
Calvin lantas menoleh ke arah sang putri yang sejak tadi hanya diam. Disentuhnya punggung tangan wanita itu dengan lembut..
"nak, ada pria yang ingin meminang mu. Apa kau bersedia menerimanya sebagai calon suamimu??" tanya Calvin lembut.
Arini nampak menunduk. Kedua telapak tangannya saling meremas seolah ingin menyalurkan kegugupan yang ia rasakan. Awal mula saat ia melihat kedatangan Diego, gadis itu merasa begitu muak. Ingin sekali rasanya ia melempar laki laki yang selalu berhasil membuatnya kesal dan kecewa itu ke dasar jurang. Tapi setelah ia mendengar maksud dan tujuan Digo datang ke kediamannya, melihat keberanian Diego yang mengabaikan egonya demi menjawab tantangan nya, membuat Arini seolah menjadi berfikir, hebat juga pria ini.
Diego adalah pria sombong dengan segudang kengeyelan dan sikap sok tahu yang melekat di dirinya. Bukan hal yang mudah untuk seorang manusia seperti Diego menanggalkan ego dirinya, menggadaikan malu, dan membuang jauh jauh gengsinya hanya demi meminta maaf pada pria yang pernah sangat ia benci itu. Demi meminang gadis desa yang polos setengah tolol ini.
Arini nampak menunduk, belum memberi jawaban. Ia bingung. Memang benar, ia yang meminta Digo untuk datang pada ayahnya beberapa waktu lalu. Ia juga yang memberi laki laki itu tantangan untuk meminta maaf pada Calvin. Ia juga yang terus berharap Digo datang dan memenuhi keinginannya agar ia bisa memulai hubungan baru dengan mantan ayahnya itu.
Tapi jujur saja, niatnya meminta Digo datang dulunya adalah untuk supaya laki-laki itu meminta izin pada Calvin agar bisa mendekati Arini, sebagai pacar mungkin, bukan untuk menikahinya. Ia tak mengira jika Digo akan datang dan langsung meminta Arini sebagai istrinya. Ia pikir Digo hanya akan meminta izin untuk mendekati Arini saja. Tapi kenapa ini langsung diajakin nikah?
Ya memang sih, usia Diego memang sudah sangat matang menjurus ke tuaðŸ¤. Tapi Arini kan masih abegeeehhh🙈🙈. Masa iya ia hanya merasakan jadi prawan ampe sembilan belas tahun doang🙈. Trus abis itu nikah? punya anak? jadi emak emak??
Astaga, cepat sekali ia menjadi tua??
Arini nampak berfikir. Cukup keras, membuat Diego sedikit berdebar menunggu jawaban dari gadis itu. Ia takut ditolak, mengingat sambutan yang Arini berikan tadi tak begitu mengenakkan. Mungkin gadis itu masih marah padanya, pikir sang Diego.
"gimana, Rin..?" tanya Calvin.
Arini mendongak. Menatap ke arah Calvin dan Diego bergantian sambil merem*s rem*s jari jari tangannya dengan kaki yang bergerak gerak samar menghentak tanah.
"eeemmm....." ucap Arini nampak bingung.
"bapak.." ucap Arini.
"ya," jawab Calvin.
"bapak bolehin Arin nikah?" tanya Arini.
Calvin tersenyum.
"bapak membolehkan apapun yang bisa membuat kamu bahagia. Kalau memang menikah bisa membuat kamu bahagia, bapak nggak akan melarang. Bapak lebih mendukung itu daripada bapak harus melihat anak bapak pacaran kesana kemari tanpa ada ikatan apapun.." ucap Calvin
Arini diam lagi.
"oh iya, aku pernah denger kata ustadzah di kampung ku dulu, katanya pacaran emang banyak mudaratnya daripada manfaatnya. Daripada pacaran baru nikah, mending nikah dulu baru pacaran..!"
"apa aku ikutin saran ustadzah aja ya..! yang penting nikah dulu..! entar aku ajuin perjanjian, mau nikah tapi nggak mau punya anak dulu, plus nggak mau bikin anak dulu..!"
__ADS_1
"iya, gitu aja..! aku ajuin perjanjian dulu ama dia..!" batin Arini berucap.
Gadis itu nampak manggut manggut sendiri sembari mengulum senyum tipis. Membuat Diego ikut tersenyum simpul melihatnya.
Sepertinya itu pertanda baik, batin Diego.
Arini menegakkan posisi duduknya, menarik nafa panjang lalu berkata....
"iya, aku mau..." ucap gadis itu.
Diego reflek membuang nafas lega sembari menunduk dan mengulum senyum manis. Hal serupa pun juga Calvin lakukan.
"syukurlah kalau kamu bersedia. Setelah ini, saya serahkan semuanya sama kalian. Kapan kalian siap, dan hal hal apa yang perlu kalian siapkan untuk pernikahan kalian." ucap Calvin.
Digo dan Arini mengangguk.
"ya sudah, kalau begitu saya mau ke atas dulu. Kalian lanjut ngobrol berdua, ya..." tambah pria gondrong itu.
"iya, pak" jawab Arini.
Laki laki berjambang lebat itu lantas bangkit, meraih cangkir berisi kopi miliknya lalu membawanya pergi menaiki tangga rumahnya menuju lantai dua kediaman nya.
Setelah Calvin sudah tak terlihat mata....
seeeeetttt....
Arini bergerak dengan cepat, bangkit dari posisi duduknya, menuju sebuah nakas disalah satu sudut ruangan itu. Dimana sebuah telepon rumah bertengger manis di atasnya. Arini lantas membuka laci nakas tersebut. Ia kemudian mengeluarkan satu buah buku tulis, mengambil satu lembar kertas di dalamnya kemudian meraih satu buah bolpoin.
Arini berjalan cepat mendekati Diego yang nampak mengernyitkan dahinya melihat tingkah polah Arini. Gadis itu lantas duduk di samping Diego, ia kemudian mulai menuliskan beberapa buah kalimat perjanjian di dalam kertas yang dibawanya.
"kamu ngapain?" tanya Diego. Namun Arini tak menjawab. Ia sibuk dengan pulpen dan kertasnya.
Tak lama, Arini selesai dengan surat perjanjian nya. Gadis itu lantas menyerahkan kertas putih berisi tulisan tangannya itu pada laki laki calon suaminya tersebut.
"itu surat perjanjian..! aku mau nikah, tapi ada syaratnya..! itu syaratnya..!" ucap Arini bersungguh sungguh.
"pihak wanita bersedia menikah dengan pihak laki laki, namun dengan beberapa persyaratan, diantara nya sebagai berikut...." ucap Diego membaca tulisan kertas itu.
"satu, pihak wanita dan pihak laki laki yang sudah menikah wajib tinggal serumah dan tidur sekamar, namun pihak wanita tidak menghendaki adanya anak sebelum pihak wanita berusia dua puluh satu tahun" baca pria itu.
__ADS_1
Diego mengernyitkan dahinya.
"dua, pihak wanita tidak mengizinkan adanya aktivitas bikin anak dengan pihak laki laki. Di perbolehkan tidur seranjang namun tidak boleh pegang pegang. Berlaku sampai usia pihak wanita dua puluh satu tahun..."
"ciiiihhh" Diego berdecih sembari sekuat tenaga menahan tawa.
"tiga, pihak laki laki diwajibkan menjaga rahasia ini dari siapapun. Tetap bersikap selayaknya suami istri pada umumnya didepan banyak orang"
"barang siapa yang melanggar, maka akan mendapatkan hukuman denda dan kurungan penjara..!"
Diego menunduk. Tawanya tertahan. Ingin rasanya ia ngakak keras saat itu juga membaca surat perjanjian yang Arini buat.
Istri polos dan setengah oon kek gini enak nih di kerjain kalau malam, batin Diego.
"jangan ketawa..!! ini serius..! aku mau nikah tapi kamu harus menuhin persyaratan dari aku..!" ucap gadis itu.
Diego masih sekuat tenaga menahan tawanya. Membuat Arini merasa kesal dibuatnya.
"ih, dibilangin jangan ketawa..!!" ucap gadis itu sembari mencubit lengan sang Diego.
"aahh, sakit..!" ucap laki laki itu sembari mengelak lalu mengusap usap bekas cubitan Arini.
"makanya serius..!!" ucap gadis itu sambil melotot, membuat Digo justru merasa gemas sendiri melihatnya.
"iya, iya..! boleh, aku setuju.." ucap laki laki itu sembari mengulum senyum nakal.
"ya udah, buruan tanda tangan...!" ucap gadis itu.
"oke..! gampang..." jawab pria itu lalu dengan entengnya membubuhkan tanda tangan di atas kertas putih itu. Diego pun kembali mengulum senyuman khasnya yang mematikan. Lalu menyerahkan kertas itu kepada Arini. Arini pun menerima, lalu melipatnya dan menyimpannya di saku celananya.
Diego menggerakkan lidahnya menyapu area dalam mulutnya. Menggemaskan sekali gadis ini, jadi nggak sabar pen buru buru dikawinin, eh dinikahin..!ðŸ¤
...----------------...
Selamat siang,
up 10:33
yuk dukungan dulu 🥰🥰🥰🥰
__ADS_1