nggak ada saksi yang melihat kejadian itu..!" ucapnya enteng.


Arini nampak panik sekaligus takut. Digo mengulum senyum.


"udah sih, nikah ya nikah aja..! nggak usah ada perjanjian perjanjian segala..!" ucap Digo santai sembari mengecup singkat pipi Arini yang diam tak bergerak.


Laki-laki itu kemudian melompat naik ke atas ranjang. Ditendangnya guling yang berada di tengah-tengah kasur itu hingga jatuh terpental ke lantai. Arini makin melongo. Ia makin gugup dibuatnya.


Apalagi kini Digo nampak duduk bersandar di sandaran ranjang itu dengan satu kaki yang ditekuk. Digo menatap nakal ke arah gadis kecil itu. Ia menggerakkan dua jari jarinya seolah meminta Arini untuk mendekat.


"come to daddy, baby" ucapnya.


Arini makin tak karuan dibuatnya. Sungguh, ia tak pernah se gugup ini sebelum nya. Membayangkan apa yang akan terjadi setelah ini antara ia dan laki laki dewasa yang sudah sangat berpengalaman dalam bidang nya itu berhasil membuat Arini merinding.


"mau berdiri di situ aja? nggak mau bobok sini?" tanya Digo.


Arini makin gugup. Dengan langkah ragu, gadis itu berjalan mengitari ranjang, meraih guling yang kini tergeletak di lantai tersebut kemudian duduk di salah satu sisi tempat tidur yang kosong itu.


Arini sampai di atas ranjang. Ia nampak diam tak bergerak sembari memeluk guling di tangannya. Sedangkan Diego yang berada di sampingnya kini nampak menatapnya dengan sorot mata nakal.


Lalu,..


...----------------...


Dipisah lagi, kepanjangan....


next bab menyusul...

__ADS_1


__ADS_2