
Hari berganti,
Disebuah rumah sakit besar di kota itu. Saat jam menunjukkan pukul tujuh pagi,
Setelah mendapatkan pemeriksaan menyeluruh dari tim dokter, di dalam sebuah ruangan IGD yang dihuni oleh dua orang pria wanita korban kecelakaan dan pemukulan, seorang wanita cantik berparas anggun nampak sibuk menyuapi seorang pria babak belur yang mulai membaik kondisi nya itu.
Ya, itu adalah Giselle. Wanita yang sejak semalam menginap di rumah sakit itu kini nampak begitu telaten menyuapi sang adik yang tengah dalam fase pemulihan pasca terlibat perkelahian dengan seorang laki laki dewasa kemarin.
Ya, kondisi Diego berangsur angsur mulai membaik. Dokter kini bahkan sudah menyarankan Diego untuk segera dipindahkan ke kamar rawat inap. Namun sepertinya Diego menolak. Ia mengatakan jika kondisi nya belum layak untuk dipindahkan. Ia masih ingin berada di ruangan itu sampai ia merasa kondisi tubuhnya benar benar membaik.
Ya, tentu saja ada alasan lain hingga Diego menolak untuk pergi dari ruangan itu. Tak lain tentu saja adalah karena keinginan Diego untuk tetap berada di samping Arini. Ia ingin menemani gadis itu sampai benar benar sembuh. Mengingat di hari kedua keduanya dirawat di rumah sakit ini, gadis belia itu belum juga menunjukkan tanda tanda akan membaik. Hal itupun membuat Diego seolah makin enggan untuk jauh jauh dari anak Calvin Alexander tersebut.
"udah, kak" ucap Diego sembari memalingkan wajahnya, menolak suapan ke empat dari wanita cantik berambut panjang itu.
"baru juga dikit, Go" ucap Giselle.
"gue udah kenyang..!" ucap Diego lagi tanpa mengubah posisi kepalanya.
Giselle hanya menghela nafas panjang. Ia lantas meletakkan mangkuk di tangannya lalu meraih segelas air putih di atas nakas dan membantu sang adik untuk menenggak air tersebut menggunakan sedotan.
Selesai,
wanita itu lantas menuju kamar mandi, menuju wastafel guna mengambil air dengan wadah sebuah baskom kecil yang sempat ia minta pada pihak rumah sakit.
Giselle kembali mendekati ranjang. Meraih sebuah handuk kecil disana, membasahinya lalu mulai mengusapkannya pada wajah berjambang sang adik dengan lembut dan hati hati. Calon single parent ini benar benar sangat perhatian pada pria di hadapannya itu. Terlebih lagi setelah ibu mereka meninggal dan ayah mereka jatuh sakit. Tak ada yang bisa memberikan perhatian lebih besar pada Digo selain Giselle. Wanita itu benar benar bukan hanya sosok seorang kakak dimata Diego. Tapi juga ibu sekaligus sahabat bagi pria tampan tiga puluh lima tahun itu.
Giselle masih sibuk dengan aktivitas nya. Tiba tiba...
ceklek....
pintu ruang IGD terbuka. Seorang pria dewasa berjambang cukup lebat nampak masuk ke dalam ruangan itu dengan langkah tenang. Ya, itu adalah Sam, asisten sekaligus sahabat Diego.
__ADS_1
Laki laki itu berjalan mendekati ranjang. Bukan ranjang Diego, melainkan ranjang gadis yang terbaring lemah di samping Diego, Arini.
Digo nampak menatap kesal ke arah Sam. Duda satu anak itu kini nampak berdiri di samping ranjang gadis itu. Mengamati wajah gadis belia tersebut sembari menggerak kan tangannya mengusap usap lembut pipi putih mulus itu.
"lu ngapain sih disitu?" tanya Digo yang masih belum pulih betul itu dengan raut wajah tak suka. Ia seolah tak rela ada orang lain yang dekat dekat dengan gadis cantik kesayangan nya itu. Sam mengulum senyum. Giselle hanya menggelengkan kepalanya melihat adegan itu.
"kamu kapan bangunnya, baby. Aku udah kangen sama kamu, sayang" ucap Sam sambil memainkan jari jari tangan nya di pipi mulus gadis itu. Digo hanya berdecih mendengarnya.
Giselle selesai dengan Diego. Ia lantas berjalan mendekati ranjang Arini, menggeser posisi tubuh Sam yang sok memberikan perhatian pada gadis itu. Wanita cantik itu lantas mulai mengusap wajah, tangan dan kaki Arini dengan lembut menggunakan kain basah itu. Guna membersihkan tubuh gadis lemah yang masih belum mampu untuk bangun dari tempat tidurnya tersebut.
Diamatinya paras manis dengan luka perban di kepala itu. Giselle tersenyum. Gadis cantik yang malang, batin Giselle.
"di bersihin dulu muka cantiknya" ucap Giselle lembut.
"cepet bangun dong, sayang. Banyak yang sayang sama kamu disini. Semua nungguin kamu sadar. Bangun dong, cantik" ucap Giselle sambil mengusap usap lembut wajah manis itu.
Seutas senyum terbentuk dari bibir Sam mendengar ucapan calon janda itu. Laki laki itu kemudian berpindah posisi. Mendekati Diego lalu mendudukkan tubuhnya di sebuah kursi yang berada di samping ranjang.
"lu ngapain pagi pagi kesini?" tanya Digo pada Sam.
Diego nampak menatap Sam dan Giselle bergantian.
"janji? janji apa?" tanya Diego.
"kita mau ke kantor polisi. Mau cabut laporan kita atas tuan Calvin kemarin. Menurut kamu gimana, Go?" tanya Giselle.
Diego nampak melongo.
"kalian ngelaporin dia?" tanya Diego yang sama sekali tak tahu menahu soal masalah itu.
"bukan kita..! tapi kakak lo..!" ucap Sam.
__ADS_1
"ya soalnya kakak pikir kamu kan korban pemukulan, Dan kakak pengen bela kamu, eh ternyata kamu nya si biang keroknya" ucap Giselle sambil melepaskan genggaman tangan Digo atas lengan Arini, lalu mengusap lengan putih itu dengan sangat lembut dan hati hati.
Diego masih tak mengerti.
"jadi lu laporin dia ke polisi? trus sekarang lu mau cabut laporan? kenapa? ngapain?" tanya Diego tak habis pikir.
buuuuuuuuuuggggghhhhh....
sebuah handuk terlempar dari tangan Giselle mendarat sempurna di wajah Digo.
"ya karena aku nggak mau memperpanjang masalah, Go..! Sam udah cerita semuanya sama kakak..! termasuk kelakuan gila kamu yang bisa bisanya ngaku jadi ayah kandung anak ini dan tinggal bareng ama dia..!" ucap Giselle kesal.
Digo melotot ke arah Sam. Sam membuang muka seolah tak mau melihat kearah laki laki bonyok itu.
"hari ini kakak mau cabut laporan..! terserah kalaupun nanti kakak di maki maki ama polisi gara gara baru sehari lapor udah di cabut lagi. Kakak nggak mau masalah ini jadi berlarut larut..!" ucap Giselle dengan suara sedikit meninggi.
"dan buat kamu, Diego..! setelah ini kakak mau kamu bertanggung jawab atas perbuatan kamu..! Kakak nggak mau tau kalian harus ketemu nanti, ngobrol berdua dan selesaikan masalah kalian saat itu juga..! kamu harus minta maaf sama Calvin dan Calvin harus menjelaskan semua tentang Steffi se detail detailnya..! kakak capek sama masalah ini..! pusing tau nggak kakak gara gara ulah kalian..!" ucap Giselle kesal.
"ntar gue ajak temennya Calvin kemarin deh buat ke kantor polisi, buat bujuk Calvin biar mau ngomong sejelas jelasnya. Takutnya ntar kalau kita yang ngomong dia salah paham" ucap Sam Giselle mengangguk.
Diego nampak tak suka.
"kalian nggak usah repot repot deh..! gue bukan anak kecil..! gue bisa nyelesaiin masalah gue sendiri" ucap Diego kesal.
"tapi nyatanya bertahun tahun juga nggak kelar kelar, Go..!! kamu tuh bukannya bisa nyelesaiin masalah, yang ada malah selalu nambahin masalah...!"
"kakak nggak peduli ya kamu setuju atau enggak. Yang pasti kakak tetap akan cabut laporan kakak..! Dan kamu, harus minta maaf..! sadar kamu..! semua masalah ini, sampai anak kecil ini terbaring di sini nggak bangun bangun, semua berawal dari ulah kamu..! minta maaf kamu ama dia, juga ama bapaknya..!" ucap Giselle kesal sembari menunjuk Arini di akhir kalimat nya. Untungnya di dalam IGD hanya ada Diego dan Arini sebagai pasien. Andai ada yang lain, sudah pasti mereka akan sangat terganggu dengan omelan calon janda itu.
...----------------...
Selamat pagi,
__ADS_1
up 05:26
yuk, dukungan dulu yuk 🥰🥰🥰🥰