My Fake Daddy

My Fake Daddy
MFD 149


__ADS_3

18:30 malam,


Sebuah motor harley besar nampak memasuki area halaman tak terlalu luas rumah dua lantai itu. Pria berjambang lebat dengan rambut gondrong itu nampak melepas helm hitamnya. Ia turun dari kendaraan roda dua itu kemudian masuk ke dalam rumah dua lantai yang masih nampak ramai pasca pesta pernikahan sang putri yang digelar kemarin.


ceklek....


pintu rumah terbuka. Pria itu lantas masuk ke dalam rumahnya, hendak menuju ke lantai dua tempat dimana kamar tidurnya berada.


"bapak..!"


suara itu menggema, menghentikan langkah duda yang mulai menginjak usia empat puluh satu tahun itu.


Calvin menoleh, dilihatnya sang putri yang semula sibuk menata makanan diatas meja bersama bu Yati dan dua putri pak Yanto itu nampak berjalan mendekat ke arahnya.


Calvin diam. Diamatinya sang putri sejenak. Cara berjalannya agak beda meskipun wanita itu sudah berusaha berjalan dengan se biasa mungkin, membuat Calvin nampak mengulum senyum samar nyaris tak terlihat.


Ganas juga Diego, pikir Calvin.


"bapak.." ucap Arini sembari meraih punggung tangan sang ayah.


Calvin tak menjawab.


"langsung mandi ya, pak. Kita makan malam bareng.." ucap Arini.


Calvin tersenyum.


"iya, sayang.." jawab pria itu sembari mengacak acak lembut pucuk kepala sang putri.


Calvin melanjutkan langkahnya menapaki anak tangga menuju lantai dua. Sedangkan Arini kini dengan langkah yang sedikit berat nampak kembali mendekati meja makan membantu Bu Yati dan kedua putrinya.


"udah selesai kok, Rin. Kamu panggil suamimu dulu, gih. Suruh makan malam, biar ibuk juga panggil pak Yanto sama anak anak lain.." ucap Bu Yati.


"iya, buk.." ucap Arini.


Wanita muda bersuami pria kaya itu lantas berjalan menuju kamar mereka. Sedangkan Bu Yati nampak naik ke lantai dua menemui suaminya.


Rani dan Rasti, dua anak gadis pak Yanto nampak mengamati Arini yang kini masuk ke dalam kamarnya.


"mbak.." ucap Rasti si anak kedua.


"apa?" tanya Rani si sulung.


"mbak Arini kayaknya sakit deh" ucap Rasti yang masih duduk di bangku SMP. Rani si kakak yang kini sudah duduk di bangku kelas sepuluh itu nampak menoleh.


"kenapa emangnya?" tanya Rani.


"itu, jalannya mbak Arin aneh, trus tadi aku nggak sengaja lihat, lehernya mbak Arin kayak korengan, merah merah. Padahal kemarin belum ada loh mbak..?" ucap Rasti.

__ADS_1


Rani yang sepertinya lebih paham tentang apa yang terjadi itu hanya tergelak.


"itu bukan sakit, Ras..." ucap Rani.


"la terus...?!" tanya Rasti.


Rani mengulum senyum, sedikit membungkuk mendekatkan wajahnya pada sang adik.


"kalau mau tau, tanya sama Om Digo aja..." ucap remaja itu sambil terus mengulum senyum. Membuat Rasti nampak berfikir.


"dah, siapin piringnya. Jangan suka ngomongin yang punya rumah, nggak baik..!" ucap Rani.


Rasti yang masih bingung pun hanya bisa mengangguk. Ia menjalankan perintah sang kakak sambil terus berfikir.


Sementara itu,


di dalam kamar biru milik Arini dan Diego,


"dad...." ucap wanita itu sembari menutup pintu kamarnya.


Dilihatnya di tepi ranjang, Diego nampak cekikikan menatap layar ponsel yang berada di tangan nya.


Arini nampak menyipitkan matanya. Itukan....??


"mampus...!!" ucap wanita muda itu sambil melotot..! itu ponselnya...!


Dengan susah payah Arini berlari mendekati laki laki itu. Ia lantas menabrakkan tubuhnya ke tubuh Diego lalu merampas ponsel di tangan suaminya tersebut. Laki laki itu melepaskan ponsel ditangannya. Ia lantas tertawa terbahak bahak. Membuat raut wajah Arini nampak merah padam dibuatnya.


Arini menatap layar ponsel menyala yang membuat Diego tertawa lepas itu. Dilihatnya disana, disebuah laman riwayat pencarian di internet, nampak beberapa kata yang cukup menggelitik yang sempat Arini tulis sebelum ijab qobul nya dengan Diego di laksanakan.


"cara bikin anak"


"malam pertama pengantin ngapain"


"ciri ciri hamil"


"bagaimana cara bisa hamil"


"cara berhubungan badan yang benar"


Diego menatap lucu ke arah Arini tanpa bisa menghentikan tawanya.


Gadis itu makin malu dibuatnya. Dalam kondisi terdesak, dicubitnya pinggang sang suami sembari menggerakkan kepalanya, mendusel di ketiak Diego yang nampak mengenakan kaos tipis berwarna hitam itu.


"daddyy....!!!!" rengeknya sambil terus membenamkan wajahnya disana.


Diego makin tertawa lebar. Arini makin mendusel. Laki laki itu bahkan sampai menjatuhkan tubuhnya ke ranjang dengan Arini yang terus merangsek masuk ke ketiak Diego. Laki laki itu tak bisa menghentikan tawanya. Satu tangan Arini bahkan terus bergerak mencubiti perut dan pinggang sang Diego.

__ADS_1


"eh, sakit..! jangan dicubitin gini dong..!!" ucap Diego sambil mencoba mengelak. Menjauh dari sang istri, namun Arini terus mengikuti kemana pria itu bergerak.


"makanya daddy diem..!!" rengek wanita itu.


"iya, iya, daddy diem, udah..! stop..! jangan dicubit lagi..! sakit semua...!" ucap Diego sambil mencoba menghentikan pergerakan tangan sang istri.


Diego memeluk tubuh wanita tersayang nya itu. Lalu meraih dagu lancipnya agar mendongak menatap wajah nya.


Arini yang sudah terlanjur malu itu nampak bersungut. Diego sekuat tenaga menahan tawanya agar tak pecah. Namun hal itu rupanya sukses membuat Arini makin kesal dibuatnya.


"daddyy....!!!!" rengeknya lagi sembari kembali membenamkan wajahnya di dada Diego.


"aaakkkhhh...! sakit...!!" pekik laki laki itu manakala Arini dengan gemasnya menggigit dada pria itu.


"di gigit, dong..! sakit, sayang.." ucapnya lagi.


"jangan diketawain..!!" rengek wanita itu.


"iya, iya..! maaf, maaf...! sini, sini..! uuu, cayank..!" ucap laki laki itu sembari memeluk sang istri dan mengusap usap kepalanya.


"besok besok, kalau mau belajar, langsung ama suhunya, yang udah senior, nggak usah pakai goog*e..!" ucap Diego.


"kalau sama yang udah berpengalaman kan bisa langsung praktek nggak usah pakai teo............"


ucapan pria itu terhenti. Arini membungkam mulut laki laki itu dengan kesalnya. Ia mendongak, matanya melotot, dengan bibir mengerucut.


Diego terkekeh lagi. Dipeluknya lagi istri tercintanya itu lalu menciumi pucuk kepalanya.


"dah, maaf..! kamu ngapain tadi nyariin daddy? ada apa?" tanya Diego manis sembari membelai rambut panjang wanitanya itu.


"makan malem..! udah di tungguin..!" ucap Arini sambil bermanja manja ria di dada sang suami.


"ya udah, kita keluar, yuk, makan dulu" ucap Diego.


"tapi jangan ketawa lagi..! maluukk...!!" rengek wanita itu.


"iya, sayang. Nggak ketawa lagi..! janjiik..!" ucap Diego.


"ya udah, ayok..! awas ya kalau ketawa lagi.." ucap Arini mengancam yang justru sukses membuat Diego makin gemas terhadap wanita kecilnya itu.


Sepasang suami istri itupun lantas keluar dari dalam kamar mereka. Bergegas menuju meja makan untuk makan malam.


...----------------...


Selamat malam,


up 18:54

__ADS_1


yuk, dukungan dulu 🥰😘🥰


__ADS_2