My Fake Daddy

My Fake Daddy
MFD 14


__ADS_3

Di ruangan CEO milik Diego Calvin Hernandez...


Dua pria dewasa nampak duduk berhadap-hadapan di sebuah meja kerja di ruangan itu..


"jadi dia anaknya Calvin? suaminya Steffi?" tanya Sam kaget setelah mendengar penuturan Digo tentang sosok Arini yang kini tinggal bersamanya.


Diego hanya mengangguk. Sam nampak kaget mendengar fakta itu. Rupanya gadis itu adalah anak dari laki laki yang sangat Diego benci. Itu artinya Arini telah tinggal bernama orang yang salah. Diego sangat membenci ayah kandung Arini.


Malang juga nasib bocah itu. Saat bayi di tinggal mati ibunya. Sudah besar tinggal bersama laki laki yang mengaku sebagai ayahnya, padahal bukan..! Diego hanyalah laki laki lain yang tak memiliki hubungan darah apapun dengannya.


"terus, lu mau ngapain? apa yang mau lo lakuin ama dia? jangan lakuin aneh aneh ama dia, Go..! dia cuma anak kecil yang nggak tau apa apa..?" ucap Sam mengingat kan.


"gue nggak akan ngapa ngapain dia..! emang lu pikir gue mau ngapain? gue cuma akan menempatkan dia di tempat yang seharusnya...! pembantu...! keset...! budak...!" ucap Diego angkuh.


Sam mengangkat dagunya.


"dia nggak curiga ama lo? dia percaya aja gitu kalau lo bapak kandungnya dia?" tanya Sam.


Diego menyunggingkan senyuman tipisnya.


"dia itu cuma bocah gobl*k yang nggak tau apa apa..! bukan hal yang sulit buat bikin dia percaya kalau gue adalah ayah kandungnya...! toh nama gue ama bapaknya dia ada kemiripan...! dan dia sama sekali belum pernah ketemu sama bapaknya..." ucap Diego santai.


Sam hanya bisa menggelengkan kepalanya.


"Go, dia cuma seorang anak yang pengen ketemu orang tuanya..! lu nggak kasihan ama dia? dia nggak tau apa apa tentang masalah Calvin, lu, dan Steffi..!" ucap Sam.


"dah lah, Steffi udah tenang di alam sana. Calvin sekarang juga lagi diambang kebangkrutan...! lu udah punya segalanya...! jangan libatin anak kecil yang nggak tau apa apa...!" ucap Sam.


"apasih? gue nggak akan ngapa ngapain dia..! jangan lu pikir gue kek lu ya..! yang sang*an liat cewek cewek muda..! gue nggak naffsu ama bocah kampung kek gitu...! liatnya aja gue udah males tau nggak lo..! udah dekil, bauk, tolol, norak pula...!" ucap Diego angkuh sembari merebahkan tubuhnya di sandaran kursi kerjanya dengan mata menatap sinis ke arah Sam.


"cih...! jangan ngomong gitu...! lu belum pernah ngerasain ketika Tuhan membalikkan hati lu dalam waktu sekejab...! lagian tuh bocah cantik kok. Tinggal lu permak aja, bakalan klepek klepek lo ama dia...!" ucap Sam sembari bangkit dari posisi duduknya dan menyahut sebuah map yang berada di atas meja kerja Digo.

__ADS_1


Diego hanya berdecih. Hal itu tidak akan mungkin terjadi, batin Digo.


Sam berlalu pergi meninggalkan ruangan itu. Meninggalkan Diego yang kini nampak memainkan ponselnya. Melihat sebuah pesan dari seorang janda muda yang kini tengah menjalin asmara dengannya.


"baby, aku kangen.." tulis wanita bernama Aneeta itu.


Diego hanya mengangkat satu sudut bibirnya. Dibalasnya pesan dari wanita yang sepertinya mulai membosankan untuk Diego itu.


Ya, hubungannya dengan Aneeta memang baru berjalan beberapa bulan saja. Namun sepertinya Diego sudah mulai bosan dengan janda satu anak itu. Karena memang seperti itulah seorang Diego. Ia gampang bosan dengan wanita. Menjalin hubungan asmara baginya hanyalah iseng iseng saja. Semenjak di tinggal pergi oleh Steffi, Diego seolah belum bisa menemukan wanita yang cocok untuk dirinya.


Berkali kali pacaran dengan wanita yang lebih tua ia gunakan hanya untuk mengisi kekosongan waktu saja. Menyalurkan hasrat kelelakian nya dan bersenang senang. Kalau sudah bosan, ya sudah. Tinggalkan...! begitu seterusnya. Dan mungkin ini juga yang akan ia lakukan pada Aneeta si janda muda itu.


"aku sedang sibuk" tulis pria itu singkat lalu meletakkan ponselnya di atas meja kemudian kembali meraih laptopnya untuk bekerja.


...****************...


Sementara itu ditempat terpisah di waktu yang hampir bersamaan,


Arini nampak mengusap lelehan keringat yang membasahi dahinya.


Gema adzan Dzuhur sudah berkumandang. Wanita itu nampak mendudukkan tubuhnya di pinggir trotoar jalanan ibu kota yang nampak ramai lantaran bertepatan dengan jam makan siang perkantoran itu.


Arini nampak ngos ngosan. Sudah cukup lama ia berjalan. Sudah cukup jauh juga ia melangkah kan kakinya menjauh dari rumah megah sang ayah. Niat hatinya hanyalah ingin mencari kerja. Apa saja yang penting ada uang nya agar bisa ia gunakan untuk pegangan dan modal hidup sendiri.


Ya, Arini sadar bahwa ayahnya seperti nya tak begitu menyukainya. Makanya ia berinisiatif untuk cari kerja. Mengumpulkan uang se perak demi se perak agar bisa ia gunakan untuk pegangan dan modal hidup, lalu pergi dari rumah itu dan hidup sendiri saja setelah uangnya terkumpul.


Namun, sejak pagi ia berjalan kaki. Menyambangi warung makan dan toko toko di pinggir jalan, tak ada yang bersedia menerimanya sebagai pekerja. Jika pun ada, mereka meminta Arini menunjukkan ijazah SMA. Sedangkan ijazah SMA nya saja belum keluar. Ijazah SMP hangus karena kebakaran hebat yang menghancurkan kehidupan nya beberapa waktu yang lalu.


Arini menelan ludahnya kasar. Haus sekali rasanya. Dirogohnya saku celana panjang nya itu. Diraihnya beberapa lembar uang lecek dalam sakunya. Jumlah nominalnya tak sampai seratus ribu. Ini uang terakhir yang ia punya, sisa dari uang pegangan yang ia bawa dari kampung. Setelah ini ia tak akan punya uang lagi.


Arini bangkit. Ia lantas berjalan menuju sebuah warteg yang berada tak jauh dari tempat itu guna membeli es teh untuk melepaskan dahaganya.

__ADS_1


Dilihatnya disana, banyak orang orang tengah makan siang dengan lahapnya. Arini nampak memegangi perutnya. Ia sebenarnya juga sangat lapar. Tapi ia tak punya cukup uang untuk membeli makan siang. Mungkin bisa beli, tapi setelahnya ia tak akan punya uang lagi untuk pegangan.


Ya sudahlah, ia tahan dulu saja laparnya.


Arini pun mendekati ibu penjual warteg.


"buk..." ucap Arini.


"iya, neng" ucap ibu ibu berbadan subur itu.


"es teh satu ya, bungkus aja.." ucap Arini.


"oh, iya neng. Tunggu sebentar ya.." ucap si ibu.


Arini hanya mengangguk. Ia pun berdiri di sana sembari menunggu ibu ibu warteg untuk membuatkan es teh untuknya. Hingga.....


.


.


.


.


"Arini...?!"


...----------------...


Selamat pagi,


up 02:22

__ADS_1


yuk, dukungan dulu 🥰


__ADS_2