
Buuuuuuuuuuggggghhhhh.....
pyyaaaaaaaarrrrrrrrr....
"aaakkkhh...!"
"daddy...!!"
Sebuah pintu kaca dibagian kanan, tepat di samping Arini ambruk, roboh menimpa beberapa pengunjung yang berdesak desakan disana. Sebagian pengunjung menjadi korban. Berdarah darah terkena hantaman kaca berbentuk persegi panjang yang cukup besar itu.
Satu diantaranya adalah Diego. Laki laki yang berlari menyelamatkan Arini itu terkena serpihan kaca di pelipis kiri dekat matanya saat ia berusaha menyelamatkan anak Calvin itu dengan cara menarik tangan dan mendorong tubuh gadis itu menjauh dari kaca tersebut.
Arini reflek memekik, mengucap kata 'daddy' saat melihat pria itu jatuh tersungkur ke lantai. Beruntung posisi pria itu sudah sedikit menjauh dari area itu. Pria itu hanya terpercik serpihan kaca di bagian pelipis lalu terjatuh akibat berdesak desakan dengan pengunjung lain disana.
Arini yang sudah menjauh dari kaca itu kembali mendekat. Dibantunya Diego yang ikut berdarah darah di bagian pelipis dan telapak tangannya akibat menyentuh serpihan kaca itu untuk bangkit.
Keduanya menjauh dari area kaca, duduk di bawah meja penjual yang mulai ditinggalkan karyawannya itu untuk berlindung sementara. Mau keluar pun seperti nya percuma. Penuh sesak, seolah tak ada celah.
Diego meringis merasakan perih di telapak tangan dan pelipisnya. Arini menangis takut. Suasana mencekam. Sedangkan mau keluar pun tidak bisa. Jika bangunan ini roboh, maka sudah pasti mereka akan mati tertimbun di dalamnya.
"bapaak..." rengek gadis itu ketakutan di bawah meja. Ia menangis terisak isak sambil memeluk lututnya. Takut..! panik..!
Tolong, ia ingin pulang..!!
Bumi masih berguncang. Diego yang menyadari ketakutan yang Arini rasakan pun nampak iba. Digerakkan nya tangan dan kakinya. Ia meraih tubuh Arini, lalu memasukkannya dalam dekapan hangat nya.
"its okay. Ada daddy disini, baby" ucap pria itu sambil mengusap usap pucuk kepala pria itu.
Arini menangis dalam dekapan pria itu. Untuk sementara ia lupa dengan apa yang beberapa menit lalu ia ucapkan. Yang meminta agar Diego menjauh dari dirinya.
Nyatanya kini wanita itu nampak nyaman menangis dalam pelukan pria tersebut. Ia bahkan tak peduli dengan baju putihnya yang nampak terkena noda darah akibat sentuhan telapak tangan Diego.
Arini terus menangis. Diego terus memeluk tubuh itu erat seolah mencoba memberikan kenyamanan pada wanita itu sekaligus meluapkan kerinduannya pada gadis cantik yang dulu hampir tiap hari dipeluknya itu.
Getaran bumi perlahan mulai menghilang. Kaca kaca yang berderit itu perlahan mulai tenang. Lampu lampu gantung dalam restoran itupun perlahan mulai menghentikan pergolakan nya.
Suasana panik perlahan mulai kondusif. Arini yang menangis pun kini mulai menghentikan tangisannya. Gadis itu mulai tenang. Namun Diego seolah tak mau menghentikan aktivitas nya. Ia terus memeluk Arini dengan erat sembari menempel kan hidung dan bibirnya pada rambut sang gadis. Menciumi dan menghirup dalam dalam aroma wangi sampo sang gadis yang teramat sangat ia rindukan itu.
Arini mulai tersadar. Ia mendongak menatap wajah pria itu. Membuat keduanya saling pandang untuk beberapa saat. Diego dengan darah mengalir di pelipis kanannya itu nampak tersenyum lembut. Sedangkan Arini dibuat mematung olehnya. Sebuah perasaan nyaman ia rasakan kala dipeluk pria itu. Sesuatu yang dulu juga ia rasakan saat masih menganggap Diego adalah ayahnya. Dan rupanya juga tidak berubah hingga saat ini.
Cukup lama kedua anak manusia itu saling pandang tanpa bergerak. Hingga...
"ayo, semua keluar..!!"
Suara itu menggema dari seorang pria yang entah siapa disana. Membuat Arini kini tersadar dari lamunannya.
Gadis itu menjauhkan tubuhnya dari Digo. Ia nampak menunduk mencoba menetralkan hati dan pikirannya sembari merapikan baju dan rambutnya. Sungguh, ada rasa malu yang gadis itu rasakan saat ini. Bisa bisanya ia nyender di pelukan pria yang baru saja ia minta untuk menjauhi nya. Dasar Arini bodoh..!
Diego mengulum senyum.
"maaf" ucap gadis itu tanpa menoleh ke arah Digo. Gadis itu benar benar merasa malu sekarang.
Laki laki itu tak menjawab. Hanya senyuman yang begitu lembut dan tenang yang ia tampilkan.
Arini bangkit. Disusul Diego.
__ADS_1
Gadis itu lantas menoleh ke arah pria itu dengan ragu ragu.
Tangan dan pelipis pria itu berdarah. Darah yang muncul akibat inisiatif Digo yang ingin menyelamatkan anak gadis Calvin Alexander tersebut.
"a, em, itu... darah.." ucap Arini kaku sambil menunjuk kearah pelipis pria tampan tersebut.
Digo menyentuh pelipisnya. Darah mengalir hingga ke samping mata kanannya. Laki laki itu kembali tersenyum.
"nggak apa apa..!" ucap Diego.
"ayo...! semua keluar, cepat..!!" suara itu menggema lagi. Seorang pria menginstruksikan kepada para pengunjung yang masih berada di dalam gedung untuk segera keluar dari bangunan itu dan mengosongkan gedung tersebut.
Arini mengedarkan pandangannya ke segala arah.
"kita keluar. Biar saya obatin luka anda" ucap gadis itu lagi.
Diego tak menjawab. Ia hanya mengangguk tanpa melepaskan pandangannya dari gadis cantik itu.
Arini pun melangkah terlebih dahulu. Berjalan di depan Diego yang sama hanya diam tak berucap, namun netra nya tak lepas mengamati setiap pergerakan gadis cantik kesayangan nya itu.
...****************...
Beberapa menit kemudian,
Disebuah taman tak jauh dari mall yang mereka kunjungi.
Sepasang pria wanita nampak duduk bersila di atas rumput hijau taman kota itu. Dalam posisi tubuh yang saling berhadapan, Arini nampak dengan telaten membalut luka di telapak tangan pria tampan itu menggunakan kain kasa yang ia beli dari apotik tadi.
Sebenarnya ia sudah menawarkan Diego untuk dibawa ke dokter saja, tapi laki laki itu menolak. Tau sendiri kan, bagaimana ngeyel dan ribetnya Diego..! terutama saat sakit atau semacamnya.
Untung gadis itu pernah menjadi anggota PMR dan Pramuka saat masih sekolah. Sehingga untuk hal hal semacam ini ia tak bodoh bodoh amat.
Diego menenggak air mineral dalam botol plastik ditangannya. Netra nya sejak tadi tak lepas menatap wajah ayu yang kini nampak sibuk membalut luka di tangan Digo itu.
"makasih" ucap pria itu. Arini menatap wajah Diego sekilas lalu menunduk lagi.
"saya bukan orang yang nggak tau terima kasih. Anda luka karena saya. Harusnya anda tidak perlu melakukan ini untuk saya.." ucap Arini.
"Aku mau minta maaf lagi. Untuk beberapa hal..." ucap Digo.
"yang pertama, maaf.. untuk semua yang pernah terjadi di antara kita sebelum ini. Aku tahu kamu sangat membenciku sekarang. Aku paham. Aku terima. Mungkin dengan begitu bisa menebus semua salahku sama kamu selama ini. Tetaplah benci sama aku, sampai rasa sakit hati kamu benar benar hilang.." ucap Diego begitu dalam. Namun Arini sama sekali tak merespon.
"yang kedua, maaf.. Karena gara gara luka ku kamu jadi repot"
"dan yang ketiga, maaf... karena sepertinya aku nggak bisa memenuhi keinginan kamu untuk aku menjauh dari kamu"
Arini menghentikan pergerakan nya. Ia menatap wajah pria itu datar.
"kamu ingat, aku pernah berkata, aku akan selalu ada buat melindungi kamu. Aku akan jadi orang pertama, garda terdepan yang selalu bisa kamu andalkan. Semua itu masih aku pegang sampai sekarang, dan nggak akan pernah berubah sampai kapanpun" ucap sang Diego lagi.
Arini diam tak bergerak untuk beberapa saat. Saling pandang dengan pria itu dengan perasaan yang sulit untuk dijelaskan.
Gadis itu lantas menunduk. Menghindari kontak mata dengan pria itu lebih lama lagi.
"anda bisa melupakan ucapan anda itu mulai sekarang" ucap Arini.
__ADS_1
"nggak..! nggak akan..!" ucap Diego.
"asal kamu tahu, Arini. Pada saat pertama kali aku melihat kamu, aku sangat membenci kamu. Aku menganggap kamu adalah musuhku. Gadis polos yang merebut kebahagiaan seorang wanita yang sangat aku sayangi. Dalam hatiku, aku bersumpah, akan membuatmu menderita seumur hidupmu"
"aku puas..! aku puas melihat kamu menangis dihadapan ku. Aku puas melihat kamu sakit hati mendengar semua ucapan ucapan jahat ku. Tapi seiring berjalannya waktu, aku mulai bosan melihat air matamu. Aku lebih suka mimik wajahmu yang bodoh. Mimik wajah kesal, cemberut, dan ucapan ucapan aneh yang keluar dari mulutmu ketika aku sedang memarahi mu. Aku suka itu.."
Arini tak bersuara. Entah bagaimana perasaan nya saat ini. Dadanya bergetar mendengar ucapan pria itu.
"semakin lama, perasaanku makin berubah lagi. Jika sebelumnya aku suka dengan omelan mu, suka dengan mimik wajah kesal mu, perlahan aku mulai menyukai tawamu. Aku suka senyuman mu. Aku suka kebahagiaan mu. Dan sejak saat itu aku sadar, aku mulai tertarik padamu. Aku mulai bahagia denganmu. Dan aku mulai menginginkan mu.." ucap Diego tulus.
"itulah alasan kenapa aku selalu melarang mu jauh jauh dariku. Aku melarang mu dekat dengan laki laki asing. Dan selalu memberikan perhatian lebih padamu. Karena aku takut kehilanganmu. Aku takut rahasia ku terbongkar dan kamu benci sama aku. Meskipun pada akhirnya semua itu benar benar terjadi" ucap Digo.
"aku minta maaf, sayang. Aku tahu kesalahanku terlalu besar untuk dimaafkan. Silahkan kamu benci sama aku, tapi tolong jangan minta aku menjauh. Karena aku nggak akan bisa. Aku pernah mencintai seorang wanita di masa lalu. Sampai dia matipun aku masih memiliki perasaan yang sama. Bahkan hingga bertahun tahun lamanya setelah kematian dia aku belum bisa bangkit.."
"dan kamu tahu, sekarang secara perlahan aku mulai bisa menerima kepergiannya kisah masa lalu kami yang menyakitkan. Kamu tau karena apa?......" tanya Diego menggantung.
"karena aku bertemu kamu" ucapnya kemudian.
Gadis itu mengembun.
"aku tahu kamu kecewa. Silahkan benci sama aku. Kamu boleh maki maki aku, kalau itu bisa membuat kamu puas. Tapi tolong, jangan pernah minta aku buat menjauh. Aku nggak akan bisa. Sejak kamu pergi dari rumah aja aku udah kayak orang gila, apalagi harus selamanya menjauh dari kamu, aku nggak akan sanggup" ucap Digo membuat setitik air mata gadis itu menetes.
"daddy sayang kamu, baby" ucap Digo diakhir pernyataan maafnya.
Arini dengan mata berair menatap Diego dengan sorot mata yang sulit untuk diartikan. Kenyamanan dan kasih sayang yang begitu besar pernah ia rasakan dari pria ini. Laki laki itu juga bahkan terlihat begitu tulus melindungi di beberapa kesempatan. Seperti saat Arini dilabrak Anya, Arini di seret ke kantor polisi, dan hari ini, Diego rela menerjang bahaya demi menyelamatkan gadis bodoh itu.
Laki laki itu sangat baik padanya. Tapi kenapa masa lalu diantara mereka sangat menyakitkan..! Laki laki itu menipunya. Itu yang membuatnya sakit hati..! Betapa ia merasa dipermainkan oleh pria itu. Betapa ia merasa Diego begitu jahat sudah memanfaatkan kebodohan dan kepolosan nya.
Cairan bening luruh dari pelupuk mata yang terpejam itu. Membuat pria dengan tangan dan pelipis berbalut perban itu sesak melihatnya.
"jangan nangis.." ucapnya seraya tangannya tergerak, ingin mengusap lelehan air mata itu, namun dengan cepat Arini mengelak.
Arini menarik nafas panjang lalu mengusap air mata di pipinya. Dirapihkan nya berbagai peralatan perban luka disampingnya itu dengan gerakan terburu buru.
"luka anda sudah saya obati, tuan. Terima kasih sudah menyelamatkan saya. Saya harus segera pulang..." ucap gadis itu seolah tak mau menjawab sepatah katapun dari ucapan panjang lebar Diego.
Digo tak bergerak. Arini bangkit.
"permisi.." ucap wanita itu kemudian berbalik badan dan berlalu pergi meninggalkan tempat tersebut.
Diego tak mengejar, ataupun memanggil wanita itu. Ia tahu gadis itu pasti juga terluka. Sama seperti apa yang ia rasakan.
Kenapa harus anak Calvin yang berhasil menyentuh kerasnya dinding hati Diego..? Kenapa harus anak Calvin yang berhasil menggeser posisi Steffi?
Diego tak tahu bagaimana harus bersikap. Ia mantap menyatakan bahwa ia mau gadis itu. Tapi...... ayahnya.....??
Aaaaaaaaaaaaaaaaaaakkkkkhhhhhhhhh....!!!
...----------------...
Selamat pagi
up 06:19
yuk, dukungan dulu 🥰😘🥰
__ADS_1