My Fake Daddy

My Fake Daddy
MFD 196


__ADS_3

Hari berganti hari, bulan berganti bulan...


Kehidupan para anak manusia terus berjalan dengan semestinya.


Kehamilan wanita cantik yang kini sudah berbahagia itu kian hari kian membesar. Tanpa terasa, usia kandungannya kini sudah menginjak bulan ke enam. Membuat perut yang semula rata itu kini sudah mulai membuncit.


Arini mulai rutin melakukan jalan santai di pagi hari bersama sang suami. Diego kini juga sudah lebih membaik. Ia sudah mulai bisa makan nasi meskipun masing sering muntah muntah di pagi hari. Dan hanya bisa di sembuhkan oleh aroma tubuh dari mertuanya.


Arini kini juga sudah mulai mengurangi aktifitas yang dikiranya akan membuatnya cepat lelah. Sedangkan Diego kini juga sudah mulai memperbanyak waktu berdua dengan sang istri. Meskipun untuk beberapa hari terakhir ini, pria itu nampak sedikit lebih sibuk, lantaran Sam sudah hampir empat hari absen dari kerjanya.


Laki laki itu izin keluar kota untuk beberapa hari. Ia ingin menemui putranya, juga keluarga mantan istrinya yang tinggal di kota tetangga. Ia datang kesana juga membawa sang kekasih, Giselle, guna memperkenalkan janda cantik itu sebagai calon istrinya.


Ingat kan, hubungan Sam dengan mantan istrinya, termasuk keluarga sang mantan bisa dibilang cukup baik, bahkan sangat baik.


Duda tampan itu sepertinya sudah mantap untuk menikah lagi dalam waktu dekat. Kedua manusia yang pernah gagal dalam membina rumah tangga itu memutuskan akan segera melangkah ke jenjang yang lebih serius dalam waktu beberapa bulan lagi. Mengingat mereka sama sama sudah pernah berkeluarga dan sama sama sudah memiliki buah hati, maka mereka pun tentunya perlu untuk meminta izin dari banyak orang. Mulai dari keluarga besar hingga anak anak mereka. Keduanya juga perlu mengurus surat surat dan keperluan lain untuk menggelar acara pernikahan.


....


Pagi ini,


sepasang suami istri itu nampak mengayunkan kaki mereka sembari bergandengan tangan, menyusuri jalanan komplek yang lengang sambil menikmati udara pagi kota besar itu.


Keduanya nampak berbincang santai sambil bercanda. Arini sesekali nampak memegangi perutnya, mengusap usap nya lembut sambil sesekali mengajak sang jabang bayi berbicara.


"hari ini ada jadwal cek ke dokter loh, sayang. Jangan lupa.." ucap Digo sembari menikmati sebutir permen di mulutnya guna menghilangkan rasa mualnya.


"iya, iya..! kan ntar daddy yang nemenin aku..." ucap Arini.


"iya..! agak keteteran juga sih Sam nggak ada" ucap Digo yang sudah tiga hari ini bekerja tanpa Sam.


"ya gimana, kan om Sam juga harus ngurus semua keperluan buat pernikahan nya sama kak Giselle." ucap Arini.


Digo tak menjawab. Arini nampak terkekeh.


"dunia ternyata sempit banget ya, dad..! kita yang saling kenal dalam satu lingkup yang dekat, sekarang jadi keluarga" ucap Arini.


Digo menoleh, lalu tersenyum.


"hmmm, iya..!" ucapnya.


Tangannya tergerak merangkul pundak wanita yang kini tengah mengandung benihnya itu.


"daddy juga nggak nyangka kalau ternyata jodoh daddy itu kamu.." ucap Digo.


"sama..! aku juga nggak nyangka kalau kedatangan aku ke kota ini tuh ternyata jalan Tuhan buat mempertemukan aku sama jodoh aku..! ya, walaupun jodoh aku om om, tapi ya udah lah ya...nggak apa apa..!" ucap Arini.


Digo berdecih.


"sok sokan bilang om om...! biar om om kamu juga doyan..!" ucap Digo sambil mengacak acak lembut pucuk kepala sang istri. Arini terkekeh. Digo kembali merangkul pundak wanita cantik itu.


Sepanjang suami istri itu pun kembali ke rumah mereka sambil terus bercanda. Digo tak lepas menggandeng tangan sang istri, sambil sesekali mengayunkan nya ringan dibarengi tawa tawa kecil diantara mereka.

__ADS_1


Tak lama, keduanya sampai di sebuah rumah berlantai dua kediaman mereka. Dimana seorang pria berambut gondrong nampak asyik melakukan push up di halaman depan rumah itu.


"assalamualaikum.....!!" ucap wanita hamil tersebut.


"wa Alaikum salam" jawab Calvin yang nampak menyudahi aksi memeras keringatnya.


"istirahat, pak..! udah siang, besok lagi..!" ucap Arini sembari melangkahkan kakinya menuju teras rumah.


"iya..." jawab Calvin sembari meraih handuk kecil guna mengelap keringatnya yang nampak bercucuran.


Digo yang berjalan di belakang Arini nampak cuek. Calvin mengulum senyum melihat menantu tampannya itu. Entah mengapa kini ia suka sekali menggoda Digo yang tengah hamil itu. ehh...


"ganteng nya bapak nggak pengen ketek?" tanya Calvin.


"bodo amat...!" jawab Digo tanpa menoleh. Ia terus melangkah masuk ke dalam rumah mengikuti sang istri yang kini nampak terkekeh. Begitu juga Calvin yang nampak menggelengkan kepalanya mendengar jawaban dari sang Diego.


Sepasang suami istri itu lantas masuk ke dalam rumah. Keduanya lantas berjalan menuju kamar untuk mandi dan membersihkan diri.


Arini mendekati meja riasnya. Meraih sebuah jepit rambut lalu mengikat rambut panjangnya itu tinggi sebelum mulai ritual mandi paginya.


Namun tiba tiba....


seeeeetttt.....


Sebuah tangan berbulu halus nampak memeluk tubuh yang mulai berisi itu dari belakang.


Arini menatap wajah seorang laki-laki tampan di belakangnya dari pantulan cermin. Dilihatnya di sana, Digo nampak tersenyum ke arah kaca besar itu. Kedua tangannya nampak memeluk erat tubuh sang sambil menenggelamkan wajahnya di ceruk leher wanita hamil itu.


"hmmm" jawab pria itu.


"buruan mandi..! bauk loh aku nya...!" ucap Arini.


"enggak kok..! daddy suka bau keringat kamu, sayang" ucapnya sembari memberikan kecupan kecupan lembut di kulit leher itu.


Arini hanya tersenyum. Tangan kekar itu kembali tergerak, kini mengusap usap lembut perut buncit tempat bersemayamnya calon buah hati pertama nya itu.


"hay, baby...! lagi apa kamu...?" ucap pria itu sembari menatap perut buncit sang istri.


Arini tersenyum. Digo lantas diam dengan mata menyipit, seolah tengah menajamkan pendengarannya, mendengarkan suara dari sang bayi yang berada di dalam perut itu.


"apa, sayang? kamu mau apa?" tanya Digo lagi.


Arini mengernyitkan dahinya.


"oh, kamu tanya jalan buat kamu keluar udah rampung di garap apa belum?" ucap Digo lagi membuat Arini pun reflek menoleh.


"gimana?" tanya Digo lagi. Ia diam lagi. Seolah mendengarkan lagi suara dari sang buah hati di dalam sana.


"oh, kamu takut kalau jalannya nggak mulus? minta daddy buat mulusin jalan kamu lagi? kan semalem udah, sayang..." ucap Digo lagi membuat Arini pun terkekeh.


"jangan mulus mulus, ntar kamu kepleset...!" ucap Arini menambahi seolah menjawab ucapan sang anak di dalam sana.

__ADS_1


"gimana, gimana, sayang?" tanya Digo lagi pada si bayi.


"oh, mommy kamu berisik ya? suruh nurut aja gitu ama daddy...?! iya, iya,...! jangan ngambek, dong..! ntar daddy bilang ama mommy kamu ya..! dah, kamu agak minggir dikit ya baby ya, daddy mau kerja dulu ama mommy, mulusin jalan kamu..! oke..." ucap Digo sembari terus mengusap usap perut buncit sang istri.


Arini terkekeh mendengar ucapan suaminya itu. Digo selesai dengan aksi nyeleneh nya. Ia lantas kembali memeluk erat tubuh itu.


"yuk...." ucap Digo.


"ngapain?" tanya Arini.


"kok ngapain sih? ya ngaspal jalan lah...! kan sesuai permintaan baby..! yuk..!" ucap Digo.


"itu sih bukan permintaan baby, dad..! tapi permintaan kamu...!" ucap Arini.


Digo hanya terkekeh. Ia makin mengeratkan pelukannya atas sang istri.


"yuk, sambil mandi aja...." ucap Digo lagi.


"pelan pelan ya..." ucap Arini.


"iya, nggak akan daddy banting banting kok..! paling di geplak dikit...!" ucap Digo membuat Arini pun reflek mencubit paha sang suami dengan gemas.


Digo tergelak.


"yuk...!" ucapnya lagi.


"ya udah ayok...!" ucap Arini.


Digo mengulum senyum. Ia pun mengangkat tubuh wanita itu, lalu membawanya menuju kamar mandi untuk melakukan rutinitas mandi pagi mereka sambil diselingi sebuah adegan khusus dewasa, pengaspalan jalan lahir.


.....


Bapak, Daddy dan Baby...πŸ€­πŸ˜πŸ˜πŸ‘‡πŸ‘‡





...----------------...


Selamat malam


up 19:43


yuk, dukungan dulu πŸ₯°πŸ₯°πŸ₯°


mampir juga kesiniπŸ‘‡


__ADS_1


__ADS_2