
Hari berganti hari,
Semua berjalan seperti biasanya. Sepasang suami istri itu masih betah menikmati liburan sekaligus bulan madu mereka.
Jam sudah menunjukkan pukul tujuh pagi. Suasana asri khas pedesaan dengan udara yang begitu sejuk pun kembali menyeruak.
Diego yang baru selesai mandi itu berjalan menuju pintu belakang yang terbuka sambil membawa kopi pagi buatan istrinya. Dimana pemandangan hamparan sawah ber tanamkan pagi yang mulai menguning terpampang indah di sana.
Diego menyeruput kopi paginya. Lebih dari tiga minggu ia berada di kampung itu. Namun ia seolah masih betah untuk berlama lama tinggal di tanah kelahiran sang istri. Tempat ini terlalu tenang dan menenangkan untuk di tinggal. Rasanya begitu nyaman berada di tempat ini. Hidup di sebuah rumah sederhana dengan pundi pundi uang yang cukup namun tak menampakkan kemewahan.
Terlebih lagi kini ia hanya tinggal bersama sang istri tercinta. Mau ngapain aja, kapan aja, bebas...!
Tingg.....
Ponsel di atas meja makan berbunyi. Diego yang nampak menyandarkan tubuhnya di kusen pintu belakang rumah itu pun menoleh ke arah sumber suara. Laki laki itu kemudian berjalan mendekati meja sambil membawa kopinya.
Menyeruput nya, lalu meletakkan cangkir itu di atas meja makan bulat itu.
Digo mendudukkan tubuhnya di kursi meja makan. Lalu meraih ponselnya. Sebuah pesan dari Sam yang beberapa hari ini begitu intens menghubunginya, meminta pria itu untuk segera kembali pulang ke kota.
Ya, bukan tanpa alasan. Tiga minggu lebih, bahkan hampir satu bulan Digo berada di desa itu. Dan selama itu pula kantor ditinggal oleh pria yang kini menjabat sebagai pemilik Hernandez Group itu. Digo tak pernah pergi meninggalkan perusahaannya selama itu selama ia memimpin. Ini untuk kali pertama dalam sejarah, Digo meninggalkan Hernandez Group lebih dari satu minggu. Tentu saja hal ini membuat Sam sang tangan kanan kini menjadi sedikit keteteran.
"lu betah banget ya disitu?" tulis Sam.
Digo mengulum senyum. Ia lantas mengetikkan sesuatu, membalas pesan dari pria yang sudah sangat lama ia kenal itu.
"gue lagi program cetak Digo junior" tulisnya.
"anj*r lu ya..! gue disini keteteran lu malah enak enakan bikin anak...!" tulis Sam.
"makanya kawin lagi, biar ngerti rasanya jadi pengantin baru" jawab Digo.
"gue kawinin cewek gue yang sekarang, kaget lu..!" tulis Sam.
"ganti lagi? Carissa lu kemanain?" tanya Digo yang kini menduga sepertinya Sam sudah ganti pacar lagi.
"childish" jawab Sam singkat.
"cih..! bukannya itu selera lu..?!" tanya Digo sembari menyunggingkan senyum simpul.
"kata pak ustad Tuhan itu Maha Membolak-balikkan hati manusia" jawab Sam.
"maksud lu?" tanya Digo lagi.
Sam tak langsung membalas pesan pria itu. Digo kembali menyeruput kopinya dan meletakkan ponsel itu diatas meja.
Hingga ...
"assalamualaikum....!!!" suara setengah cempreng itu menggema. Membuat Digo pun kini reflek melongok ke menoleh ke arah sumber suara. Dimana seorang wanita muda nampak datang dari luar rumah sembari membawa sebuah kresek berisi barang belanjaan yang ia beli dari warung.
Ya, itu adalah Arini. Wanita itu baru pulang dari warung yang letaknya tak jauh dari kediaman nya. Saat pulang, ia tak sengaja bertemu dengan Bu Yati yang nampak menggendong Azkia, putri bungsunya, sambil menyuapi bocah kecil itu.
__ADS_1
Jiwa pecinta anak anak Arini pun bergejolak. Ia pun meminta izin untuk membawa Azkia ikut dengannya, menggantikan peran Bu Yati untuk mengasuh balita imut itu sementara.
Arini berjalan dengan riang sambil menggendong Azkia. Mendekati sang suami yang kini nampak tersenyum ke arahnya.
"daddy udah bangun?" tanya Arini.
"dari tadi..! kamu lama banget..! kemana aja sih?" tanya Digo.
Arini meletakkan kreseknya di atas meja. Lalu duduk di salah satu kursi di samping suaminya itu.
"abis beli itu, dad. Sekalian jalan jalan. Bosen di rumah terus.." ucap Arini.
"ada yang gangguin kamu?" tanya Digo lagi.
"enggak..!" ucap wanita itu.
"nih, aku malah nemu anak nih...si gembul tantik nih..." ucap Arini gemas sembari menggoyang goyangkan tubuh Azkia yang berisi.
Digo tersenyum. Tangannya tergerak menyentuh pipi tembem anak kecil ber dress pink itu.
"baby..." ucap Digo.
"hmmm..." jawab Arini sembari menyuapi anak tetangga nya itu.
"kayaknya kita udah nggak bisa lama lama deh tinggal di sini. Kerjaan daddy numpuk. Kamu juga harus kuliah, kan?" tanya Digo.
Arini nampak diam.
"padahal kemarin niat kita cuma dua minggu, kan?" tanya Digo sembari tersenyum. Tangannya kembali tergerak mengusap bekas makanan yang berada di ujung bibir Azkia.
Arini terkekeh.
"ya udah, pesen tiket aja.." ucap wanita cantik itu.
"udah puas kan liburannya?" tanya Digo seolah ingin memastikan Arini puas dengan liburan sekaligus bulan madu mereka.
"udah..." jawab wanita itu.
"ya udah.. aku pesenin tiket, ya. Lusa kita berangkat.." ucap Digo.
Arini mengangguk.
Pria itu kemudian meraih ponselnya. Mulai memesan tiket pesawat secara online melalui ponsel pintar miliknya.
Arini selesai dengan aktifitasnya menyuapi Azkia. Diangkatnya tubuh bocah gembul itu.
"daddy, nitip Azkia dulu, dong. Aku mau pipis.." ucap Arini.
"hmm? he'eh..!" ucap pria itu sambil terus fokus pada ponselnya. Seolah meminta Arini untuk meletakkan bocah itu di pangkuannya.
Arini pun menurut. Diletakkannya bocah itu dipangkuan Digo. Diego menggerakkan satu tangannya merengkuh pinggang Azkia seolah ingin menjaganya agar tak jatuh. Sedangkan satu tangan lainnya nampak asyik dengan ponsel ditangannya.
__ADS_1
Arini masuk ke dalam toilet. Suara gemericik air mulai terdengar dari sana.
Digo selesai dengan aktivitas pemesanan tiketnya. Pria itu kemudian menuju aplikasi WhatsApp. Membuka satu persatu story WhatsApp yang dibuat oleh beberapa orang kenalannya disana.
Digo berhenti di story WhatsApp milik Sam. Dilihatnya disana, sebuah foto telapak tangan yang ia yakin adalah telapak tangan Sam, nampak menggenggam erat telapak tangan wanita berkulit putih dengan kuku cantik menghiasi jari jemarinya.
Pacar baru nih kayaknya? anak siapa lagi nih yang dipacari si duda mesum? pikir Digo.
Laki laki itu hanya mengulum senyum simpul.
Tiba tiba....
brrrrruuuuuuuuuuttttttt........
Digo terdiam.
Sesuatu yang hangat dan lembab nampak keluar dari tubuh bagian bawah Azkia. Terasa begitu hangat menembus celana pendeknya.
Digo melotot. Mimik wajah Azkia nampak berubah. Bocah itu seperti ingin mengeluarkan sesuatu dari dalam dirinya.
Brrrrruuuuuuuuuuttttttt........
"aaakkkkhhhh.....!! ARINI...!!!!" teriak laki laki itu keras.
"apa?!!" tanya sang istri dari dalam toilet.
"ini apa??!!! buruan...!!!" teriak Digo.Ia nampak mendongak, menjauhkan wajahnya dari bocah gembul itu. Bau menyengat seketika menyeruak dari dalam sana.
"Arini...!!!!" teriak Digo lagi.
Merasa ada sesuatu yang tak beres, wanita cantik itupun segera keluar dari toilet. Mendekati sang suami yang nampak sudah kebauan.
"apasih?!!" tanya Arini.
"ini...!!! anget...!!!" ucap Digo sembari menunjuk ke arah pahanya.
Arini mengikuti arah tunjuk Digo. Wanita itu paham. Ia kemudian terkekeh.
"ya ampun, kamu baik banget, nak. Pagi pagi udah ngasih rejeki ama om Digo.." ucap Arini sambil terkekeh.
"rejeki, rejeki..!! akkhhh..! bau banget lagi..!" gerutu Digo.
Arini mengangkat tubuh Azkia dan membawanya ke toilet. Lalu mulai membersihkan bocah kecil itu dengan telaten.
...----------------...
Selamat pagi
up 10:00
yuk, dukungan dulu 🥰 🥰🥰
__ADS_1