My Fake Daddy

My Fake Daddy
MFD 200


__ADS_3

"Dokter....!!! dok.....!!! tolong istri saya...!! istri saya mau melahirkan...!!!"


Pria tampan berjambang tipis itu nampak berteriak teriak bak orang kesurupan. Memanggil manggil dokter rumah sakit besar itu untuk segera memberikan penanganan pertama pada sang istri yang sudah merintih kesakitan sejak tadi.


"Dok...!! anak saya, dok...!!" teriak Calvin tak kalah panik.


Tak berselang lama, seorang dokter wanita bersama berapa perawat berseragam serba putih nampak datang mendekat. Arini yang sejak tadi terus merintih kesakitan itupun segera direbahkan di atas ranjang dorong rumah sakit itu, lalu dibawa menuju ruang bersalin yang berada tak jauh dari lobby rumah sakit.


Diego ikut mengantar sang istri masuk ke ruangan bersalin tersebut. Menemani sang wanita kesayangan berjuang untuk melahirkan si buah hati pertama mereka ke dunia.


Sedangkan Calvin, laki-laki itu nampak menunggu di luar ruangan. Ia yang entah sejak kapan sembuh dari sakit perut hingga me pinggang nya itu kini mondar-mandir dengan mimik wajah penuh kekhawatiran.


Di ruang bersalin, Arini dibimbing oleh sang dokter untuk membuka kakinya lebar-lebar. Nafasnya sudah ngos-ngosan. Rasa sakit bercampur aduk disana membuat keringat kini bercucuran di kening wanita cantik itu.


Arini merintih. Digo yang kini duduk di kursi samping ranjang tak henti menggenggam tangan sang istri. Sedangkan satu tangan lainnya nampak mengusap usap pucuk kepala Arini, seolah ingin memberikan ketenangan pada wanita yang kini tengah berjuang antara hidup dan mati melahirkan seorang bayi hasil buah cintanya dengan Diego Calvin Hernandez.


Sang dokter mulai membimbing Arini, si jabang bayi dari dalam sana seolah juga terus merangsek ingin segera keluar dari perut sang ibunda. Arini menggenggam kuat tangan Diego, mengejan sekuat tenaganya, disela sela rasa sakit yang sudah tak bisa dijelaskan lagi.


Arini yang kesakitan, Diego yang berair. Mata tajam itu mengembun mendengar rintihan wanita yang teramat sangat ia cintai. Darah dan keringat serta air mata menetes. Sebuah perjuangan seorang wanita demi melahirkan generasi penerus ia dan suaminya.


Diego memejamkan matanya. Ditempelkan nya bibir itu di telinga sang istri. Dibisikkan nya kata kata penyemangat untuk wanita cantik itu. Tangan keduanya saling menggenggam erat. Keringat makin bercucuran. Arini mencoba mendorong sesuatu dari dalam sana dengan sekuat tenaga. Hingga.....

__ADS_1


oooooooooeeeeeeeeekkkkkk..........


Tangis bayi pecah. Menggema memenuhi ruang bersalin itu. Bersamaan dengan Arini yang nampak membuang nafas kasar lalu menjatuhkan kepalanya di atas bantal ranjang pasien dengan seprei hijau itu.


Lelah, lega, bercampur jadi satu.


Diego mengulum senyum. Diciumnya pelipis kanan wanita itu cukup lama dengan penuh cinta. Matanya terpejam. Setitik cairan bening menetes dari pelupuk mata laki laki itu. Bayinya telah lahir. Istrinya pun selamat. Membuat pria itu benar benar lega dibuatnya.


"terimakasih, sayang..." ucap Diego.


Arini tak menjawab. Ia masih memejamkan mata nya sambil mengatur nafasnya. Diego menghujani pelipis wanita itu dengan ribuan kecupan, sebagai ungkapan rasa terimakasih nya pada wanita yang dinikahinya setelah serentetan drama penuh keringat dan air mata mewarnai perjalanan cinta mereka.


Sang dokter wanita dengan hijab hitam itu mendekat.


Arini dan Diego menoleh...


"Alhamdulillah..." ucap Arini bahagia.


Digo bangkit dari posisi duduknya.


"boleh saya menggendong nya, dok?" tanya Digo.

__ADS_1


"oh, tentu..! silahkan, tuan" ucap si dokter yang kemudian menyerahkan bayi merah yang masih belum di mandikan itu pada sang ayah kandung.


Digo nampak terharu. Sesosok malaikat kecil berjenis kelamin perempuan nampak menangis disana. Bibirnya mungil. Wajahnya sekilas begitu mirip dengan sang istri. Suaranya lantang. Tangan dan kakinya bergerak gerak sangat aktif.


Diego tak bisa berkata kata. Ia menoleh ke arah sang istri yang nampak lemah.


"sayang, anak kita..." ucapnya.


Arini hanya tersenyum tanpa menjawab. Digo kembali menatap wajah malaikat kecilnya itu. Tangan mungil itu masih bergerak gerak. Bahkan sesekali mengenai wajah berjambang pria tampan itu.


"Selamat datang di dunia, sayang... Afra Abigail Hernandez" ucap Digo lembut. Ia kemudian menggerakkan wajahnya. Diciumnya pipi bayi mungil itu dengan penuh kasih sayang.


...----------------...


Selamat pagi...


up 06:00


yuk, dukungan dulu


mampir sini juga ya...

__ADS_1



__ADS_2