My Fake Daddy

My Fake Daddy
MFD 06


__ADS_3

Pintu gerbang di buka. Pria berseragam security yang merupakan penjaga rumah megah itupun keluar. Arini nampak menyingsingkan lengan baju panjangnya. Memasang kuda kuda, mengambil ancang ancang bersiap untuk menyerang pria matang berbadan tegap yang berada di hadapannya.


"maju sini...!!" tantang Arini sembari mengambil ancang ancang


"nggak sopan kamu ya..?! kamu berani sama saya?!!" tanya si penjaga rumah.


"saya cuma takut sama Tuhan..! lagian saya dateng baik baik situ nya nyolot..!" ucap Arini berani membuat si penjaga rumah pun geram.


"woooo....! dasar bocah nggak tau sopan santun...!!" ucap si satpam geram. Baru saja si penjaga rumah hendak mendekat guna mengusir Arini, namun tiba tiba....


.


.


.


"ada apa ini?!"


suara itu mengalun dari bibir seorang pria tampan berparas kebarat baratan. Dua manusia yang hampir baku hantam itu pun menoleh ke arah sumber suara.


Arini terdiam. Dilihatnya di sana sosok pria tampan berusia matang dengan paras bule, tubuh tegap atletis berbalut setelan jas mahal. Kumis dan jambang tipis menghiasi wajah dengan rahang tegas itu. Kulitnya putih bersih dengan bulu bulu halus di area punggung tangan hingga lengan yang tertutup kain mahal itu.


Arini memiringkan kepalanya, netra pria itu terlihat begitu indah dengan warna biru yang mempesona.


Subhanallah...


Rupanya di salah satu belahan bumi ini ada juga laki laki sesempurna ini. Ia pikir cuma si Agus manusia tertampan di dunia ini. Mantan pacarnya yang pernah menyatakan cinta padanya lewat toa pasar malam.


Arini melongo dengan kepala miring. Pria itu menatap datar gadis polos tersebut.


Sang penjaga rumah mendekati pria itu lalu berbicara pelan,


"maaf, tuan. Ini ada perempuan. Ngaku ngaku dari kampung, katanya anak tuan.." ucap si penjaga rumah berbisik membuat pria tampan tersebut menoleh ke arahnya dengan dahi yang mengernyit.


Di tatapnya wanita manis berambut panjang tersebut.


"siapa kau?" tanya pria itu yang sukses membuat Arini tersadar dari lamunannya. Ia menegakkan kepala sembari berusaha menepis segala pemikiran aneh yang menyerang otak nya tiba tiba.


"sa, saya Arini. Saya dari kampung X. Anaknya Dewi. Saya kesini mau cari bapak saya. Namanya tuan Calvin" ucap Arini pada pria dengan sejuta pesona itu.


Pria tampan itu terdiam. Di amatinya penampilan gadis itu dari atas sampai bawah. Sederhana menjurus ke kampungan. Celana hitam dengan kemeja putih lengan panjang. Rambutnya yang panjang nampak di ikat ekor kuda. Mirip anak magang yang lagi jagain toko parfum. Pria itu lantas mengangkat dagunya. Lalu...


"masuk..." ucapnya singkat dengan wajah tenang.

__ADS_1


Sang satpam menoleh ke arah majikan nya. Kok malah di suruh masuk? pikir si satpam.


Pria itu lantas berbalik badan. Arini mengangguk lalu mengikuti langkah kaki pria tampan itu dari belakang.


"weeeeekkkk" ucap Arini sembari menjulurkan lidahnya saat melewati si penjaga rumah yang tadi menghadangnya. Pria ber seragam security itu hanya menatap kesal ke arah bocah tengil itu.


...****************...


Di dalam rumah megah itu...


Arini nampak duduk di sebuah sofa putih yang sepertinya berharga fantastis. Netra lentiknya nampak bergerak kesana kemari, mengedarkan pandangannya mengamati sekaligus mengagumi ruangan luas yang dipenuhi dengan ornamen ornamen dan barang barang mewah dan berkelas itu. Luas ruang tamu itu bahkan sangat jauh lebih luas dari keseluruhan luas rumahnya dengan sang nenek.


Sepertinya bapak kandung nya memanglah orang yang benar benar kaya raya seperti yang pak Yanto katakan. Arini jadi tidak sabar ingin bertemu ayah kandungnya.


Wajah Arini terlihat begitu terkagum kagum. Hal itupun tak luput dari penglihatan pria di hadapannya. Pria itu mengangkat satu sudut bibirnya mengamati tingkah polah Arini yang ia rasa begitu kampungan itu. Dengan kaki yang di silangkan dan kedua lengan yang di lipat di depan dada, ia menatap angkuh wanita kampung yang kini duduk ber hadapan dengan nya itu.


"sudah puas lihat lihatnya?" tanya pria itu dingin membuat Arini reflek menoleh ke arah pria tersebut.


"eh, maaf, tuan." ucap Arini sambil tersenyum canggung.


Laki laki berjambang tipis itu mengangkat dagunya.


"jelaskan, siapa kau dan ada perlu apa datang ke mari.." ucapnya tanpa basa basi.


Arini menelan ludahnya guna membasahi kerongkongan nya. Sebuah aktifitas yang dapat ditangkap dengan jelas oleh mata tajam pria itu.


Pria bermata biru itu mengangkat tangannya, menepuknya dua kali seolah memanggil seseorang.


Tak lama, seorang pelayan datang dengan membawa sebuah nampan berisi segelas air putih. Si pelayan meletakkan gelas itu di atas meja tepat di hadapan Arini.


"silahkan, nona" ucap si pelayan.


Arini hanya membungkuk kan badannya seolah mengucap terima kasih. Si pelayan pun berlalu.


Arini menatap pria di hadapannya. Pria itu mengangkat tangannya seolah mempersilahkan wanita itu untuk meminumnya.


Arini pun menurut.


Di ucapnya basmalah dengan suara pelan, lalu meneguk air putih itu hingga tandas guna menuntaskan dahaganya.


"Alhamdulillah..." ucap wanita itu kemudian.


Satu sudut bibir pria itu terangkat. Arini meletakkan gelasnya kembali ke atas meja.

__ADS_1


"sudah?" tanya pria itu.


Arini mengangguk.


"sudah, tuan" jawab Arini.


"sekarang jelaskan, siapa kau?" tanya pria itu.


"saya Arini, tuan. Saya dari kampung X. Saya anaknya tuan Calvin. Ibu saya namanya Dewi. Dia meninggal waktu usia saya dua bulan. Sejak saat itu saya di asuh sama nenek saya. Tapi tujuh hari lalu rumah kami di kampung kebakaran. Harta benda kami semua habis. Nenek meninggal. Dan saya udah nggak punya siapa siapa lagi. Rumah saya juga hancur. Makanya saya datang kesini buat ketemu bapak kandung saya."


Arini meletakkan sebuah kertas alamat yang sejak tadi di bawanya itu di atas meja rendah di hadapannya lalu menyodorkannya pada pria itu.


"itu alamat rumah bapak saya. Saya dapat itu dari tetangga saya. Dia bilang, nama bapak saya tuan Calvin. Dia tinggal disini. Saya mau ketemu sama bapak saya soalnya saya udah nggak punya siapa siapa lagi di kampung" ucap Arini menjelaskan pada pria yang ia rasa masih berusia tiga puluhan itu.


Pria itu hanya diam tak bergerak. Ia menatap secarik kertas di atas meja itu tanpa menyentuh nya. Sorot matanya datar dan terkesan angkuh. Satu sudut bibirnya kembali terangkat. Ia kemudian menatap wanita kampung yang terlihat kusut itu. Mungkin lantaran efek naik bus dan motoran ber jam jam lamanya.


Pria itu mengangkat dagunya.


"apa buktinya jika kau adalah anak Dewi?" tanya pria itu membuat Arini mendongak.


"tuan kenal ibu saya?" tanya Arini.


Pria itu kembali mengangkat satu sudut bibirnya.


"tentu saja..." ucapnya santai. Lalu...


.


.


.


"aku adalah orang yang kau cari...! namaku Diego Calvin Hernandez...!"


"hahh??!!!"


...----------------...


Selamat sore,


up 18:12


yuk, dukungan dulu 🥰😘

__ADS_1


__ADS_2