My Fake Daddy

My Fake Daddy
MFD 142


__ADS_3

Malam menjelang,


setelah seharian menghabiskan waktu berdua, mulai dari kuliah, menemui Giselle sekaligus menjajal baju pengantin buatan janda cantik itu sendiri, sampai jalan jalan menghabiskan waktu berdua, kini saat malam menjelang, motor berharga fantastis milik Diego nampak memasuki halaman tak terlalu luas kediaman Calvin Alexander.


Jam sudah menunjukkan pukul 08.00 malam. Bumi sudah gelap dengan langit hitam dipenuhi bintang-bintang yang bertaburan. Arini turun dari kendaraan roda dua itu kemudian melepas helm bogo penutup kepalanya. Gadis itu lantas menyerahkan benda tersebut pada Digo.


"makasih..." ucap Arini manis


Digo tak menjawab. Ia menggantungkan helm yang baru saja calon istrinya itu kenakan di salah satu gagang spion motornya.


"makasih..." ucap gadis itu lagi saat Digo selesai dengan aktivitas nya.


Digo menoleh. Mengangkat kedua alisnya bersamaan seolah bertanya 'ngomong apa?'


"makasih..!" ucap Arini lagi mulai berkurang suara manisnya.


Diego celingukan, mengedarkan pandangannya ke segala arah seolah mencari sosok lain yang mungkin berada di sana. Ia kemudian kembali menatap calon istrinya.


"aku?" tanyanya sembari menunjuk ke arah dirinya sendiri.


"ya iyalah, siapa lagi?!" tanya Arini terdengar kesal.


Digo berdecih.


"nggak ada bedanya banget ngomong ama orang lain ama calon suami..!" ucap Digo membuat Arini kini nampak memiringkan kepalanya.


"maksudnya?" tanya gadis itu.


Digo nampak mengulum senyum. Ia lantas turun dari motornya. Mengayunkan kakinya selangkah lebar mendekati calon istrinya itu. Jarak diantara keduanya kini sangat dekat, bahkan hampir menempel. Arini yang sedikit terkejut dengan gerakan Diego yang mengikis jarak dengannya pun reflek mundur selangkah. Wajahnya mulai terlihat tegang, membuat Digo kembali mengulum senyum gemas melihat ekspresi gadis itu. Ekspresi yang selalu terlihat menggemaskan sejak dulu dimata Digo.


seeeeetttt...


Digo maju lagi selangkah, mengikis jarak lagi dengan wanita itu. Keduanya hampir menempel lagi. Arini panik lagi. Ia mundur lagi.


Diego mengulum senyum lagi.


Laki laki itu maju lagi, Arini mundur lagi.


Maju lagi, Arini mundur lagi.


Hingga....


buuuuuggghhhh.....


"aaawww...!!" pekik Arini yang tubuh nya membentur kursi rotan rumahnya. Membuat tubuhnya kini terduduk di kursi itu dengan gerakan yang cukup kasar.


Diego makin mengulum senyum. Pria itu membungkukkan badannya. Meremas dua sisi kursi di kanan dan kiri itu menggunakan kedua lengannya, mengungkung Arini yang nampak duduk dengan kepala terdongak menatap calon suami nya itu.


Dua pasang netra itu kembali bertemu. Keduanya saling menatap dalam ke arah satu sama lain seolah ingin menunjukkan betapa keduanya sangat saling mengagumi pasangan masing-masing.


Sebuah senyuman samar-samar mulai terbentuk dari bibir tipis manis milik Arini. Sedangkan Diego, netra tajamnya sejak tadi tak lepas mengamati keseluruhan paras cantik gadis belia itu.


Mulai dari mata, hidung, pipi, dagu, hingga bibir tipis merah muda yang sejak dulu selalu terlihat menggoda dimata Digo.

__ADS_1


Jantung keduanya berdetak lebih cepat. Posisi tubuh mereka cukup dekat, hembusan nafas dan detak jantung keduanya seolah bisa dirasa satu sama lainnya. Membuat keduanya seolah terhipnotis oleh suasana malam yang sunyi dan syahdu tanpa ada manusia lain lagi di antara mereka.


"masuk, gih, udah malem.." ucap pria itu lembut tanpa mengubah posisi tubuh dan arah pandang nya.


"ka, kamu nggak masuk dulu?" tanya Arini juga dengan posisi yang sama.


"siapa?" tanya Digo.


"kamu.." ucap Arini lagi.


"kamu siapa?" tanya Digo.


"ya, kamu..." ucap Arini malu malu sembari menggeliat dengan mimik wajah lucu.


Digo makin gemas dibuatnya.


"masak gitu sih cara manggil calon suami?" tanya Digo lagi.


"terus....gimana?" tanya Arini lagi.


"biasanya dulu manggilnya apa?" tanya Digo lagi tanpa mengubah posisinya.


"a, em...da..daddy..." ucap Arini terdengar manja. Digo memejamkan matanya sembari mengulum senyum lagi.


"apah?" tanya Digo lagi.


"daddy..." cicit Arini lagi.


"dad..ddy..." ucap gadis itu kemudian sembari menutupi wajahnya menggunakan kedua telapak tangannya karena malu.


Digo makin tak karuan. Ia memejamkan matanya, senyumnya mengembang dengan lidah menyapu area dalam mulutnya. Uuuhhh.... rasanya jadi laper pen makan anak orang...!


Diego menatap gemas gadis di hadapannya itu.


"dah ah, masuk..! ini udah malem. Istirahat, calon pengantin nggak boleh capek" ucap Digo. Laki laki itu kini bahkan dengan berani menggerakkan tangannya, membelai rambut panjang gadis di hadapannya itu.


Arini hanya tersenyum lalu mengangguk.


"kamu juga istirahat ya, sampai rumah" jawab wanita itu.


"siapa?" tanya Digo.


"daddyyy....." jawab Arini dengan suara mengalun lembut.


Digo tersenyum manis. Di dekatkan nya wajah berjambang itu. Kemudian dengan gerakan selembut mungkin, Digo mengecup kening putih gadis belia itu dengan sangat lembut. Bibirnya menempel di kulit kening Arini. Membuat gadis itu terdiam dan memejamkan matanya merasakan benda setengah basah itu menyatu dengan kulitnya.


"dah, masuk. Selamat malam, baby.." ucap pria itu setelah menyudahi kecupannya.


"malam, dad..." jawab gadis itu lembut dengan sebuah senyuman manis.


Digo menegakkan posisi tubuhnya. Arini bangkit dari duduknya. Keduanya saling tersipu malu satu sama lainnya.


Diego kemudian bergerak mundur. Sembari melambaikan tangannya ia pun menuju motor yang terparkir tak jauh dari teras rumah itu.

__ADS_1


Laki-laki itu kemudian mengenakan helmnya. Ia lantas berlalu pergi meninggalkan tempat itu dengan sebuah senyuman mengembang di bibirnya.


Arini menggeliat bahagia sembari kakinya bergerak menendang nendang udara. Hatinya berbunga-bunga. Ia tak pernah merasakan senang dan sebahagia ini sebelumnya. Bahagia yang begitu besar, namun tidak sama seperti saat ia bersama dengan ayahnya. Cinta kah ini namanya? Entahlah....


Arini melompat lompat kegirangan. Ia kemudian berbalik badan. Dengan senyuman merekah ia pun berjalan ke arah pintu. Membuka daun pintu tersebut lalu masuk ke dalam rumahnya. Ternyata.....


gleeeeeekkkkk......


Arini menelan ludahnya kasar.


Dilihatnya di salah satu sofa ruang tamu yang letaknya tepat di samping jendela besar yang terlihat bening dari dalam namun gelap dari luar rumah itu, tiga orang pria nampak duduk berjajar disana. Yaitu Calvin, Miko, dan Ivan. Mereka menatap kearah gadis itu dengan sorot mata yang susah untuk dijelaskan.


Wajah Arini merah padam. Ia melongok menatap jendela besar itu. Kursi yang tadi ia duduki terlihat jelas dari sana. Tepat di depan jendela besar itu.


Itu artinya...........


Astaga...!!


Arini memejamkan matanya. Malu...! mungkin ketiga pria itu sejak tadi menyaksikan adegan yang terjadi antara Arini dan Diego.


Gadis itu nampak kelimpungan. Ketiga pria itu menatapnya dengan tatapan yang...ah, entahlah..! Arini malu dibuatnya...!


Gadis itu lantas menggaruk garuk kepala belakangnya yang tak gatal.


"ba...pak, mas Ivan, mas..Miko...udah lama?" tanya Arini gugup.


"sejaman..." ucap Ivan santai sembari menyunggingkan senyum tipis mengingat tontonan yang baru saja ia, Miko, dan Calvin saksikan itu.


Arini membuka mulutnya.


"aaa, ooh... udah lama ya? i..iya udah, deh. Arin ke..masuk dulu ya, pak. Mas..mau tidur.." ucap Arini setengah mati menahan malu. Ivan, Miko, dan Calvin hanya mengangguk. Namun Ivan dan Miko terlihat sekuat tenaga menahan tawa.


Arini ngacir. Berlari pergi menuju kamarnya seolah tak kuat menahan malu.


Seperginya Arini, Ivan dan Miko tergelak. Sedangkan Calvin hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum lebar melihat tingkah polah anak perawan nya itu.


"bang, lu yakin mau jadiin Digo mantu lu..?!" tanya Miko tanpa bisa menahan tawanya lagi.


"ya kenapa enggak..!" jawab Calvin santai.


"lu nggak mau ngetes dulu? biarin mereka pacaran dulu aja mungkin..!" ucap Miko.


"gue suruh buru buru nikah aja, itu mereka berdua udah kek kayak gitu, dikiranya di dalem rumah nggak ada orang..! gimana kalau gue biarin mereka pacaran dulu?! bisa bunting duluan anak gue..!" ucap Calvin sembari menikmati sebatang rokoknya.


"gue setuju ama bang Ale..! biarin aja mereka nikah..! gue justru malah nggak sabar liat mereka nikah dan Diego tinggal disini..! gue pen liat, tuh laki laki yang biasanya songong, pagi pagi mau berangkat kerja salim dulu ama lu, bang..! hahahaha....! ngakak sih gue bayangin..!!" ucap Ivan sembari tergelak. Calvin dan Miko pun ikut tertawa mendengar ucapan laki laki itu.


...----------------...


Selamat sore, selamat berbuka puasa...


up 18:29


ada yang mau undangan pernikahan nya Arini&.Digo? cus, kepoin IG Author😁, kita kondangan bareng🤭😁😁

__ADS_1


__ADS_2