My Fake Daddy

My Fake Daddy
MFD 34


__ADS_3

Pagi menjelang,


Setelah perdebatan sengit antara ayah dan anak malam tadi...


.


.


.


Di sebuah rumah megah kediaman Diego Calvin Hernandez,


Pria tampan berpostur tinggi itu sudah rapi dengan kemeja kerja yang membungkus tubuh atletisnya. Sembari mengancingkan kancing lengan jasnya, Diego mengayunkan kakinya menuruni tangga menuju meja makan. Bersiap untuk mengisi perutnya sebelum memulai aktivitas padatnya hari ini.


Digo menghentikan langkahnya. Biasanya jam segini putri perawan nya itu sudah berada di dapur. Arini akan sibuk menata sarapan untuk dirinya dengan wajah bodohnya, tapi kenapa hari ini ia tidak ada? meja makan juga masih kosong..! kemana bocah itu?


Digo berdecak kesal. Jangan jangan bocah itu mogok kerja gara gara dilarang kerja di resto. Atau mungkin, dia malah sudah berangkat ke tempatnya bekerja tanpa meminta izin dari Diego?!


Digo menipisnya bibirnya.


"kemana anak itu?!" ucap Digo.


"ck..!" ucap Digo berdecak kesal.


"Arini...!!!!" ucap pria itu lagi sambil mengayunkan kakinya. Langkah kaki jenjang itu terlihat lebar dan cepat. Ia berjalan menuju kamar belakang tempat dimana kamar sang putri perawan berada.


Digo sudah mulai kesal saat tak mendapati sebutir nasi pun di atas meja.


Kemana bocah itu? bermalas-malasan? ke asyikan tidur? bangun kesiangan? enak sekali hidupnya...! batin Digo berprasangka buruk.


Digo pun berjalan menuju kamar pembantu yang berjajar itu. Ia lantas mendekati salah satu pintu di sana yang merupakan kamar tidur Arini lalu membuka nya dengan kasar.


daaaaaaaggggggghhhhh......!


"uhuukkk.... uhuukkk......"


Suara itu menyambut kedatangan Diego.


"Arini...!!" ucap Digo keras. Namun...


Pria itu nampak menyipitkan matanya. Dilihatnya disana gadis belia tersebut terlihat meringkuk di bawah selimut yang tak terlalu tebal itu.


Digo mendekat. Berdiri di samping ranjang yang tak terlalu luas disana. Arini nampak menggigil. Tubuhnya bergetar hebat di balik selimut abu abu yang menutupinya. Mulutnya terus bergerak, terdengar meracau, berucap tak jelas.


Raut wajah berang dari sang Diego itupun perlahan pudar. Laki laki itu nampak menyipitkan matanya mendapati kondisi sang putri yang sepertinya sedang tidak baik baik saja itu. Laki laki itu lantas memiringkan kepalanya. Mencoba menelisik wajah Arini yang hanya terlihat bagian mata ke atas itu.


"Arini..." ucap Digo pelan. Arini tak menjawab. Ia masih menggigil hebat.


"kau kenapa?" tanya laki laki itu lagi.


"asenjbebhdbehywJka....."

__ADS_1


Suara itu tak terdengar jelas. Entah apa yang di ucapkan wanita itu.


Digo menggerakkan tangannya. Menyentuh kening wanita yang terlihat pucat tersebut.


"astaga...!! badanmu panas sekali..!" ucap Diego. Laki laki itu lantas duduk di tepian ranjang. Ia kembali menggerakkan tangannya menyentuh dahi, lalu pipi hingga lengan Arini seolah mengecek suhu seluruh badan gadis belia yang terlahir tanpa ayah itu.


"Arini, kau kenapa?!" tanya Digo.


Arini terus berucap tak jelas. Digo terlihat panik. Suhu badan gadis ini sangat tinggi. Membuatnya entah mengapa menjadi khawatir karenanya.


"ada ada saja kau ini...!" ucap Diego. Laki laki itu lantas bangkit. Tanpa basa basi ia segera membopong tubuh Arini yang lemah itu lalu membawa gadis tersebut keluar dari kamar pembantu yang sempit itu menuju ke kamar tamu yang lebih luas dan nyaman.


Arini tak henti meracau. Badannya bergetar, suhu tubuhnya sangat tinggi. Ia meringkuk membenamkan wajahnya di dada Digo seolah meminta kehangatan. Suhu panas itu bahkan dapat dirasakan oleh Diego yang membopongnya.


Mereka sampai di kamar tamu yang berada di lantai dasar. Di rebahkan nya tubuh itu di atas ranjang king size dengan sprei putih itu. Digo melepas jasnya. Ia lantas menarik selimut tebal itu guna menutupi tubuh ramping gadis ber piyama pink itu.


"kau kenapa, bodoh? bisa bisanya kau sakit sampai menggigil begini..!" ucap Digo terdengar khawatir.


"tunggu sebentar, akan ku ambilkan kompres untukmu.." ucap Diego.


Digo lantas keluar dari kamar. Ia segera menuju dapur. Menuangkan air hangat ke dalam sebuah baskom kecil untuk mengompres dahi anak perawan nya itu.


Digo bergerak dengan cukup cekatan. Tak lama ia berkutat di dapur, ia pun kembali ke kamar itu. Tempat dimana Arini menggigil kedinginan ditengah suhu tubuhnya yang tinggi.


Digo naik ke atas ranjang. Didudukkan nya tubuh tegap itu di samping Arini yang berbaring dengan selimut tebal.


"kau pasti kelelahan..!" ucap Diego sambil membuka kancing lengan kemejanya dan menggulungnya hingga ke siku.


"sudah ku bilang kalau lelah istirahat..! kenapa kau bodoh sekali..! pakai acara ngotot kerja segala..! kau pikir kau sekuat itu?? kenapa kau lemah sekali..?! dasar bocah bodoh..!" ucap laki laki itu.


"ibuuukk...." ucap Arini mengigau.


Digo terdiam. Di tatapnya wajah itu.


"buk, Arin beuxne3hy2swbgsbw..." ucap wanita itu tak jelas.


"yebskshebegwgsbnmn...." ucapnya lagi.


Digo menatap lucu ke arah gadis itu. Laki laki itu kemudian terkekeh.


"apa yang katakan, bodoh?!" tanya Digo sambil kembali meraih kompres nya. Membasahi nya lagi dengan air lalu kembali menempelkan nya di dahi itu.


"bapak, besok ya..." ucap Arini lagi tanpa sadar.


Diego terkekeh..


"iya, ngapain?" ucap Digo seolah menyahut ucapan Arini.


"nsjdehhensnbsjdi...."


"hemm, boleh.." jawab Digo.

__ADS_1


"oandhesnnswbvsgn..."


"iya, ambil aja...." jawab Digo lagi.


Arini terus mengigau. Digo pun terus menjawab ucapan asal asalan dari wanita itu.


Digo merogoh saku jas nya. Di ambilnya ponsel mahal miliknya. Mencari nama 'Sam' lalu menelfon nya.


tuuuutt..... tuuuutt.....


"halo..." ucap Sam.


"Sam, lu handle semua kerjaan gue. Gue nggak ke kantor hari ini..!" ucap Digo sambil meraih tissue diatas nakas. Mengusap wajah Arini yang sedikit basah karena setitik air yang menetes dari kain kompres nya..


Sam yang sudah dalam perjalanan menuju rumah Digo pun nampak mengernyitkan dahinya. Kenapa tiba tiba Digo absen ngantor? Sedangkan Diego sangat di kenal gila kerja..! pikir Sam.


"lu kenapa?" tanya Sam.


"gue nggak apa apa..! oh ya, lu telfon dokter Irwan, suruh dia kerumah gue sekarang..!" ucap Diego lagi. Pria itu berucap tanpa mengubah arah pandangnya dari wajah gadis belia yang kini nampak tergolek lemah dengan kondisi yang tak sepenuhnya sadar itu.


"lu sakit?!" tanya Sam.


Digo berdecak kesal.


"banyak nanya ya lo..! anak gue sakit..! lu telfon dokter..! suruh dia datang kesini, sekarang..!! bawel banget ..!!" ucap Digo kesal lalu dengan segera mematikan sambungan telepon nya.


Digo kembali memasukkan ponselnya ke saku jas mahal miliknya.


Laki laki itu kembali memfokuskan pandangannya pada gadis manis itu.


Wajahnya pucat. Tapi tetap cantik. Bibir mungilnya bergerak gerak mengucap kata yang tak jelas.


Setitik senyuman terbentuk dari bibir pria itu. Tangan yang memegang sebuah tissue itu tanpa sadar bergerak lembut, menyusuri tiap inchi wajah manis gadis polos yang masih lugu itu.


"ranger pink nya tumbang" ucap Diego sembari mengulum senyum lembut.


Kedua nya berada di dalam kamar itu berdua sembari menunggu dokter datang.


Digo terlihat begitu telaten. Duduk di atas ranjang, mengompres gadis belia itu sambil sesekali tersenyum menikmati pemandangan paras ayu anak kandung tuan Calvin itu. Entah mengapa ia mulai tertarik untuk menatap wajah bodoh itu. Terlebih lagi jika bocah itu sedang cemberut. Sangat membuat Digo gemas. Membuat Digo beberapa hari ini memang lebih suka mengerjai Arini. Membuat gadis itu panik dan kesal dengan berbagai peraturan dan hukuman nyeleneh yang ia buat. Untuk saat ini ia tak suka tangisan Arini. Entah lah...! ia lebih suka wajah menggemaskan wanita itu. Karena wajah bodoh gadis itu kini seolah seperti hiburan tersendiri bagi Diego.


...----------------...


Selamat pagi,


up 04:59


yuk, dukungan dulu....


Buat pembaca baru, aq punya rekomendasi bacaan yang udah tamat...👇👇👇


*🌸*Peri Bisu Dan Malaikat Berjubah Iblis🌸

__ADS_1



Jangan lupa mampir🥰🥰


__ADS_2