My Fake Daddy

My Fake Daddy
MFD 68


__ADS_3

Diego & Arini




Malam menjelang,


Hujan lebat mulai mengguyur kota itu.


Di area halaman yang menjadi lahan parkir sebuah minimarket. Sebuah mobil mewah nampak terparkir di sana tanpa ada yang mengemudikan nya. Seolah tengah menunggu sang pemilik yang tengah sibuk membeli aneka camilan di dalam toko yang buka dua puluh empat jam tersebut.


Dua orang pria wanita nampak keluar dari mini market itu. Itu adalah Arini dan Diego. Keduanya baru saja membeli aneka makanan ringan setelah pulang dari bioskop.


Ya, sejak sore hingga malam keduanya asyik menghabiskan waktu bersama. Setelah berbelanja di salah satu pusat perbelanjaan modern di kota itu, Digo lantas mengajak Arini nonton. Lalu makan malam dan kemudian mampir lagi ke minimarket ini saat tengah dalam perjalanan pulang.


Arini memeluk tubuhnya sendiri. Hawa dingin menyeruak bersamaan dengan tetesan air hujan yang jatuh mengguyur bumi. Padahal saat mereka masuk minimarket tadi hujan belum turun. Kenapa sekarang malah jadi se lebat ini? pikir Arini.


"hujannya lebat banget, dad..!" ucap Arini.


Digo memicingkan matanya menatap langit. Suara petir dan hembusan angin yang cukup kencang. Sebagian air hujan pun seolah menyerbu area teras minimarket lantaran hantaman angin yang cukup kuat. Hingga membuat hawa dingin malam itu makin kuat dibuatnya. Mana jas Digo di tinggal di mobil pula.


"kita masuk mobil aja yuk. Biar nggak dingin.." ucap Digo.


Arini hanya mengangguk. Sambil membungkuk, menggunakan telapak tangan masing masing sebagai penutup kepala, kedua anak manusia yang tak terikat darah itu lantas berlari menerjang hujan, menuju mobil yang terparkir di halaman depan minimarket itu.


"huuuhh.....!!" ucap Digo saat berhasil sampai di dalam mobil. Diletakkannya kresek putih berisi aneka camilan itu.


"duh, basah semua..!" ucap gadis belia di sampingnya.


Digo yang nampak menyisir rambut basahnya ke belakang pun menoleh ke arah sang putri.


deeeeegggghhhh....


Digo terdiam. Jantungnya tiba tiba berdetak lebih cepat. Dilihatnya disana Arini dengan kemeja putih yang terlihat sedikit basah itu nampak menyisir rambut panjangnya. Mengikatnya tinggi dalam posisi duduk miring agak condong menghadap ke arah nya.


Darah Diego mengalir lebih cepat. Kemeja putih yang setengah basah itu berhasil menampakkan pemandangan menggoda birahi tiap lelaki. Sebuah benda berwarna merah dengan sebuah pengait dan dua tali terselampir di pundak kanan dan kiri terlihat cukup jelas membungkus benda ranum tak terlalu besar di dalam sana.


Diego mematung tak bergerak.


Arini mengikat rambut panjangnya. Memperlihatkan leher jenjang serta tengkuknya yang putih mulus tanpa noda.


deg...deg...deg....


Jantung itu berdetak lebih cepat. Gadis polos agak agak bodoh itu kembali memancing birah* sang Diego.


Ia merebahkan tubuhnya di sandaran kursinya. Merasa risih dengan kemeja basahnya, Arini menggerakkan tangannya. Sedikit mengibas ngibaskan telapak tangannya itu di depan dada, seolah ingin mengeringkan pakaian itu dengan tangan tersebut. Arini melepaskan satu kancing paling atas kemeja putih itu. Sedikit menunduk, meniup niup lembut dadanya yang juga basah karena air hujan yang berhasil menembus kain putih tak terlalu tebal tersebut.


Diego tak bergerak. Lidahnya bergerak menyapu ruang dalam mulutnya lalu permukaan bibirnya.


Laki laki mana yang tak akan tergoda imannya jika berada satu mobil dengan gadis delapan belas tahun yang sedang mekar mekarnya seperti ini. Apalagi kondisi tubuh Arini yang sedikit basah. Astaga, setan...! pergi jauh jauh kau dari pikiran pria matang ini.


Arini masih sibuk dengan kemejanya. Ia terus meniup niup dada itu, hingga....


deeeeegggghhhh..


Arini terdiam.


Seonggok wajah tampan mendekat ke arahnya. Pria itu secara tiba tiba bergerak meringsut mendekati nya, lalu mengungkungnya. Satu tangan Digo bertumpu pada pintu mobil, sedangkan satu tangan lain bertumpu pada sandaran kursi yang Arini duduki. Jarak diantara mereka sangat dekat, membuat hembusan nafas laki laki dengan jambang tipis itu berhasil menerpa wajah cantik putri Calvin Alexander itu.

__ADS_1


Arini tak bergerak. Digo menatap Arini dengan sorot mata lapar. Laki laki itu fokus pada bibir merah muda yang kini nampak sedikit terbuka itu. Sesekali lidahnya bergerak di dalam mulut sana. Rasanya ingin sekali ia memangsa habis gadis lugu itu.


"daddy..." ucap Arini pelan.


Digo memejamkan matanya sambil tersenyum merasakan aroma nafas gadis muda belia itu.


Jantung Arini berdetak tak karuan. Netra bulat itu terpaku menatap pria tampan dengan jambang tipis dan senyuman manis yang berada di hadapannya itu. Pria matang itu nampak kembali membuka matanya. Menggerakkan tangan nya membelai beberapa helai anak rambut Arini yang tak terikat tali itu.


"dad..." ucap Arini lagi dengan jantung yang makin berdebar tak aman.


Digo tersenyum.


"apa?" tanya laki laki itu lembut.


"da, daddy mau ngapain?" tanya Arini.


Digo tersenyum lagi. Tangan kekar itu kini bergerak membelai pipi mulus itu, lalu bergerak menuju bibir merah muda itu dan mengusap usapnya lembut menggunakan ibu jarinya.


"dengar baik baik, baby. Sebagai seorang gadis kecil, ada satu hal yang harus kamu tahu" ucap Digo begitu lembut. Suara beratnya terdengar begitu candu di telinga Arini. Bersahutan dengan suara air hujan yang makin deras mengguyur bumi.


"kau sudah dewasa, ibarat setangkai bunga kau adalah incaran pada kaum Adam. Ada hal yang perlu kau hindari ketika sedang bersama laki laki. Siapapun itu." ucap Diego.


Arini tak mengerti.


"maksud daddy?" tanya Arini.


Digo tersenyum.


"jangan pernah menunjukkan sesuatu yang indah dalam dirimu untuk laki laki yang belum pantas melihatnya." ucap Digo.


"setan bisa menggoda siapa saja, baby. Dimana saja, dan kapan saja" ucap Digo lagi sambil terus berusaha mengontrol dirinya sendiri.


Arini dengan otak sedikit lemot nya memiringkan kepalanya. Wajah bodohnya terbentuk. Membuat dada Diego makin bergerak naik turun menahan sesuatu di dalam sana.


"maksud daddy apa? Arin nggak ngerti" ucap Arini polos.


Digo tersenyum.


"boleh daddy minta tolong?" tanya Diego.


"apa, dad?" tanya Arini.


"tutup mata kamu, baby" ucap laki laki itu sambil terus memfokuskan matanya pada bibir merah muda itu.


"tutup mata?" tanya Arini.


Digo mengangguk.


"Buat apa, dad?" tanya Arini polos.


"tutup aja..." ucap Digo lagi.


Arini hanya bisa mengangguk. Ia pun mulai memejamkan matanya seperti yang ayahnya perintahkan.


Lalu....


"i love you, baby"


Deeeeegggghhhh.....

__ADS_1


suara itu berbisik lembut. Nafas laki laki itu bahkan berhembus lembut mengenai daun telinga mungil Arini.


Arini diam mematung. Sebuah kecupan lembut juga terasa di sana. Membuat gadis yang masih suci itu kini nampak bodoh, seolah tak bisa mencerna apa yang sedang terjadi.


Arini erlahan ia membuka matanya. Seonggok wajah tampan sudah berada di hadapannya, semakin dekat dengan sebuah senyuman yang begitu manis. Ujung hidung keduanya menempel. Hembusan nafas Digo terasa jelas menerpa wajah ayunya.


"kan daddy bilang tutup mata. Kenapa di buka matanya?" tanya Digo lembut sambil kembali membelai anak rambut Arini.


Arini tak bergerak. Dalam hatinya ia memuji pria itu. Astaga..! Ayahnya tampan sekali. Senyumannya manis. Pahatan parasnya sempurna dengan bulu bulu halus menghiasi rahang tegasnya. Pantas saja ibunya dulu bisa terpikat dengan pria ini.


Astaga, Tuhan. Perasaan apa ini? Ini ayah kandung mu sendiri, Arini...! jaga mata dan pikiranmu, dasar tolol..! batin gadis itu mengutuk perasaannya.


"kamu mikirin apa?" tanya Digo tanpa mengubah posisi tubuhnya. Kini tangan itu bahkan bergerak mengusap lembut pipi mulus itu.


Arini menggelengkan kepalanya.


Digo tersenyum. Ia kembali menggerakkan kepalanya. Dikecupnya kening wanita itu lembut dengan waktu yang tidak singkat. Membuat Arini kembali diam tak bergerak.


Laki laki itu mengacak acak lembut rambut gadis itu lalu memundurkan tubuhnya.


Diraihnya jas yang sejak tadi ia lipat di belakang tubuhnya lalu menyerahkan nya pada Arini.


"pakai ini. Tidur di belakang sana" titah Diego.


"nggak usah, dad" ucap Arini.


"hujannya makin deres. Kamu tidur aja di belakang. Pakai ini buat selimut. Nanti kalau udah sampai rumah daddy bangunin.." ucap Digo perhatian.


Arini diam sejenak. Ia menunduk lalu menoleh ke arah sang ayah. Laki laki itu nampak tersenyum lembut.


Arini pun mengangguk.


Dengan segera ia melangkah menuju kursi belakang mobil mewah itu. Digo menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi. Akhirnya Arini sedikit menjauh dari nya. Setidaknya dengan begitu ia lebih bisa mengontrol hawa nafsunya.


Digo mulai memejamkan matanya. Melipat kedua lengannya di depan dada, mengistirahatkan tubuhnya sambil menunggu hujan reda.


Namun tiba tiba...


cup.....


Digo mematung dengan mata yang terbuka. Arini datang dari belakang. Mencium pipi Digo tiba tiba membuat pria itupun kaget dibuatnya.


"selamat malam, daddy..! makasih buat hari ini. Love you too.." ucap Arini riang. Seolah ingin membalas ucapan sang daddy tadi yang belum sempat ia jawab.


Arini pun bergegas merebahkan tubuhnya di jog belakang. Tidur meringkuk dengan kemeja Diego sebagai selimut nya. Ia pun mulai memejamkan matanya tanpa dosa.


Sedangkan di kursi kemudi. Digo mengumpat hebat dalam hatinya. Disentuhnya benda mengeras yang seolah sudah tak sabar minta dikeluarkan dari sarangnya.


Ia memejamkan matanya sambil memukul pelan kaca mobilnya.


"anj*nk..! ini gimana?! sh**..!" gumam Diego kesal.


Diego mengusap wajahnya kasar. Gini amat jadi bapak gadungan. Padahal bisa saja ia memangsa gadis cantik itu saat ini juga. Tapi entah mengapa ia tidak tega. Naluri nya kini mengatakan ingin menjaga Arini dan memastikan ia nyaman di sampingnya, bukan merusaknya. Meskipun kesempatan emas bertubi tubi menghampiri nya, namun sepertinya laki urung melakukan hal itu. Ia tak mau merusak gadis itu. Ia harus tetap menjadi gadis polos yang suci.


...----------------...


Selamat sore menjelang malam,


up 17: 44

__ADS_1


yuk, dukungan dulu 🥰😘


__ADS_2