
Ceklek....
pintu terbuka...
Diego diam. Dilihatnya disana, seonggok manusia berjenis kelamin laki-laki. Berpostur tubuh tinggi dengan kulit putih, penampilan rapi serta semerbak wangi parfum tercium dari tubuhnya.
Diego mengamati penampilan pemuda itu dari atas sampai bawah.
"malam, om...!" ucap pemuda itu,
Diego tak menjawab. Sepertinya ia kenal dengan pemuda ini. Wajahnya mirip dengan foto pemuda dalam CV pribadi yang Sam kirimkan padanya pagi tadi..!
Ya, tak salah lagi..! ini adalah Agus, si mantan pacar istri nya..! anak perempuan yang pagi tadi disumpal mulutnya menggunakan bayam oleh Calvin. Mau ngapain nih manusia kesini? mana manggilnya om, lagi..! kampreet..!!
Diego mengangkat dagunya.
"malam" jawabnya dengan mode angkuh khas seorang Diego Calvin Hernandez.
"em, Arini nya ada, om?" tanya Agus.
"ada...! ada di dalam. Kamu siapa?" tanya Diego yang tak menjelaskan statusnya di rumah ini.
Agus menampakkan senyuman lebarnya. Ia pikir laki laki itu adalah ayah Arini. Karena setahunya, Arini tinggal bersama ayahnya di rumah ini. Pemuda itu kemudian mengulurkan tangannya.
"perkenalkan, saya Agus, om. Temennya Arini. Saya mau ketemu Arini, boleh, om?" tanya Agus lagi.
Arini mengangkat dagunya. Menatap angkuh pemuda di hadapannya itu kemudian mengangguk samar.
"boleh.." ucapnya.
Agus nampak tersenyum lagi.
"baby...!" ucap Diego setengah teriak memanggil istrinya. Sedangkan matanya tak lepas mengamati penampilan Agus dari atas sampai bawah.
"apa?!!" sahut Arini dari dalam sana.
Agus nampak tersenyum mendengar suara wanita itu. Ah, rindu sekali ia dengan wanita itu. Mengingat dulu saat keduanya putus, mereka sama sama masih memiliki rasa. Hanya saja bu Tri yang tidak menurunkan restunya pada sepasang anak manusia itu.
Agus mencoba melongok ke dalam seolah tak sabar ingin melihat mantan pacarnya itu. Seperti apa ya wajahnya sekarang?! pikir Agus sembari senyum senyum tak jelas. Sesuatu yang berhasil di tangkap dengan jelas oleh mata tajam sang Diego.
"baby, keluar bentar..! ada yang nyariin.." ucap Diego setengah teriak dengan raut wajah datar dan terkesan ketus.
Arini yang berada di ruang televisi pun lantas bangkit. Sembari menggerakkan rambut panjangnya agar menutupi dada dan lehernya yang memang selalu dipenuhi bercak merah hasil karya sang Diego. Arini berjalan menuju ruang tamu. Mendekati suami kesayangannya itu yang sejak tadi memanggil manggil namanya.
"ada apa, da......... Agus?!!" ucap Arini kaget. Wanita itu nampak terkejut melihat kedatangan pria mantan pacarnya itu.
Wanita bersuami itu melotot. Mulutnya setengah terbuka. Sungguh, ia benar-benar tak mengira Agus akan datang kerumah ini. Apa yang ingin pria itu lakukan? apa ia datang untuk melabrak nya beserta ayah dan suaminya karena perintah dari ibunya?! Agus kan memang sangat menurut pada ibunya, pikir wanita itu.
"Arini...." ucap Agus berbinar. Putri kecil Calvin Alexander itu nampak menatap ke arah Agus dan Diego secara bergantian. Diego terlihat memasang mode datar. Pertanda ada sesuatu yang membuat laki-laki itu merasa tidak nyaman. Arini sudah hafal gelagat laki-laki tampan itu.
Arini nampak gugup sekaligus syok. Ia takut terjadi sesuatu. Mantan pacarnya datang kerumahnya tiba tiba. Dan suaminya sendiri lah yang membukakan pintu untuk pemuda yang pernah menjadi kekasih hati nya itu.
Belum sempat Arin berkata-kata, Agus sudah nyolong masuk melewati Diego, mendekati wanita yang ia kira belum memiliki suami itu.
Agus yang belum tahu tentang status Arini saat ini pun tanpa aba-aba meraih kedua punggung tangan wanita itu dan menggenggamnya erat. Arini nampak terkejut, tapi ia tak sempat untuk mengelak. Sedangkan Diego kini nampak melotot menatap istrinya di pegang pegang oleh pemuda itu. Jelas, api cemburu pasti berkobar dengan sangat dahsyat di dada Diego.
"Rin, apa kabar?! akhirnya kamu kembali ke sini juga..! aku khawatir sama kamu, Rin..!" ucap Agus.
Arini menatap ke arah Diego dan Agus pergantian. Ia berusaha melepaskan genggaman tangan laki-laki itu, namun sepertinya Agus meremas tangannya dengan cukup erat. Laki-laki itu belum menyadari kesalahan yang ia lakukan malam ini.
"Gus.......!" ucap Arini.
"Rin, aku kangen sama kamu..!" ucap Agus.
Arini menoleh lagi ke arah suaminya. Diego makin panas dengan raut wajah yang semakin tak bersahabat menatap ke arah pria dan wanita itu.
"Agus, lepasin.." ucap Arini mencoba melepaskan tangannya dari genggaman mantan pacarnya itu.
"kenapa?! Rin, aku nungguin kamu..! aku kangen sama kamu.." ucap Agus lagi tanpa merasa bersalah.
Arini menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Gus, aku....................."
daaaaaaaggggggghhhhh...!
Arini dan Agus terlonjak. Laki laki di depan pintu itu membanting daun pintu tersebut dengan kerasnya, membuat dua manusia disana pun terjingkat dibuatnya.
"daddy...." cicit Arini pelan. Diego berjalan mendekati istri nya. Dengan gerakan cukup kasar, ia meraih lengan sang istri, membuat genggaman tangan Agus atas Arini pun terlepas.
Digo kemudian menggenggam tangan wanita itu dengan posesif. Sedangkan matanya kini nampak menatap tajam ke arah Agus yang terlihat kaget dengan reaksi mengejutkan dari laki laki yang pikir adalah ayah Arini itu.
"duduk" ucap Digo pada pemuda itu sembari mengangkat dagunya seolah menunjuk ke arah sofa.
Agus nampak gugup. Laki laki dewasa di hadapannya itu terlihat sangat mengerikan.
"kau mau duduk atau keluar?!" tanya Digo kesal.
"i, iya, iya...om. Sa, saya duduk" ucap pemuda itu kemudian.
Agus lantas duduk di salah satu sofa disana. Sedangkan Diego kini nampak mendudukkan tubuhnya di salah satu sofa panjang disana bersama sang istri. Tangannya terlihat menggenggam erat telapak tangan Arini, seolah tak mengizinkan wanita itu untuk jauh jauh darinya, apalagi sampai bersentuhan dengan Agus.
Agus nampak menunduk. Sesekali ia melirik ke arah Arini dan laki laki yang ia pikir ayahnya itu. Arini terlihat menunduk. Tangannya di genggam dengan erat oleh pria yang kini menatapnya dengan sorot mata tajam membunuh. Laki laki dewasa itu terlihat sangat angkuh. Duduk bersandar di sandaran sofa dengan satu kaki di tekuk di atas satu kakinya.
"Ada perlu apa kau malam-malam datang kemari?" tanya Diego pada Agus dengan raut wajah menahan emosi.
Agus nampak mer*mas jari-jari tangannya. Ayah Arini ini seperti nya memang sangat galak dan protektif pada anak gadisnya, pikir Agus.
"sa, saya kesini mau ketemu Arini, om.." ucap Agus.
"untuk apa?" tanya Digo.
"em, itu..! katanya tadi pagi Arini berantem sama ibu saya, saya mau minta maaf, om. Sama om dan Arini. Maaf, ibu saya orangnya emang keras..." ucap Agus.
Diego mengangkat dagunya.
"jadi kau anak ibu ibu kurang aj*r tadi?" tanya Diego yang membuat Arini menoleh kearah suaminya.
"dad....." ucap wanita itu seolah ingin mengingatkan sang suami agar menjaga ucapannya. Takut menyinggung.
Agus menunduk.
"kenapa harus kau yang datang kemari? kenapa bukan ibumu?" tanya Diego lagi.
"em, karena, ini, saya kesini mewakili ibu saya..." ucap Agus.
Diego berdecih.
"kalau memang mau meminta maaf, suruh saja ibu mu yang datang ke mari, karena dia yang sudah kurang aj*r pada Arini, bukan kau..!" ucap Diego.
Agus menunduk. Arini sama sekali tak bersuara.
"ada lagi yang ingin kau katakan?" tanya Digo.
Agus makin gugup.
"a, itu, om. Saya sebenarnya juga pengen ketemu sama Arini. Udah lama saya nggak ketemu sama dia.." ucap Agus.
Diego menatap tajam ke arah pemuda itu.
"mau ngapel?" tanya Digo membuat Arini menoleh seketika.
"daddy...." cicit Arini.
Agus tersipu malu.
"kira kira begitu, om" ucapnya.
Arini memejamkan matanya mendengar ucapan terbuka dari Agus. Sedangkan Diego, kini kembali mengangkat dagunya. Menahan emosi dalam dirinya agar tidak pecah.
"kau mantan pacar Arini?" tanya Digo. Membuat Agus reflek mendongak menatap pria itu.
"kok, om tahu?" tanya Agus.
__ADS_1
Diego tak menjawab.
"sebenarnya memang iya, om. Saya kangen sama anak om" ucap laki laki itu.
Arini menggelengkan kepalanya dengan mata terpejam. Astaga, Gus..! mati beneran kau malam ini, Gus..!! batin Arini.
"kerja apa, kau?" tanya Diego lagi.
"daddy, udah.." cicit Arini membuat Diego kini menoleh ke arah sang istri lalu menatapnya dengan sorot mata melotot. Arini pun menunduk di buatnya.
"em, saya lagi coba ngelamar kerja di salah satu perusahaan di kota, om. Masih nunggu panggilan" ucap Agus.
Diego manggut manggut.
"perusahaan besar? banyak dong gajinya?" tanya Digo.
"lumayan, om. Bisa buat modal nikahin Arini nanti. Ya, walaupun banyak yang bilang, katanya pemilik perusahaan itu sombong, tapi ya nggak apa apalah, om. Yang penting duitnya..." ucap Agus makin membuat pemuda itu bak berada di tepi jurang.
Arini memejamkan matanya lagi. Makin bingung. Sedangkan Digo kini nampak mengangkat satu sudut bibirnya. Ia terlihat manggut manggut mendengar ucapan laki laki itu.
Suasana hening sejenak, Diego tak lepas mengamati penampilan Agus sejak tadi. Lalu...
"masih ada yang ingin kau sampaikan?" tanya Diego.
Agus mendongak.
"maksudnya, om?" tanya Agus.
"ini sudah malam..! aku selalu memberi peraturan, Arini harus sudah tidur sebelum jam sembilan malam. Jadi jika sudah tidak ada yang ingin kau sampaikan lagi, lebih baik kau pulang" ucap Digo.
Agus celingukan menatap laki-laki itu dan Arini secara bergantian. Kok begini? masa iya dia mau ngapel malah diusir sama bapaknya? apa laki-laki itu tidak menyukai Agus? tapi kenapa? apa karena bu Tri? tapi kan Agus sudah minta maaf..! ia juga sopan bertamu ke rumah itu...! ada apa ini?! pikir Agus.
"apa perkataan ku kurang jelas?" tanya Digo lagi saat tak mendapati respon dari Agus.
Pemuda itu nampak gugup.
"oh, iya, om. Maaf..." ucap pria itu kemudian buru buru bangkit dari posisi duduknya.
"kalau begitu saya permisi dulu, om, Arini" ucap Agus.
Digo yang tak mengubah posisi tubuhnya itu hanya diam tak merespon. Masih dengan sorot mata yang menatap tajam penuh keangkuhan ke arah pemuda yang sepertinya masih memiliki perasaan pada istrinya itu.
Agus menoleh ke arah Arini.
"Rin, aku pulang dulu, ya" ucap Agus.
Arini menunduk, lalu mengangguk.
"assalamualaikum" ucap Agus.
"waalaikumsalam.." jawab Arini lirih.
Pemuda itupun lantas pergi keluar dari rumah itu. Baru saja Agus melangkah keluar rumah, Diego lantas bangkit, kemudian menutup pintu rumah itu dengan sedikit kasar, membuat Agus yang masih berada di teras pun sedikit terjingkat kaget karenanya. Galak sekali bapak bapak ini..! pikir Agus.
Sedangkan dibalik pintu.
"muka kek patung kuda aja sok sokan lu, anj*nk...!" ucap Digo kesal dari balik pintu yang sudah tertutup.
Laki laki dewasa itu lantas berbalik badan, kemudian menuju kamarnya tanpa menghiraukan sang istri yang kini nampak menatap nanar ke arahnya.
Ngambek tuh kumbang tua keknya..!! pikir Arini.
...----------------...
Selamat pagi,
salam dua rekaat
up 04:10
yuk, dukungan dulu 🥰😘😘
__ADS_1