My Fake Daddy

My Fake Daddy
MFD 58


__ADS_3

Sarapan pagi selesai...


Gadis belia itu kini sudah dibawa pergi oleh Sam. Meskipun pada awalnya Arini menolak, namun Sam sedikit memaksa dengan dalih memberikan waktu untuk Diego dan Giselle.


Mau tak mau Arini pun hanya bisa menurut. Sedangkan Digo hanya bisa pasrah. Untuk sementara ia harus mengamankan Arini dulu. Ia tak mau jika Giselle bertanya macam macam mengenai keberadaan Arini di rumah itu.


Diego mengayunkan kakinya menaiki anak tangga. Menuju lantai dua dimana sang kakak sudah berada di ruang keluarga menunggu adik kandungnya itu.


ting....


1 pesan masuk.


Digo membuka pesan itu sembari melangkah kan kakinya menuju ruang keluarga.


Digo tersenyum lucu. Arini mengirimkan titik lokasi tempat ia dan Sam berada saat ini.


"Dad, Arin sharelock ya..! ntar kalo ada apa apa daddy buruan kesini. Arin takut. Om Sam serem" tulis bocah itu


Digo terkekeh. Anak perawan nya memang ada ada saja.


Digo memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya setelah menuliskan kata "Ya" menjawab pesan dari Arini.


Pria itu makin dekat dengan ruang keluarga. Hingga tiba tiba....


daaaaaaaggggggghhhhh...!


Diego mengehentikan langkah kaki nya. Dilihat disana sang kakak baru saja menendang sebuah meja rendah disana sambil sibuk melakukan panggilan telepon dengan seseorang.


"anj*nk kau ya...! saya nggak peduli kamu mau kemana dan senang senang sama siapa...! tapi tolong, sempatkan waktu kamu ke persidangan kita biar semua bisa cepat selesai...! itu kan yang kamu mau...?!!" ucap Giselle melalui sambungan telepon dengan seseorang.


Diego nampak diam.


"heii...!! saya juga maunya cepet cepet bebas dari kamu...!! kamu pikir saya sudi lama lama menjalin hubungan tanpa kejelasan sama kamu..! saya nggak masalah kalau kita harus pisah...! nggak ada ruginya kok buat saya...! tapi tolong ya, jangan mempersulit keadaan..! datang ke persidangan..! selesai kan semua secepatnya dan kita akhiri semuanya secepatnya...! saya juga udah muak sama kamu...!!" ucap Giselle keras.


Dengan penuh emosi ia mematikan sambungan telepon nya secara sepihak. Dada wanita itu nampak naik turun. Berkacak pinggang menggunakan sebelah tangannya sedangkan tangan lain nampak menyibakkan rambut panjangnya ke belakang. Emosi terlihat jelas di wajah Giselle.


Digo yang sejak tadi mendengarkan pembicaraan Giselle dengan seseorang itu lantas berjalan mendekati wanita yang tiga tahun lebih tua dari dirinya itu.


"kak ..." ucap pria itu membuat Giselle pun terjingkat kaget dan reflek menoleh ke arah sang adik.


"Go..." ucap Giselle.


Digo berdiri tepat di hadapan wanita beranak dua itu. Ditatapnya wajah wanita yang memiliki sikap tegas dan mandiri itu.


"kakak kenapa?" tanya Digo.


Giselle tersenyum.


"enggak, kakak nggak apa apa kok..!" ucap wanita cantik itu.


"oh ya, Sam sama pacarnya udah pulang?" tanya Giselle lagi sambil memasang senyuman manis.


Digo tak menjawab. Ia hanya diam menatap wanita di hadapannya itu.


"kakak ada masalah?" tanya Digo mengabaikan pertanyaan Giselle mengenai Sam dan Arini.


Wanita itu mencoba tersenyum, bahkan tertawa.

__ADS_1


"masalah apa sih, Go?! nggak ada apa apa...!!" ucap wanita itu sambil memukul ringan salah satu sisi dada bidang Diego.


Diego masih diam. Ditatapnya wanita yang nampak tertawa namun justru terlihat menyedihkan itu dengan sorot mata nanar.


Semenjak kepergian ibu mereka, Digo hanya punya tuan Grey sebagai ayah dan Giselle sebagai kakak, teman, sahabat, sekaligus ibu untuk dirinya.


Sepasang saudara kandung itu selalu terbuka satu sama lain. Menjadi teman curhat dan tempat mencurahkan segala isi hati mereka satu sama lain. Saling berbagi sebagai saudara sepasang saudara kandung yang saling menguatkan dan menyemangati.


Tak ada satupun yang bisa Giselle sembunyikan dari Digo. Pun sebaliknya.


Hingga Giselle memutuskan untuk menikah dan hijrah ke luar negeri mengikuti sang suami, keduanya pun tak pernah putus kontak. Digo beberapa kali sering mengunjungi kakaknya di luar negeri, begitupun Giselle yang setiap 6 hingga 8 bulan sekali selalu datang ke negara ini untuk mengunjungi adiknya dan ayah tercintanya.


Tentu saja, mendengar pertikaian di telepon antara sang kakak dengan seseorang di seberang sana yang entah siapa dia membuat otak Diego bekerja lebih cepat.


Ada sesuatu yang terjadi pada kakaknya. Sepertinya wanita itu sedang dalam masalah sekarang.


Digo menatap tegas wanita cantik itu....


"aku adikmu. Kakak yang selalu bilang, kita adalah saudara kandung. Apapun yang terjadi kita harus saling terbuka. Aku tempat curhat kakak. Begitupun sebaliknya..." ucap Digo tanpa senyuman. Giselle nampak menunduk dengan mata mengembun.


"ada apa?" tanya Digo lagi.


Setitik air mata menetes di pipi Giselle. Wanita itu menatap sendu ke arah sang adik. Digo mendekat. Di sentuhnya kedua lengan wanita itu dan meremasnya pelan.


"ada a........"


"aaww!!" pekik wanita itu saat tangan kekar meremas kedua lengannya. Digo nampak melotot mendapati reaksi berlebihan dari sang kakak. Padahal remasan tangannya tak terlalu kuat. Kenapa ia kesakitan..?


Digo menarik lengan itu.


Digo menajamkan pandangannya. Sebuah luka memar terlihat jelas di lengan kanan Giselle. Seperti luka bekas hantaman benda tumpul.


Digi nampak meradang


" apa-apaan ini...?!!" tanya Digo dengan raut wajah berang.


Wanita itu tak menjawab. Ia menunduk tak mau melihat wajah adiknya. Setitik air mata menetes di pipinya, menandakan wanita itu tengah rapuh.


"kak..?! jawab...! ini apa? lu kenapa?! siapa yang lakuin ini ama lu?!!" tanya Diego menggebu gebu.


Giselle menangis. Ia mulai sesenggukan. Wanita dengan dua anak itu ambruk. Menabrakkan tubuhnya di dada bidang sang adik. Wanita yang kini tengah rapuh itu pun lantas mulai membuka mulut nya. Menceritakan tentang apa yang terjadi pada dirinya. Sebuah luka yang belakangan ia pendam tanpa mau berbagi dengan siapa pun.


Sebuah pengkhianatan besar ia rasakan. Laki laki yang menikahi nya bertahun tahun lalu diam diam menjalin asmara dengan wanita lain yang merupakan asisten pribadinya di sebuah perusahaan milik si suami yang diketahui bernama Roy.


Perselingkuhan itu diketahui Giselle saat tanpa sengaja ia datang ke kantor suaminya dan memergoki langsung sepasang manusia tanpa ikatan pernikahan itu saling bermesraan di dalam ruang kerja Roy.


Tentu saja hal itu berhasil mengoyak batin Giselle. Ia tak menyangka laki laki yang sudah memintanya baik baik pada ayahnya dulu tega melakukan hal demikian padanya.


Tak sampai perselingkuhan, laki laki itu rupanya juga sudah melakukan kekerasan dan penelantaran pada wanita itu dan anak anak mereka. Laki laki itu memilih untuk tinggal bersama selingkuhan nya dan acuh kepada istri dan anak anaknya. Nafkah tak pernah ia berikan. Perlakuan kasar juga sering ia layangkan pada wanita yang dulu ia nikahi secara resmi dimata hukum negara dan agama itu.


Hal itulah yang membuat Giselle jadi sering pulang ke negara ini dan selalu tanpa Roy. Lantaran pria itu kini sudah bahagia dengan kehidupan barunya. Giselle kini bahkan berencana untuk menetap di negara ini. Sidang perceraian juga sudah berjalan. Wanita itu ingin kembalikan menata hidupnya dan terbebas dari laki laki yang tidak bertanggung jawab itu.


Digo menghela nafas panjang mendengar cerita dari sang kakak. Sebagai seorang adik yang terlampau menyayangi kakak perempuan nya, ada rasa tak terima dalam benaknya kini. Sorot matanya menajam. Dadanya bergemuruh mendengar tangisan wanita yang kini dipeluknya di atas sofa panjang ruang keluarga luas itu.


Berani beraninya laki laki itu mempermainkan hati Giselle...! sungguh tidak tahu diri.


"kapan tuh manusia kesini?! bakal gue bunuh dia...!" ucap Digo dengan raut wajah berang.

__ADS_1


Giselle nampak mengusap lelehan air matanya. Ia yang sudah sedikit lega setelah bercerita dengan sang adik itu lantas tersenyum. Mengeratkan pelukannya pada tubuh tegap Diego seolah mencari tempat ternyaman nya di sisi laki laki tempat curahan hatinya itu.


"ngapain dibunuh?! biarin aja..!" ucap Giselle.


"biarin gimana?! dia udah kurang aj*r, kak..! dia buang lo seenak jidat..! nelantarin lo ama anak anak lo..! ya gue nggak terima lah...! nggak ada tanggung jawabnya banget ama anak istri...! minimal kasih nafkah lah buat anak. Pulangin ke rumah orang tuanya baik baik...! bukan asal tinggal kek gini...! banci banget...!!" ucap Diego.


Giselle tersenyum.


"Go...." ucap Giselle.


"hmm,.." jawab Digo.


"kamu tahu nggak, kalau lagi inget masalah rumah aku gini, aku suka iri deh, sama pembantu yang dihamili tuan Calvin beberapa tahun lalu..." ucap Giselle sambil menatap lurus kedepan seolah menerawang.


Digo reflek menoleh ke arah sang kakak.


"kenapa jadi Calvin...?!!" tanya Digo dengan raut wajah tak suka.


"ya..! sebagai seorang laki laki sebenarnya dia punya tanggung jawab yang bagus loh, Go..! bayangin aja, walaupun nggak pernah menikahi pembantu itu, tapi Calvin tuh masih bertanggung jawab memenuhi semua kebutuhan anak kandungnya. Bahkan sampai gede...!! jarang loh, ada laki laki begitu...! apalagi anak itu jauh dari Calvin. Kebanyakan laki laki pasti udah lupa sama kewajiban nya kalau kayak gitu, tapi dia enggak...!" ucap Giselle.


Digo berdecih sembari tersenyum sinis.


"cih...! tanggung jawab apaan..?! kalau tanggung jawab, dia pasti bakal nikahin tuh babu...! dia nggak akan nikahin Steffi, sok cinta sama Steffi tapi ujung ujungnya di bunuh ama dia..! tanggung jawab ta*..!!" ucap Digo kesal.


Giselle terkekeh.


"Digo, Digo...! sebegitu bencinya kamu sama Calvin...!" ucap Giselle yang kini merebahkan tubuhnya di paha Digo.


"asal kamu tau ya, tanggung jawab seorang laki laki itu bukan hanya dengan menikahi wanita yang ia sentuh. Ada banyak bentuk tanggung jawab..."


"ya emang sih, akan lebih baik kalau dulu Calvin menikahi pembantu itu, biar pembantu itu dan anaknya nggak terlantar. Tapi kamu lihat juga dong, situasi dan keadaan sekitar mereka"


"Tau sendiri kan, gimana keras dan kolotnya keluarga Alexander. Terutama tuan Alexander. Perjodohan antara Calvin dan Steffi itu sudah di rencanakan sejak mereka masih kecil. Bayangin kalau tiba tiba Calvin membatalkan itu dan memilih menikah dengan pembantu. Bukan cuma Calvin yang akan kena imbasnya, tapi juga pembantu itu dan anaknya nanti. Sama Calvin sendiri aja, tuan Alexander kalau ngehukum itu nggak tanggung-tanggung...! apalagi kalau sama pembantu itu...! bisa bisa mati dalam kondisi hamil tuh pembantu..!" ucap Giselle.


"Calvin itu walaupun berandalan tapi masih punya rasa tanggung jawab yang luar biasa. Menafkahi anak kandung itu kewajiban seorang ayah. Mau bagaimana pun hubungan antara si ayah kandung dan ibu kandung dari si bayi, yang namanya anak ya tetap anak..! darah mereka satu dan nggak akan bisa dipisahkan sampai kapanpun dan oleh siapapun...! kamu lihat aja buktinya, Steffi yang nolak mentah mentah dan nggak terima si Calvin nafkahin anak kandungnya, meninggal dia...!"


"sorry to say ya, Go..! tapi kalau menurut aku, bukan Calvin yang salah, tapi pemikiran Steffi yang masih belum matang...! lagian juga berapa sih nominal yang Calvin transfer buat anaknya..! paling juga nggak ada apa apanya dibandingkan semua uang yang udah Calvin kasih buat Steffi...! pelit amat..! kek kamu, Go..! pelit..!!" ucap Giselle meledek.


"kak, udah deh, gue lagi simpati ama lu...! jangan mancing emosi gue ngomongin orang orang yang nggak penting...!!" ucap Digo kesal.


Giselle terkekeh.


"tapi by the way, gimana ya kabar anak Calvin sekarang? dia pasti udah gede sekarang. Katanya perusahaan Calvin bener bener udah bangkrut ya? sekarang dia kerja apa, Go..?!" tanya Giselle.


"au ah..! kang sol sepatu kalik...!" ucap Digo kesal membuat Giselle tergelak.


"sol bibir aja, buat nge sol bibir kamu biar nggak pedes kalau ngomong...!" ucap Giselle sambil hendak menyentuh bibir Digo namun laki laki itu mengelak.


Obrolan sepasang kakak beradik itupun berlanjut.


...----------------...


Selamat pagi,


up 05:42


yuk, dukungan dulu 🥰😘😘

__ADS_1


__ADS_2