My Fake Daddy

My Fake Daddy
MFD 164


__ADS_3

ceklek,...


pintu kamar terbuka.


Arini masuk ke dalam kamarnya. Dilihatnya disana Diego nampak duduk di tepi ranjang sembari memainkan ponselnya. Wajahnya tak bersahabat. Terlihat masih kesal dengan kedatangan Agus yang tiba tiba.


Arini menutup pintu kamarnya. Ia kemudian berjalan mendekati pria tampan yang hanya diam itu lalu mendudukkan tubuhnya di samping sang Diego.


Arini melirik ponsel itu. Diego tengah membuka salah satu akun media sosialnya, namun pria itu terlihat hanya menggeser geser beranda nya ke atas saja. Tidak ada aktivitas berarti.


Arini melirik wajah Diego yang tak bereaksi. Wanita itu kemudian meringsut. Mendekatkan tubuhnya pada sang suami lalu menyandarkan kepalanya di pundak kokoh Diego. Tangan putih itupun bergerak. Merangkul lengan suaminya dengan manja.


"daddy lagi ngapain?" tanya wanita itu dengan suara yang terdengar sangat manis.


Diego tak menjawab. Ia hanya membuang nafas kasar.


Wanita itu memiringkan kepalanya, menatap ke arah pria itu dengan raut wajah yang dibuat menggemaskan.


"daddy, daddy kenapa? kok diem aja?" tanya Arini lagi.


Diego tak menjawab. Menoleh pun tidak. Arini menggerakkan tangannya, menyentuh rahang tegas laki laki itu dan menggerakkan kepala itu agar menoleh ke arahnya. Namun Diego mengelak sambil berdecak.


"daddy kenapa?!" tanya Arini lagi.


"daddy marah ya gara gara Agus kesini? kenapa? kan Arin nggak tau apa apa, kenapa marahnya sama Arin?!" tanya wanita itu.


Mendengar ucapan itu, Diego yang tengah dalam mode galak pun menoleh.


"enak ya pegang pegangan tangan ama cowok di depan suami..?!" ucap Diego cemburu.


"apasih?!" ucap Arini tak habis fikir.


"apasih, apasih..!! seneng ya diapelin..! mau dinikahin tuh..! gajinya gede kerja ama bos sombong..!" ucap Digo uring uringan sendiri.


"ya kan dia yang ngomong, bukan aku...! kenapa marahnya ama aku..?!" tanya Arini kesal.


"terserah..!" jawab Digo ketus.


"ih, kok gitu sih..?! jangan marah lah...!" rengek wanita.


"istrinya di deketin ama anak ingusan, daddy nggak boleh marah?!" tanya Digo makin kesal.


"ya tapi kan bukan Arin yang ngajak dia kesini..! dia yang dateng kesini tiba tiba...! ya mana Arin tauk..!" rengek Arini.


"au ah..!" ucap Digo makin kesal lalu menarik lengannya dari dekapan tangan istri nya.


"ih, daddy kok marah sih?!" rengek wanita itu. Diego tak menjawab. Arini kembali menyentuh lengan pria itu dan menggoyang goyangkan nya.


"jangan marah..!" rengeknya.


Diego tak menjawab.


"daddy...." ucap Arini lagi.


Masih tak dijawab oleh Diego.


"dad..!!" rengek Arini lagi.


Tetap tak dijawab.


"ih, daddyyyy....!!" rengek nya lagi sembari menghentak hentakkan kakinya ke lantai.


Diego tetap tak bereaksi. Arini menjatuhkan kepalanya di pundak laki laki itu. Ia memeluk erat lengan Diego yang masih diam. Satu tangannya bahkan tergerak menggaruk-garuk lengan berbulu tipis itu.


Arini tahu, bagaimana perasaan Diego. Walaupun Agus datang kemari bukan atas permintaan Arini, tapi laki-laki mana yang tak akan marah ketika melihat istrinya dipegang-pegang tangannya oleh laki-laki lain.

__ADS_1


Arini nampak berpikir sambil terus bergelayut manja di tubuh suaminya itu. Bagaimana caranya untuk membuat Diego tersenyum lagi? Belum ada satu jam Diego diam, tap ia sudah tak betah di cuekin terus terusan oleh laki laki itu.


Arini menggeliat tanpa mengubah posisinya. Ia mendongak menatap pria itu.


"daddy, bobok, yuk...! katanya tadi ngajak bobok, mumpung nggak ada orang..!" ucap Arini manja. Tangannya bahkan tergerak menyentuh paha pria itu. Mengusap usapnya seolah ingin menjinakkan si kumbang tua yang lagi ngambek.


Diego masih tak menjawab. Ia sibuk menggeser geser beranda sosial medianya.


"dad...." ucap Arini lagi setengah merayu.


Diego masih tak bereaksi.


Arini menghela nafas panjang. Baiklah...! Wanita itu akan berbuat nekat..! Jangan panggil dia anak Calvin kalau tak bisa membuat laki laki di sampingnya ini luluh..!


Arini melepaskan dekapannya atas lengan Diego. Ia kemudian bergerak, berjalan menuju jendela lebar yang menampakkan pemandangan halaman rumah dan jalan berbatu itu. Wanita itu menutup gorden tebal berwarna abu abu tersebut. Memastikan tak ada celah untuk orang luar mengintip aktifitas mereka di dalam kamar tak terlalu luas tersebut.


Diego melirik sekilas sang istri. Lalu kembali memasang mode kesalnya.


Arini berjalan mendekati sang suami. Berdiri tepat di hadapan pria yang masih fokus dengan ponsel di tangannya itu.


Arini kemudian menggerakkan tangannya, menyahut ponsel Diego lalu melemparkannya asal ke atas ranjang.


Diego mendongak. Menatap kesal ke arah sang istri. Namun belum sempat ia membuka mulutnya, mengungkapkan kekesalannya, wanita itu sudah bergerak lebih cepat melancarkan aksi melunakkan hati sang Diego.


Arini melepaskan kaos piyamanya. Membuka kain penutup dua benda menggantung miliknya lalu melemparkannya asal. Diraihnya rambut panjangnya yang tergerai ke depan dada, lalu menyibakkan nya ke belakang. Membuat pemandangan dada putih berhias bercak bercak merah itu terpampang nyata tanpa penghalang apapun.


Arini bersimpuh di lantai. Tepat di hadapan Diego yang duduk dengan kedua belah kaki yang sedikit terbuka. Diego diam tak bergerak menyaksikan ulah istri kecilnya itu.


Arini mendongak. Diraihnya tangan kanan sang Diego, lalu menempelkannya di pipi mulusnya dan mengusap usapkan nya lembut disana.


"daddy, maaf..." ucapnya manja dengan mimik wajah yang begitu menggemaskan.


Laki-laki mana yang takkan oleng menyaksikan pemandangan seperti ini. Seorang wanita belia setengah telanj*ng duduk bersimpuh di hadapannya. Menatap manja nan menggoda ke arahnya. Seolah meminta untuk di lahap saat itu juga.


Diego diam tak bergerak. Arini mengarahkan ibu jari Digo untuk mengusap usap bibir merah mudanya. Salah satu benda favorit laki laki itu.


Diego memejamkan matanya. Lalu memalingkan wajahnya. Sepertinya ia tak kuat menahan godaan wanita di hadapannya itu. Entah, dapat ilmu darimana wanita ini..! Bisa bisanya ia merayu suaminya dengan cara seperti ini.


Merasa usahanya tak sia sia, Arini kembali melancarkan aksinya. Diraihnya satu tangan Diego yang bebas tanpa melepaskan tangan Diego yang lainnya. Diarahkan nya tangan itu menyentuh satu benda menggantung yang terlihat begitu menggoda itu.


"daddy nggak haus, tah?" tanya Arini memancing bir*hi sang pria.


Diego melirik dengan sorot mata nakal dibalut seringai tajam. Satu sudut bibirnya terangkat samar. Wanita itu benar benar berhasil mengalahkan kekesalan dalam diri sang Diego. Membuat pria itu kini mulai tergoda dengan aksi aksi nakal gadis kampung itu.


Diego mulai bereaksi, satu tangan kekar nya nampak merem*s rem*s benda menggantung itu dan mengusap usapnya lembut. Sedangkan satu tangan lainnya bergerak, membelai wajah cantik itu sembari ibu jarinya bergerilya di dua belah bibir sang wanita tersayang.


Diego mengangkat dagu Arini agar lebih mendongak. Ia seolah ingin menikmati paras menggoda itu dengan lebih jelas.


Arini hanya menurut. Yang penting Digo tak marah lagi.


"maaf, ya..." ucap wanita itu.


Diego mengangkat dagunya. Ia menghentikan pergerakan nya. Ditariknya kedua tangan itu dari tubuh Arini kemudian bangkit.


"bangun" ucap Digo.


Arini yang sudah setengah telanj*ng itupun menurut. Diego meraih pinggang wanita itu. Menempelkan tubuh ramping itu pada tubuhnya.


Satu tangannya kembali bergerak membelai wajah cantik itu.


"maaf, daddy kebawa emosi. Daddy nggak suka lihat laki laki lain mendekati kamu" ucapnya pelan.


Diego kembali mengusap usap bibir merah muda itu


Bahkan Sesekali ia memasukkan salah satu jarinya itu ke dalam sana, bermain dengan lidah sang istri cantik.

__ADS_1


"kamu milik daddy, baby. Semua yang ada dalam diri kamu itu milik daddy. Daddy nggak suka ada orang lain yang menyentuh nya" ucap pria itu lagi.


Arini tersenyum.


"aku tahu, dad. Aku milik daddy. Buktinya, cuma daddy yang bisa ngelakuin hal seperti ini sama aku" ucap Arini sembari melirik tangan Diego yang bermain di bibirnya. Wanita itu kemudian menggerakkan satu tangannya menyentuh dada bidang berbalut kaos hitam tersebut.


Digo mengulum senyum.


"kamu pinter menggoda sekarang" ucap Digo.


Arini mengulum senyum.


"goda suami sendiri nggak apa apa, kan?" tanya Arini.


"nggak apa apa" jawab Digo.


"kalau gitu daddy mau sering sering ngambek, deh" ucap pria itu lagi.


"jangan..!" ucap Arini manja.


Keduanya terkekeh.


"tadi bilang apa?" tanya Digo lagi.


"apa?" jawab Arini yang balik bertanya.


Diego tak menjawab. Ia melirik kearah dua benda kenyal yang kini menempel di dadanya itu dengan lirikan mata menggoda.


Arini mengulum senyum.


"daddy nggak haus?" tanya Arini.


Diego mengangkat dagunya.


"haus. Laper juga..." ucap nya kemudian.


"mau makan?" tanya Arini manja.


"boleh..." jawab Digo.


"minum?" tanya Arini lagi.


"boleh juga.." jawab Digo lagi.


Arini menggeliat.


"yuk..." ucap wanita itu.


Digo tersenyum sembari menggigit bibir bawahnya.


Dengan satu gerakan. Diangkatnya tubuh wanita itu lalu menjatuhkan nya ke atas ranjang. Tanpa memberi kesempatan Arini, laki laki itupun menindih tubuh mungil itu, kemudian dengan rakusnya mulai melahap benda merah muda yang sejak tadi menjadi mainannya. Satu tangannya tergerak, meraih kedua lengan Arini, mengumpulkannya jadi satu di atas kepala dan mendidihnya menggunakan telapak tangan besarnya. Sedangkan tangan lainnya kini nampak merem*s rem*s dada menyembul itu dengan gerakan yang sedikit brutal.


Arini mendesis. Suara suara indah itu terdengar di dalam kamar milik sepasang suami istri itu. Keduanya larut dalam permainan yang tak terlalu lembut setelah hilangnya cemburu yang sempat menghinggapi hati Diego.


Malam pun berlanjut. Sepasang suami istri itu kembali menikmati malam mereka dengan pergulatan panas di atas ranjang selayaknya sepasang suami istri yang sah.




...----------------...


Selamat sore,


up 17:00

__ADS_1


dibaca pas buka ya...😁😁


yuk, dukungan dulu 🥰😘


__ADS_2