
Hari terus berganti, semua berjalan seperti biasanya.
Dua bulan lebih Arini hijrah dari desa ke kota besar ini, dengan satu tujuan yaitu mencari ayah kandung yang tak pernah ia jumpai bahkan sejak Tuhan meniupkan ruhnya dalam kandungan ibundanya.
Kini Arini sudah merasa bahagia. Sesosok laki laki kini senantiasa menemani hari harinya. Sosok laki laki yang ia kira adalah ayah kandungnya. Sesosok laki laki yang kian hari kian hangat dan lembut. Laki laki yang dulu begitu dingin kini menjelma menjadi laki laki yang sangat Arini sayangi. Yang selalu bisa menjadi pelindung untuk gadis belia berparas ayu tersebut. Yang selalu bisa ia andalkan sebagai ayah, teman, dan sahabat.
Malam ini, di ruang televisi kediaman Diego Calvin Hernandez.
Arini nampak tertawa terbahak bahak. Menyaksikan sebuah acara komedi di televisi sambil menemani sang ayah yang tengah sibuk dengan laptop di hadapannya.
Digo sesekali nampak menggelengkan kepalanya sambil terkekeh mendengar suara gelak tawa Arini yang cukup lebar dan lantang.
Dasar anak ini. Tak ada sisi feminim sama sekali dalam diri gadis polos ini.
Jam sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam. Digo merebahkan tubuhnya di sandaran sofa panjang itu. Laki laki itu nampak menggeliat. Meregangkan otot otot tubuhnya yang kaku akibat duduk menghadap laptop sejak setelah makan malam hingga saat ini.
Arini menoleh.
"daddy capek?" tanya gadis belia itu. Diego menoleh. Laki laki itu lantas tersenyum tanpa menjawab ucapan gadis itu.
"mau Arin pijitin nggak?" tanya Arini lagi.
"emang kamu belum ngantuk? ini udah malem loh. Biasanya kamu jam segini kan udah tidur" ucap Diego.
Arini tersenyum.
"Arin pengen nungguin jam dua belas, dad" ucap gadis itu.
Diego nampak menyipitkan matanya.
"buat apa?" tanya Diego.
Arini tersenyum lagi.
"ini kan malam terakhir Arin delapan belas tahun. Besok Arin udah sembilan belas" ucap Arini.
Digo terdiam. Dengan cepat ia menegakkan posisi duduknya lalu mendekat ke arah sang putri.
"kamu ulang tahun?" tanya Digo kaget.
Arini tersenyum sambil mengangguk.
"kenapa nggak bilang daddy?" tanya Digo menyesal. Harusnya ada perayaan untuk hari jadi Arini. Ia malah tak tahu jika beberapa jam lagi Arini akan bertambah usia satu tahun.
Arini tak menjawab. Lagi lagi, ia hanya tersenyum kini sambil menunduk. Sudah sangat biasa baginya menyambut hari kelahiran tanpa ucapan, doa, apalagi hadiah dari orang orang sekitar. Satu satunya orang yang pernah mengucapkan selamat ulang tahun untuk dirinya hanyalah almarhumah neneknya. Selain itu tidak ada.
Digo menatap ke arah jam dinding. Ini sudah terlalu malam, mana ada toko kue yang buka jam segini.
Digo nampak berfikir keras.
Lalu...
"ya udah, gini aja. Karena daddy nggak tau kalau kamu ulang tahun, dan daddy nggak punya kue sekarang, gimana kalau malam ini daddy temenin kamu begadang. Kita masak bareng, abis itu kita makan malem buat ngerayain hari ulang tahun kamu"
Arini diam tak bergerak menatap laki laki tampan itu.
Digo membelai rambut panjang Arini.
"daddy minta maaf, baby. Daddy nggak tahu hari ulang tahun kamu. Jadi daddy nggak ada persiapan apa pun.." ucap Digo.
Laki laki itu lantas meringsut lagi. Mengikis jarak dengan gadis manis berkulit putih tersebut. Tangannya kembali membelai rambut panjang itu dengan lembut dan penuh kasih sayang.
"Tapi malam ini, daddy pengen jadi orang pertama yang ngucapin selamat ulang tahun buat kamu. Kamu jangan sedih. Daddy janji, besok, pulang kerja, kita rayain hari spesial kamu ini pakai kue. Daddy akan kasih kado yang paaaaling indah buat kamu. Kado yang akan membuat kamu bahagia. Daddy janji. Jangan sedih ya..." ucap Digo sambil membelai pipi mulus gadis yang justru nampak lesu menjelang detik detik pergantian usianya itu.
Arini mengulum senyum haru.
__ADS_1
"aku nggak minta kado yang aneh aneh, dad. Bisa sama sama daddy selamanya aja udah bikin Arini seneng kok" ucap gadis belia itu.
Digo tersenyum lagi.
"ya iyalah. Kita pasti akan sama sama selamanya. Siapa coba yang bisa misahin kita? nggak ada..!" ucap Digo yakin.
Arini terkekeh.
"ya udah, kita ke dapur yuk..." ajak Digo.
Arini mengangguk. Kedua anak manusia itupun lantas bangkit dan bergegas menuju dapur.
"bentar, dad" ucap Arini tiba tiba menghentikan langkahnya.
"ada apa?" tanya Digo.
"Arin mau pasang alarm tepat jam dua belas..." ucap Arini yang seolah tak mau ketinggalan detik pertama di usia sembilan belas tahun nya.
Digo tersenyum lucu. Gadis itu pun mulai memasang alarm di ponselnya.
Setelah selesai, keduanya pun bergegas menuju dapur.
Aksi masak masak bersama daddy pun dimulai. Keduanya kini nampak begitu kompak berada di dalam dapur. Dengan celemek melekat di badan keduanya nampak asyik mengolah aneka bahan makanan itu disana. Kini Diego berperan sebagai koki. Sedangkan Arini hanya membantu bantu saja. Entah masakan apa yang kini tengah diolah oleh laki laki itu. Ia tak tahu. Ia tak pernah melihat makanan seperti itu sebelumnya. Sepertinya sih itu makanan orang orang kelas atas. Makanan para bule yang entah apa namanya dan seperti apa rasanya.
Tak lama, saat jarum jam mulai bergerak mendekati pukul dua belas malam tepat. Sepasang ayah dan anak itu selesai dengan aktivitas mereka.
Digo menuangkan makanan yang entah apa itu namanya ke dalam dua buah piring.
"kayaknya enak, dad" ucap Arini nampak berbinar.
"enak lah. Kan daddy yang masak.." ucap pria tampan itu.
Arini nampak bahagia.
"dah, kita bawa ke meja. Kamu bawa minumannya ya..." ucap Digo.
Keduanya pun berjalan menuju meja makan. Meletakkan olahan spesial racikan kedua anak manusia itu diatas meja lalu mendudukkan tubuh mereka di dua buah kursi disana berdampingan.
Arini nampak berbinar. Tinggal beberapa menit lagi menuju tepat pukul dua belas malam.
Digo menoleh menatap gadis itu. Hanya dengan makan malam berdua yang sangat sederhana saja gadis ini sudah terlihat sangat bahagia. Mudah sekali membahagiakan gadis ini.
"kamu happy?" tanya Digo pada Arini.
Gadis itu tersenyum manis. Ia lantas mengangguk dengan penuh antusias.
"daddy..." ucap Arini sambil menatap lekat pria itu.
"ya..." jawab Digo dengan sorot mata yang sama.
"daddy tau nggak. Selama hampir sembilan belas tahun Arin hidup, Arin belum pernah yang namanya dirayain ulang tahunnya. Arin juga belum pernah pergi ke acara ulang tahun temen Arin. Karena setiap ada perayaan ulang tahun, Arin nggak pernah diundang. Arin cuma bisa lihat dari jauh, liat orang orang tiup lilin, potong kue ditemenin orang tua mereka.
"jangan kan perayaan ulang tahun, dad. Di dunia ini hanya ada satu orang yang pernah ngucapin selamat ulang tahun buat Arin. Yaitu nenek. Selain itu nggak ada lagi" ucap gadis itu terdengar begitu pilu mengoyak hati sang Diego.
"daddy, makasih. Udah mau menerima Arin disini. Maaf, Arin nggak punya apapun yang bisa daddy banggakan sebagai anak" ucap gadis itu lagi.
Digo yang sesak pun menghela nafas panjang. Di dekatkan nya wajah itu ke wajah sang putri lalu menangkup nya dengan lembut. Kini keduanya nampak begitu dekat.
"Arini, dengerin daddy. Berhenti untuk merasa rendah dan kecil, baby. Bukan kamu yang harus minta maaf. Tapi daddy. Karena ada banyak dosa yang udah daddy lakukan sama kamu"
"semua kisah sedih kamu, itu adalah masa lalu. Sekarang, yang terpenting kamu aman sama daddy. Kita bahagia. Dan daddy nggak akan membiarkan siapapun mengusik itu. Kamu akan selalu ada di samping daddy selamanya. Daddy akan membahagiakan kamu. Memberikan apapun yang kamu mau. Kita akan sama sama selamanya. Okey...?" ucap Diego bersungguh sungguh.
Arini mengangguk.
"daddy akan jadi orang kedua di dunia ini yang mengucapkan selamat ulangtahun untuk kamu. Dan daddy akan melakukan itu setiap tahunnya. Untuk kamu. Selamanya..! Tapi kamu harus janji, kamu akan tetap disini sama daddy. Kamu nggak akan pergi ninggalin daddy.." ucap Digo.
__ADS_1
"gimana aku bisa pergi, dad? daddy orang yang aku cari cari sejak kecil. Aku nggak akan pergi" ucap Arini dengan mata mengembun.
Digo tersenyum manis dan haru. Begitu juga gadis itu.
ting .... ting .... ting.... ting.... ting......
Alarm dalam ponsel yang berada di atas meja berbunyi. Tepat pukul dua belas malam.
Diego mendekatkan wajahnya pada wajah gadis cantik itu. Nyaris tak berjarak. Membuat ujung hidung keduanya kini bahkan hampir menempel.
"selamat ulangtahun, sayang. Terima kasih sudah hadir di kehidupan daddy. Semoga semua yang baik selalu menyertai mu. Jadilah wanita yang kuat. Yang manis. Yang selalu bisa menjadi penyejuk orang orang di sekitarmu. Terima kasih sudah mau bertahan di sini. Daddy sayang kamu, baby.." ucap Diego begitu lembut dan lirih.
Arini mematung di buatnya. Jantungnya berdebar. Rasanya tak biasa. Seperti inikah rasanya diberi ucapan selamat ulang tahun oleh ayah sendiri..? Arini baru pertama kali merasakan nya.
Diego larut dalam suasana tengah malam yang syahdu itu. Ibu jarinya kembali bergerak mengusap usap lembut bibir merah muda yang selalu menggoda imannya tersebut.
Laki laki itu memejamkan matanya. Memiringkan kepalanya. Hal yang membuat Arini seolah ikut terseret larut dalam suasana malam. Membuatnya ikut memejamkan matanya. Menikmati sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Bibir itu makin mendekat. Mulai bertemu. Bergesekan. Saling menyentuh. Dan.....
Menyatu....!
Cup..!
Diego mengecup bibir itu dengan sangat lembut. Gadis yang baru saja melewati detik pertama nya di usia sembilan belas tahun itu diam tanpa reaksi. Ini pengalaman pertama nya mendapati perlakuan seperti ini. Membuat Diego seolah tak bisa lagi mengontrol dirinya.
Kecupan demi kecupan lembut ia layangkan. Nafasnya makin memburu mana kala hembusan nafas panjang dari gadis belia itu mulai terasa.
Kecupan demi kecupan terus mendarat. Merasa tak mendapat penolakan, Diego mulai memainkan permainan lidahnya. Ciuman itu berangsur angsur mulai makin dalam. Dilum*tnya benda yang sudah sangat lama ingin ia cicipi itu dengan lembut seolah tak ingin menyakiti gadis itu. Arini hanya pasrah. Ia seolah tak bisa mencerna apa yang kini tengah terjadi. Setan menutup mata dan telinganya. Diego mendekap erat tubuh gadis itu. Melewati detik detik pertama pergantian usia sang gadis dengan sebuah pergulatan lidah yang begitu lembut penuh kehangatannya.
stop...! hanya sampai situ ya..! nggak lebih ..! jangan salah sangka...!!🙈🙈
...****************...
Sementara itu di tempat terpisah....
Disebuah rumah yang kembali menjadi tempat berkumpulnya para manusia manusia pecinta kebebasan.
Pesta miras kembali digelar. Dentuman musik keras kembali diperdengarkan. Para pria wanita bertato dengan penampilan brandalan nampak asyik menenggak alkohol. Berteriak teriak bak orang gila sambil menggoyangkan pinggulnya mengikuti alunan musik.
Di atas sebuah sofa panjang. Pria berjambang lebat itu, Calvin Alexander, kembali menenggak minuman keras dalam gelas slokinya. Matanya nampak menatap datar ke arah sebuah layar benda pipih yang menampilkan pesan dari seorang laki laki desa yang ia kenal.
"tuan, saya sudah berada di dalam bis menuju kota tuan. Insya Allah, besok siang saya mungkin sudah sampai di alamat yang tuan kirim kan kemarin" tulis laki laki itu, pak Yanto.
Calvin diam sejenak, lalu menulis kan pesan balasan nya.
"ya. Bapak langsung saja ke studio tato saya. Siang saya ada disana" jawab Calvin
"*baik tuan"
"oh, iya, tuan. Ngomong ngomong, hari ini Arini sedang berulang tahun. Tepat sembilan belas tahun*.
Calvin terdiam.
Hari ini putrinya tepat berusia sembilan belas tahun. Berarti hari ini adalah hari bahagia nya.
Tapi dimana ia sekarang tak ada yang tahu. Calvin menghela nafas panjang...
"selamat ulang tahun, nak" gumam Calvin dalam hati.
...----------------...
Selamat pagi
up 07:06
__ADS_1
yuk, dukungan dulu 🥰😘