My Fake Daddy

My Fake Daddy
MFD 166


__ADS_3

Di sebuah rumah milik keluarga guru senior di desa itu..


Pemuda berkulit putih itu nampak keluar dari dalam kamarnya. Raut wajahnya nampak penuh tanya. Menatap ke arah ponsel yang berada di tangannya.


"Gus..." ucap sang ibu, Bu Tri, yang nampak sibuk di meja makan menata santap pagi untuk keluarga nya.


Laki laki itu, Agus, nampak mendongak menatap ke arah sang ibu lalu berjalan mendekati nya.


"ada apa? kamu kok kayak bingung gitu pagi pagi?" tanya Bu Tri.


Agus tak langsung menjawab. Ia Lantas mendudukkan kepalanya sembari menggaruk garuk kepala bagian belakangnya.


"buk.." ucap Agus.


"ya...." jawab Bu Tri.


"Agus dapet panggilan interview di Hernandez Group siang ini, buk.." ucap Agus.


Bu Tri yang sejak tadi sibuk dengan piringnya itu pun lantas reflek menoleh ke arah sang putra. Wajahnya nampak berbinar mendengar penuturan Agus yang mengaku dapat sinyal hijau dari perusahaan besar di kota itu.


"apa, Gus?!" tanya Bu Tri.


"Agus dapat panggilan interview, buk..! katanya dari sekian banyak calon karyawan yang mendaftar, Agus yang paling mendekati sempurna untuk kriteria karyawan baru mereka. Makanya Agus di minta untuk menemui tuan Hernandez, untuk di interview secara langsung" ucap Agus.


"Alhamdulillah...!! akhirnya...!! kamu memang anak yang hebat, Gus...! nggak heran kalau bos besar itu memilih kamu dari ribuan pencari kerja yang mendaftar disana..! kamu hebat, Gus..! ibuk bangga sama kamu...!" ucap Bu Tri begitu bahagia.


Agus hanya diam. Bukannya bahagia, pemuda itu justru terlihat bimbang. Bu Tri yang menyadari gelagat tak biasa dari pemuda itupun lantas menyipitkan matanya menatap sang anak laki laki.


"kamu kok kayak nggak seneng gitu, Gus? kenapa?" tanya Bu Tri sembari menarik sebuah kursi disana dan mendudukkan tubuhnya di atas kursi tersebut.


Agus menatap ke arah sang ibu.


"buk, bos Hernandez Group ternyata lagi ada di kampung ini. Dia satu komplek sama kita" ucap pemuda itu membuat Bu Tri nampak terkejut.


"apa?! mosok..?!! yang bener kamu?!! ada di kampung ini?!!" tanya Bu Tri kaget.

__ADS_1


"bener, buk...! Agus di kasih alamat nya sama pihak kantor di ibu kota sana. Katanya Agus disuruh datang ke rumahnya langsung" ucap Agus yang sudah menerima alamat si bos besar dari pihak perusahaan. Sebuah alamat yang semalam baru saja ia datangi.


Ya, tak lain dan tak bukan itu adalah alamat Arini. Sebuah perumahan yang sama dengan perumahan tempat tinggalnya dengan nomor empat sebagai nomor rumahnya. Agus pun kini nampak bertanya-tanya..


Siapa bos besar Hernandez Group itu?


Jangan-jangan calon atasannya itu adalah ayah Arini yang kemarin?! kalau iya, wah...! bisa gawat..!


Semalam dengan polosnya ia berucap, bos tempatnya bekerja adalah seorang yang sombong..! Astaga, Agus..! bodoh sekali kamu..!


Bagaimana ini?! Kalau begini caranya, matilah pemuda itu..! Dia pasti tidak akan diterima bekerja di perusahaan Hernandez Group. Dan dia juga pasti akan tidak diterima untuk berdekatan dengan lagi karena ucapannya semalam tentang ayah kandung wanita itu..!


Astaga...! Agus...! bodoh kau, Gus...!


plaaakkk....!


Bu Tri menepuk pundak Agus yang kini nampak melamun.


"kok malah bengong?! coba, ibuk lihat alamat rumahnya..! kok ibuk jadi penasaran, yang mana bos besar Hernandez Group itu?! kok ibuk ndak tau...! ibuk apal lo semua penghuni komplek ini..! Coba mana Hp mu..! ibuk pengen lihat..!" ucap Bu Tri sembari mengulurkan tangannya meminta ponsel sang anak.


Agus pun dengan ragu ragu menyerahkan benda pipih di tangannya itu pada sang ibu. Bu Tri lantas menerimanya, lalu mulai membaca isi pesan berisi percakapan antara Agus dengan pihak perusahaan tempat sang putra melamar kerja.


"nomor empat?!! ini kan?!! kan... ini...?! ini kan...??!!" ucap Bu Tri begitu terkejut. Sampai sampai ia tak bisa berkata kata dibuatnya.


Itu adalah alamat rumah Arini dan bapaknya. Itu artinya, pemilik Hernandez Group tempat Agus melamar kerja adalah salah satu dari tiga manusia penghuni rumah itu...!!


Astaga..! kok begini...?!! pikir Bu Tri.


"nggak..! ini pasti nggak bener...! ini pasti salah, Gus...! Coba tanya lagi..! suruh cek lagi...! ini kan rumahnya si Arini, Gus..!" ucap Bu Tri panik.


Rasa-rasanya ia tidak akan bisa membayangkan, apa yang akan terjadi jika benar bos besar tempat di mana Agus akan bekerja adalah salah satu dari tiga manusia itu.


Bisa hancur harga diri dan martabat keluarganya. Masa iya, anak Dewi si wanita yang hamil di luar nikah anak jadi atasan putranya..?


Tidak...! ia tidak akan bisa terima hal itu...!

__ADS_1


"buk, Agus udah tanya dua kali. Agus sampai dimarahin, buk. Karena di kiranya meragukan calon atasan Agus sendiri. Ternyata emang bener, buk.. emang itu alamat nya. Mungkin Hernandez Group itu adalah perusahaan milik bapaknya Arini, buk. Kan memang bapaknya Arini itu orang kaya" ucap Agus.


Bu Tri nampak begitu shock. Ia menggeleng kan kepala nya seolah tak percaya dengan apa yang terjadi.


"gajinya di sana besar, buk. Paling besar di banding perusahaan perusahaan lain yang bergelut di bidang yang sama. Posisi yang mereka tawarkan juga menjanjikan. Kalau Agus bisa masuk ke perusahaan itu, itu akan sangat menguntungkan. Tapi masalahnya, Arini. Dia orang yang pasti sangat berpengaruh untuk calon bos Agus. Melihat apa yang terjadi sebelum sebelum ini antara keluarga kita dan Arini, Agus jadi ngeri sendiri, buk, mau datang ke rumah itu. Tapi kalau nggak datang, sayang, buk, gajinya..." ucap Agus.


Bu Tri tak menjawab. Ia sibuk dengan pemikirannya sendiri. Bak tersambar petir di pagi hari, ia benar-benar terkejut dengan apa yang ia dengarkan saat ini.


Ia tak menyangka, bahwa rupanya gadis kecil yang sejak dulu ia hina dina kini sudah diangkat derajatnya oleh Tuhan.


Dan sekarang, Agus dihadapkan pada dua pilihan, menurunkan harga dirinya, datang ke rumah itu sebagai calon bawahan ayah Arini, atau membuang kesempatan emas bekerja di perusahaan besar itu dengan meninggikan ego dan gengsi keluarga.


Sungguh, Bu Tri benar benar shock dibuatnya.


"nggak mungkin, Gus..! masak iya anak Dewi yang akan jadi atasan kamu...! nggak bisa, Gus...!" ucap Bu Tri mulai histeris.


"Agus harus gimana, buk?" tanya pria itu.


Bu Tri menggelengkan kepalanya lagi. Secara perlahan, tubuhnya mulai merasa lemas. Bahkan untuk sekedar memegang ponsel di tangannya saja Bu Tri seolah sudah tak sanggup lagi. Benda pipib itu terjatuh, tergeletak membentur lantai ruang makan itu.


Agus nampak panik. Diraihnya ponselnya, lalu menyentuh pundak wanita yang mulai linglung itu dan menggoyang goyangkan nya.


"buk, ibuk kenapa?" tanya Agus.


Bu Tri tak menjawab. Kemudian dalam hitungan detik....


buuuuuggghhhh.....


Wanita itu lemah. Ia ambruk di pangkuan sang putra.


Agus histeris. Bu Tri pingsan. Ia kehilangan kesadarannya setelah mendengar berita tentang anak malang yang selalu ia hina sejak kecil itu.


...----------------...


Selamat malam,

__ADS_1


up 21:10


yuk, dukungan dulu 🥰🥰


__ADS_2