My Fake Daddy

My Fake Daddy
MFD 150


__ADS_3

Di meja makan,


Keluarga pak Yanto nampak sudah berjajar rapi, menunggu Calvin beserta anak dan menantu tampannya di meja makan berbentuk persegi panjang disana.


Diego sambil terus mengulum senyum nampak berjalan mendekati keluarga sederhana itu bersama sang istri. Arini nampak menunduk dengan wajah di tekuk. Keduanya pun lantas mendudukkan tubuh mereka di dua buah kursi yang saling berdampingan disana.


Tak lama, pria gondrong berjambang lebat, si pemilik rumah, nampak turun dari lantai dua kediaman pribadinya itu.


Laki laki itupun lantas menuju meja makan. Di acak acaknya lembut pucuk kepala sang putri yang sudah menunggu nya disana lalu mengecupnya.


"malam, sayang..." ucapnya sembari meletakkan pan**t nya di salah satu kursi meja makan yang biasa ia tempati.


Arini hanya mengulum senyum. Calvin nampak melirik sejenak ke arah laki laki tampan yang kini menjadi anggota baru keluarga nya.


Laki laki itu terlihat duduk dengan tenang. Kedua tangannya dilipat di depan dada sambil mengamati sederet makanan yang berada di atas meja dengan gayanya yang cuek dsn sedikit angkuh.


Ya, mungkin memang sudah setelan pabriknya Diego begitu..!



Untuk pertama kalinya mereka makan satu meja. Setelah kemarin tak ada acara makan bersama di meja makan lantaran masih disibukkan dengan tamu undangan dan beberapa anak punk yang bermalam di rumah itu. Lalu tadi pagi hingga siang mereka juga tak sempat makan bersama lantaran Calvin yang sudah tidak berada di rumah saat Diego dan Arini bangun.


Kini kedua pria mantan musuh abadi itu nampak berada di satu meja yang sama sebagai sepasang mertua dan menantu dengan wanita muda nan polos di tengah tengah mereka.


Arini nampak bangkit, menyendok kan nasi ke piring sang ayah seperti yang biasa ia lakukan. Diego yang berada di samping Arini nampak diam memperhatikan pergerakan istri kecilnya itu.


Selesai,


Arini hendak duduk. Namun ..


"ssssstttt...." suara itu lolos dari bibir Calvin Alexander. Arini menoleh. Laki laki berjambang lebat itu nampak mengangkat dagunya seolah menunjuk ke arah Diego yang diam menunggu perlakuan yang sama dari Arini.


Arini nampak bingung.


"utamakan suamimu, ndok" ucap Pak Yanto seolah menjawab pertanyaan Arini.


"o, ooh.." ucapnya mulai paham.


Wanita muda itupun bangkit lagi, mulai menyendok kan nasi untuk sang suami seperti yang ia lakukan pada ayahnya.


Makan malam pun mulai berlangsung. Diam diam, remaja putri berusia empat belas tahun di sana nampak sesekali melirik ke arah Diego dan Arini tanpa sepasang pengantin baru itu sadari.


Makan malam pun terus berlanjut,


"bapak...." ucap Arini memulai pembicaraan.

__ADS_1


"hmmm..." jawab Calvin santai sembari menyantap makanan nya.


"Arin mau minta ijin sama bapak, Arin mau pulang ke kampung bentar. Arin kangen ibuk sama nenek" ucap Arini.


Calvin diam sejenak. Seolah memikirkan sesuatu. Diego nampak melirik sejenak ke arah sang mertua. Laki laki gondrong itu kemudian kembali melanjutkan makannya.


"oh ya? kapan?" tanya Calvin.


"rencananya sih lusa, pak. Bareng sama pak Yanto. Boleh kan, pak?" tanya Arini.


Calvin nampak menoleh ke arah sang putri sembari tersenyum lembut.


"ya boleh dong, sayang. Sama suami kamu, kan?" tanya Calvin.


Arini mengangguk. Calvin tersenyum sembari mengangguk.


"sekalian bulan madu mungkin, tuan.." ucap pak Yanto mencairkan suasana.


Semua yang berada di meja itu hanya terkekeh.


"bapak ikut, nggak? biar kita bisa sama sama ke makam ibuk" ucap Arini kemudian membuat Calvin terdiam lagi.


Diego kembali melirik ke arah Arini dan Calvin bergantian. Hal yang sama pun juga Pak Yanto dan Bu Yati lakukan.


Seumur hidup Calvin, baru sekali laki laki itu datang ke makam Dewi. Yaitu saat wanita malang itu di antar ke liang lahat. Ia datang ketempat itu sambil menggendong Arini yang masih bayi. Laki laki itu bahkan juga membantu memakamkan wanita yang sudah memberikan nya seorang putri kecil yang kini menjadi teman hidupnya itu.


"pak..." ucap Arini penuh harap.


Calvin menatap dalam ke arah Arini.


"kalian kan pengantin baru. Kalian pasti butuh waktu buat berdua. Kalau bapak ikut, ya nggak jadi bulan madu dong, nak" ucap Calvin.


"tapi Arin pengen ke makam ibuk bareng sama bapak. Arin pengen ibuk tahu kalau Arin udah ketemu sama bapak. Arin juga pengen bilang kalau Arin sekarang udah punya suami. Ya, paakk...." rengek wanita itu bak seorang bocah. Matanya terlihat mengembun meminta sang ayah untuk ikut dengannya


Diego menghela nafas panjang. Betapa Arini sangat menyayangi kedua orang tuanya, terutama ayah kandungnya ini.


Kalau kek gini terus gimana cara bulan madunya? pikir Diego.


Calvin diam tak bergerak seolah tengah berfikir. Laki laki itu kemudian menoleh ke arah sang putri.


"ya udah, bapak ikut. Tapi, setelah dari makam, bapak langsung pulang, ya. Kamu kalau masih mau di kampung, biar sama suami kamu aja.." ucap Calvin.


Arini mengangguk bahagia. Senyuman lebar nya terlukis jelas disana.


Calvin menggerakkan tangan nya mengacak acak pucuk kepala sang putri.

__ADS_1


"dah, cengeng banget, gitu aja nangis.." ucap pria itu membuat Arini kini terkekeh disela sela tangisnya.


Santap malam pun terus berlanjut, hingga sebagian dari mereka yang berada di meja makan pun selesai dengan makanan di piring mereka.


Arini yang sudah selesai dengan santap malamnya itu nampak menyandarkan kepalanya di pundak Diego sembari melahap potongan buah apel yang baru saja ia kupas untuk ia makan bersama sang Diego.


Hingga tiba tiba.....


"om Diego..." ucap seorang remaja putri yang sejak tadi mengamati pergerakan Arini dan Diego, Rasti.


Diego dan Arini pun menoleh,


"ya..." jawab Diego.


"om, kak Arin sakit ya? kok jalannya aneh? trus badannya kak Arin merah semua..! aku tanya mbak Rani tapi katanya disuruh tanya sama Om Digo." ucap gadis SMP itu begitu polos membuat Rani, sang kakak yang berada di samping Rasti pun nampak melotot lantaran namanya dibawa bawa. Dengan cepat Rani menginjak kaki Rasti, membuat remaja putri itupun menjerit kaget dibuatnya.


"aduhhh..! loro loh, mbak..!" pekik Rasti protes.


(aduh, sakit loh, mbak)


"cangkemmu iku loh, Ras..!" tegur sang kakak yang kesal dengan kepolosan adiknya.


(mulutmu itu loh, Ras)


"lho, jare samean mang kongkon takok dewe..?!" protes Rasti lagi.


(lho, katanya tadi di suruh tanya sendiri?)


"yo tapi gak ngono...!! arek i ya awoohh..!!!" ucap Rani frustasi sembari menggaruk garuk kepalanya sendiri dengan kasarnya.


(tapi ya nggak gitu juga..! nih anak ya, Ya Allah..!!)


Arini mencubit paha Diego. Ia lantas menyembunyikan wajahnya di belakang punggung sang suami. Maluuu...!!


Sedangkan Diego, laki-laki itu nampak mengulum senyuman lebar sambil menopang jidatnya. Alih alih malu, pria itu justru nampak lucu mendengar pertanyaan dari gadis kampung itu.


Apa semua gadis kampung memang se polos istrinya? Astaga, baru tadi ia menemukan fakta tentang riwayat pencarian Arini di internet, lah ini tetangganya sama aja. SMP itu sudah puber. Tapi Rasti masih sepolos itu..! astaga..!!


Calvin nampak menggaruk garuk keningnya sembari mengulum senyum. Dasar anak anak..! Jadi malu sendiri dengernya..!


...----------------...


Selamat siang


up 11:54

__ADS_1


yuk, dukungan dulu 🥰


__ADS_2