My Fake Daddy

My Fake Daddy
MFD 136


__ADS_3

deeeeegggghhhh....


Arini terdiam. Seorang pria tampan nampak duduk di sebuah kursi rotan di teras rumah miliknya. Penampilan nya sedikit berbeda. Tubuhnya terlihat lebih kurus dari terakhir kali ia bertemu dengan laki laki itu.


Arini turun dari motor sang ayah yang ia tunggangi itu. Mimik wajahnya nampak datar, menatap ke arah laki-laki yang kini bangkit dari posisi duduknya tersebut.


Mau apa lagi laki-laki itu datang kemari? batin gadis muda tersebut. Wanita itu meletakkan helmnya di atas tank kendaraan roda dua itu.


Motor trail berwarna pink hitam yang di kendarai Calvin menyusul masuk ke halaman rumah itu. Fokus mata pria gondrong dan berjambang lebat dengan helm hitam di kepalanya itu langsung tertuju pada sesosok pria muda yang nampak berdiri di teras rumah miliknya tersebut.


Itukan Diego? mau apa lagi pria itu datang kemari? batin Calvin.


Dengan segera Calvin mematikan mesin motor trail milik sang putri, lalu turun dari sana sembari melepas helmnya.


Calvin pun segera mendekati sang putri.



Calvin melirik ke arah Digo dan Arini secara bergantian. Sedangkan Diego yang kini berdiri di teras rumah itu nampak berkali kali menarik nafas panjang, seolah ingin menetralkan degup jantungnya yang tak menentu.


Arini mengangkat dagunya. Gadis belia itu lantas menggerakkan kakinya, mengayunkan nya mendekat ke arah sang Diego, berniat untuk masuk ke dalam rumah dua lantai kediamannya itu tanpa memperdulikan keberadaan laki laki pembuat luka itu.


Namun saat ia melewati laki-laki itu, berniat untuk nyelonong masuk ke dalam rumahnya tanpa sudi menoleh ke arah pria itu, tiba-tiba....


seeeeetttt.....


Tangan yang terlihat lebih kurus dari biasanya itu meraih lengan putih anak Calvin Alexander tersebut.


"Arini, tunggu..!" ucap pria itu.


Arini reflek menepis tangan Diego atas lengannya. Membuat pria itupun sedikit kaget dibuatnya. Gadis itu nampak menatap tajam dengan mimik wajah tak bersahabat.


"aku mau bicara sebentar..." ucap Diego pelan.


Arini tak menjawab. Ia kembali berbalik badan hendak masuk ke dalam rumahnya itu, namun lagi lagi, Diego menahannya.


"Rin, tunggu, aku mau bicara sebentar..!"


seeeeet..


Arini menepisnya lagi. Menoleh dan menatap tajam ke arah Diego lagi tanpa berucap sepatah katapun.


Sungguh, ia lelah..! lelah dengan laki laki itu.


"kasih aku kesempatan ngomong, bentar aja..!" ucap Diego lagi dengan suara pelan penuh kesedihan serta guratan penyesalan.


"pergi, saya sibuk..!" ucap gadis itu pelan namun terdengar tegas.


Arini kembali berbalik badan. Diego belum menyerah.


"APASIH..?!!!" ucap Arini setengah teriak sambil kembali menghempaskan tangan Digo. Sorot matanya menajam. Dadanya naik turun seolah menggambarkan betapa kecewanya ia pada pria itu.

__ADS_1


Calvin yang sejak tadi hanya diam lantas mendekat.


"jangan teriak teriak. Malu di dengar tetangga..." ucap pria itu tenang.


Diego menelan ludahnya, menunduk, mengedarkan pandangannya seolah menatap lantai marmer itu satu demi satu. Arini makin dibuat kesal olehnya.


"masuk, kalau mau bicara. Kita ngobrol di dalam aja" ucap Calvin pada Digo membuat Arini reflek menoleh ke arah sang ayah.


"pak..!!!" ucap Arini seolah tak setuju dengan ucapan Calvin yang mengizinkan laki laki masuk ke dalam rumahnya.


"ini udah sore, mendung, sebentar lagi gelap. Nggak baik ngobrol di luar rumah" ucap Calvin tenang.


Arini memalingkan wajahnya.


"masuk.." ucap Calvin sambil menggerakkan tangannya, seolah mengajak laki laki itu untuk masuk ke dalam kediaman nya.


Diego yang seolah sudah tak punya muka untuk mendongak itu hanya bisa mengangguk. Ia pun mengangkat tangan nya, mempersilahkan Calvin dan Arini selaku tuan rumah untuk berjalan terlebih dahulu, disusul dirinya dibelakang.


Ketiga manusia itu pun masuk ke dalam rumah. Calvin mempersilakan Digo untuk duduk di salah satu sofa panjang di sana. a laki-laki gondrong itu duduk di sofa lainnya.


Arini nyelonong hendak masuk ke dalam kamar. Namun...


"Rin..." ucap pria itu.


Arini menghentikan langkahnya tanpa menoleh ataupun berbicara.


"mau ke mana?" tanya Calvin.


"Arin mau ke kamar, Pak. Istirahat, capek..!" jawab gadis belia itu tanpa menoleh.


Gadis itu hanya bisa berdecak kesal. Andai tidak ada sang ayah yang wajib untuk ia hormati dan dengar kata katanya, maka ia sudah memilih untuk mendiamkan laki laki itu dan tak akan menggubris nya sejak tadi.


Gadis itu kemudian berlalu pergi menuju dapur rumahnya. Membanting ranselnya dengan kesal di atas meja makan. Membuat sang ART yang berada di dapur terjingkat kaget dibuatnya.


Arini menuju meja dapur. Membuatkan dua cangkir kopi untuk ayahnya dan Diego sambil terus mengerucutkan bibirnya.


"ga onok potas yo iki?" ucap Arini seorang diri sambil menuangkan gula dan kopi ke dalam dua cangkir di hadapannya itu. Sungguh, ia benar benar tidak ikhlas membuatkan kopi untuk Diego.


*potas/ potasium sianida/ racun ikan.


Sementara itu di ruang tamu....


Calvin nampak duduk dengan tenang di atas sofanya. Menyandarkan tubuh tegap berotot itu di sandaran sofa sambil melipat kedua lengannya di depan dada serta menekuk kanannya di atas kaki kirinya. Sorot matanya tak lepas dari seorang pria tampan yang sejak tadi terlihat gelisah itu.


Membungkuk, menunduk, menggunakan kedua siku yang bertumpu di pahanya itu sebagai penopang tubuh tegap yang terlihat sedikit lebih kurus dari biasanya tersebut. Kedua telapak tangannya nampak di gerak gerakkan, saling mengusap usap seolah ingin menyalurkan kegugupan yang kini menderanya.


Sungguh, Diego tak pernah merasakan kegugupan seperti ini sebelumnya.


Bermodalkan keberanian, kenekatan, dan niat baik untuk memperbaiki hubungannya dengan gadis kecil yang berhasil membuatnya setengah gila. Pria matang itu datang ke markas musuh besarnya. Menurunkan ego, menggadaikan rasa malu, membuang jauh-jauh prinsip dan harga dirinya yang selama ini ia pegang teguh. Demi satu tujuan, untuk meminta maaf sekaligus meminta putri dari seorang Calvin Alexander.


Diego berkali kali membuang nafasnya.

__ADS_1


Tak..tak...tak...


Suara langkah kaki cukup kasar terdengar mendekat. Seorang gadis cantik keluar dari dapur menuju ruang tamu membawa sebuah nampan berisi dua cangkir kopi untuk Calvin dan Diego.


Dengan wajah tanpa senyuman, Arini meletakkan nampan itu di atas meja. Diego melirik sekilas gadis yang nampak menampilkan wajah galak itu.


Arini mengambil satu cangkir kopi kemudian diletakkan di depan sang ayah, lalu mengambil satu lagi kemudian diletakkan di hadapan Diego namun dengan gerakan yang cukup kasar


Diego diam diam kembali melirik sekilas ke arah gadis itu. Sepertinya kekesalan masih mendarah daging di hati Arini. Sejak tadi wanita itu terus memasang mode judesnya.


Andai tak ada hukum di negeri ini, mungkin Arini akan memilih untuk meminta Diego membuka mulutnya, lalu ia akan melemparkan kopi beserta cangkirnya itu langsung ke dalam mulut Diego.


Beset, beset dah...!! orang mah kalau kesel bebas...!!


Arini kemudian berbalik badan, hendak masuk kembali ke dalam dapur lalu pergi ke kamarnya. Namun baru selangkah ia menampakkan kakinya, tiba tiba...


"Rin,.." ucap Calvin.


Arini menoleh, masih dengan mode malasnya. Ia seolah sudah tahu, apa yang ingin ayahnya katakan. Pasti ia ingin Arini untuk tetap berada di ruangan itu..!


"pak, Arin mau istirahat, capek..!" ucap Arini.


"duduk dulu, ada tamu..! nggak sopan...!" ucap Calvin.


Arini mendengus kesal. Dengan berat hati gadis itu pun menjatuhkan tubuhnya dengan kasar di samping sang ayah.


Calvin tersenyum lembut. Ia lantas meraih kopi di hadapannya.


"ngobrol dulu, ya, berdua. Bapak mau mandi dulu" ucapnya sembari hendak bangkit dari posisi duduknya. Ia seolah ingin memberikan waktu untuk kedua manusia itu saling bicara dari hati ke hati.


Ia sadar, Diego mungkin kurang nyaman dengan keberadaan nya di ruangan itu.


Arini nampak melotot seolah tak mengizinkan sang ayah untuk pergi. Hingga tiba-tiba...


"tunggu..!" ucap seorang laki-laki yang sejak tadi hanya diam, sibuk dengan kegugupannya.


Ya, itu adalah Diego..! laki laki itu membuka mulutnya..!


Calvin dan Arini menoleh ke arah pria tampan tersebut.


"gue, em.. maksudnya, saya..! saya juga mau bicara sama anda.." ucap laki-laki itu pada Calvin kemudian.


Pria gondrong itu mengangkat dagunya. Ia yang sudah setengah berdiri itu diam sejenak, lalu tersenyum singkat.


"oh, baiklah..." jawabnya sambil mengangguk. Ia lantas kembali mendudukkan tubuhnya di posisi semula, bersiap untuk mendengarkan apa yang ingin Diego katakan.



...----------------...


Selamat sore,

__ADS_1


up 16:08


yuk, dukungan dulu 🥰🥰


__ADS_2