My Fake Daddy

My Fake Daddy
MFD 67


__ADS_3

Sore menjelang, saat jam pulang kerja..


Gadis belia itu nampak duduk di sebuah bangku taman yang berada pinggiran trotoar jalan.


"daddy, aku tunggu di kursi taman samping toko kue ya, biar nggak ada yang lihat kita pulang bareng" tulis Arini pada sebuah pesan WhatsApp di ponselnya.


"okey..." jawab pria itu.


Arini tersenyum. Ia lantas menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi itu sambil sibuk memainkan ponsel di tangannya sembari menunggu kedatangan daddy tampannya yang rela pulang kantor lebih cepat demi menemani Arini jalan jalan sore ini.


Arini nampak asyik menyaksikan beberapa vidio lucu dari sebuah aplikasi video berbagi disana, hingga....


plaaaaakkkkk.......


Sebuah tangan tiba tiba menampik benda pipih itu. Membuatnya terlepas dari genggaman tangan Arini dan jatuh terpelanting ke tanah.


Arini memekik kaget. Dengan segera ia pun bangkit. Dilihatnya disana seorang wanita berdiri di hadapan nya. Ini adalah wanita yang tadi siang ia temui dirumah om om baik itu. Yang salah sangka padanya. Dikiranya ia dan laki laki dewasa itu berbuat macam macam.


Arini menatap penampilan perempuan itu dari atas sampai bawah. Bertindik, pakaian serba mini, memperlihatkan lekuk tubuh dengan berbagai gambar terpampang di sana. Bau alkohol menyeruak. Sebuah botol bening berisi minuman keras yang tinggal separuh nampak berada di digenggaman wanita itu.


Sepertinya wanita ini sedang mabuk..! pikir Arini


Arini menatap datar wanita yang kini terlihat buas itu.


"ada apa, mbak? mbak ngapain disini?" tanya Arini mencoba tenang.


Anya melipat kedua lengannya di depan dada. Di gerakan nya satu tangan bertato itu menyentuh dagu Arini dan mengangkat nya namun dengan cepat anak kandung Calvin Alexander itu menampiknya.


"lagi nungguin siapa lo sini? lo nungguin bang Ale?" tanya Anya menuduh.


Arini mengernyitkan dahinya. Aneh sekali wanita ini? tiba tiba datang asal menuduh? Emang susah sih ngomong ama orang stres..!


"gue ingetin sama lo ya, bocah gobl*k..! jangan berani berani lo deket deket sama bang Ale lagi. Gue nggak suka lo deket deket ama dia..!" ucap Anya.


Arini menghela nafas panjang. Ia tak menjawab ucapan wanita itu.


"denger nggak lo? jangan diem aja, ta*..!!" ucap Anya keras.


"mbak nya kenapa sih? ini mbak mabok? mending mbak pulang deh. Mandi, cuci muka..! biar sadar..! saya nggak ngapa-ngapain, mbak..! saya tadi cuma kepleset, kalau mbak nggak percaya mbak tanya aja sama om om tadi..! lagian saya disini juga nungguin bapak saya..! nggak usah sotoy" ucap Arini kesal.


"berani jawab lo ya?! lo nggak tau siapa gue?!!" tanya Anya.


"enggak..!" jawab Arini berani. Sudahlah, ia malas berdebat dengan wanita aneh itu.


Dengan segera ia berbalik badan. Membungkuk, berniat untuk mengambil ponselnya yang terjatuh. Namun tiba tiba....


buuuuuuuuuuggggghhhhh......


"aaawww..!!" pekik Arini.


Anya mendorong tubuh wanita itu dari belakang. Membuat gadis itupun tersungkur jatuh ke tanah.


Gadis belia itu menoleh. Apasih maunya orang ini.

__ADS_1


"gue ingetin ama lo ya..! jangan berani berani lagi lo datang ke rumah bang Ale ataupun ke tempat kerjanya..! kalau lo masih berani deket deket ama dia, lo liat aja, gue bunuh lo..!" ucap Anya murka.


Arini mengernyitkan. Fiks, nih perempuan gila...! batin Arini.


"lu denger nggak?!!!" bentak Anya.


Arini tak menjawab. Bahkan terkesan cuek.


Tak mendapati jawaban dari gadis itu, Anya pun makin murka dibuatnya. Sambil mengumpat ia ayunkan nya botol di tangannya. Berniat untuk melemparkannya ke arah Arini.


Namun,


seeeeetttt.....


pyyaaaaaaaarrrrrrrrr.....


botol terlempar. Menghantam kursi taman membuat botol itupun pecah tak berbentuk.


Arini menggerakkan tangannya, seolah ingin menghalangi serpihan kaca kaca itu agar tak mengenai wajahnya.


Gadis itu lantas mendongak. Seorang pria berdiri gagah di hadapannya. Menghalangi Anya yang hendak berniat melukai gadis manis itu dengan botol di tangannya.


Itu Digo...! Daddy nya..! laki laki itu datang tepat waktu.


Arini bangkit. Merasa ada pelindung untuk dirinya, Arini pun langsung bersembunyi di belakang tubuh tegap pria itu. Meremas jas sang ayah. Menggunakan tubuh laki laki itu sebagai tameng untuk berlindung dari serangan wanita mabuk tersebut.


"siapa lo?" tanya Anya tak suka pada Digo.


"tolong jaga sikap anda..! ini tempat umum..! ada masalah apa anda dengan anak saya?" tanya Digo tenang. Arini mendongak. Menatap kagum kearah ayahnya yang terang terangan menyebutnya sebagai putri Diego di depan wanita itu tanpa merasa malu.


"ya, dia anak saya. Ada masalah?" tanya Digo.


Anya nampak diam mengamati penampilan pria tampan itu.


"kalau anak saya berbuat salah, tolong beritahu saya. Saya akan menasehati nya dengan cara saya sendiri. Jadi anda tidak perlu dorong dorong dan maki maki dia di tempat umum seperti ini..!" ucap Digo.


"lo kasih tau ama anak lo, jadi anak kecil nggak usah ganjen..! jangan suka godain laki laki yang lebih pantes jadi bapaknya...! masih kecil aja udah kecentilan, gede mau jadi apa dia?!!" ucap Anya kesal.


Digo menoleh ke arah Arini dengan kepala miring dan mata menyipit seolah ingin bertanya apa yang dimaksud oleh wanita bertato itu.


Arini menggelengkan kepalanya cepat, seolah ingin mengatakan pada daddy nya bahwa apa yang wanita bertato itu katakan semuanya tidak benar.


Digo menghela nafas panjang. Ia kembali menoleh ke arah Anya.


"saya minta maaf atas ulah putri saya yang kurang berkenan di hati anda. Saya pasti akan menegur putri saya setelah ini" ucap Digo melerai pertikaian agar wanita mabuk itu segera pergi dari tempat itu.


Anya mengangkat dagunya.


"bagus lah kalau gitu. Inget ya lo, bocah..! kalau lo masih berani lagi nampakin muka lo di depan bang Ale, gue patahin leher lo...!" ucap Anya kesal kemudian berbalik badan dan berlalu pergi dari tempat itu.


Arini mengangkat satu sudut bibirnya sinis.


"iiisshh, dasar orang aneh..! nggak jelas banget jadi perempuan" gerutu Arini sambil menatap punggung Anya yang perlahan mulai menjauh darinya.

__ADS_1


.


.


cetaaaaaakkkk.....


"aaaww...!!" pekik gadis itu sambil mengusap usap jidatnya. Digo menjitak kening bocah itu dengan gemasnya.


"daddy, sakiiiiiittt...!!!" rengek gadis itu dengan bibir mengerucut.


"ngapain kamu? bikin ulah apa lagi? godain siapa? ganjen ama siapa?!!" tanya Digo kesal.


"enggak...!" ucap Arini mengelak.


"enggak, enggak..! itu buktinya apa?! ada perempuan nglabrak kamu?! masih kecil udah kecentilan kamu..!! siapa yang kamu godain?! jangan bilang kamu ketemu sama laki laki berandalan itu lagi?! heeemmmm....?!" tanya Digo dengan mimik wajah di buat tegas.


"enggak...!" ucap Arini.


"enggak, enggak...! nggak usah bohong kamu...! daddy kerangkeng beneran kamu lama lama ya..." ucap Digo jengkel.


"ih daddy jahat banget masak anaknya mau di kerangkeng? emang aku monyet?!" tanya Arini membuat Digo mendengus kesal.


"ya kamu nya bandel banget dibilangin orang tua nggak pernah dengerin..!" ucap Digo mengomel.


"ih, makanya dengerin dulu..! marah marah mulu orang tua..! tadi Arin tuh cuma nganter pesenan ke rumah om om itu. Rumahnya berantakan. Pas Arin mau pulang, Arin nggak sengaja nginjek plastik, trus Arin kepleset, jatuh..! nimpa tuh om om..! itu perempuan salah paham..!! orang Arin nggak ngapa-ngapain di kiranya godain om om itu. Emang Arin cewek apaan goda godain cowok? ih, nggak banget..!" ucap Arini menjelaskan dengan bibir bergerak gerak lucu dimata Diego.


"lagian ya, daddy. Udah tau tuh perempuan lagi mabok, bisa bisanya daddy percaya aja ama dia...!! orang mabuk mah kalau ngomong suka ngasal..! jangan di dengerin..!" ucap Arini lagi.


Digo mengulum senyum tipis mendengar penjelasan panjang, lebar, cepat dan akurat dari sang putri. Membuat laki laki itu makin gemas padanya. Iih, jadi pen gigit..!🤭


Digo menggerakkan tangannya. Mencengkeram dagu dan bibir gadis itu dengan gemas hingga membentuk bibir tweety.


"berisik..!" ucapnya.


"ih, sakiiit..." rengek Arini lagi.


Digo tersenyum lucu.


"awas aja kamu sekali lagi bikin ulah, deket deket sama orang orang berandalan itu. Daddy kurung kamu..!" ucap Digo pura pura mengancam.


"iya, iya...!" ucap Arini mengiyakan.


"ya udah, ayok...! Jadi pergi nggak? Arin udah siap siap nih..!" ucap Arini.


Digo menggerak kan tangannya. Mengacak acak rambut gadis kecilnya itu dengan gemasnya.


"ya udah yok..!" ucap Digo.


Arini pun berbinar. Dengan segera ia meraih lengan Digo. Menggandengnya, menyandarkan kepalanya di lengan itu lalu berjalan bersama sama menuju mobil yang terparkir tak jauh dari tempat mereka berdiri. Terlihat jelas betapa Arini sangat bahagia bersama Digo saat ini. Keduanya pun berlalu pergi sambil terus bercanda ria sepanjang perjalanan.


...----------------...


Selamat pagi menjelang siang...

__ADS_1


up 09:21


yuk, dukungan dulu 🥰


__ADS_2