
Di sebuah mobil yang melaju kencang menuju kantor polisi terdekat...
Seorang gadis nampak sesenggukan. Duduk menangis di bawah jog mobil itu sambil memeluk lututnya.
Ya, kini Arini tengah dalam perjalanan menuju kantor polisi.
Di dalam mobil dengan tiga baris kursi itu, ada Ivan sebagai pengemudi, Calvin yang duduk di samping kemudi, serta Anya dan beberapa anak punk lain yang nampak memenuhi dua baris kursi di belakangnya.
Semua menatap penuh intimidasi ke arah Arini, kecuali Ivan dan Calvin. Gadis belia itu bahkan tak diijinkan duduk di kursi mobil. Melainkan di paksa duduk di bawah bak seorang maling ayam yang baru saja di hakimi warga.
Arini sesenggukan. Hari ulang tahun yang harusnya bahagia kenapa jadi seperti ini?
Ini sangat menyakitkan..! ia dituduh pencuri padahal ia sama sekali tak tahu tentang jam tangan mahal itu. Entah bagaimana bisa benda itu berada di dalam tas nya ..! siapa yang meletakkan nya disana.
Arini membenamkan wajahnya lagi di antara lutut dan dadanya. Ia menangis lagi. Terdengar pilu di telinga Calvin yang sebenarnya tidak tega melihat gadis itu namun ia tak bisa membendung amarah para anak buahnya yang kadung tersulut emosi.
"nggak usah nangis mulu..! cengeng banget lo..!!" bentak Anya.
"makanya masih kecil jangan suka nyolong..!" imbuh seorang anak punk disana.
Ivan yang mendengar ucapan ucapan itu hanya bisa menggelengkan kepalanya. Sebenarnya ia kasihan dengan gadis itu. Tapi mau bagaimana lagi. Dia terbukti mencuri. Bahkan Ivan sendiri yang menemukan bukti jam tangan di Waist bag Arini.
Gadis itu kembali mengangkat kepalanya lalu mengusap lelehan air matanya. Ia lantas merogoh saku celananya. Mengambil ponselnya dan berniat menghubungi Diego.
Hanya Digo yang ia punya. Ia yakin, daddy nya pasti akan menolongnya. Laki laki itu kan bisa diandalkan. Dia selalu bisa menolong Arini sekarang.
Arini membuka ponsel mahal itu, berniat mencari nama Diego dan menghubungi nya. Namun belum sempat ia melakukan nya, Anya buru buru menyambar ponsel itu dari tangan Arini membuat gadis itupun terkejut dibuatnya.
"apa apaan sih..?!!!! balikin...!!!!" bentak Arini emosi sambil mencoba mengambil kembali ponselnya.
Kegaduhan kembali terjadi di dalam mobil itu.
Anya mengangkat tangannya tinggi tinggi seolah tak membiarkan Arini merampas ponsel ditangannya.
"lo mau ngapain?!!" tanya Anya keras.
"kalian nggak bisa seenaknya sama aku..! aku mau hubungin orang tua aku..! balikin...!! kalian nggak bisa semena mena gini sama aku...!! balikin...!!!!" teriak Arini sambil menangis meraung raung.
"Nya, balikin, Nya..!!" ucap Ivan keras.
"nggak...!!" tolak Anya.
"Anya, balikin...!! dia berhak menghubungi keluarganya...! kalaupun dia salah, seenggaknya orang tuanya juga tahu kelakuan anaknya di luar, biar mereka bisa ngawasin anaknya lebih baik lagi..! balikin hp dia..!" titah Calvin tegas.
"tapi, bang...."
"balikin..!!!" ucap Calvin dengan suara meninggi.
Anya memasang mode kesal. Dengan sangat terpaksa ia pun menyerahkan benda pipih itu kepada Arini dengan gerakan yang kasar. Arini pun menerimanya sambil terus sesenggukan. Gadis itu kembali mendudukkan tubuhnya di bawah sana. Dengan tangis yang terisak isak, dicarinya nomor ponsel daddy tampan nya lalu menghubungi nya...
tutt....tutt.....tutt.....
"halo, baby..." ucap seorang pria di seberang sana dengan suara yang begitu manis. Pria yang kini tengah berada di dalam mobilnya, mengamati sebuah kalung berlian indah di tangannya yang akan menjadi kado special untuk sang putri itu nampak mengulum senyum menjawab panggilan telepon dari sang putri kesayangan.
"hiks....daddyyy....." ucap Arini menangis pilu.
Anya berdecih.
Diego yang mendengar suara tangisan putrinya itu seketika terperanjat dan menegakkan posisi duduknya.
"baby, kamu kenapa?" tanya Digo.
"daddy, toloong..! hiks..." ucap Arini ketakutan.
"kamu kenapa? kamu dimana? kenapa nangis?!!" tanya Digo.
"dad, aku dituduh nyuri..! sekarang aku di bawa ke kantor polisi. Daddy, tolongin Arin. Arin takuuuuut....." ucap gadis itu menangis pilu. Membuat Calvin yang mendengarnya ikut sesak dibuatnya.
Digo kaget.
"oke, sekarang kamu dimana? daddy akan susul kamu..!" ucap Digo sembari menyalakan mesin mobilnya. Dimasukkan nya kalung berlian itu ke dalam saku jas nya.
"aku mau dibawa ke kantor polisi, dad. Daddy cepetan kesana tolongin Arin...!" rengek gadis belia itu.
"oke..! kamu tungguin, daddy kesana sekarang...! kamu jangan nangis..! semua akan baik baik aja, sayang" ucap Digo sembari tancap gas.
"Arin takut, dad..hiks..hiks.."
"nggak apa, sayang..! nggak ada yang bisa nyakitin kamu. Daddy udah dalam perjalanan..! kamu akan baik baik aja..! oke..." ucap Digo seolah ingin menenangkan hati putrinya.
Arini mengangguk sambil sesenggukan.
"udah, kamu tutup dulu telfonnya. Daddy mau cepet cepet nyetirnya biar bisa segera sampai kantor polisi. Kamu jangan nangis lagi" ucap Digo.
Arini mengangguk.
"iya, dad.." ucap gadis itu.
Sambungan telepon pun terputus. Arini kembali meringsut menyembunyikan wajahnya di antara lutut dan dadanya. Seolah tak mau menatap ke arah para manusia manusia yang kini nampak menatapnya dengan sorot mata penuh intimidasi itu.
...****************...
__ADS_1
Beberapa menit kemudian...
Mobil itu sampai di sebuah kantor polisi terdekat.
Arini dipaksa turun oleh para anak punk itu. Ditariknya paksa gadis malang itu dengan kasarnya oleh Anya bak seorang pencuri yang sudah terbukti bersalah.
"Nya..! jangan gitu..! kasian dia...!" ucap Ivan mengingatkan rekannya tersebut namun sepertinya Anya tidak peduli. Dari sekian banyak orang yang mengantar Arini ke kantor polisi, memang wanita itu yang emosinya paling menggebu gebu.
Wanita bertato itu terus menyeret Arini yang berontak. Diikuti beberapa anak punk di belakangnya. Sedangkan Ivan dan Calvin berjalan paling belakang seolah hanya mengikuti saja mau dibawa kemana gadis kecil itu.
Namun tiba tiba....
drrrt....drrrt....
ponsel Calvin berbunyi.
Pak Yanto..
memanggil....
"siapa, bang?" tanya Ivan yang menghentikan langkahnya bersama Calvin.
Calvin tak menjawab.
"lu masuk dulu. Awasin anak anak jangan sampai bikin gaduh. Gue angkat telfon dulu" ucap Calvin pada anak buah yang paling ia percaya itu.
"oke, bang" jawab Ivan.
Calvin pun menjauh untuk menerima telfon dari pak Yanto.
Sedangkan Ivan, pria bertubuh kurus dengan tato di sekujur badan itu berjalan cepat memasuki kantornya para aparat penegak hukum itu, menyusul rekan rekannya yang sudah berada di dalam sana.
.....
Di dalam kantor polisi....
buuuuuuuuuuggggghhhhh.......
"aaaakkhh...!!" pekik gadis belia itu.
Anya melempar tubuh Arini ke lantai seolah penuh dendam. Gadis itu menangis. Seorang polisi yang bertugas pun mendekat.
"ada apa ini?!!" tanya polisi itu.
"maling nih, pak..!" celetuk seorang anak punk disana.
"nggak...!!" bantah Arini yang bersimpuh di lantai.
Gadis itu meringsut mendekati petugas polisi itu seolah minta perlindungan.
Mendengar ada keributan, seorang polisi wanita datang mendekat. Sang polisi pun membimbing gadis malang itu untuk bangkit. Arini dipeluknya. Gadis itu nampak begitu ketakutan.
"tenang.. tenang..! ini sebenarnya ada apa?!" tanya si polisi pria.
"dia maling, pak! tapi nggak mau ngaku..! barang bukti udah jelas jelas ada di tas dia, tapi masih aja sok polos..! penjarain aja dia..!" umpat seorang anak punk.
"aku bukan maling...!" ucap Arini masih keukeuh pada pendirian nya.
"masih berani jawab lo?! udah ketangkep basah masih aja ngelak..!!" ucap anak punk itu lagi di ikuti dengan berbagai umpatan kasar dari rekan rekan nya.
Arini menggelengkan kepalanya cepat sambil menangis dalam pelukan seorang polwan. Para anak punk itu makin rusuh. Berteriak teriak minta Arini dijebloskan ke penjara seolah hukum adalah milik mereka sendiri.
Arini makin ketakutan. Ivan kewalahan menenangkan rekan rekannya.
"tenang, tenang...! diam kalian semua..! ini kantor polisi bukan kebun binatang...! jangan buat onar disini..!" ucap si polisi.
"tapi dia harus dihukum, pak..! dia harus dipenjara..!" ucap Anya yang seolah menjadi garda terdepan yang ingin menjebloskan Arini ke penjara.
"dia harus dihukum..!" imbuh rekannya.
"udah masukin aja dalam sel..!!" imbuh lagi yang lainnya.
Suara suara itu saling bersahutan. Makin riuh. Makin ricuh. Makin tak terkendali. Semua bersuara minta Arini dipenjara. Gadis itu makin ketakutan. Kenapa mereka semurka ini?
Hingga tiba tiba....
.
.
.
.
braaaaaakkkk.....!!!
Semua terjingkat kaget.
Sebuah kursi melayang. Terlempar ke tengah tengah para anak punk yang begitu riuh itu. Banyak dari mereka mengumpat dan mengeluarkan sumpah serapahnya.
Semua mata menoleh ke arah belakang. Dilihatnya seorang pria tampan dengan balutan jas yang rapi nampak berjalan mendekat kearah kerumunan itu. Langkahnya tenang, namun terasa angkuh dan mengerikan. Sorot matanya tajam seolah menggambarkan raut wajah ketidak sukaan.
__ADS_1
"daddy...!!!" pekik Arini.
Lega..!
Ayahnya datang di waktu yang genting.
Gadis itu berlari. Lepas dari pelukan sang polwan lalu menabrakkan tubuhnya pada tubuh tegap sang Diego.
Diego memeluk erat gadis itu. Memberikan kehangatan dan ketenangan untuk gadis cantik itu. Arini menangis sejadi jadinya. Ia benar benar ketakutan.
"daddy, aku takuut.." ucap Arini menangis.
"it's okay, baby. Semua akan baik-baik aja. Ada daddy disini" ucap pria itu lembut sambil mengusap usap punggung dan kepala sang putri. Ia mengecup pucuk kepala Arini singkat. Arini meremas jas mahal itu. Memeluk erat pria tersebut. Menumpahkan segala rasa takutnya pada pria itu. Arini yang masih sesenggukan kini merasa lebih tenang. Ada laki laki yang siap melindungi nya disini.
Masih dalam posisi memeluk sang putri, Diego lantas menatap tajam ke arah sekumpulan manusia manusia berandalan itu dengan sorot mata tajam.
"ada apa ini? ada masalah apa sampai kalian berani membuat putri saya menangis?" tanya Diego dingin.
"lu bapaknya?!" tanya anak punk itu sambil menunjuk nunjuk ke arah Diego.
"ya, ada apa?!" tanya Digo tenang.
"ajarin tuh anak lo...! masih kecil jangan suka ngutil...! masih bocah udah jadi maling, gede mau jadi apa?!" ucap salah seorang anak punk disana.
"maling? kamu bilang anak saya maling?" tanya Diego
"iye..! dia maling jam tangan bos gue...! udah ketahuan masih ngelak aja..! barang bukti udah ditemuin di tas nya. Tapi dia masih berlagak sok polos..! dasar bocah nggak tau malu...!" umpat seorang anak punk lagi.
Arini mengeratkan pelukannya.
"daddy, Arin nggak nyuri..! sumpah..!" cicit Arini sambil membenamkan wajahnya di dada bidang Diego.
"tenang, baby. Daddy tau kamu nggak salah" ucap Digo lembut sambil mengusap usap pucuk kepala Arini..
Digo menatap ke arah para anak punk itu satu persatu. Lalu sorot matanya tertuju pada seonggok wanita bertato disana. Ya, ia ingat wanita itu..! wanita yang kini nampak diam menyembunyikan wajahnya. Itu adalah wanita yang dulu hampir melempari Arini dengan botol miras..!
Digo mengangkat satu sudut bibirnya.
Sepertinya ia mencium gelagat aneh dalam kasus ini.
"saya rasa kalian hanya salah sangka..! putri saya tidak mungkin melakukan hal seperti yang kalian tuduhkan..!" ucap Digo.
"nggak mungkin gimana? orang buktinya aja ada kok..! ada jam tangan bos kami di tas anak lu..! masih aja lu belain anak lu..! mau cari ribut lo ama kita?! lu nggak tau siapa kita..?!!"
"harusnya saya yang tanya sama kalian? kalian nggak tau siapa saya sampai sampai kalian berani menuduh anak saya maling?! jam apa sih yang ilang? berapa harganya? mana bos kalian? suruh kesini..! biar saya ganti sepuluh kali lipat..!" ucap Digo angkuh dan yakin.
Para anak punk itupun saling pandang. Penampilan laki-laki ini memang terlihat seperti orang yang sangat kaya raya. Tampan, klimis, rapi, gagah, dan berwibawa. Rasa-rasanya tidak mungkin jika ia memiliki anak seorang maling.
Digo yang berhasil membungkam para brandalan itupun mengangkat dagunya.
Para anak punk itupun nampak diam dan saling lempar pandangan.
Lalu....
.
.
.
.
"tuh, itu bang Ale...!!" ucap seorang anak punk sambil menunjuk ke arah lobby kantor polisi yang posisinya berada dibelakang Diego
"bang, sini, bang..!!" ucap salah satunya lagi.
Diego sambil terus memeluk sang putri pun menoleh ke arah belakang. Dan..........
.
.
.
.
bersambung...
...----------------...
up 13:00
ini udah 2000 kata satu bab...
Kalau kebanyakan biasanya review nya lama. Insya Allah lanjut malam ya.......
__ADS_1
yukz kasih dukungan dulu 🥰😘🥰😘