My Fake Daddy

My Fake Daddy
MFD 111


__ADS_3

Hari berganti,


Gadis cantik berkulit putih itu nampak sudah rapi. Dengan kaos panjang putih dan celana cargo panjang berwarna hitam miliknya, gadis itu berjalan menuju meja makan sembari mengikat rambut panjangnya.


Arini mengulum senyum. Sang ayah nampak berdiri di samping meja makan sembari menyeruput kopi paginya. Sedangkan di tangan sebelah kanannya nampak sepotong roti yang sudah tak utuh lagi. Sepertinya pria itu sudah menggigit nya.


Arini berjalan berjingkat. Setengah berlari mendekati sang ayah. Lalu...


"doooooorrrrr.....!!"


gadis itu memeluk Calvin dari belakang dengan tiba tiba dengan maksud mengagetkan ayah kandungnya itu. Namun Calvin hanya tersenyum, sama sekali tak terkejut.


Arini mengerucutkan bibirnya. Mendongak ke arah sang ayah yang nampak menggigit roti di tangannya.


"kok nggak kaget?" tanya Arini.


"awww...! keget..!" ucap Calvin sambil terkekeh seolah meledek sang putri.


"iiihhh..." rengek gadis itu.


Pria gondrong itu tertawa. Diraihnya tubuh sang putri lalu diciumnya pucuk kepala itu singkat.


"dah ah, sarapan gih.." ucap Calvin.


"bapak nggak sarapan?" tanya Arini.


"bapak udah makan ini" ucap pria itu seraya menggigit lagi roti di tangannya.


"yaaaaahh....." rengek gadis itu yang seolah tak mau makan sendirian.


"udah, buruan makan. Ivan udah dalam perjalanan kesini bawa motor kamu" ucap Calvin sembari mendudukkan tubuhnya di atas salah satu kursi di meja makan itu.


Arini yang nampak menyendok kan nasi ke dalam piringnya itu lantas menoleh dengan cepat.


"motor, pak?" tanya Arini setengah kaget.


Calvin mengangguk sembari menyeruput lagi kopinya.


"kan Arin masih seminggu lagi masuk kuliahnya, pak?" tanya gadis itu.


"tapi kan hari ini kamu mulai masuk kerja," jawab Calvin singkat.


Arini nampak diam.


"bapak nggak mau kamu repot berangkat kerja nya kalau nggak ada kendaraan." ucap pria itu lagi.


Arini nampak mengulum senyum. Baiknya bapak kandungnya ini, batin gadis itu.


"inget ya, kamu kerja itu cuma buat ngisi waktu. Kalau capek istirahat. Kalau ada kerjaan lain yang lebih layak, cari aja kerjaan lain. Oke..?" ucap Calvin.


"iya, bapak..!" jawab gadis itu sembari memasukkan makanan ke dalam mulutnya.


Sepasang ayah dan anak itupun lantas mulai terlibat perbincangan santai di pagi hari yang cerah itu.

__ADS_1


Tak lama....


Sekitar sepuluh menit berselang...


breeeemm....breeemmmmm....


Suara geberan motor terdengar dari luar rumah dua lantai milik Calvin.


Arini dan sang ayah menajamkan pendengarannya nya.


"itu, pak?" tanya Arini yang masih memegang sendok berisi makanan.


"iya, mungkin" ucap Calvin.


Arini meletakkan sendok ditangannya asal.


"heey....!!! diabisin dulu...!!" teriak pria itu pada sang putri yang sudah berlari ke luar rumah. Namun Arini tak peduli.


Calvin hanya terkekeh sembari menggelengkan kepalanya.


"ck..! dasar anak prawan..!" ucap pria itu sembari bangkit dari duduknya lalu berjalan meninggalkan meja makan menuju ke luar rumah menyusul sang putri.


Pria gondrong itu terdiam sesaat, lalu terkekeh. Dilihatnya disana Arini nampak melompat lompat kegirangan sambil memeluk pria bertato dan bertindik, anak buahnya itu, Ivan.


Motor idaman Arini sampai. Saking girangnya gadis itu sampai melompat lompat sembari memeluk pria cungkring yang membawakan motornya pagi ini.


"bang, anak lu gila..!!" ucap Ivan pada laki laki gondrong yang kini nampak menggelengkan kepalanya melihat ulang anak gadis nya tersebut.


Arini menoleh ke arah sang ayah.


"bapak, makasih..! motornya bagus banget...!!!" ucap Arini kegirangan.


Calvin tersenyum.


"iya...! udah sana, coba naik, bisa nggak..!!" ucap Calvin pada sang putri.


"bisa dong..!" ucap gadis itu yakin. Arini pun melepaskan pelukannya pada Calvin. Ia mendekati sebuah motor trail berwarna pink kombinasi hitam lengkap dengan helm full face berwarna senada itu dan mulai menungganginya.


"awas, tinggi, nyampe nggak tuh kaki..!" ucap Ivan meledek. Arini tak peduli. Ia mulai menyalakan mesin motor itu dengan wajah yang begitu girang. Membuat Calvin pun ikut bahagia melihat mimik wajah sang putri.


breeeeeeemmm....breeeemmmm.....


Gadis itu menggeber-geber motor barunya. Senyuman lebar hingga memperlihatkan barisan gigi gigi putihnya terus ia tampilkan. Ivan juga jadi ikut senang melihat kebahagiaan gadis kecil yang sudah ia anggap seperti adik kandungnya sendiri itu.


"bapak, udah mau berangkat kerja belum?" tanya Arini.


Calvin menyipitkan matanya.


"kenapa emangnya?" tanya Calvin.


"Arin anterin yok...!" ucap gadis itu sambil terus menggeber-geber kendaraan roda duanya.


"wiiiidiiihh...! songong..!!" ucap Ivan meledek.

__ADS_1


"biarin, weeeeeekkkk..." ucap Arini dari atas motornya.


"ayo, pak..! Arin ajarin cara ngebut yang baik dan benar...!" ucap gadis itu begitu percaya diri.


Calvin pun terkekeh.


"oke..!! boleh..! sekali sekali bolehlah bapak berangkat kerja dianterin anak..!" ucap laki laki itu seraya mengikat rambut gondrongnya.


Calvin pun naik membonceng Arini. Gadis itu lantas mengenakan helm pinknya. Bersiap untuk tancap gas bersama sang ayah yang kini memegang kedua sisi pundaknya.


"Van, lu bawa motor gue ya...!" ucap Calvin.


"siap, bang..!" jawab laki laki bertato itu.


"siap, pak?" tanya Arini dari balik helmnya.


"pegangan, ya..! kalau takut pegangan aja..!!" ucap gadis itu membuat sang ayah tergelak. Di ketuk nya helm bagian atas milik sang gadis menggunakan jari tengah dan telunjuk nya saking gemasnya ia dengan celotehan sang putri.


Arini menatap lurus kedepan. Bersiap, dan ....


weeeeeeerrrrr......


motor dengan bodi ramping namun tinggi itu melesat meninggalkan rumah dua lantai itu. Gadis itu melajukan motornya menembus jalan raya. Membonceng sang ayah yang nampak ikut bahagia melihat kebahagiaan sang putri.


Motor melaju tak terlalu kencang. Lantaran kini jalanan teramat sangat padat karena bertepatan dengan jam berangkat kerja serta berangkat sekolah. Alhasil, Arini yang sebenarnya sudah tak sabar ingin kebut kebutan itupun harus bisa menahan diri.


Lampu lalu lintas menunjukkan warna merah. Pertanda kendaraan kendaraan yang melintas harus berhenti sementara dibelakang garis putih aspal jalan itu.


Arini memperlambat laju motornya. Berhenti disana bersama pengendara lain. Tepat di samping sebuah mobil mewah yang nampak ikut berhenti menunggu lampu berubah menjadi hijau.


"gimana? suka?" tanya Calvin.


"suka banget, pak...! makasih ya, pak..!" ucap gadis itu dibalik helmnya.


"kapan kapan bapak ajak kamu jalan jalan. Kita pergi bareng bareng sama temen temen bapak...! kamu mau nggak?" tanya Calvin.


"mau..!!" ucap gadis itu bahagia. Senangnya Arini, selain sosok ayah yang begitu perhatian, Calvin juga memiliki hobi yang sama dengan Arini. Membuatnya semakin nyaman di samping pria gondrong itu.


Tanpa Calvin dan Arini sadari, dua pasang netra tajam milik dua orang pria dewasa nampak mengamati aktivitas keduanya dari balik kaca hitam mobil mewah di samping mereka.


"lu liat, anak kecil idaman lo..! dia bahagia banget di samping ayah kandungnya. Lu bisa liat kan, gimana saling sayangnya mereka berdua" ucap pria yang berada di kursi kemudi itu, Sam.


Diego yang duduk di samping kursi kemudi, tepat disamping motor Arini itu hanya diam tak bergerak mengamati gadis cantik berhelm pink tersebut.


"kalau lu emang mau anak itu, datengin dulu laki laki dibelakangnya itu. Dia bapaknya. Dia yang punya Arini sekarang. Kalau lu mau anaknya, lu harus bisa berdamai ama bapaknya. Ya kalik bapaknya bakal ngizinin anaknya deket ama lu kalau lu aja jijik ama bapaknya..! ampe lebaran kurcaci juga lu nggak bakalan bisa dapetin Arini kalau lo masih gini aja..!" ucap Sam pada pria yang hanya diam tak bergerak itu.



...----------------...


Selamat siang


up 12:23

__ADS_1


yuk, dukungan dulu 🥰😘😘


__ADS_2