My Fake Daddy

My Fake Daddy
MFD 57


__ADS_3

"kak Giselle?!!" ucap Digo kaget. Matanya melotot seolah hendak keluar dari tempatnya, melihat kedatangan kakak perempuan nya tiba tiba.


Giselle yang datang dengan menggunakan setelan atasan hitam lengan panjang dan celana panjang itu nampak menatap tiga manusia yang berada di ruangan itu bergantian.


i



"lagi pada ngumpul?" tanya Giselle.


Diego nampak gugup. Arini bingung. Siapa wanita itu. Sedangkan Sam kini hanya diam. Ia terlihat lebih tenang dibandingkan yang lainnya.


Sam tersenyum.


"Giselle. Kamu kesini?" tanya laki laki itu.


Giselle tersenyum.


"iya. Kemarin dokter Irwan ngabarin aku. Katanya Digo sakit. Sebenarnya aku mau kesini kemarin. Tapi aku harus si....em, maksudnya, aku ada urusan kemarin, jadi baru bisa kesini hari ini...." ucap Giselle.


Sam tersenyum lembut.


"kamu lagi disini juga?" tanya Giselle.


"iya, jenguk dia.." ucap Sam sambil menoleh ke arah Digo yang nampak diam dengan raut wajah tegang.


Digo diam seribu bahasa. Mampus kalau sampai Giselle tanya tanya soal keberadaan satu satunya gadis di meja makan itu. Ia belum mempersiapkan jawaban untuk itu. Mau dijawab apa jika Giselle bertanya tanya tentang Arini?! tidak mungkin ia menjawab yang sebenarnya, jika Arini adalah anak Calvin. Dan tidak mungkin juga ia mengakui jika Arini adalah putrinya. Itu sangat mustahil, dan pastinya Giselle juga tak akan percaya.


Giselle yang masih acuh akan keberadaan Arini itu lantas mendekati sang adik. Ia berdiri di samping laki laki itu lalu menyentuh dahi, pipi hingga leher saudara kandungnya tersebut seolah ingin mengecek suhu tubuh Diego.


"muka kamu masih pucet, Go..! kamu belum mendingan? kerumah sakit aja yuk..!" ucap Giselle


"trus siapa yang ngerawat kamu kemarin?" tanya Giselle lagi yang memang sudah hafal dengan kebiasaan buruk Digo jika sedang sakit.


Arini diam tak bergerak. Ia hanya menggerakkan bola matanya tanpa menggerebek tubuhnya, seolah takut berbicara. Takut salah ucap..!


"em, itu, pembantu..! bik Sumi yang rawat aku...!" ucap Digo bohong.

__ADS_1


Arini melirik ke arah sang ayah sekilas. Begitu juga Digo yang nampak melirik ke arah Arini. Giselle nampak mengernyitkan dahinya.


Diego dirawat pembantu? kok aneh ya...?! wanita itu hafal betul seperti apa adik laki lakinya itu. Tak sembarang tangan bisa menyentuh tubuh berharga putra bungsu tuan Hernandez itu. Sepertinya sangat mustahil jika laki laki itu mau dirawat oleh pembantu saja saat sedang sakit...! sangat sulit diterima nalar.


Giselle lantas mengedarkan pandangannya ke segala arah. Rumah itu terlihat sepi. Terakhir ia ke sini dulu saat awal awal Digo menempati rumah ini, ada banyak sekali pelayan di rumah itu. Jumlahnya bisa puluhan. Berseragam sama, menjadi pembantu rumah tangga di kediaman Diego Calvin Hernandez.


Tapi kenapa sekarang rumah itu nampak sepi? hanya ada seorang pembantu yang nampak menyiram tanaman di taman kecil depan rumah Digo. Sedangkan sepanjang perjalanan ia dari teras menuju ruang makan, tak ada satupun pelayan yang terlihat.


Kok Giselle merasa aneh ya? sepertinya ada sesuatu yang disembunyikan oleh adiknya.


Giselle menatap penuh selidik ke arah Digo yang kini nampak mengusap setitik keringat di dahinya. Wanita tiga puluh delapan tahun itu lantas menyipitkan matanya. Fokus pandangnya kini tertuju pada seorang gadis belia yang nampak duduk diantara Sam dan Diego.


Siapa gadis kecil ini?


ia duduk dan makan bersama dua pria dewasa di rumah yang sepi ini. Hal itupun membuat wanita cantik berpenampilan anggun itu nampak menatap Arini dengan sorot mata menilai.


"ini siapa?" tanya Giselle sambil mengamati wajah gadis cantik itu.


Arini mendongak. Ia nampak gelagapan mendapati pertanyaan sederhana itu. Begitu juga dengan Digo, laki-laki itu refleks mendongak seolah gugup untuk mencari jawaban yang tepat atas pertanyaan yang Giselle layangkan. Padahal pertanyaannya sangat mudah untuk dijawab, bukan??


"em, ini...dia..." ucap Digo gagap.


"sa, saya..saya....." imbuh Arini tak kalah gugup membuat Giselle nampak mengernyitkan dahinya. Tingkah kedua manusia itu sangat aneh. Hingga....


"ini pacarku...." ucap Sam tiba tiba sembari merangkul pundak gadis belia anak Calvin Alexander itu


Giselle menyipitkan matanya. Digo dan Arini reflek menoleh ke arah laki laki itu. Digo menatap tajam duda mes*m itu. Sedangkan Arini nampak membuka mulutnya seolah ingin protes.


Sam mengedipkan sebelah matanya pada Arini seolah mengajak si gadis cantik untuk diam dan mengikuti permainan nya.


"pacar?!" tanya Giselle aneh. Ayolah, ini terlalu muda untuk jadi pacar Sam..!


"oh, oke...! cantik..." ucap Giselle.


Arini menunduk. Giselle menatap Arini dengan sorot mata aneh.


"ya udah, kalau gitu kalian lanjutin makan aja dulu. Aku tunggu di atas. Go, ntar kamu naik ya..." ucap wanita itu.

__ADS_1


Digo hanya mengangguk. Wanita itu lantas naik ke lantai dua. Meninggalkan ketiga manusia itu dan memilih menunggu di ruang keluarga yang berada di lantai atas.


Sementara di meja makan.


cetaaaaaakkk.....!


"anj*nk...!!" umpat Sam saat sebuah sendok melayang dan menghantam jidatnya.


"lu ngapain ngaku ngaku pacar anak gue..?!" tanya Digo kesal.


"gue nolongin lo, tolol..!" ucap Sam kesal. Kedua pria itu saling pandang dengan sorot mata tajam.


"lu mau gue terusin omongan gue disini? lu mau minta penjelasan gue?! makanya jadi orang jangan banyak ngibul..!" ucap Sam seolah mengisyaratkan untuk Digo mengikuti saja permainan Sam. Dari pada semua rahasia Digo terbongkar hari ini. Baik di depan Giselle ataupun di depan Arini. Tak mungkin kan Sam mengungkapkan alasannya berpura pura menjadi pacar Arini agar Giselle tidak tahu jika gadis itu adalah anak Calvin? Yang ada Arini akan tahu semuanya...!


Posisi Digo serba salah. Mau tak mau dia harus mengikuti permainan Sam.


Arini yang tak terlalu mengerti akan apa yang terjadi itu kini nampak diam. Dalam pemikiran nya ia beranggapan, seperti nya Digo masih malu mengakui Arini sebagai putri kandungnya. Padahal sepertinya wanita yang tadi datang adalah wanita baik. Apa susahnya sih mengatakan kebenaran jika ia adalah anak kandung Digo..? sebegitu tidak dianggap nya kah ia sebagai bocah yang terlahir di luar pernikahan??


Digo menatap Arini yang nampak sedih. Entah mengapa ia menjadi merasa bersalah.


"Arini .." ucap Digo pelan.


Arini mendongak. Ia tersenyum.


Digo nampak iba.


"ada apa, dad?" tanya gadis itu.


"em, enggak..! kamu lanjutin aja makannya..." ucap Digo lagi.


Arini hanya tersenyum sambil mengangguk. Aksi makan pagi itupun kembali berlangsung. Suasananya kini menjadi hening. Digo dan Arini sibuk dengan pemikiran mereka sendiri. Sedangkan Sam, kini merasa di atas awan. Setelah ini ia akan membawa Arini pergi berdua dengannya. Dengan alasan menjauhkan Arini dari Giselle. Diego tidak akan mungkin melarangnya sekarang.


Giselle, Giselle, sering sering deh datang ke sini🤭


Selamat pagi...


up 07:02

__ADS_1


yuk, dukungan dulu 🥰😘🥰😘


__ADS_2