My Fake Daddy

My Fake Daddy
MFD 64


__ADS_3

Pagi menjelang.....


Setelah semalaman tidur sekamar dengan sang ayah, pagi ini saat jam sudah menunjukkan pukul setengah tujuh pagi, Arini dengan kemeja putihnya nampak sudah rapi, bersiap untuk kembali masuk bekerja di sebuah restoran ternama tempatnya mengais rejeki.



"pagi, bik Sumi..." sapa Arini manis pada seorang wanita paruh baya yang kini sibuk menata makanan di atas meja itu.


"selamat pagi, nona.." ucap bik Sumi.


Arini tersenyum.


"gimana tidurnya malam ini, non? nyenyak...?" tanya bik Sumi.


Arini tersenyum manis.


"nyenyaaaakkk banget..! semalam aku tidur ama daddy, bik. Di kamarnya...." ucap Arini sambil tersenyum lebar tanpa dosa.


Bik Sumi terdiam. Wanita itu menatap sang gadis polos dengan tatapan yang sulit di mengerti.


Arini meraih piring. Membantu sang asisten rumah tangga menata aneka hidangan santap pagi itu di atas meja.


"oh iya, bik. Aku boleh nanya nanya nggak ama bibik?" tanya Arini.


Bik Sumi nampak menetralkan ekspresi wajahnya.


"nanya apa, non?" tanya bik Sumi.


"bibik kan udah lama kerja sama daddy. Kenal Dewi nggak, bik? dulu dia juga kerja disini..!" ucap Arini.


Bik Sumi diam mematung. Kisah pembantu cantik itu sangat popular di kalangan pelayan rumah ini dulunya. Terlebih lagi saat rahasia tuan rumah terdahulu yang ternyata pernah menjamah pembantu cantik itu terbongkar, nama Dewi makin menjadi buah bibir.


Bik Sumi diam tak bergerak. Sebenarnya ia tahu, tapi ia tak mungkin mengatakan apa yang ia ketahui itu pada Arini. Sudah ada mulut lain yang mengancam dirinya jauh jauh hari. Ia tak mungkin berani buka suara sekarang...!


"bibik, bibik nggak ingat, non. Bibik kan udah tua..!" ucap bik Sumi berbohong.


Arini menghela nafas panjang.


"kalau umurnya daddy, bik? bibik tau nggak? hari ulang tahunnya deh...! tau nggak? Arin pengen ngasih kado nanti kalau daddy ulang tahun..! berapa sih, bik, umur daddy?" tanya Arini.


Bik Sumi nampak menggelengkan kepalanya cepat.

__ADS_1


"bibik nggak tau, non..! maaf, bibik mau nyiram tanaman dulu di depan. Permisi, non.." ucap Bik Sumi sembari berlalu pergi meninggalkan tempat itu dengan terburu buru. Ia seolah ingin cepat cepat menghindar dari Arini. Takut salah ngomong.


Arini diam. Ia nampak menghela nafas panjang. Gagal deh dapat informasi dari bik Sumi. Pikir Arini.


Gadis itu kembali sibuk dengan piring piring di atas meja. Lalu tiba tiba....


seeeeetttt....


Sebuah tangan kekar merangkul pundaknya dari belakang. Arini menoleh. Digo yang sudah rapi dengan setelan jas nya nampak tersenyum. Dikecupnya singkat pucuk kepala itu lalu mengacak acak lembut rambut yang sudah rapi tersebut.


"morning, sunshine" ucapnya pada Arini. Sebuah salam selamat pagi yang biasa nya hanya ia peruntukkan untuk foto Steffi seorang.


Digo mendudukkan tubuhnya di kursinya. Arini mulai melayani sarapan pagi ayahnya itu seperti biasa lalu memulai sarapan pagi seperti biasa sambil sesekali berbincang santai.


...****************...


Lima belas menit berselang, keduanya pun selesai dengan santap pagi mereka. Sepasang anak manusia tanpa hubungan darah itu lantas berjalan menuju halaman luas rumah megah itu. Arini celingukan...


"daddy..." ucap Arini.


"hmm.." ucap Digo.


"om Sam mana? kok belum datang?" tanya gadis muda itu.


Arini memiringkan kepalanya.


"kita?" tanya Arini.


"e'hem..! kamu sama daddy..!" ucap Digo lagi.


"aku boleh naik mobil daddy?" tanya Arini lagi.


Digo tersenyum. Diraihnya dagu lancip itu. Laki laki itu memfokuskan matanya pada bibir merah muda yang terlihat lucu, imut, dan menggoda tersebut. Lalu menggerakkan ibu jarinya mengusap usap lembut benda itu.


"mulai sekarang, daddy izinin kamu naik mobil daddy. Bukan cuma ngizinin, tapi daddy memerintahkan kamu, mulai hari ini kamu berangkat dan pulang kerja bareng daddy. Daddy melarang kamu pergi dan berangkat sama orang lain selain daddy. Paham?" tanya Digo tanpa mengubah posisi tubuhnya.


Arini memandang wajah tampan itu lekat lekat. Ia tersenyum, lalu mengangguk.


"anak pinter..!" ucap Digo sambil menepuk nepuk lembut bibir itu dengan ibu jarinya.


Digo menjauhkan tangannya dari Arini.

__ADS_1


"udah yuk..! keburu siang..!" ucap Digo.


Arini mengangguk. Keduanya pun masuk ke dalam mobil bersama sama. Sepanjang perjalanan Arini nampak begitu bahagia. Ini kali pertamanya Arini duduk di dalam mobil mewah itu setelah dua bulan ia tinggal bersama Diego. Arini tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya.


"senyum senyum mulu..!" ucap Digo.


"ini pertama kalinya Arin naik mobil daddy.." ucap Arini tanpa melepaskan senyum manisnya.


Digo berdecih sambil terkekeh.


"nanti pulang jam berapa? daddy akan pulang menyesuaikan jadwal kamu. Daddy mau ngajak kamu jalan jalan hari ini" ucap laki laki itu.


Arini menoleh.


"kemana?" tanya Arini berbinar.


"kamu maunya kemana?" tanya Digo balik.


"nggak tauk..! kan Arin nggak pernah pergi pergi..!" ucap Arini.


"oh iya, lupa..! ya udah, nanti kita cari tempat yang bagus. Kalau pulang jangan lupa ngabarin daddy ya.." ucap Digo.


"siap, bos..!" ucap Arini sambil memberikan hormat.


Digo terkekeh.


Arini begitu bahagia. Ia bersyukur kini daddy nya mulai bisa membuka hatinya untuk menerima Arini. Sejak beberapa hari terakhir Digo sedikit demi sedikit mulai melunak. Ia menjadi lebih lembut dan baik pada gadis itu. Membuat Arini seolah menemukan sosok laki laki yang ia cari cari selama ini. Hal itu pun kini membuat Arini makin merasa nyaman di samping Diego. Ditengah tengah keraguan yang kini menyelimuti dara ayu itu, Diego seolah justru menunjukkan sikap bahwa ia adalah ayah yang sebenar benarnya untuk gadis itu. Perlahan laki laki itu seolah ingin menghapus ingatan Arini tentang segala perlakuan tak baiknya pada gadis belia itu. Ia menggantikan nya dengan berbagai perhatian untuk Arini.


Ya, Diego seolah mulai lupa akan misi nya menampung Arini di rumahnya dan mengakui gadis itu sebagai putrinya. Dengan segala tingkah polah yang polos, lucu, menyebalkan dan juga kampungan yang Arini tunjukkan, gadis itu diam diam berhasil perlahan masuk dan menyentuh hati Diego yang sudah lama beku pasca kematian Steffi.


Kini Diego seolah lupa akan misinya. Ia lupa dengan kebencian nya pada anak Calvin Alexander itu. Yang kini ada dalam pikirannya adalah mempertahankan Arini agar tetap berada di sampingnya. Tidak membiarkan laki laki manapun mendekati gadis itu, termasuk Calvin sendiri.


Ia mau Arini. Ia mau gadis itu tetap disampingnya. Ia tak mau jika suatu saat Arini dan Calvin bertemu lalu saling menyadari jika mereka adalah sepasang ayah dan anak. Karena jika sampai itu terjadi, maka sudah pasti, Arini akan sangat membenci Diego. Belum lagi Calvin. Ia pasti akan sangat murka...!


Ia tak mau...! ia tak mau Arini membencinya. Ia tak mau Arini meninggalkan nya..! ia tak mau itu terjadi...!


...----------------...


Selamat sore


up 14:11

__ADS_1


yuk, dukungan dulu 🥰


__ADS_2