
ceklek....
pintu utama rumah itu terbuka...
Sebuah ruang tamu yang tak terlalu luas dengan sebuah sofa empuk berwarna abu abu menyambut kedatangan Calvin beserta putri dan menantunya.
Ada beberapa bagian dalam rumah itu. Yaitu satu ruang tamu, dua kamar tidur, satu kamar mandi, sebuah ruang televisi, dapur, serta satu ruang makan. Pemandangan di belakang rumah langsung disuguhi dengan area persawahan serta kebun buah yang terhampar luas sejauh mata memandang. Sebuah gunung menjulang tinggi nampak gagah terlihat dari kejauhan. Suasananya sangat asri, membuat siapapun pasti akan betah tinggal berlama lama ditempat ini.
Roni selesai dengan koper dan tas ranselnya. Laki laki itu lantas pamit undur diri. Meninggalkan sang bos besar bersama mertua serta istri tercintanya.
Diego dan Arini nampak melihat lihat isi rumah itu. Sedangkan Calvin lebih memilih untuk duduk di sofa ruang tamu. Mengeluarkan rokok kesukaan nya lalu menikmati nya.
sreeeeekkkkk.....
gorden penutup jendela berukuran cukup besar di samping meja makan dan dapur dibuka oleh Diego. Hamparan sawah dan kebun buah yang luas menyapa netra tajam sang Diego. Terlihat indah dan menenangkan
"gimana, dad? suka tempatnya?" tanya Arini yang berdiri di samping laki laki itu.
Digo manggut manggut.
"lumayan..! pemandangan nya keren. Rumahnya terlalu biasa..!" ucap Diego.
Arini tersenyum.
"kalau cari gedung bertingkat, disini nggak ada, dad" ucap Arini.
Diego hanya tersenyum.
"mau aku bikinin kopi?" tanya Arini lagi. Laki laki itu menoleh ke arah sang istri lalu tersenyum.
"boleh" jawabnya kemudian.
Arini mengulum senyum.
"ya udah, aku bikinin bentar" ucapnya kemudian.
Wanita itupun segera menuju meja dapur. Dilihatnya semua peralatan rumah tangga dan beberapa kebutuhan pokok sudah tersedia disana. Roni seperti nya memang sudah menyiapkan semua yang bosnya itu butuhkan disana. Membuat Arini tak perlu repot repot lagi pergi ke warung sekedar beli kopi.
Wanita itu mulai meracik minuman hangat itu untuk sang suami. Tiba tiba....
Seeeeetttt....
Diego memeluk sang istri dari belakang.
"daddy, ada bapak..!" ucap Arini.
"apasih? orang cuma pengen peluk doang. Kangen tauk.." ucap Diego kemudian mengecup singkat pipi sang istri kemudian membenamkan wajahnya di ceruk leher Arini.
Seperti biasa, kecupan kecupan lembut Diego sarangkan di leher putih dengan bercak merah itu.
Wanita itu nampak memejamkan matanya. Menikmati pelukan dari laki laki dewasa kesayangan nya itu.
Hingga tiba tiba...
ceklek...
daaaghhh....
Sebuah pintu kamar di samping dapur yang bersebelahan langsung dengan ruang keluarga itu nampak terbuka. Calvin masuk ke dalam sana, membuat Diego dan Arini pun setengah kaget dibuatnya.
"bapak pakai kamar ini..! kalian yang di depan..!" ucap laki laki itu dari dalam kamarnya.
Arini terkekeh. Diego berdecak kesal.
__ADS_1
"ck..! Bikin kaget orang aja tuh bapak bapak kerjaannya..! nggak tau ada orang lagi mesra mesraan banget..!" ucap Diego.
"ihh...! itu bapakku...!" ucap Arini sembari memukul ringan lengan suaminya.
Diego kembali membenamkan wajahnya di ceruk leher Arini
"bapak...! mau kopi nggak?" tanya Arini setengah teriak.
"nggak usah, bapak mau tidur...!" ucap Calvin dari dalam sana.
Arini hanya tersenyum. Ia pun melanjutkan aktifitas bikin kopinya ditemani sang suami yang kembali memeluknya dengan erat seolah tak mau jauh jauh dari wanita muda kesayangannya itu.
...****************...
Malam menjelang,
Jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Wanita cantik itu nampak sibuk menata piring di atas meja makan. Bersiap untuk santap malam bersama ayah dan suaminya.
Kedua pria itu masih berada di dalam kamar masing masing. Calvin bahkan belum keluar kamar sejak sore tadi. Mungkin laki laki itu tertidur karena kelelahan. Arini sampai belum menengoknya karena sibuk merapikan barang barang bawaan mereka sejak sore tadi.
"daddy, bapak, makan dulu...!!" ucap Arini setengah teriak.
Tak ada sahutan.
"pak, makan dulu..!!" ucap Arini lagi.
ceklek....
pintu salah satu kamar terbuka. Bukan Calvin yang keluar tapi justru Diego. Laki laki itu mendekati sang istri sambil membawa sebuah ponsel di tangannya.
"baby..." ucap Digo.
"apa?" tanya Arini santai tanpa menoleh. Ia masih sibuk dengan aneka hidangan di atas mejanya.
Arini menghentikan pergerakan nya sejenak. Lalu menoleh ke arah sang suami.
"nggak bawa..!" ucapnya.
"nggak bawa, gimana maksudnya?" tanya Digo.
"ya nggak bawa..! lagian kan aku jarang main hp, dad. Ya, dari pada kebanyakan bawa barang, mending aku pinjem daddy, kan charger nya sama..! tadi sih gitu sih niatnya.." ucap Arini sambil mengulum senyum imut.
"ck..! bisa bisanya kamu pergi pergi nggak bawa charger..! trus ini gimana? udah hampir mati, sayang" tanya Diego sembari menunjuk kan ponsel berdaya rendah di tangannya.
"ya....nggak tauk...!" ucap Arini membuat Diego berdecak kesal. Mana sudah malam. Tinggal di pelosok. Ia tak tahu konter hp dimana..!
"pinjem bapak aja, dad..!" ucap Arini tiba tiba membuat Diego melirik ke arahnya.
"kayaknya sama juga tuh charger nya sama punya bapak..! pinjem aja sana.." ucap Arini.
Diego diam. Laki laki itu nampak berfikir. Kurang lebih tiga hari ia menikah dengan Arini, selama itu pula ia belum pernah bertegur sapa secara langsung dengan mertuanya itu.
Calvin sibuk kerja. Ia berada di rumah hanya ketika sore hingga malam saja. Jika makan bersama, keduanya hanya sekedar makan. Tapi mereka tak pernah terlibat percakapan satu lawan satu, selalu ada pihak ketiga di antara keduanya. Mengingat selama tiga hari ini, selalu ada pak Yanto dan keluarga di rumah Calvin. Membuat Diego pun terselamatkan dari obrolan basa basi dengan mertua laki lakinya itu.
Diego diam. Ia dalam kondisi yang cukup terdesak sekarang. Baterai ponselnya tinggal satu persen. Charger nya tak bisa digunakan. Mau cari konter hp, ini terlalu malam untuk keluar desa mencari keberadaan toko penjual aneka barang yang berhubungan dengan ponsel itu. Satu satunya yang punya charger di rumah ini hanya Calvin.
Diego diam. Entah mengapa ia masih kaku untuk sekedar berbicara dengan laki laki itu meskipun mereka kini sudah menjadi satu keluarga.
Diego nampak berfikir. Gimana cara ngomongnya ya....
pak, pinjem charger, dong?
atau...
__ADS_1
papaah, menantumu butuh charger, boleh pinjam sebentar?
atau....
ayahanda, sudikah kiranya kau meminjamkan benda pengisi daya itu untuk menantu mu yang malang ini??ðŸ¤ðŸ¤£ðŸ¤£
Diego nampak menggaruk garuk kepala belakangnya yang tak gatal. Arini kemudian menoleh ke arah sang suami.
"tunggu apa lagi, buruan..! katanya butuh charger? sekalian panggilin suruh makan..! aku mau ke toilet dulu, pen pip*s." ucap wanita itu kemudian berjalan melewati sang suami dan menuju satu satunya kamar mandi yang berada di rumah itu.
Diego menarik nafas panjang. Ia kemudian berjalan ragu menuju pintu kamar laki laki mantan musuh besarnya itu.
Ia menoleh ke arah kamar mandi dimana sang istri berada. Suara gemericik air masih terdengar dari dalam sana.
Digo lantas menggerakkan tangannya, mengetuk pintu kamar yang masih tertutup rapat sejak sore tadi.
tok..tok..tok...
pintu diketuk. Tak ada sahutan dari dalam. Diego melongok lagi menatap ke arah kamar mandi. Arini belum keluar juga dari sana. Laki laki itu nampak kurang nyaman. Rasanya sangat kaku dan canggung..!
Tok..tok..tok...
diketuk lagi.
Diego melongok lagi ke arah kamar mandi. Suara gemericik air sudah berhenti. Sepertinya Arini sudah selesai dengan aktivitas nya di dalam sana. Laki laki itu hendak mengurungkan niatnya menemui Calvin untuk meminjam charger. Ia hendak mengayunkan kakinya menuju kamar mandi menemui sang istri. Namun tiba tiba....
ceklek.....
dua pintu terbuka secara bersamaan. Satu pintu kamar mandi tempat di mana Arini berada, dan satu lagi pintu yang berada tepat di hadapan Diego, tempat dimana Calvin nampak keluar sembari mengikat rambut gondrongnya.
Digo mengurungkan niatnya mendekati Arini. Dilihatnya di sana, sang mertua nampak berdiri menatap penuh tanya ke arahnya. Begitu juga Arini yang nampak menatap ke arah sang suami, seolah ingin melihat interaksi pertama antara Diego dan Calvin.
Diego mendadak gugup. Ia memutar tubuhnya, menetap ke arah laki-laki bercabang di sampingnya yang terlihat diam tanpa suara.
"a...em..." ucap Diego kaku. Laki laki itu menggaruk kepala bagian belakangnya yang tak gatal.
"ada apa?" tanya Calvin.
"ee...ini, charger, tuan. Saya mau pinjem charger..." ucap Diego gugup.
"bapaaaakk...menantu mu yang tampan ini mau pinjam charger. Sudikah kiranya bapak mertua meminjamkannya padaku...?! gitu loh, dad..! tuan...tuan...majikan kali ah...!" ucap Arini sembari menyendok kan nasi ke tiga piring yang berada di atas meja.
Hal itu sukses membuat Diego makin tak karuan dibuatnya. Calvin mengulum senyum. Ia kemudian masuk ke dalam kamarnya guna mengambil charger nya dan menyerahkan nya pada sang menantu.
"makasih" ucap Diego sembari tersenyum kaku.
Calvin tak menjawab. Ia hanya membalas senyuman kaku Diego dengan senyuman yang sama sambil menatap laki-laki yang kini nampak salah tingkah itu.
Diego pun berbalik badan. Ia pun lantas berjalan mendekati Arini diikuti Calvin dibelakang nya. Wanita itu nampak cekikikan di samping meja makannya. Dengan gemas, Diego menggerakkan tangannya. Dicubitnya ****** sintal sang istri membuat wanita itupun terlonjak dibuatnya.
"awas ya, kamu. Lihat aja abis ini. Daddy makan kamu..!" ucapnya pelan dengan bibir nyaris tak bergerak. Ia kemudian berlalu menuju kamarnya, mengisi daya ponselnya kemudian kembali ke meja makan untuk makan malam.
...----------------...
Selamat siang,
up 11:39
__ADS_1
yuk, dukungan dulu 🥰😘😘