
Kembali ke sebuah rumah sakit tempat di mana Diego dan Arini dirawat...
Jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam, pertanda jam besuk rumah sakit sudah berakhir.
Seorang pria berambut gondrong dengan jambang lebat keluar dari ruang IGD. Dengan langkah gontai dan sorot mata sayu tak bersemangat, pria itu mendekat ke arah dua pria bertato, anak punk yang sejak sore menunggu Arini di luar ruangan itu.
"bang..." ucap salah satu laki laki bertato itu, Ivan.
Calvin tak menjawab.
"Arini belum sadar, bang?" tanya Ivan lagi.
Calvin menggelengkan kepalanya.
"kalian kalau pada mau pulang, pulang aja nggak apa apa. Biar gue yang nunggu disini" ucap Calvin.
"iya, bang" ucap Ivan dan satu rekannya sambil mengangguk. Keduanya pun lantas bangkit mendekati sang bos sekaligus temannya itu. Berniat untuk berpamitan pada duda satu anak tersebut. Namun tiba tiba.....
tak..tak.. tak....
Deru langkah kaki beberapa orang terdengar mendekat. Ketiga pria itu menoleh ke salah satu arah dimana tiga orang pria berpakaian preman nampak berjalan mendekat ke arah mereka di ikuti seorang wanita berparas anggun di belakangnya, Giselle..!
Tiga pria itu terdiam. Ivan yang berdiri di samping Calvin pun nampak memasang mode awas melihat kedatangan tiga pria berbadan tegap itu. Sedangkan Calvin terlihat tenang.
"bang, itu kayaknya polisi..! kayaknya kakak nya Diego bener bener ngelaporin lu,.bang..! mending sekarang lu lari...! pergi, bang..!!" ucap Ivan.
Calvin tak bergeming.
"bang, lari..!" ucap Ivan lagi sambil menarik narik jaket Calvin. Sungguh, laki laki itu khawatir. Ia yakin, pasti tiga orang laki laki itu adalah polisi yang dibawa Giselle untuk menangkap Calvin.
Calvin masih diam tak bergerak. Ia hanya menatap datar kearah pria yang diduga polisi itu.
"selamat malam" ucap salah seorang laki laki dengan jaket hitam disana.
"malam" jawab Calvin tenang. Giselle yang berada di samping sang pria nampak menatap ke arah Calvin dengan sorot mata tak suka.
"dengan saudara Calvin Alexander..?" tanya laki laki itu lagi.
__ADS_1
"iya, saya sendiri" ucap Calvin lagi.
"kami dari pihak kepolisian. Kami mendapatkan laporan dari nona Giselle Hernandez, yang melaporkan anda terkait pemukulan yang anda lakukan terhadap saudara Diego.." ucap si laki laki yang ternyata memanglah seorang polisi itu pada Calvin.
Calvin sama sekali tak menunjukkan mimik wajah terkejut. Laki laki itu sama sekali tak melakukan perlawanan ataupun pembelaan meskipun Ivan sejak tadi memintanya untuk lari. Laki laki itu seolah sudah tahu, bahwa hal ini pasti akan terjadi.
"pak, ini salah paham..! dapat informasi dari mana kalau bang Ale ngelakuin pemukulan..! ini nggak bener..!" ucap Ivan membela.
"dari cctv masjid yang sudah saya serahkan ke polisi..!" sahut Giselle sambil melipat kedua lengannya di depan dada. Wanita itu nampak menatap tajam ke arah Ivan yang seolah masih tak percaya dengan penangkapan bos nya ini. Bukan kah kemarin Sam sudah berjanji akan membantunya untuk mempertemukan Calvin, Giselle, Diego dan Arini? tapi kenapa jadi begini??
Ceklek,
pintu IGD terbuka. Sam keluar dari ruangan itu. Ia nampak membelalakkan matanya sambil celingukan mencoba menerka nerka apa yang terjadi di tempat ini. Kenapa semua berkumpul disini dengan ekspresi wajah yang terlihat tegang?.
"ini surat penangkapan anda. Silahkan ikut kami ke kantor polisi" ucap si polisi itu lagi sambil menyerahkan secarik kertas pada Calvin.
Laki laki itupun menerima kertas tersebut, namun tak membuka surat itu. Ia hanya diam. Ivan yang sejak awal ingin melindungi laki laki itu pun merampas selembar kertas di tangan Calvin tersebut. Di bukanya kertas putih itu dengan cepat lalu membacanya.
"bawa dia" titah polisi berbadan tegap itu pada dua anak buah yang berdiri di sisi kanan dan kirinya..
"siap..!" jawab kedua anak buah itu dengan suara lantang dan tegas.
"pak, jangan dibawa dong..! anak nya lagi sakit..!!" ucap Ivan.
"kamu diam..! jangan menghalangi kerja polisi..!"
"tapi ini bisa dibicarain baik baik, pak..! ini cuma salah paham..!!" ucap Ivan terus berusaha menarik tubuh bos nya itu dari tangan polisi.
"Van, udah..!" ucap Calvin.
"nggak bisa, bang..! lu harus tetep disini..! Arini gimana..?!" tanya Ivan terlihat khawatir
"pak, lepasin bos saya dong, pak..!" ucap pria bertato itu lagi.
"Van, udah..! gue nggak apa apa..! lu tetap disini, jagain anak gue..!" ucap Calvin pada Ivan.
"tapi, bang..!" ucap pria bertato itu seolah tak mau melepaskan Calvin begitu saja.
__ADS_1
"udah, gue baik baik aja..! gue bisa jaga diri gue..! gue titip Arini ama lu..!" ucap Calvin kemudian berlalu pergi mengikuti sang polisi yang kini menyeretnya keluar dari rumah sakit itu.
Ivan menatap nanar pria tersebut. Ia mengusap wajahnya kasar. Giselle diam antara puas dan bingung melihat reaksi anak punk yang kini nampak kalut sambil menjambak rambutnya sendiri itu. Sedangkan Sam terlihat bingung.
Ada apa ini? kenapa sudah ada polisi? sedangkan ia belum berangkat ke masjid? apa yang terjadi sebenarnya?? pikir Sam yang masih belum bisa mencerna apa yang terjadi. Tiba tiba....
buuuuuuuuuuggggghhhhh....
"anj......" ucap Sam reflek ketika Ivan dengan kesalnya mendorong pundaknya.
"lu gimana sih, bang?! katanya lu mau bantuin gue..? kita sepakat mau damaiin temen lo ama bang Ale. Kenapa sekarang malah bang Ale dibawa polisi?! Arini gimana?!!" tanya Ivan menggebu.
"gue nggak tau..!" ucap Sam.
"nggak tau gimana? jelas jelas polisi bawa bang Ale..! dan cewek ini bilang dia udah dapet rekaman cctv nya..?! katanya lu mau jelasin..?! mana buktinya...?!!" ucap Ivan kalut.
Sam makin bingung. Tolonglah, ia sejak tadi hanya menemani Diego sambil menunggu kedatangan Giselle.. Ia tak tahu apa apa..!
Sam nampak memejamkan matanya. Menarik nafas panjang, mencoba menenangkan dirinya di tengah kepanikan yang terjadi di ruangan itu.
"oke..! bentar...! lu tenang, lu disini. Biar gue jelasin dulu masalah ini ama dia. Oke..." ucap Sam pada Ivan sembari menoleh ke arah Giselle di akhir kalimat nya.
Ivan yang nampak emosi pun tak menjawab. Dadanya terlihat naik turun. Ia bahkan menghempaskan tangan Sam ketika pria itu menyentuh pundaknya.
Sam menoleh ke arah Giselle yang masih berada di tempat itu.
"Gue mau bicara ama lo bentar" ucap duda tampan mantan teman sekolah kakak Diego itu.
Giselle diam. Lalu mengangguk samar.
Sam meraih tangan Giselle, lalu membawa calon janda cantik itu pergi dari tempat tersebut untuk berbicara empat mata.
...----------------...
Selamat pagi menjelang siang...
up 10:33
__ADS_1
yuk, dukungan dulu 🥰🥰