My Fake Daddy

My Fake Daddy
MFD 131


__ADS_3

Sam keluar dari rumah megah milik sang Diego. Sorot mata tajam nya langsung tertuju pada dua sosok pria beda postur yang nampak berdiri menunggu di balik pagar besi tinggi menjulang itu.


Sam berjalan mendekati kedua pria itu. Dibukanya pagar besi itu. Membuat Calvin dan Ivan kini nampak menatap tajam ke arah duda tampan di hadapan mereka tersebut.


"tuan Calvin?" ucap Sam. Calvin masih dalam mode garangnya.


"ada perlu apa anda malam malam datang kemari?" tanya Sam.


"mana temanmu itu?!" tanya Calvin tanpa basa basi.


"siapa? Diego?" tanya Sam baik baik. Calvin tak menjawab. Ia hanya terus menatap garang penuh kebencian terhadap laki laki itu.


Dari dalam rumah, Giselle datang bersama pak Asep, mendekati tiga pria tersebut.


"ada apa ini?" tanya Giselle yang baru datang.


Wanita itu menoleh ke arah duda berewokan itu.


"Calvin? ada apa?" tanya Giselle.


Calvin masih menunjukkan wajah penuh amarahnya.


"mana adikmu?!" tanya pria itu kemudian.


"Digo? dia belum pulang..! memangnya ada apa?" tanya janda cantik itu lagi.


"kemana dia?! aku mau bertemu dengannya malam ini juga..! aku butuh penjelasan darinya..! katakan dimana dia sekarang..!!!!" tanya Calvin lagi.


"dia nggak ada dirumah, emang nya ada apa sih? ada masalah apa lagi?!!" tanya Giselle tak mengerti.


"asal kau tau, Giselle, adikmu yang tolol itu lagi lagi sudah mengusik putriku..! dia mempermainkan perasaan Arini, dia membuat anak gadis ku menangis semalaman ini...!"


"aku butuh penjelasan dari bedeb*h itu sekarang..! aku ingin tahu, apa maksudnya menyakiti perasaan Arini?!!" ucap Calvin.


"Arini nangis karena Digo? emangnya kenapa sih? ada apa?!!" tanya Giselle.


Calvin pun mulai menceritakan kejadian yang terjadi diantara Diego dan Arini berdasarkan apa yang Arini katakan padanya. Ia bercerita mulai dari aksi Diego yang menyatakan cintanya pada gadis kecilnya namun kemudian di susul dengan sebuah kekecewaan yang Arini rasakan. Calvin juga menyebutkan mengenai Diego yang baru saja menyatakan mundur dari kehidupan Arini, dengan alasan memberi jalan untuk seseorang masuk ke dalam kehidupan Arini.


Entah apa maksudnya. Diego tak menyebut nama. Tak ada yang tahu siapa sosok yang maksud laki laki itu.


Giselle nampak diam. Mungkin alasan ini pula yang menjadi dasar Diego mengambil keputusan untuk pergi ke luar negeri.


Giselle menarik nafas panjang sembari memijit mijit pelipisnya. Lagi lagi adiknya membuat ulah...! lelah sekali ia menghadapi sikap Diego..!


Wanita itu jadi penasaran, sebenarnya apa yang terjadi di antara Diego dan Arini. Padahal ia baru saja ingin menjelaskan mengenai hubungannya dengan Calvin yang sebenarnya tidak ada apa apa. Atau lebih tepatnya, tidak mendapatkan respon apa apa.


Namun sayang, walaupun sudah ditunggu sejak sore nyatanya Diego tak kunjung pulang juga.


Giselle terdiam. Ia teringat sesuatu. Dengan cepat ia mendongak, menatap ke arah Sam dan Calvin bergantian. Ia jadi ingat tentang boneka di depan rumah Calvin serta beberapa barang Arini yang masih tersimpan rapi di kamar Diego.


"apa?" tanya Sam.


Giselle membuka mulutnya.

__ADS_1


"jangan jangan ini cuma salah paham..?!" ucap Giselle mencoba mengambil kesimpulan.


Sam mengernyitkan dahi nya.


"aku nemuin barang barang Arini masih disimpen Diego di kamar nya. Diego tuh masih punya perasaan khusus sama Arini..!" ucap Giselle.


"jika itu memang benar benar terjadi harusnya adikmu tidak melukai perasaan gadis kecil ku..!" ucap Calvin.


"ini salah paham..! Diego berfikir kita punya hubungan khusus, makanya Diego memilih mundur..!" ucap Gisellle lagi.


"kamu inget kan, boneka beruang yang aku temuin didepan rumah kamu? itu dari Diego..! dia pernah datang ke rumah kamu, tapi balik pulang lagi karena dia liat aku ada disana...! mungkin itu yang jadi alasan Diego mundur..! karena dia pikir dia udah nggak punya kesempatan lagi untuk deketin Arini..!" ucap Giselle lagi.


Sam memejamkan matanya.


"dasar bego..!" umpat Sam pelan.


Calvin hanya diam sembari mengangkat dagunya. Giselle lantas menoleh ke arah Sam.


"Sam, kamu tau nggak ya, kira kira Diego kemana? kita harus buru buru nemuin dia dan jelasin semuanya sebelum terlambat. Pagi ini dia akan berangkat ke luar negeri" ucap Giselle.


"ya mana gue tau..!" ucap Sam.


Calvin membuang nafas panjang.


"ya udah, deh. Mending gini aja, tuan Calvin, Giselle sekarang kita pakai mobil Giselle, kita cari Digo bareng bareng..! kita mesti selesai in ini semua malam ini juga sebelum Diego pergi. Kita jelasin se jelas jelasnya dari pada semua masalah yang sebenarnya cuma salah paham ini berlarut larut" ucap Sam.


"terserah nanti setelah ini gimana respon Digo dan apa yang akan dia lakuin setelah ini. Yang penting kita cari dulu Diego, kita jelasin semuanya, biar nggak ada lagi salah paham diantara kalian" ucap Sam.


"gue setuju..! daripada begini mulu." tambah Ivan yang sejak tadi diam.


Calvin diam sejenak, kemudian mengangguk.


"ya udah, kita pergi sekarang. Pakai mobil aku aja..." ucap Giselle.


Keempat manusia dewasa itu pun lantas menuju mobil merah berharga fantastis milik janda cantik itu. Sam yang mengendalikan kemudi itupun lantas melajukan kendaraannya menembus jalan raya yang nampak masih lengang. Sedangkan Giselle yang berada di sampingnya nampak berkali kali mencoba menghubungi adik laki laki nya labil itu untuk menanyakan dimana posisinya saat ini.


...****************...


Beberapa jam kemudian,


Saat mentari mulai menampakkan sinar terangnya,



Disebuah hotel yang letaknya tak terlalu jauh dari bandara. Seorang pria tampan nampak sudah rapi di dalam kamar hotel tempat nya menginap semalam.


Untungnya ia selalu membawa beberapa perlengkapan pribadi miliknya di dalam mobil, membuatnya tak perlu susah susah pulang hanya untuk sekedar mengganti baju ataupun mengambil beberapa barang barang yang mungkin di butuhkan nya untuk di bawa terbang ke negeri orang.


Diego mendudukkan tubuhnya di tepi ranjang. Dinyalakan nya ponsel yang sejak semalam dimatikan setelah ia bertelepon dengan sang kakak.


Diego diam. Ada ratusan pesan dan panggilan tak terjawab dari wanita itu sejak dini hari tadi. Diego membuka riwayat panggilan nya, namun tidak membuka pesannya. Sudah terlalu menumpuk. Capek bacanya.


Diego memasukkan benda pipih itu ke dalam saku celana jeans nya. Dengan segera ia meraih tas ransel miliknya yang berisi barang barang pribadinya yang selalu ia letakkan di dalam bagasi mobil.

__ADS_1


Laki laki tampan itupun keluar dari dalam kamar tersebut. Dengan wajah datar tanpa semangat sedikitpun ia melangkah kan kakinya menuju restoran yang berada di lantai bawah hotel tersebut untuk sarapan.


Jam masih menunjukkan pukul setengah enam pagi, sedangkan pesawat nya akan terbang pukul tujuh pagi. Masih ada waktu satu setengah jam untuk dirinya menunggu sembari mengisi perutnya di resto itu.


Diego duduk di salah satu bangku yang berada disana. Laki laki itu kembali melamun. Wajah gadis kecil itu kembali menari nari dalam ingatannya.


Setelah ini ia akan pergi dari tempat ini. Mengubur semua kenangannya dengan dua wanita beda usia yang sangat dicintainya. Melupakan semua kisah kelamnya. Memulai hidup baru sebagai laki laki malang yang bahkan diusianya yang sudah menginjak tiga puluh lima tahun belum juga berkeluarga.


Malang sekali nasib anak tuan Hernandez ini. Harus terpisah dengan wanita yang sudah berhasil membuatnya bak orang gila.


Secangkir kopi dan sepotong sandwich daging datang. Seorang pelayan wanita nampak menghidangkan santapan pagi pilihan Diego itu di atas meja laki laki tersebut. Diego pun mulai menikmati santap paginya sebelum berangkat ke bandara.


...****************...


06:30


Setengah jam sebelum jadwal keberangkatan, pria itu sudah sampai di bandara yang letaknya tak jauh dari hotel tempatnya menginap. Dengan celana jeans, jaket jeans membalut kaos putihnya, sneaker putih, serta sebuah kacamata hitam membalut mata sendunya, pria tampan dengan sejuta pesona itu nampak mengayunkan kakinya menuju pintu keberangkatan. Sebuah headset tertancap di telinga nya. Memperdengarkan alunan musik kesukaan nya yang sebenarnya sama sekali tak bisa menghibur hatinya yang tengah galau.


Diego terus melangkah. Berusaha tetap tegak meskipun dalam hatinya seolah ingin ambruk. Sangat berat baginya meninggalkan negara ini. Namun mau bagaimana lagi, baginya ini adalah pilihan terbaik untuk nya, Arini, serta Giselle, kakaknya.


Diego sampai di depan pintu keberangkatan. Laki laki itupun hendak masuk kedalam sana. Namun tiba tiba....


.


.


.


.


sreeeeetttt.....


buuuuuuuuuuggggghhhhh.......


.


.


.


.


bersambung 😁


capek tangannya😁😁😁


...----------------...


Selamat pagi


up 08:07


insya Allah lanjut sore ya, kalau bisa tapi😁😁

__ADS_1


yuk kasih dukungan dulu πŸ₯°πŸ˜˜πŸ₯°


__ADS_2