My Fake Daddy

My Fake Daddy
MFD 75


__ADS_3

Di lantai dua kediaman Calvin Alexander....


ceklek....


pintu kamar terbuka...


"nah, Rin. ini kamar tamu. Lu bisa pakai kamar ini buat tidur. Kamar ini biasanya dipakai anak anak kalau ada yang nginep disini. Mulai sekarang, ini jadi kamar lu. Masuk gih, istirahat" ucap Ivan.


Pak Yanto yang ikut mendampingi Arini nampak melongok ke dalam kamar. Cukup berantakan..!


Arini yang sejak tadi tak bergerak itu lantas tersenyum tipis, lalu mengangguk.


"kalau mau mandi, handuknya udah ada di dalam. Trus bajunya ada di lemari. Tapi kebanyakan baju cowok. Pakai yang ada dulu ya, besok biar bang Ale beliin buat lu" ucap Ivan.


Arini tersenyum lagi, lalu mengangguk.


"ya udah, kalau gitu, gue mau turun ama pak Yanto, lu istirahat gih" ucap Ivan.


Lagi, Arini hanya mengangguk.


Ivan pun berlalu pergi bersama pak Yanto. Arini dengar langkah gontai pun masuk ke dalam kamar itu dan menutup pintunya.


Arini terdiam.


Sebuah kamar tidur yang tak terlalu luas. Sebuah ranjang berukuran sedang berada di pojok ruangan. Ber seprei abu abu kusut dengan selimut yang dibiarkan jatuh mengenaskan di lantai. Diatas ranjang ada satu bantal dan satu guling. Sebuah gitar penuh stiker tergeletak diatasnya berdampingan dengan sebuah asbak yang masih dipenuhi puntung rokok.


Arini mengedarkan pandangannya lagi.


Kamar itu juga berantakan. Tak jauh berbeda dengan ruang tamu di lantai dasar tadi.


Arini berjalan mendekati ranjang. Dilihatnya di samping ranjang ada sebuah nakas. Diatasnya terdapat sebuah majalah pria dewasa dengan gambar gambar para wanita yang nyaris tak berbusana.


Disamping nakas, ada beberapa botol miras yang nampak sudah kosong. Tak jauh dari situ, terdapat sebuah sofa panjang berwarna hijau tua. Diatasnya ada sebuah papan catur serta beberapa gelas sloki kosong yang nampak tergeletak mengenaskan.


Arini menarik nafas panjang. Ia berjalan mendekati sebuah lemari besar dengan pintu kaca disana. Dibukanya lemari yang tak terlalu besar itu.


Lagi, Arini terdiam. Sebuah lemari berisi pakaian pakaian pria. Tak ada yang dilipat rapi ataupun digantung dengan benar. Semua berserakan tak jelas. Menjadi satu antara baju, celana dan pakaian dalam. Sama sekali tidak kesan rapi di dalam kamar itu.


Arini kembali menutup lemari itu. Sedikit mundur, lalu mendudukkan tubuhnya di tepian ranjang. Menghadap langsung ke arah kaca lemari yang memantulkan bayangan dirinya.


Arini menitikkan air matanya lagi.


Lihatlah,


lihat bayangan gadis bodoh itu. Sangat menjijikkan..! wanita tolol yang begitu mudahnya percaya pada laki laki asing yang sama sekali tak ia kenal.


Wanita bodoh yang bisa bisanya selama berbulan bulan menghabiskan waktu nya, tinggal seatap dengan laki laki yang bukan muhrimnya...!!


Benar benar wanita yang menjijikkan...!


Arini sesak..! Ia sesenggukan..! ia menangis melihat bayangan tubuhnya sendiri..! ia benci tubuh ini..! ia benci diri nya yang begitu bodoh dan tolol sampai begitu gampangnya di bodohi..!


Anak haram, anak yang tidak pernah diharapkan kehadirannya, anak yang disia siakan, anak yang terlahir dari sebuah perzinahan. Buruk, kotor, bodoh, tidak berguna..!!

__ADS_1


Arini menjambak rambutnya sendiri. Ia kembali menangis sejadi jadinya. ia benci dirinya sendiri. Ia benci takdirnya. Ia benci Tuhannya yang tak menyayanginya. Ia benci semua orang. Ia muak...!!


Tangan putih itu bergerak. Diusapnya bibir merah muda itu. Laki laki asing itu pernah menyentuh bibir itu. Bahkan lebih dari sekedar menyentuh. Dan disaat itu terjadi si bodoh ini juga abai. Ia terlalu percaya pada Diego sampai sampai mengabaikan fakta fakta yang sebenarnya menunjukkan banyak sekali kejanggalan atas diri Diego.


Arini menangis sejadi jadinya Ia mengusap kasar bibir itu berkali kali. Ia menjambak rambutnya. Memukuli dirinya sendiri. Ia merosot. Bersimpuh di atas lantai yang dingin itu, meringkuk, menangis meratapi nasib hidup yang sama sekali tak pernah berpihak kepadanya.


...****************...


Sementara itu di tempat terpisah...


Disebuah rumah megah kediaman Diego Calvin Hernandez..


ceklek....


braaaaaakkkk....!!


pintu rumah utama terbuka. Seorang pria babak belur nampak masuk kedalam rumah itu dengan langkah sempoyongan.


Sam yang berada diruang tamu dengan kue mahal yang sudah ia siapkan itupun terlonjak kaget.


Dilihatnya disana Diego datang dengan penampilan yang kacau. Wajahnya bonyok. Jas mahalnya nampak kotor dan compang camping dengan tubuh yang basah kuyup.


buuuuuuuuuuggggghhhhh....


Diego jatuh tersungkur ke lantai.


"Go...!!" pekik Sam lalu bangkit dari posisi duduknya. Duda satu anak itu berlari mendekati kawan sekaligus atasannya itu. Diraihnya tubuh Diego yang nampak menyedihkan itu.


"Go, lu kenapa?!" tanya Sam khawatir.


Sam membimbing laki laki itu untuk bangkit. Di papah nya Diego yang nampak mengenaskan itu untuk duduk di atas sofa putih ruang tamu mewah itu.


Diego masih menangis. Kepalanya tersandar di sandaran di sandaran sofa, mendongak menghadap langit langit. Matanya terpejam. Bibirnya mengalunkan suara rintihan. Air mata luruh tak terbendung. Ia menjambak kuat rambut hitamnya seolah ingin melepaskannya dari kulit kepala.


"Go, lu kenapa?! ada apa? Arini mana?" tanya Sam terlihat panik melihat Diego datang dengan kondisi tubuh babak belur. Sedangkan Arini sama sekali tidak terlihat batang hidungnya. Kemana gadis itu?


Diego mengusap wajahnya hingga ke kepala.


"Arini udah tau semuanya" ucapnya lirih disela sela tangisannya.


"apa?!" tanya Sam kaget. Diego memejamkan matanya frustasi.


"kok bisa?" tanya Sam.


Digo menangis lagi. Ia menggelengkan kepalanya. Seolah sudah tak sanggup lagi untuk menceritakan apa yang baru saja ia alami di kantor polisi.


Sam diam tak bergerak. Ia cukup terkejut mendengar hal ini. Padahal Diego sudah menyembunyikan identitas Arini semaksimal mungkin agar tak sampai terendus oleh Calvin.


Namun entah bagaimana ceritanya semua itu bisa terbongkar.


Sam menepuk pundak sang sahabat seolah memberi kekuatan.


Diego menunduk. Mengusap lagi wajahnya hingga kepala bagian belakangnya lalu mencengkeram erat rambutnya.

__ADS_1


Terlihat jelas betapa Diego sangat frustasi. Sesuatu yang cukup membuat Sam terkejut dibuatnya.


Bukankah Arini hanyalah anak dari musuh Digo? Bukankah Arini hanyalah alat yang digunakan untuk membalas rasa sakit hatinya pada Calvin? tapi kenapa saat sekarang Arini sudah bertemu dengan ayah kandungnya, Digo malah menangis bak ditinggal kekasih atau istri?!


Dia bukan sedih atau marah..! tapi menangis...! Sesuatu yang dulu juga pernah Digo tunjukkan saat ditinggal mati oleh Steffi..!


Apakah laki laki itu mulai mencintai Arini??


Sam nampak diam dengan pemikirannya sendiri.


"gue harus gimana sekarang? gue harus gimana?" tanya Digo frustasi.


Sam diam. Ia harus jawab apa?! ia juga bingung...!


"gue mau dia, Sam!! gue mau Arini balik lagi kesini..! gue mau dia...!!" ucap Diego memilukan.


"Go, lu tenang dulu.."


"Gimana gue bisa tenang..! Arini udah ketemu sama Calvin..! Calvin marah..! Arini pasti juga akan benci ama gue..!" ucap Digo keras dengan mata merah berair. Ia benar benar kacau.


Sam menghela nafas panjang.


"sekarang situasi nya lagi panas. Lu kacau. Arini juga pasti jauh lebih kacau. Mending sekarang lu tenangin dulu diri lu. Abis itu kita baru pikirin jalan keluar nya" ucap Sam mencoba menasihati.


Digo tak menjawab.


"Dah, lu mandi dulu gih" ucap Sam.


Digo kembali memperdengarkan tangisan lirihnya.


"gue nggak mau kayak gini. Gue mau Arini..!!" ucapnya lirih.


Sam nampak iba..


"ARINIIIII.......!!!!"


braaaaaakkkk.......


pyyaaaaaaaarrrrrrrrr.....


meja rendah itu ditendang. Kue mahal yang harusnya kebahagiaan Arini malam ini itu jatuh terguling ke lantai. Hancur tak berbentuk.


Hancur sudah hubungan ayah dan anak palsu yang mulai terjalin hangat itu. Semua sirna dalam sekejap mata disaat hubungan keduanya tengah harmonis harmonisnya.


Kini Arini pergi. Digo hanya bisa meratapi nasibnya. Entah bagaimana hubungan nya dengan Arini setelah ini. Gadis itu pasti akan sangat membenci Diego sekarang. Belum lagi Calvin yang sudah mengultimatum dirinya untuk tidak mendekati Arini lagi.


Entahlah, bagaimana nasib hubungan mereka setelah ini.


...----------------...


Selamat sore


up 17:44

__ADS_1


yuk, dukungan dulu 🥰🥰


__ADS_2