My Fake Daddy

My Fake Daddy
MFD 16


__ADS_3

18:30 usai sholat Maghrib,


Arini berjalan menaiki tangga rumah megah sang ayah. Mendekati sebuah pintu kamar milik laki laki yang seolah selalu saja berkata tak menyenangkan tiap kali bersama dengan dirinya.


Arini menggerakkan tangannya. Mengetuk pintu itu beberapa kali sembari memanggil manggil nama daddy nya.


ceklek ...


pintu terbuka.


Diego terdiam. Dilihatnya disana sang putri nampak tersenyum tipis ke arahnya. Dengan balutan baju hitam tanpa lengan, gadis belia itu terlihat cantik dan segar dengan beberapa bulir air masih nampak menempel di dahinya. Arini terlihat begitu menggoda. Apalagi pakaian yang ia gunakan memanglah cukup terbuka.


Bukan tanpa alasan, semua baju baju yang ia bawa adalah milik Rani, anak sulung pak Yanto yang masih SMP. Tentu saja postur tubuhnya sedikit lebih kecil dari Arini.


Arini tak punya sepotong kain pun pasca kebakaran yang terjadi di rumahnya beberapa waktu lalu. Membuatnya mau tak mau harus mengenakan apa yang ada saja bukan..? Lagi pun ia tinggal juga dengan ayah kandungnya, bukan orang lain, pikir Arini.



"apa?" tanya Diego sambil sesekali melirik penampilan gadis itu


"dad, aku boleh pinjem hp nya nggak?" tanya Arini.


"untuk apa?" tanya Diego.


"eemm, mau cari resep, dad. Arin nggak tahu mau masak apa. Boleh pinjem hp nya nggak, buat cari resep. Arin kan nggak punya Hp" ucap gadis cantik itu.


Diego kembali melirik penampilan gadis polos itu dari atas sampai bawah.


"ck...!" ucap Diego berdecak kesal. Ia mengotak atik sebentar benda pipih ditangannya itu lalu menyerahkan ponsel yang memang sejak tadi di bawanya itu pada sang putri.


Arini tersenyum seperlunya.


"makasih, dad" ucap Arini. Dibukanya ponsel itu, tapi...


"password nya?" tanya Arini lagi. Digo melirik penampilan wanita itu lagi. Entah mengapa ia suka dengan penampilan Arini malam ini.


Diego kembali meraih benda pipih itu. Di ketiknya password itu lalu kembali menyerahkan nya pada Arini. Namun mata itu sejak tadi seolah tak mau lepas menikmati pemandangan cantik di hadapannya.


"makasih, daddy" ucap gadis itu terdengar manis ditelinga Digo. Ia lantas berbalik badan, berjalan menuruni tangga menuju dapur untuk segera membuat makanan bagi sang ayah kandung.


Digo mengangkat dagunya. Entah mengapa rasanya ia ingin melihat bagaimana aksi bodoh bocah kampung itu untuk memasak. Pasti akan sangat menggelikan. Bocah itu kan memang tak bisa masak.


Digo tersenyum lucu. Ia lantas menutup pintu kamar nya lalu berjalan santai menuruni tangga menyusul Arini.


Di dapur, Arini nampak sibuk dengan aktifitas nya. Mengolah beberapa bahan makanan yang ada di kulkas untuk santap malamnya dengan sang ayah. Sesekali ia melirik ke arah layar ponsel yang ia letakkan di samping talenan sambil menyiapkan beberapa bumbu sesuai dengan resep yang tertera di layar benda pipih itu.

__ADS_1


Digo sampai di dapur. Di lihatnya di sana bocah itu nampak begitu sibuk. Digo mengulum senyum tipis. Di dekatinya wanita itu. Ia lantas menyandarkan tubuhnya di samping bangku dapur. Diamatinya pergerakan Arini yang kini mulai mengupas bawang itu dengan kedua lengan yang ia lipat di depan dada.


Arini masih terlihat sangat sibuk. Hingga...


"ya elah mati..!!" gerutu Arini saat mendapati layar ponsel itu mati lantaran cukup lama tak tersentuh. Digo mengulum senyum samar lagi. Di bukanya kembali ponsel itu. Tapi tak bisa, lantaran ada password yang harus di isi.


Arini menoleh ke arah sang ayah yang berdiri tak jauh dari tempatnya.


"daddy...." ucap Arini sedikit merengek.


Digo mengangkat dagunya seolah bertanya "ada apa?"


"mati lagi..." ucap Arini dengan wajah yang terlihat lucu...lagi lagi, dimata Digo. Digo berdecih sambil tersenyum. Di dekatinya sang putri, lalu membuka ponsel itu lagi dengan memasukkan password yang benar.


Dilihatnya layar ponsel itu, sebuah resep opor ayam lengkap terpampang nyata disana.


"kau bisa?" tanya Digo sambil meletakkan ponsel itu lagi di samping talenan.


"insya Allah...! tapi daddy jangan pergi, ntar kalau mati lagi hp nya aku nggak tau password nya" ucap Arini sambil kembali sibuk dengan aneka bumbu di hadapannya.


Diego menyalakan rokoknya. Menghisapnya lalu membuang asapnya ke atas. Matanya kembali fokus pada Arini. Bocah itu kini mulai memotong motong cabai.


"jangan banyak banyak, aku tidak suka makanan pedas" ucap Digo.


Tak terbiasa, Arini cukup kesusahan dibuatnya, sehingga cukup memakan waktu untuk membuat semua bumbu bumbu itu halus. Digo hanya mengangkat satu sudut bibirnya melihat aksi bocah bodoh itu.


Selesai dengan bumbu, Arini pun mulai memasak, meletakkan panci di atas kompor dan mulai memasukkan bumbu halusnya.


Digo lagi lagi mengulum senyum. Pria itu kembali menghisap rokoknya dan membuang asapnya, memiringkan kepalanya menyaksikan tubuh ramping berbalut dress serut hitam tanpa lengan milik remaja itu dari belakang. Tubuh itu nampak sesekali bergoyang goyang sembari mendendangkan sebuah lagu. Suara Arini rupanya merdu juga, membuat Diego makin betah berada di dapur.


Aksi masak ditemani daddy terus berlanjut,


Kini saatnya memasukkan santan. Arini yang memang tak jago masak sudah menyiapkan satu bungkus santan cair yang ia beli dari warung ujung kompleks saat ia pulang tadi.


Di bukanya bungkus tebal berbentuk segitiga itu. Lantaran tak terbiasa, sebagian isi santan bertekstur kental itupun terpercik mengenai wajahnya. Arini reflek memejamkan matanya dan menutup mulutnya. Digo yang melihat adegan itu nampak mengangkat dagunya, menggerakkan lidahnya menyapu ruang dalam mulutnya. Entah kenapa pikiran kotornya membayangkan hal yang tidak tidak. Cairan kental berwarna putih muncrat mengenai wajah gadis delapan belas tahun itu. Mirip mirip sebuah adegan yang pernah beberapa kali ia lakukan. Yang.......ah....sudahlah....lanjut...!!


Arini mengusap percikan santan itu dengan jari jarinya, lalu memasukkannya ke dalam mulut.


"gurih" ucapnya santai kemudian membawa santan itu menuju kompor dan menuangkan nya ke dalam wajan.


Digo makin betah. Sebuah senyuman terbentuk dari bibirnya.


Aksi masak terus berlanjut, opor ayam yang tak terlalu banyak itu pun hampir matang. Arini menyendok sedikit kuah makanan hasil racikannya itu dan menuangkannya ke telapak tangan guna mengetes rasanya. Cara itu sering ia lihat dari neneknya jika sedang ingin memastikan kelezatan dari makanan olahannya.


Udah enak belum sih begini? pikir Arini setelah mencicipi kuah opor buatannya.

__ADS_1


Merasa kurang yakin, Arini pun kembali menyendok kuah opor itu sedikit dan menuangkan nya ke atas telapak tangan. Didekatinya laki laki yang sejak tadi mengamati nya dari belakang.


"daddy, boleh minta tolong cicipin nggak? udah enak belum sih ini?" tanya Arini sambil menyodorkan telapak tangan berisi kuah opor itu.


"hah?" tanya Digo setengah kaget.


"cicipin..." ucap Arini.


Digo menatap telapak tangan itu. Ia menunjuk telapak tangan itu. Arini pun mengangguk.


Digo dengan ragu ragu meraih tangan itu. Namun sepersekian detik kemudian ia mengulum senyum.


Satu tangan menyentuh lengan Arini, sedang tangan lain memegang telapak tangan wanita itu. Digo mendekat kan wajahnya, menjulurkan lidahnya lalu menyapu permukaan telapak tangan yang basah karena kuah itu dengan lembut.


Arini terdiam. Darahnya mendesir manakala permukaan lidah itu bersentuhan dengan permukaan telapak tangannya dan menyapu lembut bagian tubuh itu. Bukan hanya itu, Digo bahkan menyesapnya, membuat dua belah bibir itu bersentuhan kulit dengan telapak tangan mulusnya. Ditambah lagi netra Digo nampak menatap ke arah wajahnya dengan sorot mata yang terasa begitu mematikan.


Arini mematung dengan mulut yang terbuka. Entah perasaan apa ini. Jantung Arini berdebar lebih cepat. Digo menyunggingkan senyuman khasnya. Laki laki itu mengusap bibir bawahnya yang basah karena kuah itu dengan ibu jarinya, lalu masukkan nya dalam mulut.


"lumayan, gurih" ucap pria itu kemudian.


Arini mengangguk kaku.


"o...oke...cukup kan, dad? kalau gitu kita makan ya..." ucap Arini sedikit gugup.


"oke.." jawab Digo santai.


Arini pun berbalik badan dengan jantung berdebar hebat. Mematikan kompor dan mulai menata hidangan di atas meja untuk segera memulai aktifitas makan malamnya dengan sang ayah.


Keduanya pun lantas menuju meja persegi panjang itu untuk makan malam bersama sama.


Digo yang hendak mengambil nasi untuk dirinya sendiri pun di buat terdiam manakala Arini nampak sigap melayani sang ayah, mengambilkan nasi untuk pria itu lengkap dengan lauk dan air minumnya. Hal yang selalu Arini lakukan jika bersama nenek Ratmi di kampung. Bentuk bakti seorang anak pada orang yang lebih tua, dalam hal ini adalah orang tua Arini.


Namun pemikiran lain justru menggelayut di pikiran Diego. Ini seperti perlakuan seorang istri pada suaminya. Hal yang dulu sering ia lihat dilakukan sang kakak pada suaminya saat masih tinggal di negara ini.


Perlakuan yang sederhana namun terasa manis sekali bagi pria yang mendapatkan nya.



...----------------...


Selamat pagi,


up 05:52


yuk, dukungan dulu 🥰🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2