My Fake Daddy

My Fake Daddy
MFD 179


__ADS_3

Siang menjelang,


Setelah menghabiskan waktu waktu terakhir di kampung halaman Arini bersama sang istri, kini pria tampan yang sudah menginjak usia tiga puluh enam tahun itu sudah kembali ke ibu kota bersama wanita tercintanya.


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih satu jam dua puluh lima menit, burung besi yang ditumpangi Digo dan Arini pun sampai di sebuah bandar udara di kota besar itu.


Dengan celana pendek, kaos putih berbalut jaket hitam, sebuah sneaker putih, serta kacamata hitam membingkai netra tajam nya, Digo nampak menggandeng hangat wanita dengan dress merah selutut kesayangan nya.


Keduanya melangkah keluar bandara. Laki laki tampan itu nampak celingukan mencari cari sosok Sam yang harusnya datang menjemput mereka.


"om Sam mana, dad?" tanya Arini.


"tau nih, kemana tuh orang. Padahal daddy udah bilang loh, setengah tiga daddy sampai. Harusnya dia udah stay di sini, sih" ucap pria itu sambil celingukan mencari keberadaan duda mes*m itu.


"ditelpon aja, dad" ucap Arini.


Digo menoleh, lalu tersenyum.


"iya kali, ya. Daddy coba telfon aja.." ucap pria itu.


"duduk sana dulu, yuk" ucap Digo lagi mengajak Arini untuk duduk di deretan kursi tunggu bandar udara itu. Arini mengangguk. Keduanya pun lantas duduk di barisan kursi bandara itu.


Arini nampak menyandarkan kepalanya di pundak Digo sambil memejamkan mata nya.


"pusing?" tanya Digo.


Arini hanya mengangguk tanpa menjawab. Digo tersenyum lembut. Ia menggerakkan tangannya membelai pucuk kepala sang istri lalu mengecupnya singkat.


Sedangkan satu tangan Digo kini mulai mengeluarkan ponselnya. Mencari nama Sam disana dan menghubungi nya.


tuuuutt.... tuuuutt.....


"halo..." ucap duda tampan itu dari seberang sana.


"lu dimana sih?! gue udah sampai..!" tanya Diego.


"oh, iya...! sorry, Go..! gue lupa ngasih tau lo, gue nggak bisa jemput hari ini. Gue mendadak ada meeting. Tapi lo tenang aja, gue udah suruh supir kantor buat jemput lo..! tapi kayaknya jalanan agak macet, jadi lo tunggu bentar aja ya..." ucap Sam tanpa rasa bersalah.


"ck...! kebiasaan lu...!! ya udah, lu bilang ama tuh supir suruh buruan..! gue capek..! gue nggak mau lama lama nungguin dia disini...!!" ucap Diego kesal.


"iya, iya...! bawel banget lu kek emak emak..!" ucap Sam dari seberang sana.


Digo tak menjawab. Ia lantas mematikan sambungan teleponnya secara sepihak, lalu memasukkan benda canggih itu ke dalam saku celananya dengan sedikit kesal.

__ADS_1


"sabar...! tunggu aja bentar..." ucap Arini yang kini nampak memeluk lengan sang suami dengan posesif.


Digo hanya bisa menghela nafas panjang. Ia pun dengan terpaksa harus menunggu supir yang Sam tunjuk menjemput nya itu untuk beberapa saat.


Sedangkan di tempat lain...


Disebuah arena bermain di salah mall besar di kota itu.


Dua orang pria wanita nampak asyik duduk berdua. Menyaksikan seorang bocah laki laki yang terlihat begitu gembira bermain trampolin bersama beberapa teman sebayanya.


"dia udah pulang?" tanya seorang wanita cantik berpenampilan anggun yang nampak memangku sebuah tas branded itu.


Laki laki dewasa di sampingnya, Sam, nampak tertawa lucu sambil mengangguk.


Wanita itu ikut terkekeh.


"dia pasti uring uringan banget sekarang..." ucap Sam.


Wanita itu tertawa lagi.


"udah, biarin aja..! sekali sekali biarin aja dia nunggu..!" ucap wanita itu lagi.


Sam tersenyum. Duda satu anak itu nampak menoleh ke arah wanita cantik itu. Tangan berbulu halus itu lantas tergelak. Diraihnya punggung tangan wanita cantik itu dengan lembut, membuat si wanita yang sejak tadi fokus pada putranya di sana kini nampak menoleh ke arah duda tampan itu.


"i love you...." ucap Sam lembut.



...****************...


Beberapa jam kemudian...


Setelah menunggu di bandara kurang lebih lima belas menit. Kemudian melampiaskan kekesalannya dengan memaki maki supir kantor yang ditugaskan untuk menjemput dirinya, kini Digo sampai di kediaman pribadinya dengan sang istri. Rumah dua lantai kediaman Calvin Alexander yang sejak menikah ia tempati bersama sang istri.


Digo mengusir supir kantor nya. Ia sudah terlanjur kesal dengan pria yang usianya mungkin sepantaran dengannya itu karena sudah membuat Diego menunggu.


Sepasang suami istri itu berjalan menuju pintu utama. Dilihatnya disana garasi motor nampak tertutup. Mungkin ayahnya belum pulang kerja, pikir Arini. Wanita itu memang tak sempat memberi kabar pada ayahnya bahwa ia akan pulang hari ini. Entahlah, mungkin wanita itu terlalu menikmati hari harinya bersama sang suami.


Arini dan Diego kemudian berjalan menuju pintu utama. Diraihnya handle pintu itu lalu dibukanya.


"assalamualaikum...." ucap Arini saat memasuki bangunan rumah dua lantai yang sudah hampir satu bulan ditinggalkan nya itu.


Arini terdiam. Wanita itu nampak melongo.

__ADS_1


"buset...! ini rumah apa kandang kebo?" ucap Digo.


Dilihatnya disana, rumah itu nampak begitu berantakan. Botol miras dimana mana. Asbak, puntung rokok, kulit kacang, bungkus bungkus makanan, gelas gelas kecil yang beberapa nampak terguling di atas meja, baju jaket, semua berserakan tak karuan.


Kondisinya persis saat pertama kali Arini menginjakkan kakinya di rumah ini dulu.


Digo menggelengkan kepalanya. Walaupun ia seorang laki laki tapi ia tak se jorok ini. Ia suka kerapian dan kebersihan. Melihat kondisi rumah mertuanya yang begitu berantakan membuatnya risih sendiri.


"sumpah ini kotor banget...! si gondrong kemana, sih? pembantu juga kemana?! kotor banget...! nggak pernah dibersihin nih rumah?" tanya Digo tak habis pikir.


Arini tak menjawab. Wanita itu sudah memasang wajah kesal. Dengan dada naik turun ia menghentak hentakkan kakinya ke lantai. Membuat Digo pun mengernyitkan dahinya melihat pergerakan sang istri.


"BAPAAAAKK.....!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!” teriak wanita itu melengking. Digo sedikit terjingkat kaget dibuatnya.


Arini berjalan dengan cepat. Menyusuri anak tangga dengan langkah penuh kekesalan menuju lantai dua, tempat dimana kamar sang ayah berada.


Bibirnya manyun. Nafasnya memburu. Pasti ayahnya mabuk mabukan lagi selama Arini tak ada di rumah.


Ceklek....


pintu kamar Calvin terbuka.


Benar saja. Dilihatnya disana duda gondrong itu nampak tepar. Tidur tengkurap di atas ranjang dalam kondisi bertel*njang dada. Sebuah botol bir tergeletak di atas keramik, tepat di bawah tangannya yang terkulai ke lantai itu.


Kamar itu juga nampak berantakan. Tak terawat dan acak acakan.


Dada Arini naik turun melihat pemandangan itu. Lalu...


.


.


.


.


.


"BAAAAPPPPAAAAAAAAAAAKKKKKKKKKKKK.......!!!!!"


...----------------...


Selamat pagi

__ADS_1


up 05:52


yuk, dukungan dulu 🥰🥰🥰


__ADS_2