
Siang menjelang di studio tato milik Calvin Alexander...
Suasana tak terlalu ramai nampak terlihat di sebuah bangunan tempat pembuatan lukisan tubuh di kota itu.
Beberapa motor nampak terparkir di halaman. Beberapa pria bertato dengan tampilan tak terlalu rapi juga nampak duduk santai di sekitar tempat itu.
Sebuah mobil mewah berhenti di lahan parkir yang tak terlalu luas itu. Seorang pria tampan dengan kaos oblong putih dan celana jeans pendek nampak keluar dari mobil tersebut. Disusul sang istri yang terlihat manis dengan dress putih selutut disana.
Ya, itu adalah anak dan menantu Calvin Alexander, Diego dan Arini. Mereka datang memenuhi permintaan pria ngidam yang ingin ikut mertuanya ke tempat kerja pria berjambang lebat dan berambut gondrong itu.
Sepasang suami istri itu nampak berjalan dengan bergandengan tangan memasuki sebuah bangunan yang didominasi dengan warna hitam dan abu-abu itu.
"assalamualaikum....!!" sapa Arini manis.
"wa Alaikum salam....!" jawab beberapa pria bertato disana, termasuk pria berbadan jonggring Beno tato yang nampak berdiri di belakang etalase yang berada di ruangan depan bangunan dua lantai itu.
"dek...? kamu kesini?!" tanya pria itu, Ivan.
Arini mengulum senyum. Pria yang sudah menganggap Arini seperti adiknya sendiri itu pun mendekat.
"kalian kesini?" tanya Ivan lagi.
Arini mengangguk. Digo cuek. Pria itu nampak mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan yang dipenuhi dengan gambar gambar bernuansa punk, rock dan metal itu.
"iya, mas...! ada yang kangen sama bapak mertuanya" ucap Arini sembari melirik ke arah Digo.
"hhmmmkkk..." suara tawa yang tertahan itu lolos dari bibir Ivan. Membuat Diego pun menoleh ke arah pria berpostur tubuh tinggi kurus itu.
"apa lu? lu ngetawain gue?" tanya Digo sembari menatap remeh ke arah Ivan.
"enggak...! siapa? orang gue biasa aja...!" ucap Ivan.
Digo nampak berdecih sambil memalingkan wajahnya. Pria tampan nan kaya raya itu lantas memasukkan kedua telapak tangan ke saku celana jeans nya.
__ADS_1
"si gondrong mana?" tanya pria itu.
"gondrang gondrong gondrang gondrong...! dia bapak lu...! nggak sopan banget ..!!" ucap Ivan.
"bodo amat...!" ucap Digo kemudian kembali mengayunkan kakinya makin masuk ke dalam bangunan itu.
Arini hanya nyengir ke arah Ivan.
"maaf ya, mas. Digo emang agak nyebelin" ucap Arini.
"bukan nyebelin lagi, Rin..! Songong...!" ucap Ivan pada wanita hamil itu.
Arini hanya tersenyum.
"Arin susul dia dulu ya, mas.." ucap Arini.
"oke..! bapak lu ada di ruangannya. Lagi nge design kayaknya..." ucap pria itu.
Arini lantas mengangguk.
Digo diam sejenak mengamati dari luar.
Arini nampak mendekat.
"bapak ada di ruangannya, dad. Mau kesana?" tanya Arini.
Digo menoleh.
"boleh.." ucapnya.
Sepasang suami istri itupun lantas berjalan bergandengan, menaiki tangga ruangan itu untuk menuju ruangan pribadi Calvin Alexander yang berada di lantai dua.
ceklek.....
__ADS_1
pintu terbuka....
Sepasang suami istri itu masuk ke dalam ruangan itu. Membuat Calvin yang berada di dalamnya pun sedikit kaget melihat kedatangan mantu dan anaknya itu.
"kalian? ngapain disini?!" tanya Calvin.
"tuh, mantu kesayangan bapak, pengennya ngintil bapak terus..!" ucap Arini sembari mendudukan tubuh nya di atas sebuah sofa panjang berwarna hitam disana.
Sedangkan Digo hanya mengikutinya dari belakang.
Calvin yang nampak menghadap sebuah laptop itu terlihat berdecak kesal.
"lu nggak bisa banget ya, jauh dari gue?" tanya Calvin.
Digo berdecih. Ia lantas merebahkan tubuhnya di atas sofa panjang itu, kemudian menggunakan paha sang istri sebagai bantalnya.
"ke PD an lu..! ini juga keinginan anak gua..!" ucap Digo yang kemudian membenamkan wajahnya di perut Arini.
Calvin nampak berdecak kesal. Ada gila gilanya orang lagi kerja di kintilin..! Bakal kek mana itu bentuk bocah dalam perut Arini, hobi banget ngerecokin kakeknya...!
Dan hari pun terus berlanjut.
Calvin kembali melanjutkan aktifitas nya. Sedangkan sepasang suami istri disana kini nampak asyik duduk di sofa panjang itu, tanpa melakukan aktifitas yang berarti. Entahlah, Digo sebenarnya juga tak punya tujuan apapun untuk ikut dengan Calvin. Rasanya ia hanya tak ingin jauh jauh dari laki laki itu. Kemanapun Calvin pergi Digo selalu mengikuti. Bahkan ketika ada seorang pelanggan yang meminta di tato oleh pria itu, Digo dengan PD dan ngeyelnya ikut masuk ke dalam ruangan pembuatan tato dan menunggu pria itu bekerja.
...----------------...
Selamat pagi....
up 06:37
mungkin ini tinggal beberapa bab lagi menuju End ya... jadi banyakin dukungan dulu yukkk....
....
__ADS_1
Author kasih juga rekomendasi novel dari temen author yang lain, mampir boleh, yang penting jangan tinggalin aku pokoknya😁😁😁