
Hujan masih mengguyur bumi dengan derasnya di luar sana...
Kini di sebuah rumah yang cukup luas namun tak semewah milik Diego,
seorang gadis nampak duduk diam memeluk tubuhnya sendiri. Bersandar di sandaran sofa dengan sebuah jaket kulit tebal milik ayah kandungnya yang ia gunakan untuk menutupi tubuhnya yang basah.
Disamping kiri dan kanannya, dua pria dewasa nampak duduk mengapit gadis malang yang nampak menyedihkan itu. Ya, itu adalah pak Yanto dan Calvin.
Pak Yanto yang baru saja sampai di kota ini siang tadi kini nampak diam. Mengedarkan pandangannya ke segala arah mengamati ruangan luas yang sebenarnya cukup elegan itu, namun terlihat berantakan di sana sini.
Pak Yanto menghela nafas panjang. Padahal dulu tuan Calvin adalah sosok yang tampan, gagah, bersih, rapi dan berwibawa. Kenapa sekarang menjadi seperti berandalan yang tak terurus begini? mana teman temannya preman semua lagi..!
Pak Yanto jadi merasa iba. Apa jadinya Arini yang polos ini jika nanti hidup bersama dengan ayahnya. Yang kehidupan nya sepertinya cukup keras dan terlalu bebas.
Pak Yanto menoleh ke arah Arini,
Sejak tadi gadis itu hanya diam. Menatap lurus ke depan tanpa berucap sepatah katapun. Air matanya terus menetes, namun tangisan dari dalam mulutnya tak terdengar, membuat semua yang berada di sana pun nampak iba melihatnya.
Gini amat jadi Arini..! Sejak kecil cita citanya tak pernah muluk muluk. Ia hanya ingin merasakan hidup dan tinggal dengan orang tua nya. Merasakan punya orang tua, disayang orang tua, dan menghabiskan hari hari nya bersama orang tuanya. Ia hanya ingin mengabdi sebagai seorang anak. Sama seperti teman temannya sebayanya di kampung.
Tapi kenapa takdir begitu jahat padanya?
Sejak kecil ditinggal mati ibunya. Hidup pas pasan dengan sang nenek. Dikucilkan orang orang.
Saat baru beranjak dewasa dipisahkan dengan neneknya. Lontang lantung tak punya saudara ataupun tempat tinggal. Hijrahnya ke kota bukannya membawa kebahagiaan. Ia justru tersesat dan tinggal dengan orang asing yang mengaku ngaku sebagai ayah nya.
Bermodalkan sabar dan tekat ingin mengabdi sebagai seorang anak, ia menerima berbagai perlakuan buruk dari Diego. Dimaki, dikata katai, dihina, direndahkan, dipekerjakan bak pembantu, tidak dinafkahi, semua Arini terima dengan ikhlas. Hanya demi satu tujuan, berbakti selayaknya seorang anak.
Hari demi hari ia dan Diego lalui bersama. Sakit ia rawat, begadang ia temani, apapun yang Digo perintahkan ia laksanakan, bahkan tidur di satu ranjang yang sama pun sempat terjadi.
Ia sudah sangat menyayangi laki laki itu seiring dengan perubahan sikap Diego yang mulai lembut padanya. Ia bahagia memiliki ayah seperti laki laki itu.
Tapi ketika semua itu mulai terasa indah, Tuhan dalam sekejap mata membalikkan segalanya. Kebohongan Diego terbongkar. Fakta terpampang nyata dihadapan Arini.
Laki laki yang ia sayangi rupanya tak lebih dari seorang penipu. Memanfaatkan kepolosan dirinya hanya untuk.......
apa?
Arini tak tahu untuk apa?!!
Apa tujuan Diego membodohi nya, ia tak tahu..!!
__ADS_1
Arini kembali menitikkan air matanya. Bodohnya ia. Kenapa ia tidak mencari tahu dulu kebenaran nya sejak awal ia masuk ke rumah Diego, padahal sudah banyak kejanggalan yang sebenarnya ia rasakan. Tapi kenapa Arini justru abai...? ia terlalu bahagia bisa seatap dengan seorang ayah..! Membuatnya rela menjadi gadis penurut untuk laki laki asing yang tidak ia kenali.
Arini memejamkan matanya lagi. Cairan bening itu banjir, jatuh tak tertahankan. Sesakit ini rasanya dipermainkan oleh orang yang sudah sangat kita percaya..!
Arini terlihat begitu menyedihkan. Calvin, Pak Yanto, Ivan, Anya dan beberapa anak punk yang tadi menyeret tubuh gadis itu tak ada yang bersuara. Mereka seolah bisa ikut merasakan apa yang gadis cantik itu rasakan.
Terlebih Anya dan para anak punk itu. Mereka seolah jadi canggung sekarang. Mereka baru saja menyeret anak kandung atasannya sendiri. Entah bagaimana nantinya mereka akan bersikap pada putri kecil yang menyedihkan itu.
Ivan yang sejak tadi diam kini nampak bangkit, berjalan menuju dapur. Membuatkan secangkir teh untuk gadis itu agar sedikit bisa menghangatkan tubuh nya yang dingin.
Tak lama, secangkir teh pun jadi. Ivan dengan segera berjalan kembali menuju ruang tamu yang berantakan itu, lalu menyodorkan secangkir teh buatannya tersebut pada pak Yanto.
"pak, kasih ke Arini, pak. Biar hangat tubuhnya" ucap Ivan pada pria paruh baya itu.
"terimakasih, mas" ucap Pak Yanto menerima teh tersebut.
Pria itu lantas menoleh ke arah Arini.
"ndok, minum dulu, ndok. Di buatin teh ini sama mas nya. Minum dulu" ucap pak Yanto sambil menyodorkan teh itu.
Arini tak merespon. Sorot matanya kosong menatap lurus ke depan. Ia seolah sudah tak peduli dengan apapun dan siapapun sekarang. Ia terlalu sakit. Ia terlalu kecewa. Kecewa dengan semuanya. Kecewa dengan takdir yang seolah tak pernah berpihak padanya. Kecewa pada Diego. Kecewa pada Tuhan. Kecewa pada dunia..!
Ya, gadis ini adalah gadis yang terlahir dari seorang wanita yang sebenarnya tidak ia cintai. Gadis ini adalah gadis yang terlahir dari sebuah dosa yang tak sengaja ia perbuat pada pembantu rumah tangga nya dulu.
Sebenarnya, saat pertama kali ia mengetahui Arini hijrah dari desa ke kota untuk mencarinya, Calvin nampak setengah hati untuk mencarinya. Ia tak terlalu bersemangat. Karena jika boleh jujur dari hatinya, sebagai seorang laki laki yang tidak pernah mencintai Dewi, ia tak pernah mengharapkan kehadiran Arini.
Namun kini, ketika ia sudah berhadapan dengan gadis yang rupanya sudah beberapa ia temui itu, hati kecilnya berontak.
Ada rasa pedih ketika ia mendengar tangisan gadis itu. Ada rasa sakit ketika ia melihat gadis itu meraung raung ditengah hujan. Dan ada rasa sakit hati manakala ia mengetahui, bahwa selama ini, rupanya ia tinggal dan diperalat oleh laki laki yang begitu membenci dirinya, Diego Calvin Hernandez.
Gadis itu sepertinya sudah menjadi boneka balas dendam oleh Diego. Gadis itu sepertinya sudah menjadi pelampiasan atas kebencian Digo pada Calvin. Entah, hal apa saja yang sudah Diego lakukan pada Arini selama beberapa bulan ini. Membuat Arini seperti nya begitu hancur setelah mengetahui semua fakta yang ada.
Calvin menghela nafas panjang.
"pak Yanto..." ucap Calvin.
"saya, tuan" ucap laki laki itu.
"ajak Arini masuk ke kamarnya dulu. Biarkan dia istirahat" ucap Calvin.
Arini perlahan menggerakkan kepala nya ke arah sang ayah. Diamatinya paras pria berjambang itu lekat lekat dengan mata berair nya.
__ADS_1
Calvin bergetar melihatnya.
"iya, pak. Arini biar istirahat dulu. Kasihan dia.." ucap Ivan.
Pak Yanto mengangguk.
"ndok, bapak antar kamu ke kamar dulu yuk. Kamu istirahat..." ucap Pak Yanto.
Arini masih tak bergerak. Sama sekali tak bersuara. Hanya air mata yang terus meleleh seolah menggambarkan betapa ia terlalu sakit saat ini.
Pak Yanto membimbing gadis itu untuk bangkit.
Ivan mengantar kedua orang itu untuk naik ke lantai dua. Menuju sebuah kamar tamu yang biasanya ia tempati jika sedang menginap di rumah bos nya itu.
Seperginya Arini dan Calvin.
Calvin merogoh saku celananya. Mengambil sebuah ponsel dari dalam sana lalu mencari nama salah satu pegawainya, Miko.
tutt...tutt...
"halo, bang" ucap Miko dari seberang sana.
"Ko, amanin semua rekaman cctv studio hari ini. Jangan ada yang diotak atik, dan serahin ke gue besok..!"
"dan satu lagi, kumpulin anak buah lu, gue punya makanan buat mereka..!" titah Calvin begitu mengerikan.
"baik, bang..!" ucap Miko dari seberang sana.
Sambungan telepon terputus. Calvin menatap tajam ke arah depan dengan sorot mata yang begitu mengerikan.
Tanpa Calvin sadari, ada seonggok wanita bertato yang terlihat pucat berdiri di antara barisan para anak punk itu .
Gawat..! Calvin mulai menunjukkan taringnya. Laki laki itu kini mulai terusik. Ia akan berada dalam masalah besar setelah ini..! Tolong, ia tak mau mati ataupun cacat di tangan Calvin..!!
...----------------...
Selamat pagi
up 09:41
yuk, dukungan dulu 🥰😘
__ADS_1