My Fake Daddy

My Fake Daddy
MFD 102


__ADS_3

Mentari terus bergejolak, terbit dan tenggelam. Waktu terus berjalan. Hari demi hari pun terus berganti.


Seiring berjalannya waktu, kondisi kesehatan gadis muda itu kian hari juga kian membaik. Satu minggu pasca kepulangan nya dari rumah sakit, Arini masih rajin bolak balik ke bangunan tempat mencari kesembuhan itu guna menjalani serangkaian terapi penyembuhan dan pemulihan pada salah satu kakinya yang cidera.


Beruntung, sekarang ia mempunyai sosok seorang ayah yang sangat siap siaga. Laki laki itu seolah tak pernah meninggalkan Arini sendirian barang sedetik pun. Calvin kini bahkan sudah jarang datang ke studio tato miliknya. Ia menyerahkan semua pada Ivan dan Miko selaku anak buah kepercayaannya. Kadang kadang ia datang ke studio hanya sekedar mampir saja. Ketika ia tengah keluar rumah guna membelikan sesuatu untuk sang putri. Hanya sekedar mampir dan melihat lihat saja. Setelah itu ia akan kembali ke rumah dan kembali berkumpul dengan putri kesayangannya.


Hari demi hari berlalu, beberapa perubahan juga terjadi di kehidupan Calvin. Laki laki itu kini mulai mempekerjakan seorang pembantu rumah tangga. Pembantu itu di ambilnya dari sebuah yayasan penyalur ART yang berada di kota itu. Ia ditugaskan untuk mengurus rumah dua lantai milik Calvin agar terlihat lebih layak. Hal ini ia lakukan lantaran sehari setelah pulang nya Arini dari rumah sakit, gadis itu ngotot ingin bersih bersih rumah, saking tidak tahannya ia dengan kondisi hunian manusia yang lebih mirip sarang burung saking berantakan nya. Mau tak mau Calvin pun akhirnya mempekerjakan seorang pembantu, dari pada Arini ngotot minta bersih bersih lagi..! laki laki itu tidak mau Arini kenapa kenapa, mengingat kondisi wanita itu hingga kini juga belum sehat betul.


Selain dalam hal kebersihan rumah, sebuah perubahan yang cukup menonjol juga terjadi dalam diri Calvin perihal hobinya minum minuman keras.


Sudah beberapa hari ini, pesta miras ditiadakan. Hal itu karena para anak punk, rekan berpesta Calvin merasa malu dan tak enak hati. Lantaran beberapa hari terakhir, ketika mereka baru saja hendak memulai aktifitas haram mereka, selalu terdengar suara lantunan ayat ayat suci Alquran dari dalam kamar Arini.


Entah di sengaja atau tidak, tapi gadis itu selalu terbangun tepat disaat ayahnya dan teman temannya hendak berpesta. Ia mendatangi ayahnya, lalu meminta di temani wudhu. Setelah itu Arini akan mengaji hingga waktu subuh datang. Seolah tak tidur jika malam hari.


Hal itupun tentu membuat para tamu yang ingin mengajak maksiat itupun seolah berfikir dua kali untuk pesta miras disana. Sebej*t bej*t nya mereka rupanya para berandalan itu masih memiliki rasa malu untuk berbuat dosa di sebuah tempat dimana lantunan ayat ayat sakral itu di lantunkan.


Alhasil, selama beberapa hari terakhir rumah itu bersih dari pesta alkohol. Namun tentu saja, bebas dengan pestanya belum tentu juga bebas dengan barangnya.


Botol botol miras itu masih sering Arini jumpai di rumah tersebut. Ayahnya tetap meminumnya sehari hari, meskipun tak sebanyak ketika ia berpesta dengan teman temannya.


Seperti hari ini,


saat keduanya tengah berada di dalam sebuah mobil yang membawa mereka menjauh dari rumah sakit tempat dimana Arini melakukan terapi hari ini.


Gadis itu nampak menatap ke arah sang ayah. Laki laki itu kembali menenggak minuman dalam kaleng yang berada di tangan nya. Minuman itu sudah seperti air putih bagi Calvin, tak berefek apapun meskipun ia sudah menenggak dua kaleng selama perjalanan mereka dari rumah sakit menuju kediaman mereka.


Calvin menoleh ke arah sang putri.




"kamu kenapa, nak? ada yang kamu rasain?" tanya Calvin sambil terus melakukan kendaraan roda empat nya.


"enak, pak?" tanya Arini pada pria berjenggot rimbun itu.


"apa?" tanya Calvin.


"minumannya" jawab Arini.


Calvin nampak mengubah mimik wajahnya. Seolah tak memiliki rasa percaya diri untuk menjawab pertanyaan anak gadisnya itu.


Di angkatnya minuman itu rendah sambil tersenyum kaku ke arah putri yang nampak memasang wajah polos.


"pait" ucapnya.


"kalau pait kenapa diminum, pak?" tanya gadis itu lagi.


Calvin celingukan, lalu tersenyum kaku.


"udah, nggak usah dibahas. Ini udah habis, bapak mau buang." ucap Calvin lalu menenggak alkohol itu untuk yang terakhir lalu memasukkan kaleng kosong itu ke dalam sebuah kresek putih.


"kamu laper? kita mampir cari makan dulu gimana?" tanya Calvin.


"boleh, pak" ucap Arini.

__ADS_1


"kamu mau makan dimana?" tanya Calvin.


"em, kalau di resto tempat Arin kerja dulu boleh nggak, pak? Arin kangen sama temen temen Arin. Arin juga pengen pamer. Arin pengen mereka tahu, kalau bapak ternyata bapaknya Arin. Boleh kan, pak?" tanya Arini.


Calvin mengulum senyum lucu sambil mengangguk. Lalu mengacak acak lembut pucuk kepala sang putri.


Calvin pun melajukan mobilnya menembus jalan raya. Menuju resto tempat dimana Arini dulu bekerja sebagai seorang pengantar delivery.


Entah bagaimana status wanita itu di resto tersebut kini. Sejak kecelakaan terjadi hingga saat ini, terhitung sudah satu setengah bulan lebih Arini tidak masuk kerja tanpa keterangan. Sudah hampir bisa dipastikan, wanita itu pasti sudah dipecat.


Calvin menghentikan laju mobilnya tepat di depan restoran yang cukup ternama itu. Calvin buru buru turun dari kereta beroda empat tersebut lalu membuka pintu disamping sang putri. Arini pun turun di bantu sang ayah.


"mau pakai tongkat aja nggak?" tanya Calvin.


"nggak usah, pak. Udah bisa, kok" ucap wanita cantik dengan rambut panjang itu.


Arini pun berjalan sedikit terpincang-pincang. Digandeng sang ayah, ia pun masuk ke dalam resto itu untuk makan siang.


"Arini..!!" suara itu menyambut kedatangan sepasang ayah dan anak tersebut. Seorang pemuda berkulit putih datang mendekat. Membuat beberapa pasang mata pengunjung pun menatap ke arah nya.



Ya..! itu Fajar..! teman SMP sekaligus sahabat Arini.


"Fajar..!" ucap gadis itu.


Fajar merentangkan kedua tangannya sambil berjalan dengan bibir menampilkan sebuah senyuman lebar. Hendak memeluk gadis cantik itu. Namun..


buuuuuuuuuuggggghhhhh....


sebuah tangan kekar mendorong tubuh pria muda itu dengan kasar. Laki laki yang dulu sempat membuat gaduh di tempat tersebut kini nampak merangkul pundak Arini dengan posesif sembari menatap tajam ke arah Fajar.


Pria muda itu nampak mengernyitkan dahinya seolah tak mengerti.


"Rin...." ucap Fajar seolah meminta penjelasan.


Arini mendongak, menatap sang ayah yang nampak memasang mode garang.


"pak, ini temen SMP Arin," ucap wanita itu.


"tetap saja dia tidak boleh kurang aj*r..! mau seenak nya saja menyentuhmu...!" ucap Calvin mengerikan.


Arini tersenyum. Ia kembali mengarahkan pandangannya ke arah sang sahabat.


"Ini bapak kandung aku, Jar" ucap Arini.


"HAAAHH???!!!"


Fajar nampak terkejut mendengar pengakuan Arini. Apa maksudnya? bukankah selama ini ayah Arinj bukan yang ini? Ayah Arini kan yang galak itu? eh, tapi ini juga galak sih ya..! lebih galak malahan..! mukanya juga sangar..!


Fajar nampak bingung.


"udah, nggak usah dipikirin..! yang penting aku baik baik aja..!" ucap gadis itu sembari menyentuh pundak Fajar.


"aku minta nomor kamu, ya. Soalnya hp aku ilang. Ntar kita kabar kabar an lagi" ucap Arini.

__ADS_1


"oh, pantes..! aku bingung tau, Rin. Kamu tiba-tiba hilang gak ada kabar. Aku telepon nggak bisa. Aku WhatsApp nggak bisa. Aku datang ke rumah kamu kamu nggak ada, malah yang ada aku dimaki abis abisan sama daddy kamu." ucap Fajar mengadu.


"eh, sekarang kamu tiba-tiba datang bawa bapak baru..! aku bingung, Rin..!" ucap Fajar.


Arini terkekeh.


"iya, maaf. Aku soalnya juga lupa nomor hp kamu. Maaf ya, ntar aku ceritain deh semua sama kamu. Tapi sekarang aku laper, mau makan dulu" ucap Arini.


"oh, oke. Duduk aja..! kamu mau pesen apa?" tanya Fajar.


Arini pun menggerak kan kakinya yang masih sedikit pincang menuju sebuah bangku kosong di sana. Sedangkan Calvin mengikutinya dari belakang.


Keduanya pun lalu memilih menu makanan yang tersedia di sana. Setelah memilih, tak lupa Fajar pun mencatatnya di buku kecil di tangannya. Remaja itu lantas menuju dapur untuk menyiapkan pesanan sang sahabat yang baru saja kembali dari tempat persembunyiannya itu.


Arini celingukan di meja nya.


"bapak.." ucap Arini.


"ya.." jawab Calvin sembari menoleh ke arah sang putri. Mengalihkan pandangannya dari layar ponsel yang sejak tadi ditatapnya.


"Arin ke toilet bentar, ya.." ucap gadis itu.


"bapak anter..."


Calvin bersiap bangkit dari kursinya.


"nggak usah..!" ucapkan Di situ sembari mengangkat tangannya seolah menahan pergerakan sang ayah.


"masa mau pipis dianterin bapak?! Arin sendiri aja bisa, kok..!" ucap gadis itu.


"bener?" tanya Calvin. Arini hanya mengangguk.


"Ya sudah kalau begitu hati-hati. Jangan lama-lama, ya" ucap Calvin. Gadis manis itu mengangguk sambil tersenyum. Ia pun berlalu dengan langkah sedikit terpincang-pincang menuju toilet restoran yang tak jauh dari tempat duduknya.


Arini berjalan dengan sangat hati hati. Menuju dua pintu yang nampak bersebelahan antara toilet pria dan wanita. Toilet wanita di sebelah kanan, sedangkan toilet pria di sebelah kiri. Arini bersusah payah menyeret kakinya menuju pintu toilet wanita. Namun saat sampai di depan toilet pria. Tiba tiba.....


ceklek.....


buuuuuuuuuuggggghhhhh.....


"aaaaaaaakkkkhhhhh....!!!"



deeeeegggghhhh....


...----------------...


Selamat malam...


up 19:29


yuk, dukungan dulu 🥰😘


semoga cepat review nya

__ADS_1


__ADS_2