
Pagi menjelang,
Di dalam sebuah kamar tak terlalu luas hunian sementara keluarga Calvin Alexander...
Wanita cantik dalam berselimut ber piyama panjang dalam pelukan Diego itu nampak menggeliat.
Gema adzan subuh telah berkumandang. Cukup jelas lantaran letak masjid memang tak terlalu jauh dari tempat nya tinggal. Arini membuka matanya pelan pelan. Laki laki disampingnya masih terlelap. Tangan kekarnya memeluk pinggang itu dalam kondisi tubuh yang hanya mengenakan bokser andalannya. Dengkuran dengkuran halus terdengar dari mulut sang Diego. Tidurnya begitu tenang. Mungkin juga karena lelah sehabis perjalanan jauh.
Arini meringsut. Dikecupnya lembut pipi berbulu halus itu dengan lembut. Wanita itu nampak diam sejenak. Bermalas malasan dalam dekapan suami yang semalam absen mengajaknya bergulat itu dengan alasan takut Arini lelah sehabis perjalanan jauh.
Wanita itu nampak tersenyum. Lagi lagi ia selalu memuji paras tampan sang suami ketika sedang tertidur seperti ini. Sangat tenang dan berkarisma. Ah, jadi pengen ngajak daddy jalan jalan..! dipamerin, biar pada ngiler tuh para warga di sini yang dulu udah ngata ngatain Arini..!!
Arini mengulum senyum. Bisa bisanya ia punya pikiran jahat begitu...!
Arini bergerak lagi. Diciumnya lagi pipi berjambang sang suami.
Ia kemudian meringsut. Menjauh dari tangan Diego yang masih asyik dengan mimpinya. Ia kemudian meraih sebuah guling untuk menggantikan tubuhnya yang di peluk sang Diego.
Wanita itu lantas turun dari ranjang. Ia kemudian berlalu pergi meninggalkan tempat itu untuk memulai aktivitas paginya.
Pekerjaan pagi selayaknya wanita bersuami pun Arini jalankan. Mulai dari mandi, solat subuh, mencuci, bersih bersih rumah, semua Arini kerjakan dengan telaten.
Hilang sudah sifat Arini yang dulu mendarah daging dalam dirinya semasa hidup bersama dengan sang nenek. Kini gadis itu menjelma menjadi sosok wanita yang giat dan cekatan dalam hal apapun.
Tak bisa dipungkiri, tinggal bersama dengan Diego beberapa bulan sebelum akhirnya bertemu dengan sang ayah kandung berhasil mendidik mental Arinj menjadi seorang wanita mandiri.
Wanita itu mau tak mau dipaksa menjadi wanita yang bisa segalanya, kala hidup bersama dengan sang ayah yang begitu galak dan otoriter.
Kini Arini menjadi terbiasa untuk bekerja. Ia tak bisa melihat rumah kotor sedikit saja. Mungkin jiwa pembantu dari Dewi kini sudah berhasil merasuki putri nya...!
Tepat pukul 06:00 pagi...
tin...tin....tin....
Suara klakson beruntun menggema dari depan sebuah rumah tetangga. Arini yang nampak sibuk dengan jemuran bajunya di teras belakang rumah nampak menghentikan pergerakan nya.
Itu adalah suara mobil tukang sayur..!
Ya, Arini hafal..! saat masih tinggal dengan sang nenek, ia sering ikut neneknya ke tukang sayur, lalu membeli beberapa jajanan pasar disana untuk bekal ke sekolah. Biar ngirit, daripada jajan..!
Arini menghentikan aktifitas nya sejenak. Dengan kaos lengan pendek berwarna putih dan celana jeans selutut, wanita bersuami itu nampak berjalan menuju kamarnya. Mengambil dompet koin berbentuk ikannya lalu menuju tukang sayur untuk membeli bahan makanan disana.
ceklek....
Arini memelankan langkahnya saat sampai di ruang tamu. Dilihatnya disana pintu utama sudah terbuka.
Apa ayahnya sudah bangun? kalau Diego jelas tidak mungkin..! laki laki itu masih tidur pulas dikamar mereka.
Arini pun mempercepat langkahnya menuju luar rumah. Tak ada orang..! lalu kenapa pintunya terbuka? pikir Arini.
Ah, sudahlah...!
lebih baik ia segera pergi ke tukang sayur itu, sebelum keburu pergi.
...
Sebuah mobil bak terbuka berwarna hitam nampak berhenti di depan salah satu rumah warga. Beberapa ibu ibu perumahan itu nampak berkerumun. Memilih dan memilah aneka sayur yang tersedia sambil sesekali melancarkan salah satu keahlian yang dimiliki para ibu ibu rumah tangga, yaitu bergibah..!
"beneran, buk?" tanya seorang wanita berambut ikal yang di ikat, bu Yuni namanya.
__ADS_1
"iya..! benar..! saya masih inget, kok, orang nya. Dia baru dateng kemarin..!" ucap seorang ibu lain berhijab hijau, bu Nining.
"terus itu siapa dua laki laki itu?" tanya ibu ibu lain bernama bu Marni.
"ya mana saya tahu...! laki laki nya itu kayaknya usianya jauh semua dari anak nya Dewi itu..! tapi kayaknya sih dari penampilan nya sih orang kaya, buk..! makanya sekarang penampilan nya juga beda..! lebih gelowwinngg..!" ucap bu Nining si sumber informasi.
"katanya setelah neneknya meninggal dulu, dia itu ke kota buat nyari bapak kandungnya. Mungkin itu bapak kandungnya.." ucap Yuni.
"bisa jadi tuh, buk..! mungkin dia udah ketemu sama bapaknya..! jadi penasaran saya,." ucap ibu ibu lain bernama bu Santi itu.
"eh, bu Tri..! nggak pengen lihat mantan calon mantu?! kan dulu pernah pacaran sama si Agus anak bu Tri..?" ucap Bu Nining pada seorang ibu lainnya bernama bu Tri. Ia lah wanita yang dulu sempat melabrak Arini. Ibu dari satu satunya mantan pacar Arini. Laki laki yang sejak kecil tinggal di komplek perumahan itu, lalu jatuh cinta dengan anak Dewi tersebut namun ditentang oleh ibu kandung si laki laki.
"cih..! ngapain?! buat apa?! nggak ada gunanya, buk..! mending saya masak..! nggak kepo blaasss saya mah..!" ucap Bu Tri dengan angkuhnya.
Para ibu ibu itu terus asyik bergunjing. Membicarakan tentang Arini yang terlihat pulang kampung kemarin sore.
Sedangkan wanita yang sejak tadi dibicarakan kini nampak mendekat ke arah sekumpulan ibu ibu itu. Bu Yuni yang pertama menyadari kedatangan Arini itupun lantas buru buru memberi kode pada teman temannya untuk diam. Seketika, para ibu ibu itupun diam. Bu Tri nampak melirik sinis ke arah wanita tak ber ibu itu..!
Arini mendekat, ia nampak tersenyum kaku sembari setengah menunduk singkat seolah ingin beramah tamah sekaligus memberi salam pada para ibu ibu disana. Arini melirik sekilas ke arah Bu Tri yang nampak menatapnya sinis. Wanita bersuami itu mencoba mengabaikannya. Tak mau memperdulikan. Ia kemudian mulai memilih sayur mayur yang berada di sana dengan tenang tanpa memperdulikan tatapan menilai dari orang orang di disana.
Semua mata ibu ibu itupun lantas tertuju pada Arini. Mengamati penampilan wanita yang cukup dikenal karena kisah masa lalu ibunya itu dari atas sampai bawah seolah ingin menilai.
"Arini, ya? anak nya Dewi?" tanya Bu Santi.
Arini tersenyum.
"iya, buk" ucapnya.
"pulang kampung?" tanya bu Santi lagi.
Arini hanya mengangguk sekali sambil tersenyum.
"oh, tinggal dimana sekarang?" tanya Bu Santi.
"oh, yang disewakan itu? sendiri?" tanya bu Santi.
Baru saja Arini hendak menjawab. Bu Nining si sumber informasi nampak menyahut.
"sama laki laki kan, Rin? dua? kemarin saya lihat soalnya pas kamu baru dateng. Mobil tumpangannya aja mahal..! iya kan, Rin?" tanya Bu Nining.
"wah, siapa tuh, Rin? bapakmu ya? denger denger, kamu ke kota buat cari bapakmu? udah ketemu, Rin?" tambah bu Yuni.
"oh, ya pantes kalau gitu..! makanya kamu bisa tinggal disitu, orang udah ketemu bapakmu..! bapakmu kan orang kaya..! coba kalau nggak ketemu, mana bisa ya...kamu kan......" tambah bu Marni tanpa melanjutkan ucapannya namun nampak tertawa meledek di akhir kalimat nya di ikuti ibu ibu yang lainnya.
Arini nampak menatap kesal kearah para wanita itu. Ia kemudian mempercepat aksi pilih pilih sayur nya agar bisa segera pergi dari tempat itu.
"tapi kamu sekarang tambah cantik ya, Rin..? makin mulus..! perawatan ya?" tanya bu Santi lagi.
Arini baru mau menjawab lagi. Bu Nining si sumber informasi lagi lagi menyahutnya tanpa permisi.
"ya iya, dong, buk..! kan bapaknya kaya..! ya pasti perawatan...!" ucapnya.
"ini kan bukan hari libur nasional, Rin. Bukan hari besar, ndak libur panjang. Kok bisa liburan? emang kamu disana ndak kerja apa kuliah? anak orang kaya loh, Rin, kamu itu..!" tambah Bu Marni mulai membuat Arini makin gerah mendengarnya.
"hmmmmhhh...! kuliah..! kuliah apa to, buk..! orang sekolah aja nilainya anjlok semua..! mau kerja juga kerja apa?! kerja itu cuma buat orang orang yang bisa mikir cepet...! kalau lelet ya mana bisa...! perempuan kalau nggak punya kemampuan, nggak punya yang bisa dibanggakan, lulus sekolah paling ya nikah..! ngandelin wajah...! deketin laki laki...! trus hamil..! ya udah...! ndak punya masa depan..! masa depannya ya cuma jadi ibu rumah tangga...!!" ucap Bu Tri, ibu si mantan pacar Arini dengan suara ngegas dan gayanya yang angkuh dan terkesan meremehkan Arini.
Wanita itu makin panas mendengarnya. Sedangkan ibu ibu yang lain nampak terkekeh mendengar ucapan bu Tri itu.
"tapi sekarang Arini cantik lo, buk" ucap Bu Yuni.
__ADS_1
"modal ayu tok ge opo?! (modal cantik doang buat apa?) " ucap Bu Tri.
"tiati, Rin..! jangan terlalu bangga kalau kamu sekarang canteeekk..! kamu sekarang kan tinggal sama bapakmu..! ibukmu dulu cantik aja di bikin hamil..! jangan sampai nanti kamu juga di..........." ucap Bu Tri menggantung di akhir kalimat nya.
Arini makin panas mendengarnya. Wanita itu kemudian membuka mulutnya. Hendak menjawab ucapan bu Tri yang dirasa kurang sopan itu. Namun tiba tiba.....
"Rin..!"
Suara itu menggema. Membuat Arini dan para ibu ibu disana nampak menoleh ke arah sumber suara.
Dilihatnya disana, Calvin yang hanya mengenakan kaos polos tanpa lengan nampak mendekati ke arah sang putri. Pria itu rupanya sudah bangun sejak tadi. Setelah bangun tidur, laki laki itu kemudian memutuskan untuk lari pagi. Sekedar mengelilingi area perumahan dengan pemandangan yang begitu menyejukkan mata tersebut.
Arini mendongak.
"bapak?" ucap Arini. Para ibu ibu nampak mengamati interaksi sepasang ayah dan anak itu dengan sorot mata menilai.
"bapak dari mana?" tanya Arini.
"lari pagi sebentar. Ngelemesin badan..!" ucap Calvin.
Arini hanya tersenyum.
"kamu beli apa?" tanya Calvin lagi.
"lagi cari sayur. Bapak mau dimasakin apa?" tanya Arini lagi.
"apa aja..! yang penting enak" ucap laki laki itu.
Arini pun kembali memilih sayur mayur disana dibantu sang ayah. Ia seolah lupa untuk membalas ucapan bu Tri yang keterlaluan tadi. Sedangkan para ibu ibu julid yang tadi begitu lantang meremehkan Arini kini nampak diam manakala pria gondrong berparas kebarat baratan itu datang. Laki laki yang masih terlihat tampan dan gagah itu nampak merangkul pundak putrinya. Keduanya terlihat sangat dekat dan kompak.
Tak lama, beberapa lauk pauk dan sayur mayur pun masuk ke dalam sebuah kresek loreng hitam putih. Arini memberikan dua lembar uang kertas berwarna merah pada si tukang sayur guna membayar barang barang belanjaan nya.
"kembaliannya buat bapak aja..." ucap Arini.
"loh, ini masih banyak kembaliannya, mbak.." ucap si tukang sayur.
"nggak apa apa. Anggap aja rejeki" ucap Arini.
Si tukang sayur nampak sumringah. Sedangkan ibu ibu disana nampak tersenyum sinis. Terutama bu Tri. Sok kaya..! batinnya.
"wah, makasih banyak, mbak. Semoga rejekinya selalu di lancarkan ya..." ucap si tukang sayur.
"amin..." jawab Arini.
Sepasang ayah dan anak itu lantas berbalik badan, bergegas untuk segera pergi dari tempat tersebut.
"mari.." ucap Calvin pada para ibu-ibu yang berada disana.
Para ibu-ibu itu hanya mengangguk sambil tersenyum. Wah... tampan juga ayah Arini. Masih terlihat gagah dan berkarisma walaupun usianya sudah tak muda lagi, pikir mereka.
Arini nampak melirik ke arah para ibu-ibu yang tadi menghinanya itu. Sorot matanya tajam dan terkesan sinis.
Nggak malu banget...! padahal tadi menghina anaknya mati matian...! giliran bapaknya Arini dateng langsung pada mingkem...! dasar ibu ibu julid..! pikir wanita bersuami itu.
Arini dan Calvin pun kemudian berlalu pergi meninggalkan tempat itu menuju ke rumah sementara mereka.
...----------------...
Selamat pagi
__ADS_1
up 05:23
yuk, dukungan dulu 🥰🥰😘