My Fake Daddy

My Fake Daddy
MFD 158


__ADS_3

Hari ini terus berjalan,


setelah berkunjung ke makam Dewi dan nenek Ratmi, Arini kemudian mengajak ayah dan suaminya untuk singgah sebentar di sebuah tanah kosong di kampung itu. Sebuah tanah lapang yang berisi puing puing rumah kayu yang dulu menjadi saksi bisu terpisahnya sepasang nenek dan cucu.


Ya, itu adalah tanah bekas rumah pribadi Arini. Rumah yang terbakar hebat hingga merenggut nyawa nenek tercintanya dulu.


Arini nampak duduk di sebuah batu, menatap bangunan yang sudah hancur yang kini hanya menyisakan puing puing kayu, genteng, serta sebuah pelataran yang dulu merupakan lantai rumahnya.


Sedangkan Calvin, pria itu nampak berdiri tak jauh dari Arini. Ia nampak berbincang bincang dengan pak Yanto yang menemui mereka di tanah kosong bekas rumah Arini dan nenek Ratmi itu.


Arini diam menatap nanar sekumpulan kayu dan genteng yang sebagian mulai pecah dan berlumut itu. Memori masa kecil hingga dewasanya seolah kembali berputar disana. Ia rindu neneknya. Ia rindu masa kecilnya. Membuat setitik air mata kini nampak luruh di pipinya.


Diego yang duduk di samping sang istri nampak menggerakkan tangannya. Mengusap lelehan air mata yang lolos tanpa permisi itu.


"kalau disini bikin kamu sedih, kita pulang aja, yuk." ucap Diego.


Arini menggelengkan kepalanya.


"Arin cuma lagi inget nenek aja, dad. Andai nenek masih hidup, dia pasti seneng banget lihat daddy. Mungkin kita akan bisa tinggal di rumah ini daripada harus nginep di komplek" ucap Arini.


"rumah ini walaupun jelek, tapi nyaman banget. Enaak banget tinggal disini, dad" ucap Arini.


Diego tersenyum. Sorot matanya menatap dalam kearah sang istri. Tangan kekar itu tergerak, menyentuh pucuk kepala wanita tercintanya itu dengan penuh kasih sayang.


"daddy tau, kamu sangat menyayangi nenek kamu. Rumah ini pasti menyimpan banyak kenangan buat kamu, kan?" tanya Diego.


Arini nampak mengangguk sembari mengusap air matanya.


Diego diam. Ia nampak tersenyum lembut sembari mengamati pergerakan istri tercinta nya itu. Lalu....


"kita bisa bangun lagi rumah masa kecil kamu" ucap Diego.

__ADS_1


Arini reflek menoleh ke arah sang suami.


"daddy akan bicara sama pak Yanto. Biar rumah ini dibangun lagi. Nantinya, kalau sewaktu waktu kamu kangen kampung halaman kamu, kamu kangen ibu sama nenek, kita bisa datang ke kampung ini dan tinggal dirumah ini" ucap Diego.


"kita desain sama dan semirip mungkin seperti rumah kamu yang dulu. Biar kenangan antara kamu dan nenek juga nggak hilang" tambahnya.


Arini nampak mengembun.


"beneran, dad?" tanya Arini.


Diego tersenyum.


"kapan sih daddy main main sama kamu?" tanya Diego.


Arini nampak mengembun. Diego meringsut. Makin mengikis jarak dengan wanita cantik itu. Ia kemudian merangkul tubuh wanita tersebut. Membuat Arini yang tubuhnya kini menempel pada sang suami pun mendongakkan kepalanya menatap wajah tampan Diego.


"daddy kan udah bilang. Apapun akan daddy berikan buat kamu. Daddy akan mengganti semua air mata kamu dengan senyuman dan tawa bahagia. Kalaupun ada air mata, itu adalah air mata kebahagiaan" ucap Diego manis.


"ck..! malah nangis...!" decak Diego pada sang istri yang justru makin banjir.


"terharu tauuukk..." ucap Arini sembari menyeka air matanya.


Diego tergelak. Tangisan wanita itu justru malah terlihat lucu dimatanya.


"cengeng..!" ucap pria itu. Di gerakannya tangan kekar itu lagi. Digo mencubit sebelah pipi chubby milik sang istri saking gemasnya.


Calvin yang sejak tadi berbincang dengan pak Yanto pun mendekati sepasang suami istri itu.


"pulang, yuk..." ucap Calvin.


Arini dan Diego pun mendongak.

__ADS_1


"nggak mampir dulu, tuan. Ke gubuk saya..." ucap Pak Yanto.


Calvin diam. Ia menoleh kearah Diego dan Arini seolah meminta pendapat.


"boleh, pak. Dari pada di rumah nggak ngapa ngapain, sepi..!" ucap Arini sambil bangkit dari duduknya. Di susul oleh Diego kemudian.


"kalau di rumah pak Yanto kan rame. Aku bisa main sama Azkia (anak bungsu pak Yanto)" ucap Arini.


Calvin mengulum senyum.


"ya kalau pengen rame bikin anak sendiri, dong" ucap pria gondrong itu santai sembari mengayunkan kakinya, menjauh dari tempat itu melewati Diego dan Arini.


Pak Yanto terkekeh. Ia mengikuti langkah Calvin yang berjalan menuju kediaman sederhana nya.


Arini melongo mendengar ucapan sang ayah. Sedangkan Diego kini nampak menampilkan senyuman merekah. Ia menggerakkan lidahnya menyapu area dalam mulutnya. Laki laki itupun menatap nakal ke arah sang istri.


"apa?!!" tanya Arini dengan mata melotot.


Diego tak menjawab. Ia kemudian bersiul. Senyumannya terus mengembang. Lirikan matanya menggiurkan, melirik ke tubuh bagian bawah sang istri, tepatnya di bawah perut rata wanita cantik itu.


Arini nyengir.


"iiihhh...! daddy...!!" rengek wanita itu sembari menggerakkan satu telapak tangannya menutup mata sang suami.


Diego tergelak. Arini berjalan cepat meninggalkan suaminya. Tal peduli dengan Diego yang memanggil manggil nama nya tanpa melepaskan senyumannya.


...----------------...


Selamat pagi menjelang siang,


up 10:33

__ADS_1


yuk, dukungan dulu 🥰😘


__ADS_2