My Fake Daddy

My Fake Daddy
MFD 82


__ADS_3

Sementara itu di sebuah restoran ternama di kota tersebut...


Gadis belia itu nampak sudah kembali ke aktifitas rutinnya. Menjadi seorang pelayan dan pengantar delivery disebuah restoran ternama di kota itu.


Setelah mengantarkan pak Yanto ke terminal pagi tadi, Arini langsung bergegas menuju resto. Kembali bekerja seperti biasanya setelah sempat libur satu hari kemarin.


Ya, pak Yanto sudah kembali ke kampung halaman. Ia tak sempat berpamitan pada Calvin lantaran laki laki itu belum bangun saat ia berangkat pukul enam pagi tadi. Alhasil, laki laki itu hanya bisa berpamitan melalui pesan singkat. Arini lah yang mengantarkan pria itu ke terminal pagi tadi. Setelahnya, gadis muda itu segera menuju restoran tempat nya bekerja.


Ya, setelah sehari kemarin ia libur, kini gadis itu memilih untuk kembali menjalani aktivitas nya sebagai pekerja di resto ternama itu. Ia tak mau di rumah ayah kandung nya itu terus terusan. Tak melakukan aktivitas apapun dan tak memiliki teman siapapun. Akan sangat lebih menyenangkan jika ia kembali ke resto, bekerja mencari uang dan bertemu banyak orang. Mungkin akan bisa sedikit mengurangi rasa sakit hatinya atas takdir menyedihkan yang ia alami. Meskipun tidak menutup kemungkinan ia akan bertemu Diego nantinya di tempat itu, tapi setidaknya dengan bekerja bisa sedikit mengistirahatkan otaknya dari berbagai masalah yang kini tengah dihadapinya.


Sejak pagi Arini terus menyibukkan diri. Mengerjakan apapun yang bisa dikerjakan dan membantu siapapun rekannya yang bisa ia bantu. Meskipun sejak tadi tak ada senyuman sama sekali yang Arini tampilkan, tapi tak masalah. Semua pekerjaan nya selesai dengan baik. Ia bahkan sudah menawarkan diri untuk ikut lembur malam ini menggantikan Fajar yang kebetulan tidak masuk karena ada aktivitas perkuliahan yang tidak bisa ditinggalkan.


Gadis itu benar benar ingin berlama lama diluar rumah. Melupakan masalah hidupnya untuk sementara, sebelum nanti ia kembali ke kediaman ayahnya dan menjadi Arini si anak haram yang tak di harapkan.


Siang ini,


Arini nampak berjalan menuju dapur setelah selesai mengantar pesanan ke salah satu meja pelanggan.


"Arini, delivery ya. Udah siap di belakang tinggal antar.." ucap Glenca sang bos yang kebetulan berada di tempat itu.


"oh, iya, mbak.." ucap Arini sigap. Gadis itu lantas meletakkan nampan nya, melepaskan celemek nya lalu bergegas untuk menuju dapur mengambil pesanan delivery yang harus ia antar.


Sesampainya di dapur...


"Rin, antar ke kantor depan ya. Seperti biasa, pak Diego. Dari kemarin nanyain kamu terus. Minta dianterin sama kamu, ama yang lain nggak mau" ucap salah satu pelayan senior disana.


Arini terdiam. Seketika wajah diam yang sejak tadi ia tampilkan kini berubah menjadi wajah malas. Sungguh, gadis ini seolah tak punya tempat untuk sekedar lari dan menjauh sejenak dari dua pria yang sangat membuat nya kecewa itu. Dirumah ia akan bertemu ayah kandungnya, sedangkan di tempat kerja, sudah pasti ia akan berdekatan dengan Diego.


Tolonglah, kemana ia harus pergi..? ia benar benar muak dengan semua ini..!


Arini nampak diam melamun dengan raut wajah tanpa senyuman.


"Rin..!!" ucap si pelayan senior itu lagi.


"oh, iya, mbak." ucap Arini sedikit kaget.


"malah ngelamun lagi..! buruan anter..! udah siap ini..!" ucap si pelayan itu lagi.


"em, mbak. Yang lain nggak ada ya yang nganter? aku nganter ke tempat lain aja" ucap Arini.


"mau nganter kemana? yang lain udah pada dianter ama anak anak lain. Lagian kenapa sih? kan biasanya juga kamu yang nganter ke kantor depan" ucap si pelayan lagi.


Arini hanya bisa menghela nafas panjang. Mau tak mau ia pun harus mengambil pekerjaan itu. Diraihnya paper bag di atas meja itu, lalu membawanya menuju bangunan tinggi yang letaknya berseberangan dengan resto tempatnya bekerja tersebut.


Langkah kakinya cepat. Sorot matanya datar menatap lurus kedepan tanpa ekspresi dan terkesan judes.


Tak lama, ia pun sampai di bangunan tinggi milik sang Diego. Masih dengan mimik muka yang datar, Arini pun berjalan menuju lift yang akan membawanya ke lantai atas tempat dimana laki laki 'mantan daddy nya' itu berada.


ting...


pintu lift terbuka. Gadis belia itupun keluar dari kotak besi raksasa tersebut kemudian berjalan menuju ruangan pria matang pemesan paket makan siang di tangan nya.


"baby..." ucap seorang pria dewasa disana saat menyadari kedatangan Arini. Ya, itu Sam..! asisten sekaligus teman Diego.

__ADS_1


Arini tak menjawab. Menoleh pun tidak. Seolah olah ia tuli dan tak mendengar ucapan Sam. Raut wajahnya datar menatap lurus ke depan dengan kepala terangkat seolah tak gentar dengan apapun. Tanpa senyuman, seolah tak menganggap ada manusia lain di sekitarnya.


Sam yang duduk di mejanya pun bangkit mendekati gadis itu.


"baby, akhirnya kamu masuk kerja lagi. Kamu baik baik aja kan?" tanya Sam.


Arini tak menjawab. Laki laki ini juga sama saja. Ia teman Diego, sudah pasti ia tahu tentang kebohongan Diego. Namun ia tak pernah sekalipun memberi tahukan kebenaran itu pada Arini.


Sungguh, gadis itu muak dengan semua orang...! muak dengan nasib. Muak dengan semuanya...!!


"baby, kamu kok diem aja? kamu sakit?" tanya Sam lagi namun sama sekali tak digubris oleh gadis itu.


"baby, aku....."


tok...tok...tok...


Arini mengetuk pintu.


"masuk" jawab seorang pria dari seberang sana.


ceklek..


Arini membuka pintu, lalu menutupnya. Lagi lagi, mengacuhkan Sam yang terus bertanya tentang kondisi nya.


Sam yang berada di luar ruangan hanya bisa menghela nafas panjang. Sepertinya gadis itu benar benar sangat kecewa. Ia pun bahkan sampai kena imbas dari kekecewaan gadis cantik itu.


...


Sementara di dalam ruangan..


"Arini..!" ucapnya sambil buru buru bangkit dan mendekati wanita itu.


"permisi, delivery..! ini pesanan anda, tuan" ucap gadis itu tanpa menggubris Diego yang kini mendekat ke arahnya. Wanita itu meletakkan paper bag berisi paket makan siang itu diatas meja. Mimik wajahnya masih sama, datar tanpa ekspresi.


Diego yang kini sudah berdiri di hadapan gadis itupun merentangkan kedua tangannya. Berniat untuk memeluk gadis itu guna meluapkan kerinduan nya.


"Baby, daddy ka............."


ucapan itu terhenti. Arini memundurkan tubuhnya beberapa langkah saat Diego mulai bergerak maju berniat memeluk gadis itu. Gadis itu terlihat mengembun, menatap nanar lurus kedepan tepat ke arah kancing jas Diego. Seolah tak sudi menatap wajah pria itu.


Digo terdiam. Ia merasa sesak. Ini tak seperti Arini yang ia kenal.


"baby.........."


"total nya lima puluh ribu, tuan.." ucap Arini memotong ucapan Diego. Di ambilnya selembar nota harga dari dalam saku celananya lalu meletakkan nya diatas meja.


Diego diam tak bergerak. Arini tak mengubah arah pandang dan mimik wajah nya.


"kamu masih marah?" tanya Digo lirih dengan sorot mata sendu.


Arini diam tak bergerak. Keduanya berdiri saling berhadapan namun Arini sama sekali tak mau mendongak menatap wajah pria itu.


"boleh daddy minta waktu untuk bicara sama kamu?" tanya Digo lagi.

__ADS_1


Arini sekuat tenaga menahan air matanya agar tak jatuh.


"baby, daddy mau mi.................."


"total nya lima puluh ribu, tuan. Mohon maaf, tapi bisa tolong lebih cepat. Saya harus mengantar pesanan ke tempat lain, saya tidak mau pelanggan saya menunggu terlalu lama hanya karena satu orang" ucap Arini tegas dan lantang.


Digo makin sesak dibuatnya. Gadis itu sama sekali tak mau menoleh ke arah nya. Terlihat jelas, betapa Arini sangat kecewa padanya. Membuat pria itu makin merasa berdosa.


Digo menelan ludah kasar. Ia mendongak melemparkan pandangan nya ke segala arah. Menahan cairan bening yang kini hampir menetes dari pelupuk matanya.


Dirogohnya saku jas mahal itu, mengeluarkan dompet tebalnya lalu menyerahkan lima lembar uang seratus ribuan pada gadis belia tersebut.


"kembaliannya buat kamu" ucap pria itu.


Arini menerima uang tersebut. Memasukkan selembar ke dalam waist bag nya lalu mengeluarkan selembar lima puluh ribuan dari dalam sana.


Empat ratus lima puluh ribu Arini letakkan di atas meja.


Digo menatap nanar uang kertas itu. Ia memejamkan matanya. Cairan bening lolos, jatuh membasahi pipi putih dengan jambang tipis di bagian rahangnya tersebut. Arini menolak uang pemberian nya. Entah mengapa hal itu membuatnya makin merasa tercabik cabik.


"terima kasih orderannya, tuan. Jangan lupa bintang lima nya" ucap gadis itu datar tanpa senyuman.


Gadis itu lantas berbalik badan. Menjauh dari Diego yang kini hanya bisa menatap punggung Arini dengan perasaan penuh luka.


Arini berlalu pergi meninggalkan tempat itu. Matanya terus fokus menatap lurus kedepan, mengabaikan Sam yang melontarkan sapaannya saat gadis itu melewati meja kerjanya.


Arini berjalan dengan langkah cepat dan lebar menuju lift. Menyentuh tombol buka disana lalu masuk ke dalam nya. Ia diam diam mengusap setitik air mata nya yang jatuh lagi.


Baru saja Arini hendak kembali menyentuh salah satu tombol di dalam lift itu, seorang laki laki tiba tiba muncul. Berlari masuk ke dalam kotak besi yang masih terbuka pintunya itu.


Ya, itu Diego...!


Ia menyusul Arini. Gadis itu nampak menahan amarahnya melihat pria yang kini ia benci itu berdiri di sampingnya. Digo nampak berdiri dengan gagahnya dengan nafas sedikit ngos ngosan. Merapikan jasnya yang sedikit berantakan itu dengan sorot mata lurus ke depan.


"keluar" ucap Arini tanpa menoleh. Suaranya terdengar bergetar.


"aku ingin turun" ucap Digo tenang dengan pandangan lurus kedepan.


Arini menarik nafas panjang lalu membuangnya. Ia menggerakkan tangannya. Menyentuh tombol panah ke bawah yang berada disana. Namun dengan gerakan secepat kilat dan tanpa membuang waktu wanita itu berlari, keluar dari lift yang hendak tertutup itu.


Diego dibuat kaget dengan pergerakan Arini yang begitu tiba tiba. Ia pun tak bisa mengejar gadis itu, lantaran kini pintu besi itu sudah tertutup rapat.


Digo menggerakkan kakinya menendang udara sambil mengumpat. Niatnya ingin menyusul Arini dan berbicara dari hati ke hati dengan gadis itu di dalam lift. Namun yang ada kini Arini justru meninggalkan dirinya di dalam kotak itu seorang diri.


Gadis itu kini justru berlari. Menuju tangga darurat. Memilih untuk turun dari bangunan itu melewati barisan anak tangga yang jumlahnya di tidak sedikit itu. Sesekali ia mengusap lelehan air matanya. Ia menangis lagi, sambil terus berlari menapaki satu demi satu anak tangga untuk bisa sampai di lobby perusahaan.


Sungguh, lebih baik ia mandi keringat siang ini dari pada harus satu lift dengan Diego. Ia tak mau..!


...----------------...


Selamat siang,


up 12:50

__ADS_1


yuk, dukungan dulu 🥰🥰🥰


__ADS_2